Rezim Saudi Teman Setia Amerika

Donald Trump sedang dalam perjalanan internasional pertamanya, dengan melakukan kunjungan pertamanya ke Arab Saudi. Dengan tidak menyia-nyiakan waktu, Amerika Serikat telah menutup kesepakatan senjata dengan Arab Saudi.

Kesepakatan tersebut, yang bernilai $ 350 miliar selama 10 tahun dan $ 110 miliar akan segera berlaku, dan dipuji oleh Gedung Putih sebagai “perluasan hubungan keamanan kedua negara yang signifikan”.

Kantor berita Reuters melaporkan kesepakatan tersebut mencakup perakitan 150 helikopter Blackhawk di Arab Saudi, senilai sekitar $ 6 miliar.

AFP mengutip seorang pejabat Gedung Putih yang mengatakan bahwa kesepakatan tersebut akan memperkuat “kemampuan Saudi untuk berkontribusi dalam operasi kontra-terorisme di seluruh wilayah, sambil mengurangi beban militer AS untuk melakukan operasi tersebut”.

Pada hari Sabtu pagi, Amin Nasser, kepala eksekutif perusahaan minyak raksasa Aramco Saudi, mengatakan kesepakatan senilai £ 50 miliar itu akan ditandatangani bersama 11 perusahaan AS. Kesepakatan tersebut merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk mendiversifikasi ekonomi Saudi dari minyak.

Rezim Saudi telah mencapai hubungan asmaranya yang baru dengan Amerika. Raja Salman bin Abdul Aziz menyambut Trump dengan karpet merah saat dia melangkah keluar dari pesawat kepresidenan Air Force One, sambil menjabat tangan istrinya, Melania, dan mengendarai limusin presiden A.S.

Seperti seorang pria yang sedang jatuh cinta, Raja Salman menyematkan sebuah medali kehormatan- yang merupakan medali yang dipakai Abdulaziz Al Saud, kemudian disematkan di leher Trump pada sebuah upacara di Riyadh. Sambil bermain-main dengan perhiasan, rezim Saudi telah merencanakan bagaimana selanjutnya membunuh kaum Muslim Yaman dan bagaimana melakukannya dengan cara yang paling mengerikan.

Arab Saudi telah bertempur di Yaman sejak bulan Maret 2015. Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan sekitar 10.000 orang telah terbunuh sejak pertempuran dimulai, dan Yaman berada di ambang kelaparan.

AS bukanlah pembawa perdamaian di dunia ini, namun negara itu adalah perayu perang. Menjual senjata ke Arab Saudi adalah dorongan untuk lebih menyia-nyiakan wilayah itu yang telah bertahun-tahun mengalami konflik.

Jangan membuat kesalahan dengan percaya bahwa Trump pergi untuk melakukan tawaf di sekitar Kediaman Raja Saud. Trump mengunjungi Kediaman Raja Saud seperti yang dilakukan Presiden AS lainnya. Dia mendiktekan bagaimana cara membunuh dan menindas lebih banyak korban, dalam keluarga yang memiliki garis keturunan pengkhianatan di dalamnya.

حدثنا عبد الله بن عمر قال رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم يطوف بالكعبة ويقول ما أطيبك وأطيب ريحك ما أعظمك وأعظم حرمتك والذي نفس محمد بيده لحرمة المؤمن أعظم عند الله حرمة منك

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar berkata – Saya melihat Nabi melakukan tawwaf di sekitar Ka’bah dan mengatakan “Betapa manisnya / baiklah Anda dan betapa manisnya aroma engkau. Betapa hebatnya engkau dan betapa hebatnya kesucian engkau. Demi Dia yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya kesucian orang beriman adalah lebih besar di sisu Allah daripada kesucianmu. “(Ibn Majah)

WASPADA TERHADAP BERITA BOHONG

TAFSIR SURAT AL HUJURAT [46] AYAT 6

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat: 6).

Jalaluddin Asy-Syuyuthi & Jalaluddin Muhammad Ibn Ahmad Al-Mahalliy, dalam tafsir Jalalain mengatakan maksud ayat :

إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

Maksudnya jika datang berita dari seorang yang fasik,  maka hendaklah periksa ( tabayyun),  adalah mencari kebenaran berita apakah berita tersebut benar atau  dusta. Menurut suatu qiraat dibaca Fatatsabbatuu berasal dari lafal Ats-Tsabaat, artinya telitilah terlebih dahulu kebenarannya.

Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim berkata, “Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan kroscek terhadap berita dari orang fasik. Karena boleh jadi berita yang tersebar adalah berita dusta atau keliru.” (Artinya,  kroscek tersebut harus datang kepada sumbernya langsung bukan berita dari sumber lain.-pen)

Lalu Allah SWT memperingatkan dengan firmanNya :

أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ

Agar tidak menimpa suatu kaum, akibat tidak mengetahui keadaanya,   yaitu disebabkan berita bohong atau dusta tersebut.

Lalu dari ayat  tersebut Allah memperingatkan dampak berikutnya dengan firmanNya :

فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Penyesalan (naadimin) adalah kegelisahan yang menderita manusia karena perbuatan yang sudah lalu, dan dia berangan-angan seandainya saja dia tidak melakukannya.

Ayat diatas  turun berkaitan dengan  Rasulullah Saw. mengutus Al-Walid ibnu Uqbah kepada Al-Haris ibnu Abu Dirar Al-Khuza’i , pimpinan bani Mustalik, untuk mengambil harta zakat yang telah dikumpulkannya. Ketika Al-Walid sampai di tengah jalan, tiba-tiba hatinya gentar dan takut, lalu ia kembali kepada Rasulullah Saw. dan melapor kepadanya, “Hai Rasulullah, sesungguhnya Al-Haris tidak mau memberikan zakatnya kepadaku, dan dia akan membunuhku.” Mendengar laporan itu Rasulullah Saw. marah, lalu beliau mengirimkan sejumlah pasukan kepada Al-Haris. Setelah dikirim utusan susulan dari Nabi SAW ternyata Al Walid ibnu Uqbah yang berbohong.

Lalu Siapa kriteria orang  yang termasuk  Faasiquun ( orang fasik), hingga beritanya harus dikroscek ?

Al Qur’an telah menyebutkan beberapa ciri orang Fasik, yaitu  (1). “Orang yang mengingkari ayat-ayat Al Qur’an (QS Al Baqoroh : 99), (2). Orang yang mengubah hukum-hukum Allah dengan buatan manusia dan dzalim ( QS. Al Baqoroh:59),  (3). Orang yang mengingkari perjanjian dengan Allah/ suka ingkar janji ( Al A’raf: 102), (4). Orang yang tidak taat pada perintah Allah SWT ( QS. Al An’am : 121). (5). Orang yang lebih mencintai dunia dibanding akhirat ( At Taubah : 24). (6). Orang yang munafiq [QS. At-Taubah: Ayat 67], dan (7). Orang yang menuduh wanita berbuat zina [QS. An-Nur: Ayat 4]
Kesimpulan:

  1. Hendaklah seorang muslim selalu meneliti setiap berita yang datang, khususnya terhadap orang fasik.
  2. Jika terhadap orang fasik saja harus meneliti secara cermat, terlebih-lebih berita yang datang dari orang kafir. Kini kita tahu bahwa media massa yang ada saat ini rata-rata milik orang kafir. Maka ummat Islam harus benar-benar tabayyun agar tidak terjadi adu domba dan fitnah.
  3. Cara meneliti berita yang benar adalah dengan melakukan kroscek kepada sumber beritanya langsung, agat terdapat kebenaran yang akurat dan agar tidak menyebabkan fitnah hanya karena berita bohong dan atas dasar kebencian semata. Sehingga pada akhirnya kita ummat Islam akan rugi dan menyesal semuanya. Allahu a’lam bi ash-showab. Arif Al Qondaly

 

 

DOA AGAR SELAMAT DARI PENGUASA DZALIM

Menghadapi penguasa di era Mulkan Jabriyyatan [ Penguasa Dikator] anti Islam seperti sekarang ini, hendaklah kita selalu bergantung pada Allah sumber pemberi keselamatan. Oleh karena itu salah satu wasilahnya adalah dengan Do’a.  Inilah do’a agar Selamat dari Penguasa/Pemimpin Dzalim atau Diktator.

 بسم لله الرحمن الرحيم

اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، كُنْ لِيْ جَارًا مِنْ فُلاَنٍ بْنِ فُلاَنٍ، وَأَحْزَابِهِ مِنْ خَلاَئِقِكَ، أَنْ يَفْرُطَ عَلَيَّ أَحَدٌ مِنْهُمْ أَوْ يَطْغَى، عَزَّ جَارُكَ، وَجَلَّ ثَنَاؤُكَ، وَلاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ.

Ya Allah, Rabb Penguasa tujuh langit, Rabb Penguasa ‘Arsy yang agung. Jadilah Engkau pelindung bagiku dari Fulan bin Fulan, dan para kelompoknya dari makhlukMu. Jangan ada seorang pun dari mereka menyakitiku atau melampaui batas terhadapku. Sungguh kuat perlindunganMu, dan agunglah pujiMu. Tiada ilah yang berhak disembah selain Engkau. [Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 707]

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَعَزُّ مِنْ خَلْقِهِ جَمِيْعًا، اللهُ أَعَزُّ مِمَّا أَخَافُ وَأَحْذَرُ، أَعُوْذُ بِاللهِ الَّذِيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ، الْمُمْسِكِ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ أَنْ يَقَعْنَ عَلَى اْلأَرْضِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، مِنْ شَرِّ عَبْدِكَ فُلاَنٍ، وَجُنُوْدِهِ وَأَتْبَاعِهِ وَأَشْيَاعِهِ، مِنَ الْجِنِّ وَاْلإِنْسِ، اَللَّهُمَّ كُنْ لِيْ جَارًا مِنْ شَرِّهِمْ، وَجَلَّ ثَنَاؤُكَ وَعَزَّ جَارُكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَلاَ إِلَـهَ غَيْرُكَ.

Allah Maha Besar. Allah Maha Perkasa dari segala makhlukNya. Allah Maha Perkasa dari apa yang aku takutkan dan khawatirkan. Aku berlindung kepada Allah, yang tiada ilah yang berhak disembah selain Dia, yang menahan tujuh langit agar tidak menjatuhi bumi kecuali dengan izinNya, dari kejahatan hambaMu Fulan, serta para pembantunya, pengikutnya dan pendukungnya, dari jenis jin dan manusia. Ya Allah, jadilah Engkau pelindungku dari kejahatan mereka. Agunglah pujiMu, kuatlah perlindunganMu dan Maha Suci asma-Mu. Tiada ilah yang berhak disembah selain Engkau. [HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 708]

Catatan :

Bacalah masing-masing do’a diatas 3x dan sebutkan nama penguasa atau pemimpin yang dituju saat menyebut kata “FULAN” . Dengan keyakinan In syaa Allah kita bisa terhidar dari kejahatan dan kedzaliman mereka. | Arif Al Qondaly

BERSEGERALAH BERAMAL SEBELUM DATANGNYA FITNAH

Rasulullah SAW telah memprediksikan akan datangnya akhir zaman, dengan menyebutnya masa fitnah, dengan tanda-tanda yang jelas. Dan Rasulullah SAW juga telah membimbing kita sikap apa yang paling tepat ketika menghadapi masa fitnah tersebut agar kita  bisa selamat .

Rasulullah SAW bersabda :

بَادِرُوا بالْاَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ الّلَيْلِ المَظْلِمِ يُصْبِحُ الَّرَجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا اَوْ يُمْسِي مُؤْمِنَا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

Bersegeralah beramal sebelum datangnya berbagai fitnah, laksana potongan-potongan malam yang gelap. ( Saat itu) di pagi hari seseorang beriman tapi di sore harinya ia menjadi kafir. Di sore hari seseorang beriman tapi di pagi harinya ia kafir. Ia menjual agamanya dengan harta dunia ( HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Dari hadits diatas mengandung pengertian, agar kita bersegera beramal kebajikan sebelum datangnya masa fitnah. Ciri masa fitnah tersebut  jika telah datang ditengah kita  adalah dengan banyaknya orang mukmin yang jatuh dalam kekafiran disebabkan oleh harta dunia, dan dengan mudahnya meninggalkan kebenaran. Para pejabat menjadi korup dan Dzalim,   para aparat negara menjadi jahat tak ubahnya seperti penjahat, demikian juga rakyatnya. Mereka semua lakukan karena telah terbuai dengan harta dunia dan para pemimpin telah lupa amanat rakyat karena telah terperdaya dengan harta dan kekuasaannya.

Oleh Karena itu ketika kita menjumpai masa itu, maka kita harus bersegera sekuat tenaga menjauhi dari hiruk pikuk kemewahan harta dan kedudukan, sebagaimana rasul perintahkan kepada kita dalam haditsnya:

Rasulullah bersabda:

سَتَكُونُ فِتَنٌ الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنْ الْقَائِمِ وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنْ الْمَاشِي وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنْ السَّاعِي وَمَنْ يُشْرِفْ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ وَمَنْ وَجَدَ مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ.رواه البخاري

“Akan terjadi berbagai fitnah, maka seorang yang duduk dalam perkara itu (tidak ikut) lebih baik dari orang yang berdiri, dan yang berdiri lebih baik dari yang berjalan menyongsongnya, dan yang berjalan masih lebih baik dari yang berlari padanya, barangsiapa yang larut padanya akan terjebak, maka barangsiapa yang dapat menghindar melarikan diri darinya hendaklah dia lakukan.” [HR.Bukhari]

Oleh karenanya janganlah kita  larut dan terjebak, dalam gelamournya harta benda dalam masa fitnah ini,  yakni dengan menghalakan segala cara tanpa mengindahkan syariat-Nya.  Demikian juga janganlah lalai atas kedudukan, kekayaan,   dan terlebih kekuasaan, karena setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya atas apa  yang dipimpinnya. Dan Siksaan Allah itu amatlah keras.  Maka beruntunglah jika kita mampu menghindari dari pusaran kekuasaan, kedudukan,  dan pusaran harta agar tidak menjadi  lalai akhirat. Arif Al Qondaly

 

Kitab Min Muqowwimat Nafsiyyah Islamiyyah, hal 18 , Daarul Ummah, 2004.

 

 

10 Sesat Pikir Hizbut Tahrir ? Ini Jawabannya

Berikut 10 tuduhan media yang disebut “cacat pikir sistem Khilafah yang ditawarkan HT”, dan berikut tanggapan kami selalu penulis dan pengamat politik, bukan sebagai wakil dari HTI.

hizbut-tahrir

Pertama, HT memutlakkan konsep Khilafah sebagai satu-satunya model pemerintahan dalam Islam. Dalam konsep ini, HT tidak percaya bahwa Indonesia boleh berdiri independen sebagai sebuah negara bangsa. HT percaya bahwa kaum muslim Indonesia harus tunduk pada pemerintahan Khilafah dunia Islam di bawah seorang Khalifah yang mungkin saja berada di negara lain (misalnya di Arab Saudi atau di Iraq atau di tempat lain). Pemimpin pemerintahan di Indonesia harus tunduk pada Khalifah itu.

Khilafah adalah ajaran Islam. Demikian juga masalah  Shalat, Zakat maupun Haji. Mengapa kita harus haji di tanah suci tidak di Indonesia saja? Atau jika ummat Islam disuruh haji di Jakarta tentu ummat Islam tidak ada yang mau. Karena ummat Islam paham bahwa haji itu harus dilakukan di Tanah Suci. Itulah syariat Islam yang telah digariskan Rasulullah SAW demikian juga dengan Khilafah. Mengapa Khilafah? Karena dengan Khilafahlah  hukum-hukum Islam akan dapat diterapkan secara kaffah dan adil tanpa pandang bulu. Dakwah memahamkan ummat tentang Khilafah pentinjg agar ummat tidak “gagal paham” tentang konsep ajaran yang bersumber dari Islam.

Kedua, sebagai konsekuensi dari pandangan pertama, HT tidak percaya pada konsep Negara Kesatuan RI yang berdaulat. Indonesia adalah bagian dari Khilafah Islam. Indonesia adalah semacam ‘negara bagian’ dari Khilafah. Bila Indonesia menolak keputusan Khalifah, pemimpin di Indonesia bisa diganti. Lebih buruk lagi, bila Indonesia tetap menolak setelah ada ancaman sanksi oleh Khalifah, Indonesia bisa diperangi.

Harus dipahami bahwa NKRI adalah Negara dengan system republic, dimana demokrasi sebagai system politik yang dianutnya. Demokrasi dicirikan dengan kedaulatan di tangan rakyat. Padahal kalau umat Islam menyadari konsep aqidah dan syariat Islam secara benar, maka hakekat kedaulatan itu ditangan Allah bukan ditangan rakyat. Sedang kekuasaan menjalankan syariat di tangan seorang kholifah.Khilafah Islam membawa misi untuk menyatukan ummat bukan mengambil Negara bagian sebagai sapi perah. Kekuasaan Kholifah tidak bisa otoriter, karena dibatasi sejauhmana kesekuaiannya dengan alqur’an dan as-sunnah. Khilafah tidak demikian mudah memerangi Negara lain yang tidak bergabung. Namun Khilafah Islam memiliki konsep politik luar negeri dengan dakwah dan Jihad. Dakwah dilakukan secara damai , sedang jihad ditegakkan ketika  terjadi kedzaliman. Ingatlah bahwa kedzaliman di mukabumi ini  banyak yang mengalami pembiaran karena tidak ada  khilafah. Sebut saja pembantaian Palestina, pembunuhan muslim moro, patani, kasmir, genocide di Myanmar, Bosnia, dan masih banyak lagi. Itulah gambaran dunia tanpa khilafah, yang lahir keserakahan tanpa keadilan.

Ketiga, HT tidak percaya pada Pancasila, pada UUD 45 dan segenap rujukan konstitusi negara Indonesia. HT tidak percaya pada demokrasi, tidak percaya pada pemilu. Bila saat ini HT menerimanya, itu hanya untuk sementara. Dalam bayangan HT, suatu saat nanti Indonesia harus diubah menjadi bagian dari Khilafah Islam.

Perlu diketahui bahwa Pancasila adalah sebuah nilai luhur yang selama ini multi tafsir. HT memandang bahwa Pancasila itu nilai yang sesungguhnya hanya bisa dipraktekkan ketika syariat Islam itu tegak. Coba Anda berfikir, apakah menjual asset Negara, menjual Freeport ke AS, melepas timur-timor, membiarkan para sparatis, membiarkan tumbuh subur aliran sesat, syi’ah dan juga aliran komunis dan turunannya itu lebih pancasialis? Aparat melindungi si penista agama itu juga Pancasilais? Jika tawaran konsep Khilafah akan membebaskan dari semua yang ada di atas, apakah ummat akan menolaknya? Bukankan keberadaan Negara itu hakekatnya untuk mensejahterakan rakyat, juga menjaga aqidah dan ibadah ummat, melindungi dari perbuatan jahat? Dan itulah Khilafah ajaran dari Rasulullah SAW. Masihkan kita ragu?

Keempat, HT menomorduakan warga non-Islam. Dengan kata lain, HT diskriminatif. Dalam konsep Khilafah Islam yang dibayangkan HT, kaum, non-Islam adalah warga kelas dua. Melalui jargon izzul Islam wal muslimin (kejayaan Islam dan orang-orang Islam), HT menganakemaskan kelompok Muslim seraya menganaktirikan kelompok yang lain. Ini tidak berarti warga non-Islam tidak mendapat pelayanan pendidikan, sosial, ekonomi, dan sebagainya. Tapi kaum non-muslim tidak memiliki hak politik yang sama, misalnya dalam hal memilih pemimpin.

Aneh kalau tuduhan diskriminatif ditujukan kepada HT. Sunguh aneh, karena seluruh pemikiran HT adalah ajaran Islam. Justru orang yang mengatakan HT diskriminatif sama dengan menantang ajaran Islam. Coba Anda berfikir….Kalau Islam mengatakan yang akan masuk syurga hanya Islam, sedangkan orang kafir itu tempatnya neraka…bagaimana pandangan anda yang muslim? Diskriminatifkah pemikiran tersebut? Sedang memilih pemimpin ( Khalifah ) hanya seorang muslim saja, itu hal yang wajar, karena hakekat  pengangkatan seorang kholifah adalah untuk menjalankan kitabullah dan sunah rasulullah.Bagaimana mungkin non muslim( Kafir)  memilih dan mencalonkan kholifah sedangkan mereka ingkar terhadap kitabullah ( Al Qur’an) dan sunah Rasulullah yang harus dipikul seorang khilifah?….

Kelima, dalam Khilafah yang dibayangkan HT, kalaulah ada partai politik, maka partai politik itu haruslah berupa partai politik Islam. Kalaulah ada pemilu, pemilu tersebut hanya boleh diikuti umat Islam.

Aneh kalau ada Khilafah Islam yang berasas Islam, lalu ada parpol Komunis dibolehkan berada di Negara Khilafah. Islam adalah ajaran yang benar dan agama dakwah yang harus disampaikan kepada non muslim. Dakwah Islam yang paling efektif adalah  dengan pelaksanaan syariatnya secara kaffah dan adil. Dari situlah cahaya Islam baru akan tampak.

Keenam, pemilu pada dasarnya hanyalah pilihan terakhir. Yang ideal dalam pola pemilihan pemimpin adalah pemilihan melalui keputusan organisasi semacam majelis alim-ulama yang mempersatukan para ulama dan cerdik pandai. Dalam hal ini setiap negara yang menjadi bagian dari Khilafah (misalnya saja Indonesia, Malaysia, Brunei, Iraq dan seterusnya) akan mengajukan nama para calonnya yang akan ditetapkan semacam Majelis Sentral Alim Ulama di pusat Khilafah.

Itu adalah konsep ahlul halli wal aqdi, dan masih banyak cara untuk pemilihan kholifah. Namun cara yang baku adalah dengan baiat khalifah untuk menjalankan kitabullah dan sunnah Nabi SAW.

Ketujuh, HT tidak percaya pada parlemen yang mengendalikan Khalifah dan pemerintah. Dalam konsep HT, begitu seorang pemimpin terpilih dan dibaiat (disumpah), seluruh rakyat dalam Khilafah harus tunduk dan percaya padanya. Si pemimpin kemudian harus menjalankan kepemimpinan dengan senantiasa merujuk pada Syariah. Ia lah yang menunjuk para pembantunya, termasuk menunjuk pemimpin di setiap daerah yang menjadi bagian dari Khilafah.

Dalam system Khilafah tidak ada parlemen. Karena Parlemen adalah lembaga pembuat Undang-Undang. Sedang dalam konsep Islam Undang-undang itu adalah buatan Allah. Namun dalam system Khilafah ada Majlis Ummat. Fungsinya memberikan masukan dan kritik terhadap khilafah jika terjadi kedzaliman dalam pelaksanaan syariat. Dalam system Khilafah ada Mahkama Madzalim semacam Mahkamah Agung dalam system republic, salah satu fungsinya bisa mema’julkan ( mencabut) jabatan kholifah jika melanggar ketentuan syariat Islam.

Kedelapan, dalam konsep ini seorang Khalifah tidak memiliki batas waktu kepemimpinan. Dia baru diganti kalau wafat, tidak lagi melandaskan kepemimpinannya pada Syariah atau memimpin dengan cara yang zalim. Bila ia melanggar Syariah, ia boleh ditumbangkan dengan kekerasan.

Benar, bahwa jabatan khilafah tidak ada batasan. Yang membatasi adalah pelanggarannya terhadap Syariat Islam . Disinilah peran Majlis Ummat dan mahkamah madzalim akan melakukan muhasabah lil hukam, dan pada akirnya bisa diberhentikan.

Kesembilan, selama ia masih memimpin berdasarkan Syariah, keputusan Khalifah tidak boleh tidak dituruti. Rakyat dan para alim ulama, kaum cerdik pandai, bisa saja memberi masukan, namun keputusan terakhir da di tangan Khalifah. Mereka yang berani tidak taat akan dianggap sebagai melakukan pembangkangan. Dan mereka yang membangkang bisa dihukum mati.

Sudah seharusnya keputusan pemimpin harus didengar dan dilaksanakan rakyatnya. Selama berdasarkan Syariat Islam ( Sebagai hukum Negara). Mengenai hukuman terhadap rakyat apalagi hukuman mati itu harus melalui proses hukum .

Kesepuluh, HT anti-keragaman hukum. HT menganggap tidak perlu ada UU yang dibuat oleh para wakil rakyat. HT percaya Syariah saja sudah cukup. Namun bila memang ada kebutuhan untuk mengeluarkan peraturan, Khalifah dan pembantu-pembantunya dapat saja membuat peraturan yang mengikat seluruh warga.

Aneh jika system Islam diterapkan  masih menggunakan atau mengadopsi hukum belanda atau yang lainnya. Hukum Islam sebagai hukum yang lengkap dan adil merupakan hukum Negara yang harus dipatuhi tidak hanya rakyatnya tetapi juga seorang kholifah. Namun kholifah bisa memnetapkan hukum yang tidak disebutkan dalam syariat Islam. Itu yang disebut dengan istilah mukholafat, seperti peraturan lalu lintas dan sejenisnya.

Itulah setidaknya sepuluh persoalan serius dalam tawaran konsep Khilafah menurut HT yang sesuai ajaran Islam masihkan kita ragu?

Arif Al Qondaly
Ketua Pusat Studi Islam konpemporer  ( PSIK ) Semarang
Ketua Majlis Taqorrub Ilallah ( MTI ) Semarang

 

KHILAFAH TIDAK MEMBAHAYAKAN PANCASILA DAN NKRI

Diskursus tentang Khilafah Islamiyah, Pancasila dan NKRI tengah hangat di Indonesia akhir-akhir ini seiring dengan seruan pemerintah yang ingin membubarkan Ormas Islam legal Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Sebelum berfikir negatif tentang gagasan HTI yang dianggap bertentangan dengan ide Pancasila dan NKRI, mari simak terlebih dahulu  tulisan dibawah ini.

Khilafah Islam hanyalah institusi atau lembaga, yang esensinya adalah ” bagaimana lembaga tersebut dibawah seorang imam/kepala negara mampu menerapkan syariat Islam secara kaffah“. Oleh karena itu Institusi Khilafah Islamiyyah disebut dengan Imamah Islamiyyah.  Kepala negaranya disebut Kholifah,  Imam, atau amirul mu’minin. Tugas seorang Kholifah adalah memastikan diterapkannya Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Misi tersebut semata-mata perintah dari ajaran Islam, sebagaimana Firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.[ QS. Al Baqoroh : 208]

Apakah penerapan syariat Islam berarti membahayakan non muslim? Ini yang selalu diserukan kaum liberalis. Justru Nabi mengatakan pada ahlul zimmah, orang non muslim yang berada di Negara khilafah dengan mengatakan ;

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menzalimi seorang mu’ahid (ahlu zimmah), atau mengurangi haknya, atau membebaninya di atas kemampuannya, atau mengambil darinya sesuatu di luar haknya, maka aku menjadi lawannya di hari kiamat.” (HR Abu Daud)

Jika syariat Islam diterapkan apakah peribadatan selain Islam dilarang? Islam mempraktekkan toleransi sejak jaman nabi.  Melalui Piagam Madinah itu, Rasul saw. sebagai kepala negara menunjukkan bukti, betapa beliau sangat menghormati agama lain. Contoh, saat Rasul saw. melihat ada rombongan orang mengusung jenazah Yahudi melewati beliau, beliau sepontan berdiri (sebagai penghormatan). Sahabat protes, “Wahai Rasulullah, bukankah dia seorang Yahudi?”

Rasulullah saw. menjawab, “Bukankah dia manusia?

Di lain kesempatan, ketika Rasul saw. ditanya oleh para Sahabat tentang memberikan bantuan materi kepada non-Muslim, “Apakah kami boleh memberi bantuan kepada kaum Yahudi?”

Beliau menjawab, “Boleh, sebab mereka juga makhluk Allah, dan Allah akan menerima sedekah kita.”

Bagaiman dengan Pancasila?

Ketika Islam bisa diterapkan secara kaffah, sejatinya  nilai-nilai Pancasila akan membumi bersama penerapan syariat Islam tersebut. Ummat Islam mayoritas telah beranggapan bahwa tidak ada satu nilaipun dalam Pancasila yang bertentangan dengan hukum Islam. Namun Pancasila tidak akan bisa diterapkan tanpa terlebih dahulu diterapkan hukum Islam secara kaffah. Mengapa demikian, karena semua nilai-nilai yang ada di dalam Pancasila ada di dalam syariat Islam, dan secara riil tidak aplicable dalam sistem  demokrasi. Pancasila sebenarnya  kontradiktif  dalam system republik. Hak beragama ummat Islam secara kaffah  sesungguhnya terkebiri dalam alam demokrasi, namun “tragisnya” ummat Islam sendiri mengharapkan “kebaikan demokrasi” untuk Islam . Sebagai contoh, konsep demokrasi, kebenaran adalah suara mayoritas, maka kendati suara mayoritas salah, akan menjadi produk hukum.  Sedang dalam Islam kebenaran adalah apa yang datang dari sang Pencipta. Inilah esensi perbedaannya.

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ

“Kebenaran itu datang dari Rabb mu, maka janganlah sekali-kali kamu termasuk orang yang ragu.” (Q.S Al-Baqarah : 147)

Mengapa komunisme, marxisme, Lenisisme dilarang ? karena tidak  sesuai dengan nilai pancasila Pasal 1 (Ketuhanan yang Maha Esa). Sedang Islam esensi yang diajarkan adalah nilai tauhid ( keEsaan Allah) yang wujud konkritnya dalam kehidupan bernegara adalah diterapkannya hukum Islam. Namun perlu dipahami,  Islam dan syariat Islam adalah dua  hal yang tidak bisa dipisahkan ( ibarat dua sisi mata ulang).  Memisahkan keduanya artinya “sekulerisme”. Sampai disini, merupakan tantangan yang berat bagi ummat Islam,  dimana aqidahnya menganut Islam, sementara system kehidupannya menganut hukum Belanda (baca : sekuler). Maka wajarkah jika kehadiran Hizbut-Tahrir mencoba membuka  pemikiran ummat Islam, –yang  semula tidak pede dengan  ajaran Islam sendiri – dan juga kepada non Islam, untuk obyektif melihat keagungan syariat Islam, keindahan  dan keadilan Syariat Islam ketika  diterapkan dalam kehidupan.

Oleh karena itu, kita bisa lihat kiprah HTI,  disaat bangsa ini kebingungan mengelola SDA, Migas, pengelolaan Tenaga kerja, dan sebagainya, Hizbut Tahrir mencoba menyodorkan solusinya yang digali dari nilai-nilai syariat Islam. Hizbut Tahrir dalam menyerukan gagasannya tidak memaksakan kehendak, disinilah HTI hanyalah dakwah [ Menyeru ] ke tengah masyarakat umum dan para birokrat , agar menyadari, memahami dan mempertimbangkan ide dan gagasan yang diserukan HTI yang notabene adalah syariat Islam ( ajaran Islam) yang agung yang datang dari Allah SWT.

Bagaimana Dengan Sistem Republik ?

Indonesia menganut system Republik  yang berwujud  NKRI ( Negara Kesatuan Republik Indonesia). Sistem Republik didasarkan pada demokrasi, dimana kedaulatan berada pada tangan rakyat. Ini berarti, rakyat memiliki hak untuk membuat hukum dan konstitusi. Jika kita sadari, justru  konsep system Republik sebenarnya kontradiktif  dengan nilai luhur Pancasila. Karena output system republic ini adalah  Demokrasi sekuler yang menghalalkan segala cara, dan yang menuhankan selain Tuhan Yang Maha Esa ( Sila ke-1 ).

Di dalam Islam, kedaulatan berada di tangan syariat. Tidak ada satu orang pun dalam sistem Khilafah, bahkan termasuk Khalifahnya sendiri, yang boleh melegislasi hukum yang bersumber dari pikirannya sendiri.

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. [ QS. AN Nisa : 65]

Namun demikian masyarakat yang berada di wilayah hukum Islam  diberi  ruang untuk musyawarah  untuk mendapatkan kemaslahatan bersama. Dalam  Sistem Islam ada Majlis Ummat, disitu wakil dari berbagai golongan dan berbagai agama yang ada. Mereka  bisa memberikan masukan dan usulan terkait kebijakan Negara dan aduan terkait penerapan Islam yang dipandang tidak adil. Jadi Islam agama yang sempurna, dan tidak ada kekhawatiran bagi siapapun jika Islam diperjuangkan oleh HTI.

Perjuangan HTI sesungguhnya hanya menyadarkan ummat   Islam untuk hidup sejahtera dibawah naungan Islam kendati di dalamnya ada ummat non Islam.  HTI berjuang bukan seperti sparatis yang akan mengambil sebagian wilayah atau mengambil seluruh wilayah NKRI. HTI  justru ingin menyelamatkan NKRI dari penjajahan Asing yang selama ini menjarah kekayaan negeri. Mengapa harus Khilafah Islam? Selain karena ajaran Islam memang demikian, juga karena kekuatan asing itu suatu Negara adidaya yang tamak dan rakus, maka Indonesia tidak bisa menghadapi kecuali negeri-negeri Islam yang ada harus bersatu dalam wadah Khilafah Islamiyyah. Maka dari itu, jika dengan Khilafah Islam , rakyat menjadi sejahtera tanpa ada penjajahan neo liberalisme dan neo kapitalisme, tidak ada korupsi dan hukum tegak seadil-adilnya, apakah kita tetap akan menolaknya? Mari kita renungkan bersama.

 Mushonnif Huda Al Qondaly
Ketua Pusat Studi Islam Kontemporer  [ PSIK Semarang ]

TAFSIR SURAT AL BAQOROH AYAT 183-185 | FIQH PUASA

SEPUTAR HUKUM PUASA, SERTA HIKMAH YANG TERKANDUNG DI DALAMNYA

Dalam firman Allah SWT surat Al Baqoroh ayat 183-185 mengandung beberapa hikmah penting yang harus dijadikan pedoman bagi ummat Islam.  Diantaranya adalah hikmah disyariatkannya puasa,  ketentuan sepurat puasa, serta turunnya Al Quran sebagai petunjuk, penjelas  dan pembeda yang haq dan yang bathil.

Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu) di antara umat manusia (agar kamu bertakwa). ( QS 2 : 183)

Maksudnya adalah Allah mewajibkan puasa kepada ummat Islam dengan tujuan menjaga diri dari maksiat, karena puasa itu dapat membendung syahwat,  yang menjadi pangkal sumber kemaksiatan itu. Itulah target puasa adalah agar kita bertaqwa.

Antara Shiyam dan Shoum

Allah SWT menyebut dalam Al Qur’an sebanyak 7 kali kata shiyam bukan shoum, mengandung makna khusus, yaitu :

Imsak ‘an al-‘akli wa al-syurbi wa al-jima’ min thulu’ al-fajr ila ghurub al-syams ma’a al-niyyah. (Tak makan, tak minum, dan tak berhubungan intim sejak fajar terbit hingga matahari terbenam).

Sedang kata shoum disebut dalam Al Qur’an sekali,  mengandung makna umum sebagaimana dalam surah Maryam ayat ke-26:

فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

( Makan, minum, dan bersenang hatilah kamu.  Jika  kamu  melihat seseorang, katakanlah,  “Sesungguhnya  aku  telah bernazar shaum untuk Tuhan Yang Maha Pemurah; aku tidak akan berbicara dengan seorang pun pada hari ini.”)

Antara Fajar dan Imsyak

Yang dimaksud fajar dalam ayat itu adalah fajar shadiq, bukan fajar kadzib. Dalilnya hadits ‘Aisyah RA, dia berkata,”Janganlah adzan Bilal mencegah dari sahur kamu, karena dia menyerukan adzan pada malam hari. Makan minumlah kamu hingga kamu mendengar adzan Ibnu Ummi Maktum, karena dia tidak menyerukan adzan hingga terbit fajar.” (HR Bukhari, Muslim, Nasa`i, Ahmad, Ibnu Hibban, dan Ibnu Khuzaimah).

Perlu kami jelaskan disini bahwa waktu imsak hanya untuk kehati-hatian (ihtiyath) saja, bukan batas akhir waktu sahur. Dalilnya hadits Zaid bin Tsabit ra  yang berkata,”Kami pernah makan sahur bersama Nabi SAW, kemudian kami berdiri untuk shalat (Shubuh).’ Lalu Anas bertanya kepada Zaid bin Tsabit, ‘Berapa lama antara keduanya (sahur dan shalat Shubuh)?’ Zaid bin Tsabit menjawab,’Kadarnya (lamanya) sekitar bacaan 50 ayat.(HR Bukhari, Muslim, Nasa`i, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Lalu Allah SWT melanjutkan firmanNya :

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

 

(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.( QS. 2 : 184)

Bilangan Puasa Ramadhan

(Beberapa hari) sebagai manshub atau sebagai maf`ul dari fi`il amar  ‘shiyam’ atau ‘shaum’ (berbilang) artinya yang sedikit atau ditentukan waktunya dengan bilangan yang telah diketahui, yakni selama bulan Ramadan sebagaimana yang akan datang nanti. Dikatakannya ‘yang sedikit’ untuk memudahkan bagi mualaf.

Sebulan dalam kalender hijriyah adalah sebagaimana rasulullah SAW sabdakan :

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ ، لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسِبُ ,الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا

Sesungguhnya kami adalah umat ummiyah, Kami tidak mengenal tulis-menulis (mayoritas tidak bisa baca-tulis,  pent) dan tidak pula mengenal ilmu hisab (Mayoritas tidak tahu ilmu hisab, pent) Bulan itu bisa seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 29) dan seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 30).” (HR. Bukhari no. 1913 dan Muslim no. 1080)

Demikian juga hadits,

الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ لَيْلَةً ، فَلاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلاَثِينَ

Bulan itu(bulan Sya’ban)  dua puluh sembilan malam. Maka janganlah kalian berpuasa hingga melihat hilal. Dan apabila tertutup mendung, sempurnakanlah (bulan Sya’ban) menjadi tiga  puluh hari.” (HR. Bukhari no. 1907 dan Muslim no. 1080)

Penentuan 29 hari itu yang paling shohih adalah dengan cara ru’yatul hilal, makajika hilal tidak tampak baru digenapkan ( ikmal) menjadi 30 hari.

Rukhshoh Puasa

(Maka barang siapa di antara kamu) yakni sewaktu kehadiran hari-hari berpuasa itu (sakit atau dalam perjalanan) maksudnya perjalanan untuk mengerjakan puasa dalam kedua situasi tersebut, lalu ia berbuka, (maka hendaklah dihitungnya) berapa hari ia berbuka, lalu berpuasalah sebagai gantinya (pada hari-hari yang lain.)

(Dan bagi orang-orang yang tidak sanggup melakukannya) disebabkan usia lanjut atau penyakit yang tak ada harapan untuk sembuh (maka hendaklah membayar fidyah) yaitu (memberi makan seorang miskin) artinya sebanyak makanan seorang miskin setiap hari, yaitu satu mud dari makanan pokok penduduk negeri. Menurut satu qiraat, dengan mengidhafatkan ‘fidyah’ dengan tujuan untuk penjelasan. Ada pula yang mengatakan tidak, bahkan tidak ditentukan takarannya. Di masa permulaan Islam, mereka diberi kesempatan memilih, apakah akan berpuasa atau membayar fidyah. Kemudian hukum ini dihapus (mansukh) dengan ditetapkannya berpuasa dengan firman-Nya. “Maka barang siapa di antara kamu yang menyaksikan bulan, hendaklah ia berpuasa.” Kata Ibnu Abbas, “Kecuali wanita hamil dan yang sedang menyusui, jika berbukanya itu disebabkan kekhawatiran terhadap bayi, maka membayar fidyah itu tetap menjadi hak mereka tanpa nasakh.” (Dan barang siapa yang secara sukarela melakukan kebaikan) dengan menambah batas minimal yang disebutkan dalam fidyah tadi (maka itu) maksudnya berbuat tathawwu` atau kebaikan (lebih baik baginya. Dan berpuasa) menjadi mubtada’, sedangkan khabarnya ialah, (lebih baik bagi kamu) daripada berbuka dan membayar fidyah (jika kamu mengetahui) bahwa berpuasa lebih baik bagimu, maka lakukanlah.

Mengenai batas safar

mayoritas ulama dari kalangan Syafi’i, Hambali dan Maliki. Dalil mereka adalah hadits,

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَابْنُ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهم – يَقْصُرَانِ وَيُفْطِرَانِ فِى أَرْبَعَةِ بُرُدٍ وَهْىَ سِتَّةَ عَشَرَ فَرْسَخًا

“Dahulu Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum mengqashar shalat dan tidak berpuasa ketika bersafar menempuh jarak 4 burud (yaitu: 16 farsakh).” (HR. Bukhari secara mu’allaq –tanpa sanad-. Diwasholkan oleh Al Baihaqi 3: 137. Lihat Al Irwa’ 565)

Imam Malik, Syafii, Ahmad dan lainnya mengatakan batas sfar minimal berjarak 4 burud (16 farsakh). 1 Farsakh = 4 mil. Dalam tahkik kitab Bidayatul Mujtahid dituliskan bahwa 4 burud itu sama dengan 88, 704 km.

Rinciannya :

1 Barid = 4 Farsakh
1 Farsakh = 5.544 km
1 Barid= 4 x 5,544 km= 22,176km
4 Barid = 88,704 km.

Ketentuan fidyah

Dalilnya adalah :

عن مالك عن نافع أن ابن عمر سئل عن المرءة الحامل إذا خافت على ولدها، فقال: تفطر و تطعم مكان كل يوم مسكينا مدا من حنطة

Dari Nafi’, bahwa Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma pernah ditanya tentang wanita hamil yang khawatir terhadap anaknya (jika puasa). Beliau menjawab, “Dia boleh berbuka dan memberi makan orang miskin dengan satu mud gandum halus sebanyak hari yang dia tinggalkan.” (HR. Al-Baihaqi dari jalur Imam Syafi’i dan sanadnya sahih)

Ukuran pembayaran fidyah 1 hari ditinggalkannya adalah  1 mud (setara 0,75 kg untuk gandum) atau 1/2 sha’ (2 mud = 1,5 kg) untuk selain gandum ( menurut Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin)
1 sho’ = 4 mud
1 sho’ kira-kira 3 kg
1/2 sho’ = 2 mud atau kira- kira 1½ kg
Maka 1 mud = 0,75 kg atau 3/4 kg  ( gandum )

Seseorang dapat membayar fidyah, pada hari itu juga ketika dia tidak melaksanakan puasa. Atau diakhirkan sampai hari terakhir bulan Ramadhan, sebagaimana dilakukan oleh sahabat Anas bin Malik ketika beliau telah tua.

Menurut Syaikh Sholih Al Fauzan hafizhohullah , “Mengeluarkan fidyah tidak bisa digantikan dengan uang sebagaimana yang penanya sebutkan. Fidyah hanya boleh dengan menyerahkan makanan yang menjadi makanan pokok di daerah tersebut.
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.( QS.2 :  185)

Tujuan Diturunkan Al Qur’an

Hari-hari tersebut adalah (bulan Ramadan yang padanya diturunkan Alquran) yakni dari Lawhmahfuz ke langit dunia di malam lailatul qadar (sebagai petunjuk) menjadi ‘hal‘, artinya yang menunjukkan dari kesesatan (bagi manusia dan penjelasan-penjelasan) artinya keterangan-keterangan yang nyata (mengenai petunjuk itu) yang menuntun pada hukum-hukum yang hak (dan) sebagai (pemisah/pembeda) yang memisahkan antara yang hak dengan yang batil. (Maka barang siapa yang menyaksikan) artinya hadir (di antara kamu di bulan itu, hendaklah ia berpuasa dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan, lalu ia berbuka, maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari yang lain).

Sebagaimana telah diterangkan terdahulu. Diulang-ulang agar jangan timbul dugaan adanya nasakh dengan diumumkannya ‘menyaksikan bulan’ (Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesempitan) sehingga oleh karenanya kamu diperbolehkan-Nya berbuka di waktu sakit dan ketika dalam perjalanan. Karena yang demikian itu merupakan `illat atau motif pula bagi perintah berpuasa, maka diathafkan padanya.

(Dan hendaklah kamu cukupkan) ada yang membaca ‘tukmiluu‘ dan ada pula ‘tukammiluu‘ (bilangan) maksudnya bilangan puasa Ramadan (hendaklah kamu besarkan Allah) sewaktu menunaikannya (atas petunjuk yang diberikan-Nya kepadamu) maksudnya petunjuk tentang pokok-pokok agamamu (dan supaya kamu bersyukur) kepada Allah Taala atas semua itu.

Kesimpulan :

  1.  Hakekar Puasa adalah membentuk manusia yang taqwa, yang mampu menjauhi segala maksiyat , karena dengan puasa pintu syahwat telah tertutup dari syaithon.
  2. Jumlah hari dalam sebulan adalah 29 hari dalam berpuasa, maka jika pandangan tertutup awan, puasa ramadhon disempurnakan menjadi 30 hari.
  3. Ada rukhshoh (keringanan) dalam puasa ramadhan bagi orang sakit dan wanita hamil dan menyusui yang dikhawatirkan mengancam jiwanya jika tetap berpuasa. Dan jika tidak dimungkinkan menganti pada hari lain dibulan ramadhan , dapat diganti dengan fidyah sebesar setengah sha ( 1,5 kg beras) tiap hari yang ditinggalkannya.
  4. Bulan ramadhan bulan diturunkan Al Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia, penjelas serta pembeda yang haq dan yang bathil. Ini menunjukan bahwa Al Qur’an adalah petunjuk yang tidak boleh ditinggalkan manusia dalam segala aspek kehidupannya.
  5. Ummat Islam diminta senantiasa mengagunggkan Allah ( dalam beribadah)  dan bersyukur atas hidayah al qur’an yang telah ada.

Referensi :

Tafsir Qur’an , Tafsir Jalalain, Imam Jalaluddin al-Mahally dan Imam Jalaluddin Asy-Syuyuthi, Juz 2
Kitab HR. Bukhari dan Muslim

MERUBAH MASYARAKAT DENGAN DAKWAH

 

Dalam aktivitas dakwah, terjun ke masyarakat untuk merubah pemikiran masyarakat yang penuh kemusyrikan baik secara aqidah maupun secara sistemik disebut denga  dukhulul mujtama;.  Dukhûl al-mujtama secara harfiah adalah memasuki masyarakat.

kifahus siyasiy

Inilah batasan yang sahih tentang esensi dukhûl al-mujtama‘. Karena itu, untuk memahami alur pembahasan dalam dukhûlal-mujtama‘ ada tiga kata kunci (key word) yang harus dipahamai: mujtama‘ (masyarakat), ‘alâqah (interaksi) dan sulthah (penguasa). Karena itu pula, realitas ketiganya serta komponen yang membentuk dan menopangnya juga harus dipahamai. Selain itu, siapa yang masuk (ad-dâkhil),yang dimasuki (al-madkhûl ilayh) dan bagaimana caranya memasuki masyarakat (kayfiyah dukhûl) itu juga mutlak dipahami dengan baik.

 Masyarakat (Mujtama‘)

Masyarakat adalah kumpulan manusia, pemikiran, perasaan, dan sistem. Inilah realitas masyarakat sesuai dengan karakternya sebagai komunitas manusia. Manusia secara fitri mempunyai kebutuhan jasmani dan naluri yang harus dipenuhi. Dari sini, lahirlah kemaslahatan masing-masing orang yang menuntut untuk diraih. Kemaslahatan di sini tidak lain adalah manfaat yang hendak diperoleh atau kemadaratan yang hendak dihindari oleh setiap orang. Ketika masing-masing orang mempunyai kemaslahatan yang harus diraih, maka terbentuklah interaksi satu sama lain. Hanya saja, interaksi tersebut terbentuk setelah masing-masing orang tersebut mempunyai kesamaan kemaslahatan diantara mereka. Yang menentukan kesamaan kemaslahatan itu tidak lain adalah kesamaan pemikiran dan perasaan masing-masing dalam menyikapi kemaslahatan tersebut. Pada akhirnya,mereka pun harus menyepakati satu mekanisme atau aturan main yang digunakan untuk mengatur kemaslahatan yang hendak mereka raih. Dari sinilah, masing-masing orang tersebut membutuhkan satu sistem (mekanisme atau aturan main) yang digunakan untuk memenuhi kemaslahatan mereka.

 Interaksi (‘Alâqah)

Interaksi antar sesama manusia terjadi karena adanya kemaslahatan tertentu yang hendak diwujudkan. Yang menentukan apakah sesuatu itu merupakan kemaslahatan atau bukan dan apakah kemaslahatan tersebut harus diraih ataukah tidak, semua itu bergantung pada pemikiran dan perasaan masing-masing dalam menyikapi kemaslahatan tersebut serta sistem yang digunakan untuk meraihnya. Dengan kata lain, ia bergantung pada mafâhîm, maqâyîs, dan qanâ‘ât (2MQ) yang mereka terima. Mafâhîm, maqâyîs, dan qanâ‘ât yang berlaku di tengah-tengah masyarakat tidak lain karena adanya entitas operasional (kiyân tanfîdzî) yang menerapkannya. Itulah sulthah (kekuasaan), yang menjelma dalam bentuk negara.

 Kekuasaan (Sulthah)

Kekuasaan dimana pun pada dasarnya tercermin pada kelompok yang berkuasa. Karena itu, 2MQ merekalah yang sesungguhnya menentukan interaksi yang berlangsung di tengah masyarakat.  Demikian sebaliknya, kelompok yang berkuasa ini akan terus menopang kekuasaannya dengan mempertahankan 2MQ yang mereka terima. Untuk itu, dibuatlah peraturan perundang-undangan yang berfungsi sebagai palang pintu (artijah) dan aparat keamanan, baik polisi maupun tentara, sebagai pengawal (bawwâb), serta sanksi hukum yang berfungsi sebagai penjaga (harâs). Semuanya berfungsi untuk menegakkan dan mempertahankan kekuasaan yang dibangun di atas 2MQ tersebut.

 Pihak Yang Hendak Memasuki Masyarakat

Dalam hal ini, pihak yang hendak memasuki masyarakat adalah partai politik. Sebagai kekuatan yang hendak mengubah masyarakat, partai ini merupakan entitas pemikiran (kiyân fikrî), atau representatif of ideas tertentu, yang hendak mengubah masyarakat dengan ide-ide yang diembannya. Karena itu, partai ini harus mempunyai karakter: (1) ideologis (mabda’î); (2) berpengaruh (mu’atstsir), bukan pragmatis (wâqi‘î) dan terpengaruh (muta’tstsir). Karakter ideologis mengharuskan partai ini menjadikan ideologinya sebagai sumber hukum untuk menghukumi realitas, bukan sebaliknya. Dengan ideologinya, ia mengubah realitas, bukan terpengaruh dengan realitas.

 Pihak yang Dimasuki

Pihak yang dimasuki adalah masyarakat. Masyarakat itu sendiri merupakan entitas sosial (kiyân ijtimâ‘î) yang merepresentasikan berbagai komponen manusia, pemikiran, dan perasaan yang kompleks. Karena itu, masyarakat tidak bisa mengubah dirinya sendiri. Sebaliknya, masyarakat membutuhkan entitas lain di luar dirinya, yang pasti harus berbeda dengannya. Itu tidak lain adalah entitas pemikiran. Sementara itu, hubungan mereka dengan kekuasaan yang memaksakan interaksi di tengah mereka itu dibangun berdasarkan 2MQ yang mereka terima; meski belum tentu mereka yakini.

 Cara Memasuki Masyarakat

Untuk memasuki masyarakat, sebuah partai politik ideologis harus menyerang seluruh 2MQ yang sebelumnya diterima oleh masyarakat agar mereka menolaknya, karena 2MQ tersebut bertentangan dengan akidah mereka. Dari sinilah, seluruh serangan tersebut harus dikembalikan pada akidah Islam, yang menjadi akidah mereka. Caranya dengan menjernihkan akidah mereka serta menghubungkan akidah dengan syariat sehingga terpancarlah ideologi Islam di tengah-tengah masyarakat. Demikianlah, pemetaan singkat seputar konsep dan kerangka dukhûl al-mujtama‘. Hanya saja, tetap harus dicatat, bahwa yang disebut dukhûl al-mujtama‘ adalah proses untuk memasuki masyarakat, yang dimulai dengan interaksi dengan umat, yaitu mulai menyerang berbagai interaksi yang berlangsung di antara penguasa (as-sulthah) dan masyarakat (an-nâs) dalam konteks kemaslahatan mereka. Akhirnya, sebuah partai politik ideologis tersebut disebut telah berada di tengah-tengah masyarakat setelah menjadi pemimpin urusan masyarakat; masyarakat mempercayainya dan menyerahkan urusan mereka kepadanya.

 Target Yang Hendak Diraih

Dari gambaran di atas, target yang sebenarnya hendak diraih dalam aktivitas dukhûl al-mujtama‘ ini tidak lain adalah agar partai politik ideologis tersebut berhasil membuka pintu masyarakat, atau masyarakat membukakan pintunya untuknya; meneguhkan eksistensinya sebagai pemimpin urusan umat, dan kemudian meraih kekuasaan umat dengan jalan menanamkan 2MQ baru, yaitu 2MQ Islam di tengah-tengah masyarakat. Agar target tersebut bisa diraih dengan baik, maka beberapa hal berikut ini harus diperhatikan oleh sebuah partai politik ideologis:

Pertama, ketika terjun di tengah-tengah masyarakat, partai harus tetap menampilkan dirinya sebagai parpol ideologis Islam yang bertujuan melangsungkan kehidupan Islam dengan konsisten dalam perjuangannya yakni  memperjuangkan tegaknya syariat Islam dengan melalui tegaknya Khilafah Islamiyah.

Kedua, partai harus menjaga pemikiran (fikrah), metode (tharîqah), dan uslûb-nya selama tidak tampak kesalahan dan kerusakannya. Karena itu, setiap kesalahan yang dilakukan dalam usahanya untuk mengeluarkan pendapat yang berhubungan dengan fikrah, tharîqah, dan uslûb yang diadopsi bisa dianggap sebagai kesalahan yang berbahaya, jika tidak disengaja. Jika disengaja, ini bisa dianggap sebagai penyelewengan yang disengaja.

Ketiga, partai akan dihadapkan pada penyimpangan pendapat, karena adanya masukan-masukan dari pihak-pihak internal, atau karena pengaruh-pengaruh eksternal dari masyarakat, ketika mereka melihat parpol ideologis Islam tersebut terlalu lama berdiri di pintu masyarakat dan belum berhasil memasukinya. Partai harus menyadari sepenuhnya terhadap fikrah, tharîqah dan uslûb yang diadopsinya, agar dirinya tidak “terpengaruh dengan usulan-usulan ikhlas dan baik itu” namun sebenarnya racun mematikan bagi partai dan masyarakat.

 Aktivitas Yang Harus Dilakukan

Dengan demikian, aktivitas utama dalam proses dukhûl al-mujtama‘ adalah menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung di tengah-tengah masyarakat; masyarakat dengan masyarakat dan masyarakat dengan penguasa. Harus dicatat bahwa dengan serangan itu bukan berarti partai memusuhi masyarakat. Sama sekali tidak; ia hanyalah bentuk serangan terhadap 2MQ mereka. Sebab, seluruh serangan ini ditujukan agar partai berhasil mengimplementasikan 2MQ-nya ditengah-tengah masyarakat. Jika 2MQ ini berhasil mendominasi masyarakat, maka hubungan antara rakyat dan penguasa akan segera ambruk dan terputus. Pada saat itulah, partai akan meraih kekuasaan yang akan digunakan untuk memberlakukan 2MQ-nya. Sebab, apapun upaya untuk mempengaruhi rakyat tidak mungkin berhasil, baik sekarang maupun yang akan mendatang—bahkan tidak mungkin terjun ke tengah-tengah masyarakat—kecuali dengan cara menyerang penguasanya melalui serangan terhadap seluruh pemikiran, aktivitas, dan tindakan mereka. Karena itu, ada beberapa langkah yang harus dilakukan oleh parpol ideologis yang dimaksud, antara lain, sebagai berikut:

(1)   Melakukan kajian mendalam dan evaluasi terhadap uslûb, wasîlah, serta pendapat-pendapat yang telah atau akan dikeluarkan oleh partai, terutama yang berhubungan dengan pemikiran (fikrah), tharîqah, dan uslûb agar identitas partai sebagai partai ideologis tetap terjaga.

(2)   Melakukan perbaikan-perbaikan dan pembenahan-pembenahan internal untuk meningkatkan kinerja struktur serta kualitas dan kedisiplinan para anggota partai.

(3)   Memetakan kekuatan-kekuatan yang ada di tengah-tengah masyarakat, terutama kelompok yang berkuasa. Mengkaji karakter, kekuatan, afiliasi pemikiran, serta hubungannya dengan penguasa kaum kafir, dan lain-lain.

(4)   Memetakan 2MQ yang ada di tengah-tengah masyarakat, yang dikembangkan oleh kelompok berkuasa; sejauh mana keterpengaruhan umat terhadap ketiganya serta penjelasan partai terhadap pemikiran-pemikiran tersebut—tentunya menghindari benturan pada pendapat-pendapat khilafiyah—serta respon masyarakat terhadap pemikiran partai.

(5)   Melakukan serangan-serangan yang lebih massif terhadap seluruh interaksi yang ada di tengah-tengah masyarakat baik dengan shirâ’ fikr maupun kifâh siyâsî. Masing-masing bisa dilakukan dengan pembinaan intensif, kolektif, mengadopsi kemaslahatan umat, dan membongkar rancangan jahat penjajah.

(6)   Meningkatkan hubungan dengan masyarakat melalui kontak-kontak terencana, kunjungan berkesinambungan, atau pembentukan forum-forum bersama yang dikendalikan dan dikelola oleh partai.

(7)   Menerbitkan jurnal politik yang langsung bersinggungan dengan peran dan kebijakan penguasa serta suguhan-suguhan solutifnya; menerbitkan buklet-buklet serial hukum, seperti ekonomi, politik, hukum, birokrasi pemerintahan menurut pandangan Islam, dan lain-lain.

Agar langkah-langkah di atas bisa diwujudkan dengan baik, secara struktural partai harus menempuh beberapa agenda sebagai berikut:

  1. Seluruh struktur partai /gerakan dakwah dan perjalanannya harus terpetakan dengan jelas; demikian pula kondisi eksternal yang menyelimutinya, harus dipetakan dengan sangat jelas dan detail.
  2. Seluruh struktur partai harus benar-benar aman dan menjalankan tugas-tugasnya secara sempurna. Kualitas para anggotanya harus mendapatkan perhatian utama. Penguasaan anggota terhadap khiththah ‘amal  yang tertuang dalam nasyrah (selebaran) nuqthah inthilâq dan tahrîk siyâsî harus mendalam dan jernih.
  3. Para pimpinan di tingkat Wilayah, dalam memimpin anggotanya untuk terjun ke tengah-tengah masyarakat, dapat menempuh beberapa ketentuan sebagai berikut:
    1. Menjalankan seluruh keputusan dari pimpinan partai;
    2. Menerbitkan dan menyebarkan statement, nasyrah dari pimpinan partai; atau statement, nasyrah, majalah, surat kabar dari Wilayah sendiri dengan atas namanya.
    3. Wilayah menjalankan aktivitasnya secara langsung tanpa menunggu izin dari pimpinan partai.
      Mengeluarkan serial hukum Islam.
    4. Melakukan kunjungan terencana.
    5. Melakukan serangan-serangan halus (terhadap isu politik).
    6. Menerbitkan surat kabar Wilayah atau berbagai surat kabar yang berbentuk jurnalistik, bukan bentuk kepartaian.
    7. Seluruh aktivitas Wilayah harus selalu mengikuti hukum, pemikiran, dan pandangan politik yang diadopsi oleh parpol Islam ideologis tersebut, dengan tetap menjaga kedalaman rinciannya dan pengkajian yang jernih.
    8. Wilayah memfokuskan kepada aktivitas peningkatan kualitas anggota dan hubungannya dengan umat.
    9. Wilayah harus tetap memperhatikan kaidah, “Otoritas (pengambilan kebijakan) itu bersifat tunggal, sedangkan aksi dan tanggung jawab bersifat kolektif.”

 Khatimah

Inilah batasan, target, aktivitas, dan beberapa langkah praktis yang harus dilakukan oleh sebuah partai politik ideologis atau pergerakanj dakwah berjamaah yang hendak mengukuhkan eksistensi dan pengaruhnya di tengah-tengah masyarakat. Dengan eksistensi dan pengaruhnya yang kokoh di tengah masyarakat, maka partai tersebut akan menjadi pemimpin urusan mereka. Pada saat itulah, partai tersebut telah benar-benar berada di tengah masyarakat. Untuk sampai ke sana memang diperlukan proses yang benar dan cermat. Proses itu dimulai dari memahami jalan (fahm at-tharîq), ketika seluruh komponen partai, baik anggota maupun jajaran pimpinannya, melakukan proses pembinaan. Setelah jalan menuju ke masyarakat tersebut dipahami dengan baik dan benar, maka partai tersebut mulai melangkah ke pintu masyarakat, ketika mulai berusaha menyeru (muhâwalah al-mukhâthabah) masyarakat dengan 2MQ partai, yang dilakukan dengan pembinaan intensif (tatsqîf murakkazî) dan kolektif (jamâ‘î). Fase ini sekaligus menjadi fase transisi, yang menghubungkan fase pembinaan (tsaqâfah) dengan fase interaksi dengan umat (tafâ‘ul ma‘a al-ummah).

Karena itu, usaha menyeru (muhâwalah al-mukhâthabah) masyarakat bisa disebut sebagai nihâyahat-tatsqîf (akhir fase pembinaan), yang sekaligus menjadi permulaan fase berikutnya. Setelah usaha menyeru (muhâwalah al-mukhâthabah) masyarakat ini berhasil dilalui dengan baik, maka partai tersebut mulai mengetuk pintu masyarakat (bad’ tharq al-bâb), ketika melakukan seruan kepada mereka secara langsung (mukhâthabah mubâsyarah). Di sinilah, usaha untuk memasuki masyarakat itu dimulai, ketika mulai menyerang seluruh interaksi yang berlangsung di dalamnya, dan baru benar-benar berhasil masuk di dalamnya setelah dibukakan atau dibuka sendiri.

Metode yang digunakan untuk membuka pintu tersebut agar dibukakan atau dibuka sendiri tak lain adalah pergolakan intelektual (shirâ‘ fikrî) dan pertarungan politik (kifâh siyâsî). Pergolakan intelektual (shirâ‘ fikrî) ini bisa dilakukan melalui pembinaan intensif (tatsqîf murakkazî) dan kolektif (jamâ‘î),sedangkan pertarungan politik bisa dilakukan dengan mengadopsi kemaslahatan umat (tabannî mashâlih al-ummah) dan membongkar rancangan jahat penjajah (kasyf al-khuththath).

Dengan demikian, keempat aktivitas ini: (1) pembinaan intensif (tatsqîf murakkazî); (2) pembinaan kolektif (tatsqîf jamâ’î); (3) mengadopsi kemaslahatan umat (tabannî mashâlih al-ummah); dan (4) membongkar rancangan jahat penjajah (kasyf al-khuththath)—merupakan aktivitas utama partai politik ideologis tersebut, meski dengan gradasi yang berbeda sesuai dengan situasi dan kondisi, serta masing-masing fasenya.Wallâhu a‘lam.

AGAR HIDUP BERKAH, INILAH KUNCINYA

Menggapai Hidup Berkah Berlimpah

Hidup berkah adalah dambaan setiap hamba Allah yang beriman. Hanya saja untuk menggapainya dibutuhkan kesungguhan, keseriusan, dan pengorbanan tidak hanya waktu, namun harta benda dan bahkan jiwa. Untuk itu ada 10 perkara yang kiranya perlu diperhatikan setiap hamba agar  Allah berkenan memberikan kita hidup berkah dunia dan kemuliaan di akerat kelak. Ke 10 hal tersebut adalah :

  1. Taubat Nashuha, kunci utama hidup menjadi berkah

إِلا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [ Al Furqon : 70 ]

  1. Perbanyak Istighfar,  syarat menuju hidup berkah berlimpah

Baginda Nabi Muhammad saw pernah bersabda, ” man lazima al-istigfar, ja’alallahu lahu min kulli dhayyiqin makhrajan; wa min kulli hammin farajan; wa razaqahu min haytsu laa yahtasib“. Artinya, “Siapa yang membiasakan atau mulazamah istighfar, Allah akan menjadikannya jalan keluar (solusi) setiap kesulitannya; Allah akan jadikan solusi (kemudahan dan kegembiraan) setiap kebingungan dan kebimbangannya; dan Allah akan berikan rizki tanpa diduga dan disangka-sangka”

Dzikir dengan sayiddul istighfar

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, خَلَقْتَنِي, وَأَنَا عَبْدُكَ, وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اِسْتَطَعْتُ, أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ, أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ, وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي, فَاغْفِرْ لِي; فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

(Allahumma Anta Robbi, Laa Ilaaha Illa Anta, Kholaqtani wa ana abduKa, wa ana ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu, Audzubika min syarri maa shona’tu, Abu’u laka bi ni’matiKa ‘alaiyya wa abu’u laKa bidzanbi faghfirlii fainnahu laa yaghfiru dzunuuba illa Anta )

Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau, Engkau yang menciptakanku sedang aku adalah hamba-Mu dan aku diatas ikatan janji -Mu (yaitu selalu menjalankan perjanjian-Mu untuk beriman dan ikhlas dalam menjalankan amal ketaatan kepada-Mu) dengan semampuku, aku berlindung kepadamu dari segala kejahatan yang telah aku perbuat, aku mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang boleh mengampuni segala dosa kecuali Engkau”.

  1. Taqwa Dengan Sebenar-benarnya, kunci hidup berkah

Banyak orang melalaikan perkara ini, karena kesempitan hidup yang dialaminya. Dia mengabaikan perintah-perintah Allah [ hokum-hukum Allah], karena tidak sabar menunggu datangnya pertolongan Allah. Padahal Allah Ta’ala telah menyatakan :

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا .  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ

“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberikan rezeki kepadanya dari arah yang tidak disangka-sangkanya. ” (QS. Ath Thalaq : 2-3)

  1. Tawakkal, amal menuju hidup berkah
    Allah berfirman :

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupi (keperluan)nya. ” (QS. Ath Thalaq : 3)

Yakni ‘barangsiapa yang menyerahkan urusannya kepada Allah niscaya Dia akan mencukupi apa yang dia inginkan,” demikian kata Imam Al Qurthubi dalam dalam Al Jami’ Ahkamul Qur’an, 8/106.

  1. Banyak Bersyukur, niscaya hidup menjadi berkah

    Syukur adalah jalan lain yang Allah berikan kepada kaum mukminin dalam menghadapi kesulitan rezeki. Dalam surat Ibrohim ayat 7 Allah berfirman :

“Kalau seandainya kalian bersyukur, sungguh-sungguh Kami akan menambah untuk kalian (nikmat-Ku) dan jika kalian mengingkarinya, sesungguhnya adzab-Ku sangat keras.” (QS. Ibrohim : 7)

Oleh karena itu dengan cara bersyukur insya Allah akan mudah urusan rezeki kita. Adapun hakekat syukur adalah : “mengakui nikmat tersebut dari Dzat Yang Maha Memberi nikmat dan tidak mempergunakannya untuk selain ketaatan kepada-Nya,” begitu Al Imam Qurthubi menerangkan kepada kita (tafsir Qurthubi 9/225)

  1. Perbaiki Shalat , akan Allah berikan hidup berkah

Dari Abu Hurairah, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

 إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ ” . وَفِي رِوَايَةٍ : ” ثُمَّ الزَّكَاةُ مِثْلُ ذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ حَسَبَ ذَلِكَ

Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala mengatakan,’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.”  Bilamana shalat seseorang itu baik maka baik pula amalnya, dan bilamana shalat seseorang itu buruk maka buruk pula amalnya.” (HR. Ath-Thabarani)

 7. Perbanyak Sedekah, pasti harta akan berkah berlimpah

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلا يُجْزَى إِلا مِثْلَهَا وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ

Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).[ Al AN’am : 160]

 “Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bershadaqah dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana.

(HR. Ath Thabrani)

  1. Perbanyak Silaturohmi, penyebab harta berkah berlimpah
    Dalam hal ini Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

Barangsiapa yang berkeinginan untuk dibentangkan rezeki baginya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah menyambung silaturohmi. “ (HR. Bukhori Muslim)

  1. Membela [ menolong ] Agama Allah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. [ QS. Muhammad : 7 ]

Inti dari menolong agama Allah adalah  :

  • Menolong Rasul-Nya dalam menyebarkan [ dakwah ] dan meneguhkan agama dan risalah yang dibawanya ditengah-tengah manusia sehingga ia berada diatas seluruh agama yang ada di muka bumi ini.

 

  • Menolong agamanya dengan berupaya menerapkan syariat Islam dan manhaj-Nya sehingga menguasai dunia dan mewarnai seluruh sendi-sendinya dengan nilai-nilai kebaikan yang ada didalamnya mengalahkan berbagai nilai-nilai jahiliyah yang rendah.

 

  1. Banyak Do’a, memohon hidup berkah

    Allah memberikan senjata yang ampuh bagi muslimin berupa doa. Dengan berdoa seorang muslim insya Allah akan mendapatkan apa yang dia inginkan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menuntun kita agar berdoa tatkala kita menghadapi kesulitan rezeki.

“Ya Allah aku meminta kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amalan yang diterima.” (HR. Ibnu Majah dan yang selainnya)Wallahu a’lam bish Showab.

Sangat banyak do’a-do’a yang seharusnya dipanjatkan kepada Allah yang telah diajarkan Nabi SAW yang hendaknya diamalkan setiap muslim.

Mari kita koreksi diri kita , apakah ke 10 hal diatas sudah kita lakukan atau belum? Hendaknya setiap muslim yang ingin menggapai kebahagiaan dunia dan kemuliaan di akhirat, tidak meninggalkan satu point pun dari 10 amalan yang  telah Nabi Lakukan diatas. Wallahu a’lam bi ash-shawab. Arif Al Qondaly

 

 

 

CIRI LELAKI YANG DICINTAI JIN KAFIR

DICINTAI JIN KAFIR. Banyak diantara kaum muslimin yang belum mengetahui barbagai kejahatan para Jin Kafir [ syetan] dalam mengganggu dan berbuat dzalim kepada kita.Padahal kejahatan jin kafir itu adakah nyata.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. [ TQS. Al Baqoroh : 208]

Dalam posting kali ini kami sampaikan sedikit pengalaman dan beberapa pengalaman orang lain saat meruqyah seseorang  yang dicintai Jin Betina.

    • Seorang Pria yang dicintai Jin betina/jin kafir akan berubah sifatnya Seperti Wanita : sangat Sensitif,  mudah marah, mudah tersinggung dan emosi, , lebih gampang panic jika menghadapi masalah agak rumit.

    • Sangat suka menyendiri dan tidak suka berada di tempat ramai, seringnya jika diperhatikan banyak orang akan mudah malu.

    • Suka berhayal, suka melamun dan berfikir romatis. Selalu mebayangkan sedang bermesraan dengan wanita yang dihayalkan

    • Suka berjalan sendirian di tengah malam, dan cuek terhadap lingkungan social, ( hidup acuh tak acuh dengan orang sekitar).

    • Suka sedih , rindu, kepada seseorang tanpa tahu siapa sebenarnya orang yang antum rindukan.

    • Tiba-tiba aneh anggota badannya seperti muka gedeg-gedeg, atau tangan gerak-gerak jika anda membayangkan wanita tertentu, Karena jin betina tersebut cemburu.

    • Sangat mudah jatuh cinta pada setiap wanita siapapun yang ditemuainya.

    • Jika anda bangun terasa seperti pernah ada yang menemani selama tidur.

    • Merasa ada yang mengikuti kemana saja anda pergi, jika anda memperhatikan akan lebih terasa kehadirannya.

    • Dan ini yang lebih berbahaya…Jika pria tersebut sudah menikah, terkadang kejahatan jin wanita sering menyebabkan pasangannya mendadak menstruasi sehingga sang suami tidak bisa berhubungan badan. Maka berhati-hatilah jika pasangan anda sering sakit-sakitan, bisa jadi ini adalah bentuk dari kejahatan jin betina terhadai istri Anda.

Jika ada beberapa tanda diatas, berarti seseorang tersebut terindikasi Dicintai Jin Kafir, segeralah minta perlindungan kepada Allah SWT sebagaimana diperintahkanNya :

وَإِمَّا يَنَزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Apabila setan menggodamu maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui

(QS. Al-A’raf: 200)

Maka segeralah ruqyah mandiri, lalukan bersama pasangan Anda, dan banyak-banyaklahlah membaca Al Qur’an di rumah,  terutama surat Al Baqoroh, diusahakan mampu membaca 1 hari 1 Juz. Niatkan ketika membaca al Qur’an dengan niat meruqyah diri sendiri dari gangguan jin. Selalulah Mohon pertolongan kepada Allah SWT.

Jika terjadi reaksi, terutama pusing, maka itu tandanya jin sudah mulai tidak kerasan, maka  teruskanlah membaca al Qur’an, terutama ayat-ayat ruqyah,  dan jangan berhenti!. Maka jika Antum paksa membacanya maka reaksi terakhirnya biasanya mual dan kemudian muntah. Setelah muntah biasanya jin betina tersebut  keluar. Bersyukurlah pada Allah semoga gangguan in kafir telah sirna.

Langkah berikutnya, agar tidak lagi dicintai jin kafir,  jagalah shalat berjamaah di masjid, senantiasa membaca al Qur’an sehari 1 juz. Dan jauhi maksiat dan senantiasa memohon perlindungan Allah dengan senantiasa memanjatkan doa perlindungan kepada Allah SWT. Wallahu a’lam bi ash-showab.

Arif Al Qondaly.

Islam Rahmatan Lil Alamin Hanya Jika ISLAM Diterapkan Secara Kaffah