HUKUM PAJAK DAN JIZYAH DALAM ISLAM

Banyak kaum muslimin yang masih belum memahami hukum pengambila Pajak dan Jizyah dalam pandangan Islam. Padahal Islam telah mengatur bagaimana seharusnya Negara [ Daulah Islam] dulu memungut pajak dan jizyah kepada warga negara Islam.

Istilah pajak, dalam fikih Islam, dikenal dengan dharîbah. Al-‘Allamah Syaikh Rawwas Qal’ah Jie menyebutnya dengan, “Apa yang ditetapkan sebagai kewajiban atas harta maupun orang di luar kewajiban syara’.” [Mu’jam Lughat al-Fuqaha’, hal. 256]. Sedangkan al-‘Allamah Syaikh ‘Abdul Qadim Zallum, mendefinisikannya dengan, “harta yang diwajibkan Allah kepada kaum Muslim untuk membiayai kebutuhan dan pos yang diwajibkan kepada mereka dalam kondisi ketika tidak ada harta di Baitul Mal kaum Muslim untuk membiayainya.” [al-Amwal fi Daulati al-Khilafah, hal. 129] 

Dalam APBN Khilafah (APBN-K), sumber pendapat tetap negara yang menjadi hak kaum Muslim dan masuk ke Baitul Mal adalah: (1) Fai’ [Anfal, Ghanimah, Khumus]; (2) Jizyah; (3) Kharaj; (4) ‘Usyur; (5) Harta milik umum yang dilindungi negara; (6) Harta haram pejabat dan pegawai negara; (7) Khumus Rikaz dan tambang; (8) Harta orang yang tidak mempunyai ahli waris; (9) Harta orang murtad. Inilah pendapatan tetap negara, ada atau tidaknya kebutuhan.

Kapan Pajak ditarik oleh negara [ Negara Islam?]

Ke – 9 post diatas adalah pendapatan tetap baitul mal negara Islam. Berbeda dengan pendapatan tidak tetap. Pendapatan ini bersifat instrumental dan insidental. Bersifat instrumental, karena Islam menetapkan kepada kaum Muslim fardhu kifayah untuk memikul kewajiban pembiayaan, ketika dana tidak ada di Baitul Mal. Karena itu, ini menjadi instrumen untuk memecahkan masalah yang dihadapi negara, yang dibebankan hanya kepada umat Islam. Disebut insidental, karena tidak diambil secara tetap, bergantung kebutuhan yang dibenarkan oleh syara’ untuk mengambilnya.

Syara’ telah menetapkan sejumlah kewajiban dan pos, yang ada atau tidak adanya harta di Baitul Mal tetap harus berjalan. Jika di Baitul Mal ada harta, maka dibiayai oleh Baitul Mal. Jika tidak ada, maka kewajiban tersebut berpindah ke pundak kaum Muslim. Sebab, jika tidak, maka akan menyebabkan terjadinya dharar bagi seluruh kaum Muslim. Dalam rangka menghilangkan dharar di saat Baitul Mal tidak ada dana inilah, maka khilafah boleh menggunakan instrumen pajak. Namun, hanya bersifat insidental, sampai kewajiban dan pos tersebut bisa dibiayai, atau Baitul Mal mempunyai dana untuk mengcovernya.

Bagaimana dengan Jizyah ?

Karena Dâr al-Islâm ini adalah milik kaum Muslim, maka wajar jika negara tersebut harus dipimpin oleh orang Islam, dan tidak boleh non-Muslim. Namun, karena Islam itu rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin), maka orang non-Muslim pun boleh tinggal dan hidup di dalam Dâr al-Islâm, menjadi warga negara Khilafah, dengan syarat mau membayar jizyah serta tunduk pada negara serta seluruh sistem hukum dan perundang-undangannya.

Secara detail para fuqaha’ juga telah menjelaskan tentang apa itu jizyah dan bagaimana kedudukannya dalam Islam?

Dalam kitab Mukhtâr as-Shihhah disebutkan, bahwa jizyah adalah sesuatu yang diambil dari Ahludz-Dzimmah.2 Ibn Qudamah menjelaskan, bahwa jizyah adalah wazhîfah (kompensasi)3 yang diambil tiap tahun dari orang kafir karena dia menetap di dalam Dâr al-Islâm.4 Imam an-Nawawi, ketika ditanya tentang bagaimana bentuk akad negara dengan Ahludz-Dzimmah, beliau menjelaskan: “Saya menetapkan Anda untuk menetap di Dâr al-Islâm, atau saya mengizinkan Anda untuk tinggal di sana, dengan syarat Anda harus membayar jizyah dan tunduk pada hukum Islam.” 5

Dari uraian di atas jelas sekali, bahwa logika pengambilan jizyah sebagaimana yang dikemukakan oleh para fuqaha’ di atas adalah terkait dengan izin dan legalitas yang diberikan oleh Negara Islam kepada orang kafir yang menjadi Ahludz-Dzimmah. Dzimmah adalah jaminan negara kepada mereka, yang dianggap “orang asing” atau “bukan pemilik”, untuk menetap di wilayah Dâr al-Islâm, yang merupakan milik orang Islam, dengan tetap bebas menjadi orang kafir, berakidah, beribadah, berpakaian, makan, minum dan menikah dengan tatacara kufur dan bukan tatacara Islam. Mereka tidak akan dipaksa untuk meninggalkan semuanya itu. Untuk mendapatkan jaminan tersebut, mereka harus membayar jizyah kepada negara. Namun, di luar tatacara tersebut, semua warga negara, baik Muslim maupun non-Muslim wajib tunduk dan patuh pada sistem perundang-undangan negara. Inilah jaminan atau dzimmah yang diberikan oleh Islam kepada mereka.

Selain itu, harus dicatat, bahwa jizyah hanya dipungut dari: lelaki, balig dan berakal. Jizyah tidak akan diambil dari perempuan, anak-anak dan orang gila. Jizyah juga hanya diambil dari orang yang mampu. Yang tidak mampu justru akan mendapatkan nafkah dari negara. Ini berbeda sekali dengan konsep dan praktik pajak dalam sistem negara sekular atau negara-negara kafir, karena dalam praktiknya, pajak tidak pandang bulu; berlaku untuk laki-laki dan perempuan, kaya dan miskin, dewasa dan anak-anak.6

Selain itu, dalam pemungutannya, jizyah pun ada kadar dan ukurannya. Yang masuk kategori kaya (kelas atas) ditetapkan 4 Dinar (x 4,25 gram emas) atau 17 gram emas, atau senilai Rp 3,400,000 (jika 1 gram=Rp 200,000). Yang masuk kategori sedang (kelas menengah) ditetapkan 2 Dinar atau 8,50 gram emas, atau senilai Rp 1,700,000. Yang masuk kategori mampu, tetapi di bawah kelas menengah, ditetapkan 1 Dinar atau 4,25 gram emas, atau senilai Rp. 850,000.7 Juga harus dicatat, bahwa jizyah hanya dipungut sekali dalam setahun. Itu pun tidak boleh dipungut lebih dari kadar yang telah ditetapkan di atas.

Inilah hukum Islam tentang jizyah. Perlu ditambahkan, bahwa sebagai warga negara Khilafah, orang kafir hanya dikenakan jizyah. Jika mereka mempunyai tanah pertanian maka selain jizyah, mereka harus membayar kharaj, sebagai kompensasi dari penghasilan tanah pertanian mereka. Namun, mereka tidak terkena dharîbah (pajak). Sebaliknya, orang Islam dikenakan zakat fitrah perkepala dan zakat mal untuk harta mereka. Untuk tanah pertanian mereka, mereka akan dikenakan ‘usyur, jika tanah mereka berstatus tanah ‘usyriyyah, atau kharaj, jika tanah mereka berstatus tanah kharajiyyah. Selain itu, jika APBN negara defisit, negara bisa mengambil dharîbah dari umat Islam, khusus untuk laki-laki, balig, dewasa dan mampu. Lalu di mana letak ketidakadilan jizyah bagi orang non-Muslim?

[wallahu a’lam bi ash-showab]

Related Posts :

Hukum KPR dan Leasing dalam Islam | Hukum Asuransi dalam Islam Hukum Pajak dan Jizyah dalam Islam | Hukum Atas Penista AgamaHukum Demo Haramkah ? | Hukum Menimbun Barang / kanzul Mal | Hukum Menegakkan Khilafah untuk menerapkan syariat Islam | Hukum Menghina Nabi | Larangan Mengangkat Non Muslim Sebagai PemimpinBahaya Riba  |  Bahaya Kartu Kridit  | Jilbab Wajib Kerjakanlah | Siapakah Ahlul Kitab?  | Kewajiban dan Hukum Zakat Mal | Bid’ah dalam Pandangan Islam | Perbedaan Fa’ dan Ghanimah

Advertisements

LARANGAN KANZUL MAL

HUKUM MENIMBUN BARANG DALAM TINJAUAN ISLAM

Terkait dengan hukum  menimbun barang [kanzul mal] ini, sedikit yang mengetahuinya, sehingga kebanyakan ummat Islam melakukan aktivitas yang sesungguhnya bertentangan dengan perintah dan larangan Allah. oleh karena itu kami posting tulisan ust Yahya Abdurarhman ini semoga bisa menambah pemahaman kita, bagaimana hukum menimbun barang [ emas dan perak atau uang ].

Kanzu adalah mashdar dari kanaza–yaknizu–kanz[an]. Al-Kanzu secara bahasa artinya harta yang dipendam.1 Al-Kanzu juga merupakan sebutan untuk harta yang disimpan di dalam kotak dan sebutan untuk apa saja yang disimpan di dalamnya.2  Dalam pembicaraan orang Arab, al-kanzu artinya adalah apa saja yang dikumpulkan sebagian atas sebagian yang lain, baik di dalam tanah atau di atas tanah.3  Harta yang dikumpulkan itu untuk ditimbun, yaitu dikumpulkan dan disimpan.  Dengan demikian, al-kanzu adalah harta yang dikumpulkan dan disimpan, baik di dalam atau di atas tanah.4

Pengumpulan harta, khususnya uang, oleh seseorang itu ada dua bentuk: menabung dan menimbun.  Jika seseorang mengumpulkan uang dan menyimpannya dengan tujuan untuk membiayai suatu rencana tertentu (misal: untuk membangun rumah, membeli kendaraan, menikah, naik haji dan sebagainya) maka pengumpulan uang semacam itu disebut menabung. Sebaliknya, jika seseorang mengumpulkan uang dan menyimpannya semata-mata hanya mengumpulkan dan menyimpannya tanpa ada rencana tertentu, pengumpulan seperti itu disebut menimbun [ Kanz al Maal].

Penimbunan uang akan berpengaruh terhadap perekonomian secara umum.  Penimbunan uang itu akan mempengaruhi sirkulasi dan pertukaran harta di tengah masyarakat, dan akhrinya akan mempengaruhi jalannya roda perekonomian.  Hal itu karena pendapatan seseorang atau lembaga, tidak lain, bersumber dari orang atau lembaga lain; alat pertukarannya adalah uang. Jika seseorang menimbun uang, itu artinya uang itu tidak masuk ke pasar. Karena penimbunan itu, sirkulasi harta di masyarakat pun terganggu.  Pada taraf tertentu, jika jumlah uang yang ditimbun banyak, roda perekonomian pun akan berjalan sangat lambat dan akibatnya perekonomian akan merosot.

Namun, bahaya itu terjadi dari penimbunan uang bukan, dari menabung uang.  Sebab, uang yang ditabung itu pada waktunya akan dibelanjakan sehingga pertukaran harta terjadi sehingga sirkulasi kekayaan tetap terjadi di masyarakat dan roda perekonomian tetap berjalan.

Islam membolehkan seseorang menabung uang untuk membiayai suatu keperluan yang ia rencanakan. Islam hanya mewajibkan pengeluaran zakat dari uang yang ditabung itu jika sudah mencapai batas nishâb dan berlalu haulnya. Sebaliknya, Islam mengharamkan penimbunan emas dan perak.  Pada saat diharamkan, emas dan perak menjadi alat tukar dan standar bagi tenaga, jasa atau manfaat suatu harta.  Atas dasar itu, larangan penimbunan emas dan perak itu juga terkait dengan fungsinya sebagai alat tukar. Artinya, larangan  itu juga mencakup larangan terhadap penimbunan uang secara umum.

Allah Swt. berfirman:

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلاَ يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Orang-orang yang menimbun emas dan perak serta tidak menafkahkannya di jalan Allah, kepada mereka beritahukanlah bahwa mereka akan mendapat siksaan yang sangat pedih. (QS at-Taubah [9]: 34).

Adanya ancaman berupa siksaan yang pedih atas orang yang menimbun emas dan perak merupakan qarînah (indikasi) yang menunjukkan bahwa larangan itu bersifat tegas (jâzim). Dengan demikian, menimbun emas dan perak hukumnya haram.  Keharaman itu bersifat pasti dan umum, alasannya:

Pertama: ayat ini bersifat umum berlaku untuk semua penimbunan emas dan perak. Keharaman menimbun emas dan perak dalam ayat ini ditunjukkan dengan penunjukan yang pasti.  Penerapan larangan menimbun dalam ayat ini hanya untuk emas dan perak yang tidak dikeluarkan zakatnya, atau dengan kata lain membolehkan penimbunan emas dan perak setelah dikeluarkan zakatnya, memerlukan adanya nash lain yang memalingkan larangan dalam ayat ini atau yang me-nasakh-nya. Padahal tidak terdapat nash yang memalingkannya atau me-nasakh-nya.  Adapun riwayat yang menyatakan bahwa emas dan perak yang dikumpulkan baik yang dipendam atau tidak, jika dikeluarkan zakatnya tidak termasuk penimbunan yang dilarang, semuanya bukanlah hadis yang sahih.  Sebabnya, riwayat-riwayat itu adalah riwayat mawqûf, yakni sanad-nya berhenti pada Sahabat dan tidak sampai kepada Nabi saw.

Kedua: ath-Thabari meriwayatkan berturut-turut dari: al-Hasan, Abd ar-Razaq, Ma‘mar dari Qatadah, Syahr bin Hawsyab dari Abu Umamah bahwa ia berkata: Seorang laki-laki dari kalangan Ahlush Shuffah meninggal dunia. Di sakunya terdapat uang satu dinar. Rasulullah saw. bersabda, “Kayyah (satu stempel dari api).” Kemudian seorang Ahlush Shuffah yang lain meninggal dunia dan di sakunya terdapat dua dinar. Rasulullah saw bersabda, Kayyatân (Dua stempel dari api).”

Imam Ahmad meriwayatkannya dari Ali bin Abi Thalib dan Ibn Mas‘ud.  Hal itu karena keduanya adalah orang yang hidup dari sedekah, sementara keduanya memiliki emas.  Sabda Rasul saw, kayyah dan kayyatân, itu mengisyaratkan pada larangan menimbun emas dan perak di atas. Sabda Rasul itu juga mengisyaratkan bahwa keduanya telah menimbun emas.  Hal itu karena keduanya adalah Ahlush Shuffah yang kehidupannya telah dipenuhi dari harta sedekah (zakat).  Itu menandakan bahwa keduanya menyimpan emas tersebut bukan dalam rangka menabung karena kehidupannya telah dijamin dari shadaqah.  Jumlah satu dan dua dinar jelas belum memenuhi nishâb zakat. Ini menunjukkan bahwa penimbunan emas dan perak yang terkena ancaman ayat di atas bukan hanya dalam jumlah yang sudah mencapai nishâb dan tidak dikeluarkan zakatnya. Setiap penimbunan emas dan perak berapapun terkena ancaman ayat di atas dan hukumnya haram, meski hanya satu atau dua dinar.

Ketiga: ancaman ayat di atas terkait dengan dua macam aktivitas: aktivitas menimbun emas dan perak; dan aktivitas tidak membelan-jakannya di jalan Allah. Artinya, ada orang yang tidak menimbun emas dan perak tetapi tidak membelanjakannya di jalan Allah; orang yang menimbun emas dan perak dan tidak membelanjakannya di jalan Allah; dan orang yang menimbun emas dan perak saja meski ia membelanjakan sebagian hartanya di jalan Allah. Semuanya terkena ancaman ayat di atas. Al-Qurthubi mengatakan di dalam tafsirnya, “Siapa yang tidak menimbun, sementara ia menahan pembelanjaanya di jalan Allah, ia mesti demikian juga (terkena ancaman ayat tersebut)”.5  Frasa di jalan Allah (fî sabîlillâh) di dalam al-Quran, jika dikaitkan dengan infak, maksudnya adalah jihad fî sabîlillâh, bukan yang lain.

Keempat: Imam Bukhari meriwayatkan dari Zaid bin Wahab tentang perbedaan pendapat Muawiyah bin Abi Sufyan dengan Abu Dzar tentang ayat di atas.  Muawiyah berkata, “Ayat ini bukan untuk kita, melainkan ayat ini hanya untuk Ahlul Kitab.” Abu Dzar membantah dengan mengatakan, “Sungguh, ayat ini untuk kita dan mereka.”

Muawiyah lalu melaporkan Abu Dazar kepada Khalifah Utsman. Lalu Khalifah memanggil Abu Dazar ke Madinah, dan berlangsunglah peristiwa seperti yang diceritakan dalam riwayat tersebut.  Perbedaan pendapat yang terjadi antara Muawiyah dan Abu Dzar adalah untuk siapa ayat tersebut diturunkan.  Seandainya saat itu sudah masyhur riwayat dari Nabi saw. bahwa emas dan perak yang telah dikeluarkan zakatnya tidak termasuk al-kanzu, tentu Muawiyah akan ber-hujjah dengannya dan Abu Dzar pun akan diam karenanya.  Namun, sampai ketika Abu Dzar menghadap Khalifah Utsman sekalipun, tidak disampaikan riwayat itu meski banyak dari Sahabat yang masih tinggal di Madinah.

Kelima: kanzu adz-dzahab wa al-fidhah secara bahasa maknanya mengumpulkan/menimbun emas dan perak dan menyimpannya baik di dalam tanah maupun di atas tanah. Lafal al-Quran dimaknai dengan makna bahasanya saja, kecuali terdapat makna syariah yang dinyatakan oleh nash; dalam kondisi tersebut makna syariah dikedepankan atas makna bahasa.  Lafal al-kanzu tidak terdapat makna syariahnya.  Karena itu, lafal ini dalam ayat di atas harus dimaknai menurut makna bahasanya saja.

Dengan demikian, kanzu adz-dzahab wa al-fidhah (menimbun emas dan perak) atau menimbun uang adalah mengumpulkannya dan menyimpannya baik di dalam tanah maupun di atas tanah.  Hal itu dilakukan semata untuk mengumpulkan dan menyimpannya saja, bukan untuk menabung dalam rangka membiayai suatu keperluan yang direncanakan. Semua bentuk penimbunan emas dan perak atau penimbunan uang itu hukumnya haram dan pelakunya diancam dengan siksaan yang amat pedih di akhriat kelak.

Wallâh a‘lam bi ash-shawâb. 

Catatan Kaki:

  1. Ar-Razi, Mukhtâr ash-Shihâh, I/124, ed. Mahmud Khathir, Maktabah Lubnan Nasyirun, Beirut, thaba’ah jadidah. 1415-1995
  2. Ibn Manzhur, Lisân al-‘Arab, V/401, Dar Shadir,
  3. Beirut, cet. I. tt3  Ibn Jarir ath-Thabari, Tafsîr ath-Thabarî, X/121, Dar al-Fikr, Beirut. 1405 H
  4. Al-Minawi, Faydh al-Qadîr, V/29, Maktabah at-Tijariyah al-Kubra, Mesir, cet. I. 1356 H
  5. Al-Qurthubi, Tafsîr al-Qurthubî, VIII/128, ed. Muhammad Abdul Halim al-Barduni, Dar asy-Sya’b, Kaero, cet. II. 1372

Related Posts :

Hukum KPR dan Leasing dalam Islam | Hukum Asuransi dalam Islam Hukum Pajak dan Jizyah dalam Islam | Hukum Atas Penista AgamaHukum Demo Haramkah ? | Hukum Menimbun Barang / kanzul Mal | Hukum Menegakkan Khilafah untuk menerapkan syariat Islam | Hukum Menghina Nabi | Larangan Mengangkat Non Muslim Sebagai PemimpinBahaya Riba  |  Bahaya Kartu Kridit  | Jilbab Wajib Kerjakanlah | Siapakah Ahlul Kitab?  | Kewajiban dan Hukum Zakat Mal | Bid’ah dalam Pandangan Islam | Perbedaan Fa’ dan Ghanimah

TENTANG BLOG DAN PENULIS

logo-webkhilafahWebkhilafah.wordpress.com adalah blog pribadi yang tidak mewakili organisasi apapun. Semua artikel ini dibawah tanggungjawab kami secara pribadi. Semua artikel ini adalah kumpulan tulisan-tulisan kami yang pernah kami sampaikan dalam  majlis-taklim yang kami isi, dan di dalam khotbah-khotbah jum’at yang kami isi.

Materi dalam blog ini adalah berputar persoalan  aqidah, hukum-hukum syariat Islam, tafsir, nafsiyyah dan dakwah. Jika kami banyak mengupload beberapa kegiatan dakwah pada lembaga tertentu, atau ide-ide tertentu, itu semua adalah keinginan pribadi kami, dan semua dibawah tanggungjawab kami.

Semua artikel yang kami upload tidak ada tendensi apapun kecuali untuk  menyebarkan Islam rahmatan lil ‘alamin. Bagi kami rahmatan lil ‘alamin hanya bisa terwujud jika ummat Islam itu menerapkan syarit Islam secara kaffah. Disinilah pentingnya dakwah, khususnya lewat media dalam rangka membentuk opini ummat [ ra’yul ‘am] yang sama. Bahwa ummat Islam butuh syariat yang  akan menjadi sebab turunnya rahmat Allah SWT.

Kami, penulis hanya mengharap ridha Allah, rahmatNya, serta ampunan-Nya. Kami berharap kepada Allah,  tulisan ini semoga menjadi saksi besuk di hari penghisaban [ yaumul hisab],  hari dimana seluruh manusia dikumpulkan di padang mahsyar untuk dimintai pertanggungjawaban selama didunia,  dan disaat tidak ada lagi hujjah yang bisa diutarakan dihadapan sang Khaliq, kecuali hanya amalan kita selama di dunia yang bicara. akhukum Mushonnif Huda Al Qondaly [ muallif]

BID’AH DALAM TINJAUAN HUKUM ISLAM

Banyak diantara kamu muslimin begitu mudahnya mengatakan bid’ah. Padahal bid’ah adalah sesat dan ssat itu jalan menuju neraka. Bid’ah adalah menyalahi perintah syara’ yang sudah ada tata cara pelaksanaannya. Inilah pengertian bid’ah yang ditunjukkan oleh hadits:

»وَمَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ«

Dan barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka perbuatan tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

bidah

Jika Rasulullah ﷺ telah melakukan suatu amalan yang telah dijelaskan tata cara pelaksaannya dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, kemudian Anda melakukannya berbeda (bertentangan) dengan yang dikerjakan oleh Rasulullah ﷺ, maka dengan demikian Anda telah melakukan bid’ah, yaitu perbuatan sesat, dan dosanya besar:

Sebagai contoh: Allah SWT berfirman:

 وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ

Dan dirikanlah shalat.” (TQS. Al-Baqarah [2] : 43).

Ayat tersebut datang dalam bentuk perintah (amar), hanya saja manusia tidak dibiarkan mendirikan shalat semaunya, namun Rasulullah ﷺ menjelaskan dengan memberikan contoh tata cara melaksanakannya [kaifiyah-nya] dari takbīratul ihrām (takbir yang diucapkan pada awal shalat), cara berdiri, bacaannya, rukuk , sujud dan seterusnya. Abu Dawud meriwayatkan dari Ali bin Yahya bin Khallad, dari pamannya yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّهُ لَا تَتِمُّ صَلَاةٌ لِأَحَدٍ مِنَ النَّاسِ حَتَّى يَتَوَضَّأَ، فَيَضَعَ الْوُضُوءَ – يَعْنِي مَوَاضِعَهُ – ثُمَّ يُكَبِّرُ، وَيَحْمَدُ اللَّهَ جَلَّ وَعَزَّ، وَيُثْنِي عَلَيْهِ، وَيَقْرَأُ بِمَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ، ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ يَرْكَعُ حَتَّى تَطْمَئِنَّ مَفَاصِلُهُ، ثُمَّ يَقُولُ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَائِمًا، ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ يَسْجُدُ حَتَّى تَطْمَئِنَّ مَفَاصِلُهُ، ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، وَيَرْفَعُ رَأْسَهُ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَاعِدًا، ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ يَسْجُدُ حَتَّى تَطْمَئِنَّ مَفَاصِلُهُ، ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ فَيُكَبِّرُ     « …

“Sesungguhnya tidak sempurna shalat seseorang sampai ia berwudlu’, yaitu membasuh anggota wudlu’nya (dengan sempurna), kemudian bertakbir, memuji Allah Jalla wa ‘Azza, menyanjung-Nya dan membaca al-Qur’an yang mudah baginya. Setelah itu mengucapkan Allāhu Akbar, kemudian rukuk sampai tenang semua persendiannya, lalu mengucapkan “sami’allāhu liman hamidah” sampai berdiri lurus (iktidal), kemudian mengucapkan Allāhu Akbar, lalu sujud sampai tenang semua persendiannya. Setelah itu mengucapkan Allāhu Akbar, dan mengangkat kepalanya hingga lurus, mengucapkan Allāhu Akbar, lalu sujud sampai tenang semua persendiannya. Kemudian mengangkat kepalanya, mengucapkan Allāhu Akbar …”.

Sehingga, siapa saja yang menyalahi tata cara (shalat) ini, maka ia benar-benar telah berbuat bid’ah [ mengada-ada dalam maslaah ibadah yang telah baku]. Siapa saja yang sujud tiga kali, bukan dua kali, maka ia benar-benar telah berbuat bid’ah, dan ini adalah sebuah kesesatan.

Lantas bagaimana dengan dzikir setelah salat ? jawabnya adalah : bukan bid’ah,  karena dzikir setelah salat diluar dari kaifiyah salat, demikian juga berjabat tangan setelah salat, tidak ada dosa di dalamnya, bahkan kalau kita membid’ahkan sesuatu yang  mubah, justru kita berdosa bahkan bida memecah belah ummat Islam. Bagaimaan dengan demo yang akhir-akhir ini marak? Apalagi demo dalam rangka amar ma’rud nahi munkar terhadap penista alqur’an? beraninya kita katakan demo itu bid’ah dan sesat  ? Lihat hukum demo dalam pandangan Islam disini. Kita harus melihat secara bijak dan cermat, lihat kalaulah demo itu anakhis, maka haramnya bukan demonya, karena demo itu hakekatnya ushlub saja bukan thariqoh da’wah. Sedang anarkhis dalam demo adalah persoalan yang lain lagi. Contoh, sebagaimana jual beli itu hukumnya mubah dan halal, tetapi jual beli dengan barang haram adalah persoalan lain lagi, yang tidak bida dicampur adukkan dalam  masalah hukum.

Sekali lagi kami katakan dan kami garis bawahi bahwa Bid’ah adalah menyalahi perintah syara’ yang sudah ada tata cara pelaksanaannya. Wallahu a’lam bi ash-shawab. Arif Al Qandaly.

WAJIBNYA AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR

Seorang muslim ketika dihadapannya terdapat kemungkaran, maka Nabi SAW memerintahkan  3 pilihan yang wajib dilakukan. Pertama dengan tangannya jikalau mampu, kedua dengan lisannya jikalau mampu, dan ketiga diam dengan menunjukkan ketidaksukaannya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.

Jika  kita berada diluar ke tiganya itu berarti itu adalah hawa nafsu yang datang dari syaithon. Misalnya kita berdiam diri sementara kemungkaran merajalela di tengah-tengah masyarakat kita, padahal kita bisa melakukan banyak hal, maka ketahuilah kita tengah berada dalam kekuasaan syaithon dan hawa nafsu.

Nabi SAW bersabda :

عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

[رواه مسلم]

Dari Abu Sa’id Al-Khudri rodhiallohu ‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika ia masih tidak mampu, maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.

(Riwayat Muslim)

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :

  1. Menentang pelaku kebatilan dan menolak kemunkaran adalah kewajiban yang dituntut dalam ajaran Islam atas setiap muslim sesuai kemampuan dan kekuatannya.
  2. Ridho terhadap kemaksiatan termasuk diantara dosa-dosa besar.
  3. Sabar menanggung kesulitan dan amar ma’ruf nahi munkar.
  4. Amal merupakan buah dari iman, maka menyingkirkan kemunkaran juga merupakan buahnya keimanan.
  5. Mengingkari dengan hati diwajibkan kepada setiap muslim, sedangkan pengingkaran dengan tangan dan lisan berdasarkan kemampuannya.

Wallahu a’lam bi ash-showab

Related Posts :

Hukum KPR dan Leasing dalam Islam | Hukum Asuransi dalam Islam Hukum Pajak dan Jizyah dalam Islam | Hukum Atas Penista AgamaHukum Demo Haramkah ? | Hukum Menimbun Barang / kanzul Mal | Hukum Menegakkan Khilafah untuk menerapkan syariat Islam | Hukum Menghina Nabi | Larangan Mengangkat Non Muslim Sebagai PemimpinBahaya Riba  |  Bahaya Kartu Kridit  | Jilbab Wajib Kerjakanlah | Siapakah Ahlul Kitab?  | Kewajiban dan Hukum Zakat Mal | Bid’ah dalam Pandangan Islam | Perbedaan Fa’ dan Ghanimah | Wajib Amar ma’ruf Nahi Munkar

DEMO DALAM TINJAUAN SYARIAT ISLAM

DEMONSTRASI DALAM ISLAM ADAKAH ?

HARAMKAH DEMO ? Bagaimana hukum demo dalam Islam Masih ada sebagian diatara ummat Islam yang memandang negatif terhadap  gerakan Islam yang melakukan demo dengan cara turun di jalan menyerukan amar ma’ruf nahi munkar.  Diantara mereka bahkan menghukumi haramnya demo, setiap amar ma’ruf yang dilakukan  para demonstran.

hukum demo dalam tinjauan islam
hukum demonstrasi / demo dalam tinjauan Islam

Sebagian kaum muslimin menganggap demo / demonstrasi turun jalan apapun tuntutannya ( walaupun menuntut sang ahok yang menistakan al Qur’an) sebagaimana yang telah dilakukan sebagian besar ulama Indonesia akhir-akhir ini tanggal 4 November 2016 lalu, mereka tetap menghukumi haramnya demonstrasi dan bahkan mengatakan bahwa  demo terhadap penguasa itu bid’ah, walaupun penguasanya dhalim sekalipun,  karena tidak dicontohkan nabi.

Mereka memandang dengan pandangan  yang sempit, dan salah memahami makna hadits tentang ketaatan kepada pemimpin. Lebih dari itu mereka mendasarkan pada hadits yang dipahami secara textual , tampa melihat makna yang sebenarnya.

hukum demo dalam islam
hukum demo dalam islam

Mari kita perhatikan hadits berikut ini, agar kita bisa memandang bagaimana seharusnya menghukumi seorang yang melakukan demo [ demonstrasi] , dalam tinjuan Islam.

«خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِيْنَ تُحِبُّوْنَهُمْ وَيُحِبُّوْنَكُمْ وَتُصَلُّوْنَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّوْنَ عَلَيْكُمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِيْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَيُبْغِضُوْنَكُمْ وَتَلْعَنُوْنَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ قَالُوْا قُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ عِنْدَ ذَلِكَ قَالَ لاَ مَا أَقَامُوْا فِيْكُمْ الصَّلاَةَ أَلاَ مَنْ وَلِيَ عَلَيْهِ وَالٍ فَرَآهُ يَأْتِي شَيْئًا مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ فَلْيَكْرَهْ مَا يَأْتِي مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ وَلاَ يَنْزِعَنَّ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ»

Sebaik-baik imam (pemimpin) kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian serta yang kalian doakan dan mereka juga mendoakan kalian. Seburuk-buruk imam (pemimpin) kalian adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian serta yang kalian laknat dan mereka juga melaknat kalian. Mereka berkata, “Kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah tidak kita perangi saja mereka pada saat demikian?’ Rasul menjawab, ‘Tidak, selama mereka masih menegakkan shalat di tengah-tengah kalian. Ingatlah, siapa yang diperintah oleh seorang wali, lalu ia melihat wali itu melakukan sesuatu kemaksiatan kepada Allah, maka hendaknya ia membenci kemaksiatan itu dan janganlah ia melepaskan tangan dari ketaatan.” (HR Muslim, Ahmad dan ad-Darimi).

Hadis ini juga diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu‘jam al-Kabîr, Abu ‘Awanah dalam Musnad Abu ‘Awânah, al-Ajuri dalam Asy-Syarî’ah, dan lainnya. Semuanya bersumber dari penuturan Auf bin Malik al-Asyja’i.


Makna Hadis

Al-Mawardi berkata, “Ini benar. Sungguh, seorang imam, jika memiliki kebaikan, ia mencintai dan dicintai oleh rakyat. Sebaliknya, jika buruk (jahat), ia membenci dan dibenci oleh rakyat. Pokok hal itu bahwa rasa takut kepada Allah akan mendorong untuk taat kepada-Nya dalam memperlakukan makhluk-Nya. Ketaatan kepada Allah akan mendorong untuk mencintai makhluk-Nya. Oleh karena itu, kecintaan itu merupakan bukti atas kebaikan imam. Sebaliknya, kebencian rakyat kepada imam adalah bukti keburukannya serta minimnya perhatian imam kepada rakyat.”

Asy-Syaukani di dalam Nayl al-Awthâr menjelaskan, hadis ini merupakan dalil disyariatkannya mencintai imam dan mendoakan mereka. Imam yang mencintai dan dicintai rakyat, mendoakan dan didoakan oleh rakyat merupakan imam yang paling baik. Sebaliknya, imam yang membenci dan dibenci rakyat, mencaci dan dicaci oleh rakyat, termasuk imam yang paling buruk. Hal itu karena jika imam berlaku adil di tengah rakyat, berkata baik kepada rakyat, maka rakyat akan menaati, mematuhi dan memujinya. Ketika seorang imam, keadilan dan kebaikan perkataannya menyebabkan kecintaan, ketaatan dan pujian rakyat kepadanya, ia termasuk imam yang paling baik. Sebaliknya, tatkala kezaliman dan caciannya kepada rakyat menyebabkan rakyat menyalahinya dan berkata buruk tentang dia, maka dia termasuk seburuk-buruk imam.

Hadis ini menegaskan wajibnya menaati imam hingga meskipun imam itu melakukan kemaksiatan. Ketaatan itu selama bukan dalam rangka bermaksiat kepada Allah. Dalam kondisi imam melakukan kemaksiatan itu, Rasul memerintahkan agar kita membenci kemaksiatannya itu. Beliau tetap melarang kita melepaskan tangan dari ketaatan, tentu diiringi dengan aktivitas amar makruf nahi mungkar kepada imam, yang disyariatkan dalam nas yang lain.

Manthûq hadis ini juga menjelaskan tidak bolehnya memerangi imam dan mencabut kekuasaannya selama ia masih menegakkan shalat di tengah kaum Muslim.

Adapun mafhûm-nya menyatakan bolehnya memerangi imam jika sudah tidak menegakkan shalat di tengah kaum muslim. Frasa mâ aqâmû fîkum ash-shalâh (selama dia masih menegakkan shalat di tengah kalian) maksudnya : bukan selama imam masih menjalankan shalat ( 5 waktu). Frasa tersebut merupakan majaz (kiasan) menggunakan uslûb: ithlâq al-juz’i wa irâdah al-kulli (menyebutkan sebagian, sedangkan yang dimaksud adalah keseluruhan).

Maksud frasa itu adalah, selama masih menegakkan Islam, yakni selama masih menerapkan hukum-hukum Islam. Sebab, dalam Islam, wali yang wewenangnya tidak mencakup masalah finansial disebut wâliy ash-shalâh, sedangkan yang mencakup masalah finansial disebut wâliy ash-shadaqah.

Makna ini sejalan dengan hadis Ubadah bin Shamit yang menjelaskan wajibnya memerangi imam dan mencabut kekuasaannya jika sudah tampak kufr[an] bawâh[an] (kekufuran yang nyata)—dalam riwayat lain kufr[an] sharâh[an] (kekufuran secara terang-terangan); misalnya jika imam menerapkan hukum kufur seraya meyakini kelayakannya dan ketidaklayakan hukum Islam. Itu sama artinya dengan tidak lagi menegakkan shalat di tengah-tengah kaum Muslim.

DEMO [ Masiroh ] PERNAH TERJADI DI MASA NABI

Walau tanpa menyebut kata Demo atau masiroh, namun dimasa  rasul telah terjadi.  Di dalam  kitab Al-Hulya Al-Aulia, jilid 1. Ibnu Abbas ra. meriwayatkan, sebagaiman dia telah bertanya :

“Yaa Rasulullah, apakah kita dibolehkan berjalan di atas yang haq meskipun kita mati atau tetap hidup? Beliau SAW., bersabda, “tentu saja, demi jiwaku yang berada ditanganNya, kamu harus berada pada jalan yang haq meskipun kamu akan mati atau tetap hidup” maka Ibnu Abbas berkata, “jadi mengapa kita bersembunyi? Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, kita harus keluar!” dan mereka pergi dengan barisan yang satu dipimpin Hamza dan yang lainnya dipimpin oleh Umar. Mereka pergi mengelilingi ka’bah dan Quraisy melihat Hamza dan Umar mereka begitu terkejut. Rasulullah SAW., menjuluki Umar pada hari itu dengan ‘Al Faruq’.”

Lantas bagaimana dengan demo atau demonstrasi atas pelecehan Al Qur’an oleh seorang yang bernama Ahok? Dan bagaimana menurut anda aksi  yang dilakukan para ulama, Ormas Islam dan ummat dalam menuntut keadilannya? Padahal sudah sekian lama ditunggu-tunggu, polisi dan penguasa tetap melindungi penista Al Qur’an? Haramkah semua elemen masyarakat demo turun ke jalan? Padahal UU negeri ini mengizinkan menyuarakan aspirasi dengan cara demo? Jawaban kami adalah :  Justru wajib atas kita untuk amar ma’ruf nahi munkar kendati harus turun ke jalan (demonstrasi damai) , disebabkan diamnya para pemimpin ketika melihat mereka membiarkan dan bahkan melindungi  penista Al Qur’an .  Walaupun demonstrasi atau demo itu sejatinya hanya ushlub [ cara] dalam dakwah saja, namun demo dengan cara damai adalah abgian dari cara amar ma’ruf nahi munkar. Wallahu a’lam. | Mushonnif Huda Al Qondaly

Related Posts :

Hukum KPR dan Leasing dalam Islam | Hukum Asuransi dalam Islam Hukum Pajak dan Jizyah dalam Islam | Hukum Atas Penista AgamaHukum Demo Haramkah ? | Hukum Menimbun Barang / kanzul Mal | Hukum Menegakkan Khilafah untuk menerapkan syariat Islam | Hukum Menghina Nabi | Larangan Mengangkat Non Muslim Sebagai PemimpinBahaya Riba  |  Bahaya Kartu Kridit  | Jilbab Wajib Kerjakanlah | Siapakah Ahlul Kitab?  | Kewajiban dan Hukum Zakat Mal | Bid’ah dalam Pandangan Islam | Perbedaan Fa’ dan Ghanimah

SERUAN DAKWAH NABI KEPADA KERABAT

siroh-nabi-2
Dakwah Nabi Pada Kerabatnya

Nabi SAW, baru saja mengundang kerabat dekatnya sebanyak 45 orang dan tidak ada perkataan apapun yang keluar dari beliau. Bahkan Abu Lahab telah mendahuluinya dan mengancamnya. Nabi tidak berbicara sedikitpun, hal itu menjadi strategi Beliau untuk mendengar dan mengetahui bagaimana keberadaan aqidah tauhid yang dibawanya itu ditanggapi oleh kerabatnya dari Bani Abdul Muththolib bin Abdi Manaf.

Kemudian Beliau SAW mengundang yang kedua kalinya, dan berkata : Segala puji bagi Allah dan aku memuji-Nya, memohon pertolonganNya, percaya dan Tawakkal kepadaNya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Illah selain Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya.  Sesungguhnya seorang pemandu itu tidak akan mendustakan keluarganya. Demi Allah yang tidak ada Illah selain Dia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah  kepada kalian secara khusus dan kepada manusia secaa umum. Demi Allah kalian akan mati layaknya sedang tidur nyenyak dan akan dibangkitkan lagi layaknya bangun tidur. Kalian akan dihisab terhadap apapun yang kalian perbuat , lalu disana ada syurga yang abadi dan neraka yang abadi pula.”

Dakwah Nabi kepada kerabat yang kedua itu  mendapat  dukungan dari Abu Thalib, hanya dukungan keamanan saja bukan sebagai pengikutnya. Abu Thalib berkata : “Kami tidak suka menolongmu ( Agamamu), menjadi penasihatmu, dan membenarkan perkataanmu. Orang-orang yang menjadi Bani Bapakmu ini sudah sepakat . Aku hanya segelintir orang diantara mereka. Namun AKulah orang yang pertama kali mendukung apa yang engkau sukai. Maka lanjutkanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Demi Allah, aku senantiasa akan menjaga dan melindungimu, namun aku tidak mempunyai pilihan lain untuk meninggalkan agama Bani Abdul Muth-thalib”.

Lalu Abu Lahab berkata :” Demi Allah ini adakah kabar buruk. Ambillah tindakan terhadap dirinya sebelum orang lain melakukannya.”

Abu Thalib menimpali :”Demi Allah kami tetap akan melindunginya selagi kami masih Hidup.” [ Fiqh Siroh, Ibnu Atsir, hal 77-78].

*****

Pelajaran dari siroh diatas adalah,  kita tidak boleh ragu atas keyakinan dan ajaran Islam yang mulia, tetap semangat dalam dakwah. Dalam setiap dakwah pasti ada rintangan, mulailah dari kerabat dekat, teman dekat, dan terus ke masyarakat. Kita tidak tahu Siapa sosok yang Allah akan siapkan dan tunjuk dikemudian hari yang akan menjadi ahlu nushroh ( Penolong ) dalam medan dakwah ini. Sehingga Islam dimenangkan dan akan jaya kembali dan berkuasa kembali. to be continued..

MASALAH AHLUL KITAB

Allah Ta’ala berfirman,

وَقُلْ لِلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ

Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab.” (QS. Ali Imron: 20)

Berikut penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengenai ayat di atas.

Ayat ini ditujukan pada Ahli Kitab di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal ajaran ahli kitab yang hidup di zaman beliau sudah mengalami naskh wa tabdiil (penghapusan dan penggantian). Maka ayat ini menunjukkan bahwa siapa saja yang menisbatkan dirinya pada Yahudi dan Nashrani, merekalah ahli kitab. Ayat ini bukan khusus membicarakan ahli kitab yang betul-betul berpegang teguh dengan Al Kitab (tanpa penghapusan dan penggantian). Begitu pula tidak ada beda antara anak Yahudi dan Nashrani yang hidup setelah adanya penggantian Injil-Taurat di sana-sini dan yang hidup sebelumnya. Jika setelah adanya perubahan Injil-Taurat di sana-sini, anak Yahudi dan Nashrani disebut ahli kitab, begitu pula ketika anak Yahudi dan Nashrani tersebut hidup sebelum adanya perubahan Taurat-Injil, mereka juga disebut Ahli Kitab dan mereka kafir jika tidak mengimani Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah Ta’ala tetap mengatakan kepada orang Yahudi dan Nashrani yang hidup di zaman beliau,

وَقُلْ لِلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ

Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab.” (QS. Ali Imron: 20)

Allah tentu saja mengatakan hal ini kepada orang yang hidup di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau diperintahkan menyampaikan wahyu. Dan tidak mungkin ditujukan kepada Yahudi dan Nashrani yang telah mati.

***

Demikian kutipan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al Iman. Jadi kesimpulannya, orang Yahudi dan Nashrani di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga yang hidup di zaman ini termasuk ahlul kitab, walaupun mereka sudah tidak lagi berpegang dengan kitab mereka yang asli dan kitab mereka telah mengalami perubahan di sana-sini.

BAGAIMANA MENIKAHI WANITA AHLUL KITAB ?

Para fuqaha dari berbagai mazhab –di antaranya adalah mazhab yang empat, yaitu mazhab Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad– telah sepakat mengenai bolehnya seorang laki-laki muslim menikahi perempuan Ahli Kitab (kitabiyyah), yaitu perempuan beragama Yahudi dan Nashrani, sesuai firman Allah SWT :

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنْ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنْ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ

(Dan dihalalkan menikahi) wanita-wanita merdeka [al muhshanat] di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita merdeka [al muhshanat] di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu.” (QS Al Maa`idah [5] : 5). (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 7/143; Abdurrahman Al Jaziri, Al Fiqh ‘Ala Al Madzahib Al Arba’ah, 4/73;Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, 1/369; Wahbah Al Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 9/145).

Hanya saja, meskipun Imam Syafi’i –rahimahullah– termasuk yang membolehkan seorang laki-laki muslim menikahi perempuan Ahli Kitab, beliau membuat syarat (taqyiid), yaitu perempuan Ahli Kitab tersebut haruslah perempuan Bani Israil. Jika dia bukan perempuan Bani Israil, misalnya perempuan Arab tapi menganut Yahudi atau Nashrani, maka dia tidak termasuk Ahli Kitab sehingga haram hukumnya bagi laki-laki muslim untuk menikahinya. (Imam Al Baihaqi, Ahkamul Qur`an, 1/187, Beirut : Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah).

Pendapat Imam Syafi’i tersebut dalam nash (teks) yang asli dari Imam Syafi’i, sebagaimana dikutip oleh Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra (7/173) adalah sebagai berikut :

وأهل الكتاب الذين يحل نكاح حرائرهم : أهل الكتابين المشهورين – : التوراة و الإنجيل . – وهم اليهود والنصارى من بني إسرائيل دون المجوس.

“Dan Ahli Kitab yang halal menikahi wanita-wanita merdekanya, adalah Ahli [Pemilik] Dua Kitab yang masyhur, yaitu Taurat dan Injil. Mereka adalah orang-orang Yahudi dan Nashrani dari Bani Israil, bukan orang Majusi.” (Imam Al Baihaqi, Ahkamul Qur`an Lil Imam Al Syafi’i, 1/187, Beirut : Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, 1975).

Imam Syafi’i menjelaskan dalil pendapatnya tersebut dalam kitabnya Al Umm (3/7) dengan bersandar pada beberapa khabar (hadits) yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Jarir (w. 310 H), di antaranya khabar dari ‘Atha` yang berkata :

ليس نصارى العرب بأهل كتاب وإنما أهل الكتاب بنو إسرائيل الذين جاءتهم التوراة والإنجيل .فأما من دخل فيهم من الناس فليسوا منهم

“Orang-orang Nashrani Arab bukanlah Ahli Kitab. [Karena] Ahli Kitab itu hanyalah orang-orang Bani Israil yang datang kepada mereka kitab Taurat dan Injil. Adapun siapa saja yang masuk ke dalam mereka [menjadi penganut Yahudi dan Nashrani] dari kalangan manusia [bukan Bani Israil], maka mereka itu tidaklah termasuk golongan mereka [Ahli Kitab].” (Nuruddin ‘Adil, Mujadalah Ahlil Kitab fi Al Qur`an Al Karim wa As Sunnah An Nabawiyyah, hlm. 79; Riyadh : Maktabah Ar Rusyd, 2007).

Berdasarkan riwayat seperti itulah, Imam Syafi’i berpendapat bahwa siapa saja orang non Bani Israil yang beragama dengan agama Ahli Kitab yang kepada mereka diturunkan Taurat dan Injil, maka mereka itu Ahli Kitab sekedar nama, bukanlah Ahli Kitab yang hakiki. (Imam Al Baihaqi, Ahkamul Qur`an, 2/57)

Pendapat Imam Syafi’i tersebut kemudian dijelaskan lebih lanjut oleh para ulama madzhab Syafi’i seperti Imam Al Khathib Al Syarbaini pengarang kitab Mughni Al Muhtaj (3/187) dan Imam Nawawi pengarang kitab Al Majmu’ (2/44). Dikatakan, bahwa menikahi perempuan Ahli Kitab dari kalangan Bani Israil dihalalkan, karena berarti perempuan itu adalah keturunan orang Yahudi atau Nashrani yang ketika pertama kali masuk agama Yahudi atau Nashrani, kitabnya masih asli dan belum mengalami perubahan (tahrif). Sedang perempuan Ahli Kitab yang bukan keturunan Bani Israil, haram dinikahi karena mereka adalah keturunan orang Yahudi atau Nashrani yang ketika pertama kali masuk agama Yahudi atau Nashrani, kitabnya sudah tidak asli lagi atau sudah mengalami perubahan (tahrif), kecuali jika mereka menjauhi apa-apa yang sudah diubah dari kitab mereka. (Lihat Wahbah Al Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 9/147).

Pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat jumhur ulama yang membolehkan laki-laki muslim menikahi perempuan Ahli Kitab secara mutlak, baik perempuan itu dari Bani Israil maupun bukan Bani Israil.

Adapun yang merajihkan pendapat jumhur, adalah 3 (tiga) dalil sebagai berikut :

Pertama, karena dalil-dalil yang ada dalam masalah ini adalah dalil yang mutlak, tanpa ada taqyiid (pembatasan/pensyaratan) dengan suatu syarat tertentu. Perhatikan dalil yang membolehkan laki-laki menikahi Kitabiyyah (perempuan Ahli Kitab), yang tidak menyebutkan bahwa mereka harus dari kalangan Bani Israil. Firman Allah SWT :

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنْ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنْ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ

(Dan dihalalkan menikahi) wanita-wanita merdeka [al muhshanat] di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita merdeka [al muhshanat] di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu.” (QS Al Maa`idah [5] : 5).

Ayat di atas mutlak, yaitu membolehkan menikahi perempuan muhshanat yang diberi Al Kitab sebelum umat Islam, tanpa menyinggung sama sekali bahwa mereka itu harus dari keturunan Bani Israil. Dalam hal ini berlakulah kaidah ushuliyah yang menyebutkan :

المطلق يجري على إطلاقه ما لم يرد دليل يدل على التقييد

Al muthlaqu yajriy ‘alaa ithlaaqihi maa lam yarid daliilun yadullu ‘ala at taqyiid.” (dalil yang mutlak tetap dalam kemutlakannya, selama tidak terdapat dalil yang menunjukkan adanya pembatasan). (Wahbah Zuhaili, Ushul Al Fiqh Al Islami, 1/208).

Kemutlakan dalil inilah yang menjadikan Syaikh Wahbah Zuhaili menguatkan pendapat jumhur ulama atas pendapat Imam Syafi’i. Syaikh Wahbah Zuhaili berkata :

والراجح لدي هو قول الجمهور، لإطلاق الأدلة القاضية بجواز الزواج بالكتابيات، دون تقييد بشيء

“Pendapat yang rajih bagi saya adalah pendapat jumhur, berdasarkan kemutlakan dalil-dalil yang memutuskan bolehnya wanita-wanita Ahli Kitab, tanpa ada taqyiid (pembatasan) dengan sesuatu (syarat).” (Wahbah Al Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 9/147).

Dengan ini jelaslah bahwa Ahli Kitab itu tidak hanya dari keturunan Bani Israil saja, melainkan siapa saja yang beragama Yahudi dan Nashrani baik dia keturunan Bani Israil maupun bukan keturunan Bani Israil.

Kedua, karena tindakan Rasulullah SAW (af’aal rasulullah) dalam memperlakukan Ahli Kitab seperti menerapkan kewajiban membayar jizyah atas mereka, menunjukkan bahwa yang menjadi kriteria seseorang digolongkan Ahli Kitab adalah agamanya, bukan nenek moyangnya, yaitu apakah nenek moyang mereka itu ketika pertama kali masuk Yahudi/Nashrani kitabnya masih asli ataukah sudah mengalami perubahan (tahrif) dan pergantian (tabdiil).

Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah telah menjelaskan hal itu dalam kitabnya Zadul Ma’ad (3/158) dengan perkataannya :

العرب أمة ليس فيها في الأصل كتاب، وكانت كل طائفة منهم تدين بدين من جاورها من الأمم …فأجرى رسول الله صلى الله عليه وسلم أحكام الجزية ، و لم يعتبر آباءهم ولا من دخلوا في دين أهل الكتاب : هل كان دخولهم قبل النسخ والتبديل أو بعده

Orang Arab adalah suatu umat yang pada asalnya tidak ada sebuah kitab di tengah mereka. Setiap kelompok dari mereka beragama dengan agama umat-umat yang berdekatan dengan mereka… Maka Rasulullah SAW memberlakukan hukum-hukum jizyah, dan beliau tidak mempertimbangkan nenek moyang mereka juga tidak [mempertimbangkan] orang-orang yang masuk ke dalam agama Ahli Kitab : apakah dulu masuknya mereka itu sebelum terjadinya penghapusan (nasakh) [dengan turunnya Al Qur`an] dan penggantian (tabdiil) [tahrif terhadap Taurat dan Injil] ataukah sesudahnya.” (Ibnul Qayyim Al Jauziyyah, Zadul Ma’ad, 3/158; Lihat Nuruddin ‘Adil, Mujadalah Ahlil Kitab fi Al Qur`an Al Karim wa As Sunnah An Nabawiyyah, hlm. 80).

Atas dasar itu, orang yang tergolong Ahli Kitab itu tidak dilihat lagi nenek moyangnya, apakah ketika mereka masuk Yahudi atau Nashrani kitab mereka masih asli, ataukah sudah mengalami perubahan, ataukah ketika sudah diturunkan Al Qur`an. Maka, orang masa sekarang, yaitu setelah diturunkannya Al Qur`an, jika menganut Yahudi atau Nashrani, juga digolongkan Ahli Kitab.

Ketiga, ayat-ayat Al Qur`an yang turun untuk pertama kalinya dan berbicara kepada orang Yahudi dan Nashrani pada zaman Nabi SAW, sudah menggunakan panggilan atau sebutan “Ahli Kitab” untuk mereka. Padahal mereka pada saat itu sudah menyimpang dari agama asli mereka, bukan orang-orang yang masih menjalankan kitabnya yang murni/asli. Misalnya firman Allah SWT :

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَسْتُمْ عَلَى شَيْءٍ حَتَّى تُقِيمُوا التَّوْرَاةَ وَالإِنجِيلَ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ

“Katakanlah [Muhammad],’Wahai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Qur`an yang diturunkan kepadamu [Muhammad] dari Tuhanmu.” (QS Al Maa`idah [5] : 68).

Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa orang Yahudi dan Nashrani pada zaman Nabi SAW tidaklah menjalankan ajaran-ajaran Taurat dan Injil yang diturunkan Allah kepada mereka. Meski demikian, mereka tetap disebut “Ahli Kitab” di dalam Al Qur`an. Dan ayat-ayat semacam ini dalam Al Qur`an banyak. (Nuruddin ‘Adil, Mujadalah Ahlil Kitab fi Al Qur`an Al Karim wa As Sunnah An Nabawiyyah, hlm. 80).

Dengan demikian, istilah “Ahli Kitab” sejak awal memang ditujukan kepada orang-orang Yahudi dan Nashrani yang sudah menyimpang dan tidak lagi menjalankan ajaran Taurat dan Injil. Istilah “Ahli Kitab” bukan ditujukan kepada orang Yahudi dan Nashrani yang masih asli kitabnya atau masih lurus menjalankan agamanya. Jadi tidak benar anggapan bahwa saat ini sudah tak lagi Ahli Kitab dengan alasan istilah “Ahli Kitab” ditujukan untuk orang Yahudi dan Nashrani yang masih asli kitabnya. Pendapat ini tidak benar.

Berdasarkan tiga dalil di atas, jelaslah bahwa pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat jumhur ulama yang membolehkan laki-laki muslim menikahi perempuan Ahli Kitab secara mutlak, baik perempuan itu dari Bani Israil maupun bukan Bani Israil. Baik nenek moyang mereka masuk agama Yahudi dan Nashrani ketika kitabnya masih asli maupun ketika kitabnya sudah mengalami perubahan (tahrif). Baik sebelum diturunkannya Al Qur`an maupun sesudah diturunkannya Al Qur`an.

Namun yang perlu kami tegaskan, sesuatu yang mubah itu jelas bukan sesuatu yang dianjurkan (sunnah), atau yang diharuskan (wajib). Bahkan perkara yang hukumnya mubah, pada kasus-kasus tertentu dapat diharamkan secara syar’i jika menimbulkan bahaya (mudharat/mafsadat), meski hukum pokoknya yang mubah tetap ada dan tidak hilang. Hal ini sesuai kaidah fiqih yang dirumuskan oleh Imam Taqiyuddin An Nabhani –rahimahullah– sebagai berikut :

كل فرد من أفراد المباح إذا كان ضارا أو مؤديا إلى ضرر حرم ذلك الفرد وظل الأمر مباحا

Setiap kasus dari kasus-kasus perkara yang mubah, jika terbukti berbahaya atau membawa kepada bahaya, maka kasus itu diharamkan, sedangkan perkara pokoknya tetap mubah.” (Taqiyuddin An Nabhani, Al Syakhshiyyah Al Islamiyyah, 3/456).

Berdasarkan kaidah fiqih tersebut, pada kasus tertentu, haram hukumnya seorang laki-laki muslim menikahi perempuan Ahli Kitab, jika terbukti berbahaya atau dapat membawa kepada bahaya bagi laki-laki itu secara khusus. Misalnya, laki-laki muslimnya lemah dalam beragama, sedang perempuan Ahli Kitabnya seorang misionaris Kristen atau Katolik yang sangat kuat beragama dan kuat pula pengaruhnya kepada orang lain. Maka dalam kondisi seperti ini, haram hukumnya laki-laki muslim tersebut menikahi perempuan Ahli Kitab ini, karena diduga kuat laki-laki muslim itu akan dapat terseret menjadi murtad dan mengikuti agama istrinya, atau diduga kuat perempuan itu akan dapat mempengaruhi agama anak-anaknya sehingga mereka menjadi pengikut Nashrani. Na’uzhu billahi min dzalik.

Namun pada saat yang sama, hukum bolehnya laki-laki muslim menikahi perempuan Ahli Kitab tetaplah ada, dan tidak lenyap. Hukum ini dapat diberlakukan misalnya untuk laki-laki muslim yang sangat kuat beragama, misalnya ulama atau mujtahid atau mujahid, yang menikahi perempuan Ahli Kitab dari kalangan rakyat negara Khilafah. Seperti halnya dahulu, ketika sebagian shahabat Nabi SAW menikahi perempuan Ahli Kitab dari kalangan Ahludz Dzimmah. Misalnya Utsman bin ‘Affan –radhiyallahu ‘anhu— yang menikahi seorang perempuan Nashrani bernama Na`ilah, yang kemudian masuk Islam di bawah bimbingan Utsman. Hudzaifah bin Al Yaman RA pernah menikahi seorang perempuan Yahudi dari penduduk Al Mada`in. Jabir bin Abdillah RA pernah ditanya mengenai laki-laki muslim yang menikah dengan perempuan Yahudi atau Nashrani. Maka Jabir menjawab,”Dahulu kami dan Sa’ad bin Abi Waqqash pernah menikahi mereka pada saat penaklukan Kufah.” (Wahbah Al Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 9/145).

BAGAIMANA SEMBELIHAN AHLUL KITAB ?

Halalnya sembelihan ahlul kitab bagi kaum muslimin meski tidak disembelih dengan nama Allah

Selama memang hewan tersebut halal. Adapun sembelihan kaum kafir lainnya maka bagi kaum muslimin tetap dihukumi sebagai bangkai yang tidak disembelih sesuai syariat.

{وَطَعَامُالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ}

Artinya: “Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka (QS. Al Maidah:5)

PROBLEMATIKA SEPUTAR  AHLUL KITAB YANG MASIH MURNI , APAKAH ADA DI JAMAN NABI?
Seluruh ayat-ayat yang berbicara tentang ahlul kitab  jika ditilik kembali, maka konteksnya selalu bermuara pada dua hal.
Pertama: mereka adalah orang yang beriman pada ajaran asli nabi mereka sebelum datangnya risalah Nabi Muhammad.
Kedua: atau mereka yang kemudian beriman kepada risalah Nabi Muhammad setelah kedatangannya.
Sebagai contoh dua ayat ini dapatlah diketengahkan:

{وَإِنَّمِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَمَاأُنْزِلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِينَ لِلَّهِ لا يَشْتَرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَناً قَلِيلاًأُوْلَئِكَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ}

Artinya: “Dan sesungguhnya di antara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya” (QS.Al Imron: 199)

{الَّذِينَ آتَيْنَاهُمْ الْكِتَابَ مِنْقَبْلِهِ هُمْ بِهِ يُؤْمِنُونَ. وَإِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ قَالُوا آمَنَّا بِهِإِنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّنَا إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلِهِ مُسْلِمِينَ}

Artinya: “Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka AlKitab sebelum Al Quran, mereka beriman (pula) dengan Al Quran itu. Dan apabila dibacakan (Al Quran itu) kepada mereka, mereka berkata: ‘Kami beriman kepadanya, sesungguhnya  Al Quran itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan kami, sesungguhnya kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan(nya).” (QS. Al Qashash: 52-53)Adapun ayat yang mengesankan seolah-olah ada kafir tapi tidak musyrik, maka bisa dijawab sebagai berikut. Pertama: bahwa kata (من) di situ bukan bermakna sebagian melainkan bermakna yaitu (bayan), maksudnya orang-orang kafir berupa ahlul kitab dan kaum musyrik.

Kedua: bahwa ayat itu jelas menyebut mereka sebagai kafir yang berarti bukan Islam.
Ketiga: pada surat yang sama Allah menyebutkan tempat kembali mereka, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk” (QS. Al Bayyinah: 6).
Keempat: Allah juga dengan tegas mengatakan bahwa mereka berbuat syirik sebagaimana dalam ayat yang telah disebut di atas, “Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (AtTaubah : 31)

Sumber:

Related Posts :

Hukum KPR dan Leasing dalam Islam | Hukum Asuransi dalam Islam Hukum Pajak dan Jizyah dalam Islam | Hukum Atas Penista AgamaHukum Demo Haramkah ? | Hukum Menimbun Barang / kanzul Mal | Hukum Menegakkan Khilafah untuk menerapkan syariat Islam | Hukum Menghina Nabi | Larangan Mengangkat Non Muslim Sebagai PemimpinBahaya Riba  |  Bahaya Kartu Kridit  | Jilbab Wajib Kerjakanlah | Siapakah Ahlul Kitab?  | Kewajiban dan Hukum Zakat Mal | Bid’ah dalam Pandangan Islam | Perbedaan Fa’ dan Ghanimah | Wajib Amar ma’ruf Nahi Munkar

HUKUM ISLAM ATAS PENISTAAN AGAMA

Penistaan terhadap Agama ( baca Agama Islam), terus menerus terjadi.  Baik menyerang sosok Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah, juga menyerang ayat-ayat dalam Al Qur’an.

berita terakhir disebutkan Habib Novel , Sekretaris DPP FPI menganggap Ahok terang-terangan menistakan agama karena menyebutkan umat Islam dibohongi oleh Surah Al Maidah ayat 51 yang tidak membolehkan umat Islam memilih pemimpin non-Muslim.

Pernyataan Ahok sebagaimana dikutip dalam video Youtube: “Bapak ibu tidak bisa pilih saya karena dibohongi pakai surat AI Maidah 51 acem-macem itu. Itu hak bapak ibu. Jadi kalau bapak ibu perasaan tidak bisa pilih nih takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, enggak papa, karena ini kan panggilan pribadi bapak ibu. Problemnya jalan saja. Jadi bapak ibu enggak usah merasa enggak enak.”

Dalam negara RI, Ahok terancam melanggar Pasal 156 a KUHP Jo pasal 28 ayat (2) UU No 11 tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.

Dalam negara Islam ( Khilafah Islam), ada ketentuan hukuman bagi pelaku penistaan agama secara terang-terangan. Disebutkan dalam kitab Nizhâm al-’Uqûbât, karya syeikh Taqiyuddin An-Nabhani  dijelaskan beberapa tindakan yang dikategorikan menodai agama Islam beserta sanksi yang dapat diterapkan negara atas pelakuknya:

  1. a) orang yang melakukan propaganda ideologi atau pemikiran kufur diancam hukuman penjara hingga 10 tahun. Jika ia seorang Muslim maka sanksinya adalah sanksi murtad, yakni dibunuh;
  2. b) orang yang menulis atau menyerukan seruan yang mengandung celaan atau tikaman terhadap akidah kaum Muslim diancam 5-10 tahun. Jika celaan tersebut masuk dalam kategori murtad maka pelakunya (jika Muslim) dibunuh;
  3. c) orang yang melakukan seruan pemikiran kufur kepada selain ulama, atau menyebarkan pemikiran kufur melalui berbagai media, dipenjara hingga 5 tahun;
  4. d) orang yang menyerukan seruan pada akidah yang dibangun atas dalil zhann atau pemikiran yang dapat mengakibatkan kemunduran umat Islam dicambuk dan dipenjara hingga 5 tahun;
  5. e) orang yang meninggalkan shalat dipenjara hingga 5 tahun; jika tidak berpuasa tanpa uzur, ia dipenjara dua bulan dikalikan puasa yang ia tinggalkan; dan orang yang menolak menunaikan zakat, selain dipaksa membayar zakat, ia dipenjara hingga 15 tahun.

Kasus Ahok sebenarnya termasuk bentuk penistaan agama karena statemennya termasuk Celaan terhadap Agama Islam. ( dalam Pasal 2b di atas yang tercetak miring). Maka Ahok bisa diancam hukuman 5-10 tahun penjara dalam daulah Islam. Bahkan jikalau penistaannya kategori berat dan dengan niatan menghina Al Qur’an, maka khilafah bisa menjatuhi hukuman mati.

Bagaimana hukum celaan terhadap agama Lain?

Adapun tehadap agama ahludz-dzimmah, Islam telah melarang setiap celaan yang ditujukan pada tuhan-tuhan dan sesembahan agama mereka. Hal ini karena perbuatan tersebut dapat memicu terjadinya perlakukan serupa oleh mereka kepada Allah SWT yang jelas merupakan kemungkaran. Allah SWT berfirman:

وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

Janganlah kalian mencela tuhan-tuhan yang mereka seru selain Allah sehingga mereka mereka mencela Allah dengan dengan permusuhan dan tanpa ilmu (QS al-An’am [6]: 108).

Para ulama, menurut al-Qurthubi, menyatakan bahwa larangan mencela tuhan-tuhan mereka bersifat tetap bagi umat pada segala keadaan; jika orang-orang kafir mencegah diri dan takut untuk mencegah Islam, Nabi saw. atau Allah azza wajalla, maka tidak halal bagi seorang Muslim untuk mencela salib-salib mereka, agama mereka dan gereja-gereja mereka; dan tidak melakukan hal-hal yang dapat mengantarkan pada hal tersebut karena itu akan mendorong terjadinya kemaksiatan. Oleh karena itu, jika sebuah media di dalam Negara Islam terbukti melakukan penistaan terhadap tuhan dan keyakinan agama ahludz-dzimmah maka penanggung jawab media tersebut akan divonis penjara hingga enam bulan.

Pada masa pemerintahan Islam. aturan di atas telah ditegakkan oleh Nabi saw. dan para Khalifah setelahnya. Jabir ra. berkata, “Ummu Marwan telah murtad. Lalu Rasulullah saw. memerintahkan untuk menawarkan Islam kepadanya. Jika ia bertobat maka diterima, namun jika tidak maka ia dibunuh.” (HR al-Baihaqi dan ad-Daruquthni).

Umar bin Abdul Aziz, misalnya, pernah mendebat dan menyadarkan Ghilan ad-Dimasyqi, seorang tokoh Qadariah yang berpendapat bahwa tidak ada takdir Allah dan Allah tidak bersemayam di atas ’Arsy. Namun, pada masa Hisyam bin Abdul Malik, orang tersebut kembali menyebarkan idenya. Setelah mendapatkan bantahan dari Khalifah dan Imam al-Auza’i, sementara ia tetap kukuh dengan pendapatnya, maka ia pun dibunuh dan disalib.

Pasca runtuhnya negara Khilafah, munculnya berbagai penodaan terhadap agama Islam ( penistaan agama) yang dilakukan oleh berbagai pihak, baik atas nama individu atau kelompok, terus tumbuh dari waktu ke waktu. Tindakan mereka ini terus dibiarkan oleh negara dengan alasan kebebasan berpendapat. Umat Islam memang tidak tinggal diam menyaksikan hal tersebut. Meski demikian, upaya mereka senantiasa terbentur oleh tembok kekuasaan.

Seharusnya hal tersebut semakin menyadarkan umat bahwa negara sekular saat ini sangat sulit diharapkan bahkan mustahil melindungi agama Islam dan umatnya dari berbagai penistaan. Karena itu, Khilafah Islamlah—yang akan menjaga dan memelihara Islam serta kaum Muslim, termasuk mencegah dan membasmi berbagai penistaan agama ( Islam) —menjadi sangat relevan dan wajib untuk segera diwujudkan. Wallâhu a’lam bi ash-shawâb

LIWA DAN ROYAH BENDERA RASULULLAH

MENGENAL  AL LIWA DAN ARROYAH, BENDERA RASULULAH

Ar-Raayah secara harfiah bermakna al-‘alam (panji). Bentuk jamaknya adalah raayaat. Kata ar-raayah, sebagaimana dalam hadits ‘Ali bin Abi Thalib saat Perang Khaibar, bermakna al-‘alam (panji). Ar-Raayah juga bermakna sejenis bendera yang diikatkan di leher. Bendera kecil disebut dengan ruyaih. Bentuk kata kerjanya adalah: rayaitu rayaan, wa rayyiitu, taryatah.

roya-bendera-pasukan

liwa dan royah bendera rasulullah

Sedangkan al-Liwaa’ , secara harfiah, juga berkonotasi al-‘alam. Bentuk jamaknya alwiyah dan alwiyaat. Liwa’ adalah panji yang diberikan kepada Amir (panglima tentara, bisa juga komandan detasemen). Sedangkan ‘Alam adalah Liwaa’ (panji) yang digunakan sebagai tanda untuk berkumpulnya pasukan. Ahli bahasa menyatakan, al-‘alam adalah panji yang diikatkan di ujung tombak. Az-Zubaidiy berkata, al-‘alam adalah rasm at-tsaub (baju resmi) yang di pinggir-pinggirnya diberi garis-garis.

LIWA DAN ROOYAH BENDERA RASULULLAH

liwa-bendera-negara

Al-‘Allamah al-Qalqasyandi telah mendefinisikan al-a’laam (bendera) sebagai berikut, “Ia adalah ar-raayaat (panji) yang dibawa oleh wakil (pengganti) Sultan yang diletakkan di atas kendaraannya.”. Kadang-kadang al-a’laam digambarkan dengan al- ‘ashaaib (serban), bentuk jamak dari ‘ashabah, yang maknanya adalah al-alwiyah. Lafadz ini diambil dari kata ‘ashabah ar-ra’s (serban kepala), sebab ar-raayah biasanya dikenakan di ujung tombak bagian atas. Kadang-kadang dilukiskan dengan as-sanaajiq (panji-panji), bentuk jamak dari as-sinjaq. Ini adalah bahasa orang Turki, yang bermakna ath-tha’n (tikaman).

Raayah [ rooyah] dinamakan seperti itu, sebab dipasang di bagian atas tombak. Sedangkan tombak adalah alat untuk menikam. Ini merupakan penamaan yang bersifat majaziy (kiasan). Al-Abadi berkata, “Ath-Thurisiy berkata, Raayah adalah panji yang diserahkan kepada pemimpin perang, di mana seluruh pasukan berperang di bawah kepemimpinannya dan akan mempertahankannya hidup atau mati.”

Sedangkan liwaa’ adalah panji yang menunjukkan posisi pemimpin pasukan, dan ia akan dibawa mengikuti posisi pemimpin pasukan’. Ar-Raazi berkata, Liwaa’ adalah panjinya pemimpin perang (Amir), sedangkan Alwiyah adalah al-mathaarid (tombak pendek) tanpa panji dan bendera.” Al-Mathraziy berkata, Raayah adalah bendera pasukan yang diibaratkan dengan induk peperangan. Ar-Raayah lebih kecil daripada al-liwaa’.”   Al-Abadiy juga berkata, Raayah adalah (al-’alam) bendera kecil, sedangkan Liwaa’ adalah bendera besar. Pada masa kita sekarang ini, Raayaat dan Alwiyaat disebut dengan al-a’laam, al-bunuud, dan al-bayaariq.”

bendera-umat-islam
liwa dan royah [ Al Liwaa’ dan Ar-Rooyah] bendera islam

Abu Bakar ibn al-‘Arabiy berkata, Liwaa’ berbeda dengan ar-raayah. Liwaa’ adalah bendera yang diikatkan di ujung tombak, kemudian dililitkan di gagang tombak. Sedangkan ar-raayah adalah bendera yang dipasang di ujung tombak dan dibiarkan hingga berkibar ditiup angin.” Ada juga yang menyatakan bahwa Liwaa’ berbeda dengan Raayah. Liwaa’ adalah bendera yang berukuran besar, sedangkan ‘Alam adalah tanda yang menunjukkan di mana posisi Amir (pemimpin pasukan). Adapun Raayah adalah bendera yang diserahkan kepada pemimpin pasukan’ (Fath al-Baariy: VI/126-127; ‘Umdatul Qaari lil-‘Aina: XII/47; ‘Uynul Ma’bud li al-Abadiy: VII/254).

Warna dan Ukuran Rayah dan Liwa’

Imam Sarakhsiy berkata, “Bendera kaum Muslim (Liwaa’) harusnya berwarna putih. Sedangkan panji-panjinya (Raayaat) berwarna hitam”. Dari Ibnu ‘Abbas ra berkata, “Raayah (panji) Rasul SAW berwarna hitam, sedangkan Liwa’ (bendera)-nya berwarna putih.” (Syarh as-Sayir al-Kabir: I/72; Jami’ at-Tirmidzi: IV/197, no. 1681; Sunan Ibn Majjah: II/941, no. 2818; Mu’jamul Ausath at-Thabrani: I/77, no. 219; Mu’jam al-Kabir: XII/207, no. 12909; al-Mustadrak al-Hakim: II/115, no.2506/131).

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Panji Rasulullah SAW (raayat) berwarna hitam, sedangkan liwa’ (bendera)-nya berwarna putih.” Jabir ra menuturkan, Bendera Nabi SAW (liwaa’) pada saat masuk kota Makkah berwarna putih.” Dari ‘Aisyah ra, berkata, Liwaa’ Nabi SAW berwarna putih.” Dari Ibnu ‘Umar ra berkata,   “Tatkala Rasulullah SAW memasangkan benderanya, beliau memasangkan bendera (liwaa’) yang berwarna putih.” Rasyid bin Sa’ad telah menceritakan sebuah riwayat dari Rasulullah SAW, Panji (raayah) Nabi SAW berwarna hitam, sedangkan liwa’nya berwarna putih.” Ibnu ‘Asakir juga meriwayatkan dengan sanad dari Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya dari ‘Aisyah, bahwa Nabi SAW memiliki sebuah panji hitam yang bernama al-‘Uqab.

Sebagian besar nash hanya menyatakan bahwa panji Rasulullah SAW berbentuk persegi empat. Disebutkan dalam riwayat Bara’ bin al-‘Azib, “(Panji Rasulullah SAW) berbentuk persegi empat dan terbuat dari wool.” Dalam riwayat Ibnu ‘Abbas disebutkan, “(Panji Rasulullah SAW) berwarna hitam, berbentuk persegi empat, dan terbuat dari kain wool.” Al-Kattaaniy mengeluarkan riwayat dari Abu Zar’ah al-Qaza’iy, yang menyatakan, “Rasulullah SAW telah menyerahkan kepada ‘Ali sebuah panji berwarna putih yang ukurannya sehasta kali sehasta.” Ini menunjukkan, ukuran panji di masa Rasulullah SAW, yakni sehasta kali sehasta. Ini juga berarti, bahwa ukuran bendera Rasulullah SAW lebih besar lagi. (Taratib al-Idariyyah: I/320-322).

At-Thabrani dan Abu Syaikh menuturkan dari Abu Hurairah dan Ibnu ‘Abbas, bahwa bendera Rasulullah SAW bertuliskan “La ilaha Illa Al-Allah Mohammad Rasul al-Allah”. (Akhlaq an-Nabi wa Adabuhu-Abu Syaikh: hal. 155, no. 426). Riwayat senada juga dituturkan at-Thabarani dari Buraidah al-Aslami, dan Ibnu ‘Adiy dari Abu Hurairah. Sedangkan khath (tulisan)-nya adalah khath yang masyhur di masa Rasulullah SAW, yakni khath Makkiy (khath Makkah) dan Madaniy (khath Madinah). Ini didasarkan pada keterangan yang disampaikan oleh Ibnu an-Nadim (al-Fahrist: hal. 8).

Dari sini bisa disimpulkan, sebagai berikut:

1-   Bendera Rasulullah SAW yang paling besar (Liwa’) berwarna putih dan bertuliskan “La ilaha Illa Allah Muhammad Rasulullah”.

2-     Panji (Rayah) Rasulullah SAW berwarna hitam, dan di dalamnya bertuliskan “La ilaha Illa Allah Muhammad Rasulullah” warna putih.

3-      Al-‘Alam adalah al-liwaa’ al-a’dham (bendera besar). Sedangkan ar-raayaat adalah panji yang secara khusus dimiliki oleh setiap kabilah atau tiap divisi pasukan, dan lain-lain. Panji semacam ini jumlahnya sangat banyak. Sedangkan liwaa’ (bendera) jumlahnya hanya satu, tidak banyak.

4-     Liwaa’ (bendera) adalah bendera resmi Daulah Islam di masa Rasulullah SAW dan para Khalifah setelah beliau SAW. Ini adalah kesimpulan Imam al-Sarakhsiy, dan dikuatkan dalam kitab Syarh As-Sair al-Kabir, karya Imam Muhammad bin al-Hasan as-Syaibaniy, murid Imam Abu Hanifah. Disimpulkan, “Liwaa adalah bendera yang berada di tangan penguasa. Ar-Raayah, adalah panji yang dimiliki oleh setiap pemimpin divisi pasukan, di mana semua pasukan yang ada dalam divisinya disatukan di bawah panji tersebut. Liwaa hanya berjumlah satu buah untuk keseluruhan pasukan. Liwaa digunakan sebagai patokan pasukan ketika mereka merasa perlu untuk menyampaikan keperluan mereka ke hadapan penguasa (Imam). Liwaa dipilih berwarna putih. Ini ditujukan agar ia bisa dibedakan dengan panji-panji berwarna hitam yang ada di tangan para pemimpin divisi pasukan.”[]

Related Posts

Rohingnya menunggu Khilafah Mu’tasimBillah | 5 Fase sebelum datangnya Kiamat | Konflik Palesina-Israel dalam Sejarah  |  Hukum Seputar Ru’yat GlobalLima Alasan mengapa Ummat Islam Butuh Khilafah | Khilafah Islam Janji Allah  | Bendera Rasulullah Liwa-Roya | Hukum Menegakkan Khilafah |

Islam Rahmatan Lil Alamin Hanya Jika ISLAM Diterapkan Secara Kaffah