HUKUM SEPUTAR RUKYAH GLOBAL

Yang dikehendaki dengan rukyat global di sini adalah merukyat hilal [melihat bulan sabit] tanggal satu Ramadlan atau tanggal satu Sawal, untuk mengawali atau mengakhiri ibadah puasa Ramadlan, di mana rukyat tersebut dilakukan oleh sebagian dari kaum muslim di seluruh dunia dan berlaku untuk seluruh kaum muslim di seluruh dunia, tanpa mempersoalkan batas-batas Negara nasional. Maka dalam prakteknya, sebagai contohnya, kaum muslim yang berada di Negara Indonesia boleh mengikuti rukyatul hilal yang dilakukan oleh sebagian kaum muslim di Hijaz atau Arab Saudi untuk mengawali atau mengakhiri ibadah puasa Ramadlon. Berikut adalah pendapat para ulama terkait hal tersebut:

 

واتفقوا [أي الأئمة الأربعة] عَلَى أَنَهُ إذا رئى الهلال فى بلدة قاصية أنه يجب الصوم على سائر أهل الدنيا، إلا أن أصحاب الشافعي صححوا أنه يلزم حكمه البلد القريب دون البعيد. واتفقوا على أنه لااعتبار بمعرفة الحساب والمنازل، إلا فى وجه عن ابن شريح، بالنسبة إلى العارف بالحساب. [مييزان الكبرى لعبد الوهاب الشعرانى، الجزء الثاني، ص: 17-18].

Empat Imam madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’iy dan Imam Ahmad) telah sepakat bahwa ketika bulan sabit telah terlihat di belahan dunia yang jauh, maka wajib puasa atas seluruh penduduk dunia. Hanya saja ashhab Syafi’iy telah mentashih bahwa hukum tersebut hanya mengikat (penduduk) negeri yang dekat, bukan (penduduk negeri) yang jauh.  Dan mereka telah sepakat bahwasanya pengetahuan hisab dan posisi bintang itu tidak diperhitungkan (dalam menentukan awal dan akhir Ramadlan), kecuali miturut pendapat Ibnu Syuraih, bagi orang yang mengerti hisab.

ذهب الجمهور إلى أنه لاعبرة باختلاف المطالع، متى رأى الهلال أهل البلد وجب الصوم على جميع أهل البلاد، لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم: صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته … وهو خطاب عام لجميع الأمة، فمن رآه منهم، في أي مكان، كان ذلك رؤية لهم جميعا [فقه السنة للسيد سابق، ص: 367-369].

Jumhur (mayoritas ulama mujtahid) berpendapat bahwasanya perbedaan mathlak itu tidak diperhitungkan. Kapan saja penduduk suatu negeri telah melihat bulan sabit, maka wajib puasa atas semua penduduk dunia, karena Rasulullah SAW bersabda: “Berpuasalah kalian karena melihat bulan sabit, dan berhari rayalah kalian karena melihatnya…..”. Seruan Nabi itu ditujukan kepada semua umat Islam. Maka siapa saja di antara mereka telah melihat bulan sabit di tempat manapun, maka hal itu menjadi rukyat bagi mereka semua.

فصل: واتفقوا [أي الأئمة الأربعة] على أنه إذا رؤي الهلال فى بلد رؤية فاشية، فإنه يجب الصوم على سائر أهل الدنيا، إلا أن أصحاب الشافعي صححوا أنه يلزم حكمه أهل بلد القريب، دون البعيد. والبعيد يعتبر على ما صححه إمام الحرمين والغزالي والرافعي بمسافة القصر، وعلى ما رجحه النووي باختلاف المطالع كالحجاز والعراق. واتفقوا على أنه لااعتبار بمعرفة الحساب والمنازل، إلا فى وجه عن ابن شريح من عظماء الشافعية، بالنسبة الى العارف بالحساب. [رحمة الأمة، هامش ميزان الكبرى، باب الصيام، لأبي عبد الله محمد بن عبد الرحمن الدمشقي العثماني الشافعي].

Empat Imam madzhab telah sepakat bahwasanya ketika bulan sabit telah terlihat di negeri rukyat yang jauh, maka wajib puasa atas seluruh penduduk dunia. Hanya saja Ashhab Syafi’iy telah mentashih bahwa hukum tersebut hanya mengikat penduduk negeri yang dekat, bukan yang jauh. Sedang perhitungan negeri yang jauh miturut pendapat yang telah ditashih oleh Imam Haromain, Imam Ghazali dan Imam Rafi’iy adalah jarak mengqashar shalat. Sedang miturut pendapat yang telah diunggulkan oleh Imam Nawawi adalah perbedaan mathlak seperti Hijaz dan Irak. Dan mereka telah sepakat bahwasanya pengetahuan hisab dan posisi bintang itu tidak diperhitungkan, kecuali miturut pendapat Ibnu Syuraih termasuk pembesar syafi’iyyah, bagi orang yang mengerti hisab.

وانظر نيل الأوطار للشوكاني، وفتح البر لابن حجر العسقلاني، وسبل السلام للصنعاني، والروائع البيان لعلي الصبوني، والفقه على المذاهب الأربعة لعبد الرحمن الجزيري، والجامع لأحكام القرأن للقرطبي، والدر المختار للحشفاكي، ومغني المحتاج لابن قدامة، ومجموع الفتاوى لإبن تيمية، كل ذلك فى باب الصيام أو الصوم.

Dan lihat kitab Nailul Authar karya Imam Syaukani,  Fathul Barri karya Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Subulus Salam karya Imam Shan’ani, Rowaiul Bayan karya Imam Ali Shabuni, al-Fiqh ‘ala Madzahibil Arba’ah karya Imam Abdurrahman al-Jaziri, al-Jami’ li Ahkamil Qur’an karya Imam Qurthubi, al-Durrul Mukhtar karya Imam Hasyfaki, Mughnil Muhtaj karya Imam Ibnu Qudamah, dan Majmu’ul Fatawa karya Imam Ibnu Taimiyah, di mana semuanya terdapat pada bab puasa.

 

Hadis-hadis terkait rukyat global yang dipakai oleh jumhur ulama:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته، فإن غم عليكم الشهر فعدوا ثلاثين. رواه البخاري ومسلم والنسائي. وفي لفظ: عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته، فإن غم عليكم فاقدروا ثلاثين.

Dari Abu Hurairah RA berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah kalian karena melihat hilal. Lalu apabila bulan terhalang mendung atas kalian, maka hitunglah tigapuluh”. HR Bukhari, Muslim dan Nasai. Dan dalam lafadz lain. Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah kalian karena melihat hilal. Lalu apabila kalian terhalang mendung, maka perkirakanlah tigapuluh”.

وعن أبي هريرة رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إذا رأيتم الهلال فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا، فإن غم عليكم فصوموا ثلاثين يوما. رواه مسلم وابن ماجه.

Dan dari Abu Hurairah RA: Bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apabila kalian telah melihat hilal, maka berpuasalah. Dan apabila kalian telah melihat hilal, maka berbukalah. Lalu apabila kalian terhalang mendung, maka berpuasalah tigapuluh hari”. Dan hadis-hadis lain yang senada.

وروي عن جماعة من الأنصار قالوا غم علينا هلال شوال، فأصبحنا صياما، فجاء ركب من آخر النهار، فشهدوا عند رسول الله صلى الله عليه وسلم أنهم رأوا الهلال بالأمس، فأمر رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يفطروا من يومهم، وأن يخرجوا لعيدهم من الغد. رواه الخمسة إلا الترمذي.

Dan telah diriwayatkan dari Jama’ah Anshar bahwa mereka telah berkata: “Hilal bulan Sawal telah tertutup mendung atas kami, lalu pagi harinya kami berpuasa, lalu pada sore harinya datang kafilah, lalu mereka bersaksi kepada Rasulullah SAW bahwa mereka telah melihat hilal kemaren, lalu Rasulullah SAW memerintahkan agar mereka berbuka pada hari itu juga, dan agar keluar untuk shalat ‘idul fitri pada pagi harinya”.

Dan lihat kitab Bulughul Marom karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani pada bab shalat ‘idul fitri dan ‘idul adlha serta syarahnya, yaitu kitab Subulus Salam karya Imam Shan’ani.

Catatan;

Satu   mathla’ = 24 farsakh / pos [fathul mu’iin]

Satu  farsakh  = radius 7.499,9925 m / 7,5 km [fathul qodir]

Berarti, satu mathla’ = 24 farsakh x 7.499,9925m = radius 179.999,82m

Sedangkan luas wilayah Indonesia sekitar 5.200, km.

Lalu 5.200, km : 179.999,82m = 28,888917778 [28 mathla’ lebih].

Maka Indonesia memiliki 28 mathla’.

Dengan demikian dapat dipastikan bahwa sistem rukyat yang dipakai oleh sebagian organisasi di Indonesia telah keluar dari sistem ikhtilaful mathali’ [perbedaan mathla’] miturut pendapat yang telah ditarjeh oleh Imam Nawawi, karena Indonesia memiliki 28 mathla’, dan telah keluar dari sistem masafatul qashri [jarak mengqashar shalat] miturut pendapat yang telah ditashih oleh Imam Ghazali, Imam Haromain dan Imam Rofi’i, maka status  hadits Kuraib dari Ibnu Abbas ra. yang mendasarinya tidak perlu diperdebatkan lagi karena secara substansial dan factual hadis itu sudah tidak terpakai lagi.

Hadis Kuraib;

عن كريب رضي الله عنه: أن أم الفضل بعثته إلى معاوية بالشام. قال: فقدمت بالشام فقضيت حاجتها واستهل علي هلال رمضان وأنا بالشام. فرأيت الهلال ليلة الجمعة، ثم قدمت المدينة في آخر الشهر، فسألني عبد الله بن عباس –ثم ذكر الهلال- فقال: متى رأيتم الهلال؟ فقلت: رأيناه ليلة الجمعة. قال: أنت رأيته ليلة الجمعة؟ قلت: نعم، ورآه الناس فصاموا وصام معاوية. قال: لكن رأيناه ليلة السبت فلا نزال نصوم حتى نكمل ثلاثين يوما أو نراه. فقلت: أولا نكتفي برؤية معاوية وصيامه؟ قال: لا، هكذا أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم. أخرجه مسلم و النسائ وأبو داود والترميذي.

Dari Kuraib bahwa Umul Fadlal pernah mengutusnya ke Muawiyah di Syam. Kuraib berkata: “Lalu aku datang ke Syam. Lalu aku menyelesaikan hajatnya (Umul Fadlal) dan hilal Ramadlan telah terlihat dan aku berada di Syam. Maka aku telah melihat hilal pada malam Jum’at. Kemudian aku datang ke Madinah pada akhir bulan. Lalu Abdullah Ibnu Abbas menanyaiku, –kemudian ia menuturkan hilal- lalu beliau berkata: “Kapan kalian melihat hilal?”, lalu aku berkata: “Kami telah melihatnya pada malam Jum’at”. Beliau berkata: “Akan tetapi kami telah melihatnya pada malam Sabtu, maka kami terus berpuasa sampai menyempurnakan tigapuluh hari, atau kami melihatnya”. Lalu aku berkata: “Apakah kami tidak cukup dengan rukyatnya Muawiyah serta puasanya?”, beliau berkata: “Tidak, demikianlah Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada kami”.

Mengenai topik Ikhtilaful Mathali’ [perbedaan mathla’], maka Syaikh Muhammad Husain Abdullah rh. telah menjelaskan alasannya sebagai berikut ;

أما اختلاف المطالع التي يتذرع بعض العلماء وغيرهم فهي من باب تحقيق مناط الحكم الذي بحثه الفقهاء السابقون للواقع الذي كان موجودا زمنهم حيث كان المسلمون لا يتمكنون من إبلاغ رؤية الهلال إلى جميع سكان دولة الخلافة المترامية الأطراف، لأن وسائل الإعلام التي كانت متاحة يومئذ كانت قاصرة عن ذلك.

Adapun perbedaan mathla’ yang dijadikan alasan oleh sebagian ulama dan oleh yang lain, maka itu termasuk bab ‘Tahqiqu Manathil Hukmi’ (identifikasi terhadap obyek hukum) yang telah dibahas oleh fuqaha terdahulu terhadap realita yang ada saat itu, di mana kaum muslim tidak bisa menyampaikan rukyat hilal kepada semua penduduk Negara Khilafah yang wilayahnya saling berjauhan, karena sarana informasi yang ada saat itu tidak dapat menjangkau semuanya.

وأما اليوم، فوسائل الإعلام الموجودة قادرة على نقل خبر رؤية الهلال إلى أي مكان، فى ثوان معدودة، فيلزم المسلمين اليوم الصوم، أو الإفطار، لمجرد سماعهم خبر رؤية الهلال، ولو لم يروه هم فى بلدهم، مادام الذي رآه مسلم … [مفاهم إسلامية للشيخ محمد حسين عبد الله، ج، 2 ص: 159].

Adapun sekarang, maka sarana informasi yang ada telah mampu memindahkan berita rukyat hilal ke tempat manapun dalam beberapa menit saja. Maka wajib atas kaum muslim saat ini berpuasa atau berbuka hanya dengan mendengar berita rukyat hilal meskipun mereka sendiri tidak melihatnya di negerinya, selama yang telah melihatnya adalah orang muslim.

Dari pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa pendapat rukyat global yang dipraktekkan oleh Hizbut Tahrir dan kelompok lain adalah pendapat yang kuat dan realistis juga rasional. Apalagi kalau dikaitkan dengan sejumlah hadis yang melarang mendahului bulan Ramadhan atau bulan Syawal dalam berpuasa dan berbuka, yang mengharamkan puasa pada hari raya, dan yang terkait dengan puasa Tarwiyah dan Arofah yang harus bersamaan dengan jamaah haji yang membawa bekal air minum untuk pergi ke Arofah dan jamaah haji yang wukuf di Arafah, maka semakin jelaslah kekeliruan pendapat rukyat lokal atau rukyat nasional, karena tidak memiliki dasar hukum yang kuat, dan tidak realistis dan tidak rasional, ibarat makanan telah kedaluwarsa. Wallahu a’lam bish shawab.

HUKUM JILBAB : WAJIB BAGI MUSLIMAH

Jilbab merupakan busana muslimah yang wajib dipakai seorang muslimah.  Kewajiban mengenakan jilbab tidak jauh berbeda dengan  kewajiban-kewajiban lainnya, yang jika melanggarnya ( tidak mengenakannya) akan berdosa. Hanya saja banyak diantara kaum muslimah ( bahkan mayoritas) di negeri indonesia tidak mengenakannya. Kebanyakan diantara mereka karena tidak tahu  hukum memakai jilbab, namun tidak sedikit yang tahu tapi tidak mau tahu karena sudah terbiasa dengan pola hidup sekulerisme.

Disamping itu, banyak kesalahpahaman terhadap Islam di tengah masyarakat. Misalnya saja jilbab. Tak sedikit orang menyangka bahwa yang dimaksud dengan jilbab adalah kerudung. Padahal tidak demikian. Jilbab bukan kerudung. Kerudung dalam al-Qur’an surah An-Nuur [24]: 31 disebut dengan istilah khimar (jamaknya: khumur), bukan jilbab. Adapun jilbab yang terdapat dalam surah al-Ahzab [33]: 59, sebenarnya adalah baju longgar yang menutupi seluruh tubuh perempuan dari atas sampai bawah.

Akumulasi ketidakfahaman terhadap hukum jilbab maupun khimar atau kerudung dan pola hidup sekulerisme tersebut membuat muslimah banyak yang enggan mengenakannya. Hal itu merupakan ujian kesabaran dan keimanan kaum muslimah untuk konsisten terhadap ajaran Islam yang mulia. Bahkan Allah SWT akan melipatgandakan pahala bagi siapa saja yang menjalankan sunnah rasul disaat orang banyak meninggalkannya, sebagaimana sabdanya :

 Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang memerlukan kesabaran. Kesabaran pada masa-masa itu bagaikan memegang bara api. Bagi orang yang mengerjakan suatu amalan pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan semisal amalan itu. Ada yang berkata, “Hai Rasululah, apakah itu pahala lima puluh di antara mereka?” Rasululah Saw menjawab, “Bahkan lima puluh orang di antara kalian (para shahabat).” [HR. Abu Dawud, dengan sanad hasan].

Aurat Dan Busana Muslimah

Ada 3 (tiga) masalah yang sering dicampuradukkan yang sebenarnya merupakan masalah-masalah yang berbeda-beda.

Pertama, masalah batasan aurat bagi wanita.

Kedua, busana muslimah dalam kehidupan khusus (al hayah al khashshash), yaitu tempat-tempat di mana wanita hidup bersama mahram atau sesama wanita, seperti rumah-rumah pribadi, atau tempat kost.

Ketiga, busana muslimah dalam kehidupan umum (al hayah ‘ammah), yaitu tempat-tempat di mana wanita berinteraksi dengan anggota masyarakat lain secara umum, seperti di jalan-jalan, sekolah, pasar, kampus, dan sebagainya. Busana wanita muslimah dalam kehidupan umum ini terdiri dari jilbab dan khimar.

a. Batasan Aurat Wanita

Aurat wanita adalah seluruh anggota tubuhnya kecuali wajah dan dua telapak tangannya. Lehernya adalah aurat, rambutnya juga aurat bagi orang yang bukan mahram, meskipun cuma selembar. Seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan adalah aurat yang wajib ditutup. Hal ini berlandaskan firman Allah SWT:

Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (Qs. an-Nuur [24]: 31).

Yang dimaksud “wa laa yubdiina ziinatahunna” (janganlah mereka menampakkan perhiasannya), adalah “wa laa yubdiina mahalla ziinatahinna” (janganlah mereka menampakkan tempat-tempat (anggota tubuh) yang di situ dikenakan perhiasan) (Lihat Abu Bakar Al-Jashshash, Ahkamul Qur’an, juz III, hal. 316).

Selanjutnya, “illa maa zhahara minha” (kecuali yang (biasa) nampak dari padanya). Jadi ada anggota tubuh yang boleh ditampakkan. Anggota tubuh tersebut, adalah wajah dan dua telapak tangan. Demikianlah pendapat sebagian shahabat, seperti ‘Aisyah, Ibnu Abbas, dan Ibnu Umar (Al-Albani, 2001 : 66). Ibnu Jarir Ath-Thabari (w. 310 H) berkata dalam kitab tafsirnya Jami’ Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an, juz XVIII, hal. 84, mengenai apa yang dimaksud dengan “kecuali yang (biasa) nampak dari padanya” (illaa maa zhahara minha): “Pendapat yang paling mendekati kebenaran adalah yang mengatakan, ‘Yang dimaksudkan adalah wajah dan dua telapak tangan’.” Pendapat yang sama juga dinyatakan Imam Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, juz XII, hal. 229 (Al-Albani, 2001 : 50 & 57).

Jadi, yang dimaksud dengan apa yang nampak dari padanya adalah wajah dan dua telapak tangan. Sebab kedua anggota tubuh inilah yang biasa nampak dari kalangan muslimah di hadapan Nabi Saw sedangkan beliau mendiamkannya. Kedua anggota tubuh ini pula yang nampak dalam ibadah-ibadah seperti haji dan shalat. Kedua anggota tubuh ini biasa terlihat di masa Rasulullah Saw, yaitu di masa masih turunnya ayat al-Qur’an (An-Nabhani, 1990 : 45). Di samping itu terdapat alasan lain yang menunjukkan bahwasanya seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan dua telapak tangan karena sabda Rasulullah Saw kepada Asma’ binti Abu Bakar:

Wahai Asma’ sesungguhnya seorang wanita itu apabila telah baligh (haidl) maka tidak boleh baginya menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini, seraya menunjukkan wajah dan telapak tangannya.” [HR. Abu Dawud].

Inilah dalil-dalil yang menunjukkan dengan jelas bahwasanya seluruh tubuh wanita itu adalah aurat, kecuali wajah dan dua telapak tangannya. Maka diwajibkan atas wanita untuk menutupi auratnya, yaitu menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangannya.

b. Busana Muslimah Dalam Kehidupan Khusus

Adapun dengan apa seorang muslimah menutupi aurat tersebut, maka di sini syara’ tidak menentukan bentuk/model pakaian tertentu untuk menutupi aurat, akan tetapi membiarkan secara mutlak tanpa menentukannya dan cukup dengan mencantumkan lafadz dalam firman-Nya (Qs. an-Nuur [24]: 31) “wa laa yubdiina” (Dan janganlah mereka menampakkan) atau sabda Nabi Saw “lam yashluh an yura minha” (tidak boleh baginya menampakkan tubuhnya) [HR. Abu Dawud]. Jadi, pakaian yang menutupi seluruh auratnya kecuali wajah dan telapak tangan dianggap sudah menutupi, walau bagaimana pun bentuknya. Dengan mengenakan daster atau kain yang panjang juga dapat menutupi, begitu pula celana panjang, rok, dan kaos juga dapat menutupinya. Sebab bentuk dan jenis pakaian tidak ditentukan oleh syara’.

Berdasarkan hal ini maka setiap bentuk dan jenis pakaian yang dapat menutupi aurat, yaitu yang tidak menampakkan aurat dianggap sebagai penutup bagi aurat secara syar’i, tanpa melihat lagi bentuk, jenis, maupun macamnya.

Namun demikian syara’ telah mensyaratkan dalam berpakaian agar pakaian yang dikenakan dapat menutupi kulit. Jadi pakaian harus dapat menutupi kulit sehingga warna kulitnya tidak diketahui. Jika tidak demikian, maka dianggap tidak menutupi aurat. Oleh karena itu apabila kain penutup itu tipis/transparan sehingga nampak warna kulitnya dan dapat diketahui apakah kulitnya berwarna merah atau coklat, maka kain penutup seperti ini tidak boleh dijadikan penutup aurat.

Mengenai dalil bahwasanya syara’ telah mewajibkan menutupi kulit sehingga tidak diketahui warnanya, adalah hadits yang diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwasanya Asma’ binti Abubakar telah masuk ke ruangan Nabi Saw dengan berpakaian tipis/transparan, lalu Rasulullah Saw berpaling seraya bersabda:

Wahai Asma` sesungguhnya seorang wanita itu apabila telah baligh (haidl) tidak boleh baginya untuk menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini.” [HR. Abu Dawud].

Jadi Rasulullah Saw menganggap kain yang tipis itu tidak menutupi aurat, malah dianggap menyingkapkan aurat. Oleh karena itu lalu Nabi Saw berpaling seraya memerintahkannya menutupi auratnya, yaitu mengenakan pakaian yang dapat menutupi.

Dalil lainnya juga terdapat dalam hadits riwayat Usamah bin Zaid, bahwasanya ia ditanyai oleh Nabi Saw tentang Qibtiyah (baju tipis) yang telah diberikan Nabi Saw kepada Usamah. Lalu dijawab oleh Usamah bahwasanya ia telah memberikan pakaian itu kepada isterinya, maka Rasulullah Saw bersabda kepadanya:

Suruhlah isterimu mengenakan baju dalam di balik kain Qibtiyah itu, karena sesungguhnya aku khawatir kalau-kalau nampak lekuk tubuhnya.” [HR. Ahmad dan Al-Baihaqi, dengan sanad hasan. Dikeluarkan oleh Adh-Dhiya’ dalam kitab Al-Ahadits Al-Mukhtarah, juz I, hal. 441] (Al-Albani, 2001 : 135).

Qibtiyah adalah sehelai kain tipis. Oleh karena itu tatkala Rasulullah Saw mengetahui bahwasanya Usamah memberikannya kepada isterinya, beliau memerintahkan agar dipakai di bagian dalam kain supaya tidak kelihatan warna kulitnya dilihat dari balik kain tipis itu, sehingga beliau bersabda: “Suruhlah isterimu mengenakan baju dalam di balik kain Qibtiyah itu.

Dengan demikian kedua hadits ini merupakan petunjuk yang sangat jelas bahwasanya syara’ telah mensyaratkan apa yang harus ditutup, yaitu kain yang dapat menutupi kulit. Atas dasar inilah maka diwajibkan bagi wanita untuk menutupi auratnya dengan pakaian yang tidak tipis sedemikian sehingga tidak tergambar apa yang ada di baliknya.

c. Busana Muslimah Dalam Kehidupan Umum

Pembahasan poin b di atas adalah topik mengenai penutupan aurat wanita dalam kehidupan khusus. Topik ini tidak dapat dicampuradukkan dengan pakaian wanita dalam kehidupan umum, dan tidak dapat pula dicampuradukkan dengan masalah tabarruj pada sebagian pakaian-pakaian wanita.

Jadi, jika seorang wanita telah mengenakan pakaian yang menutupi aurat, tidak berarti lantas dia dibolehkan mengenakan pakaian itu dalam kehidupan umum, seperti di jalanan umum, atau di sekolah, pasar, kampus, kantor, dan sebagainya. Mengapa? Sebab untuk kehidupan umum terdapat pakaian tertentu yang telah ditetapkan oleh syara’. Jadi dalam kehidupan umum tidaklah cukup hanya dengan menutupi aurat, seperti misalnya celana panjang, atau baju potongan, yang sebenarnya tidak boleh dikenakan di jalanan umum meskipun dengan mengenakan itu sudah dapat menutupi aurat.

Seorang wanita yang mengenakan celana panjang atau baju potongan memang dapat menutupi aurat. Namun tidak berarti kemudian pakaian itu boleh dipakai di hadapan laki-laki yang bukan mahram, karena dengan pakaian itu ia telah menampakkan keindahan tubuhnya (tabarruj). Tabarruj adalah, menempakkan perhiasan dan keindahan tubuh bagi laki-laki asing/non-mahram (izh-haruz ziinah wal mahasin lil ajaanib) (An-Nabhani, 1990 : 104). Oleh karena itu walaupun ia telah menutupi auratnya, akan tetapi ia telah bertabarruj, sedangkan tabarruj dilarang oleh syara’.

busana muslimah dalam kehidupan umum ada 2 (dua), yaitu baju bawah (libas asfal) yang disebut dengan jilbab, dan baju atas (libas a’la) yaitu khimar (kerudung). Dengan dua pakaian inilah seorang wanita boleh berada dalam kehidupan umum, seperti di kampus, supermarket, jalanan umum, kebun binatang, atau di pasar-pasar.

Apakah pengertian jilbab? Dalam kitab Al Mu’jam Al Wasith karya Dr. Ibrahim Anis (Kairo : Darul Maarif) halaman 128, jilbab diartikan sebagai “Ats tsaubul musytamil ‘alal jasadi kullihi” (pakaian yang menutupi seluruh tubuh), atau “Ma yulbasu fauqa ats tsiyab kal milhafah” (pakaian luar yang dikenakan di atas pakaian rumah, seperti milhafah (baju terusan), atau “Al Mula`ah tasytamilu biha al mar’ah” (pakaian luar yang digunakan untuk menutupi seluruh tubuh wanita).

Jadi jelaslah, bahwa yang diwajibkan atas wanita adalah mengenakan kain terusan (dari kepala sampai bawah) (Arab: milhafah/mula`ah) yang dikenakan sebagai pakaian luar (di bawahnya masih ada pakaian rumah, seperti daster, tidak langsung pakaian dalam) lalu diulurkan ke bawah hingga menutupi kedua kakinya.

Untuk baju atas, disyariatkan khimar, yaitu kerudung atau apa saja yang serupa dengannya yang berfungsi menutupi seluruh kepala, leher, dan lubang baju di dada. Pakaian jenis ini harus dikenakan jika hendak keluar menuju pasar-pasar atau berjalan melalui jalanan umum (An-Nabhani, 1990 : 48).

Apabila ia telah mengenakan kedua jenis pakaian ini (jilbab dan khimar) dibolehkan baginya keluar dari rumahnya menuju pasar atau berjalan melalui jalanan umum, yaitu menuju kehidupan umum. Akan tetapi jika ia tidak mengenakan kedua jenis pakaian ini maka dia tidak boleh keluar dalam keadaan apa pun, sebab perintah yang menyangkut kedua jenis pakaian ini datang dalam bentuk yang umum, dan tetap dalam keumumannya dalam seluruh keadaan, karena tidak ada dalil yang mengkhususkannya.

Dalil mengenai wajibnya mengenakan dua jenis pakaian ini, karena firman Allah SWT mengenai pakaian bagian bagian atas (khimar/kerudung):

Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (Qs. an-Nuur [24]: 31).

Dan karena firman Allah SWT mengenai pakaian bagian bawah (jilbab):

Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya.

 

” (Qs. al-Ahzab [33]: 59).

Adapun dalil bahwa jilbab merupakan pakaian dalam kehidupan umum, adalah hadits yang diriwayatkan dari Ummu ‘Athiah r.a., bahwa dia berkata:

Rasulullah Saw memerintahkan kaum wanita agar keluar rumah menuju shalat Ied, maka Ummu ‘Athiyah berkata, ‘Salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab?’ Maka Rasulullah Saw menjawab: ‘Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya kepadanya!’” [Muttafaqun ‘alaihi] (Al-Albani, 2001 : 82).

Berkaitan dengan hadits Ummu ‘Athiyah ini, Syaikh Anwar Al-Kasymiri, dalam kitabnya Faidhul Bari, juz I, hal. 388, mengatakan: “Dapatlah dimengerti dari hadits ini, bahwa jilbab itu dituntut manakala seorang wanita keluar rumah, dan ia tidak boleh keluar (rumah) jika tidak mengenakan jilbab.” (Al-Albani, 2001 : 93).

Dalil-dalil di atas tadi menjelaskan adanya suatu petunjuk mengenai pakaian wanita dalam kehidupan umum. Allah SWT telah menyebutkan sifat pakaian ini dalam dua ayat di atas yang telah diwajibkan atas wanita agar dikenakan dalam kehidupan umum dengan perincian yang lengkap dan menyeluruh. Kewajiban ini dipertegas lagi dalam hadits dari Ummu ‘Athiah r.a. di atas, yakni kalau seorang wanita tak punya jilbab —untuk keluar di lapangan sholat Ied (kehidupan umum)— maka dia harus meminjam kepada saudaranya (sesama muslim). Kalau tidak wajib, niscaya Nabi Saw tidak akan memerintahkan wanita mencari pinjaman jilbab.

Untuk jilbab, disyaratkan tidak boleh potongan, tetapi harus terjulur sampai ke bawah sampai menutup kedua kaki, sebab Allah SWT mengatakan:

yudniina ‘alaihinna min jalabibihinna” (Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka). Dalam ayat tersebut terdapat kata “yudniina” yang artinya adalah yurkhiina ila asfal (mengulurkan sampai ke bawah/kedua kaki).

Penafsiran ini —yaitu idnaa’ berarti irkhaa’ ila asfal— diperkuat dengan dengan hadits Ibnu Umar bahwa dia berkata, Rasulullah Saw telah bersabda:

Barang siapa yang melabuhkan/menghela bajunya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada Hari Kiamat nanti.’ Lalu Ummu Salamah berkata,’Lalu apa yang harus diperbuat wanita dengan ujung-ujung pakaian mereka (bi dzuyulihinna).” Nabi Saw menjawab,’Hendaklah mereka mengulurkannya (yurkhiina) sejengkal (syibran)’ (yakni dari separoh betis). Ummu Salamah menjawab, ‘Kalau begitu, kaki-kaki mereka akan tersingkap.’ Lalu Nabi menjawab, ‘Hendaklah mereka mengulurkannya sehasta (fa yurkhiina dzira`an) dan jangan mereka menambah lagi dari itu.” [HR. At-Tirmidzi, juz III, hal. 47; hadits sahih] (Al-Albani, 2001 : 89).

Hadits di atas dengan jelas menunjukkan bahwa pada masa Nabi Saw, pakaian luar yang dikenakan wanita di atas pakaian rumah —yaitu jilbab— telah diulurkan sampai ke bawah hingga menutupi kedua kaki.

Berarti jilbab adalah terusan, bukan potongan. Sebab kalau potongan, tidak bisa terulur sampai bawah. Atau dengan kata lain, dengan pakaian potongan seorang wanita muslimah dianggap belum melaksanakan perintah “[/i]yudniina ‘alaihinna min jalaabibihina[/i]” (Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbabnya). Di samping itu kata min dalam ayat tersebut bukan min lit tab’idh (yang menunjukkan arti sebagian) tapi merupakan min lil bayan (menunjukkan penjelasan jenis). Jadi artinya bukanlah “Hendaklah mereka mengulurkan sebagian jilbab-jilbab mereka” (sehingga boleh potongan), melainkan Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka (sehingga jilbab harus terusan) (An-Nabhani, 1990 : 45-51).

HUKUM DAN BATASAN ZAKAT MAL

Shodaqoh yang menjadi sumber pemasukan baitul mal adalah zakat. Istilah shodaqoh digunakan untuk menyebut zakat, begitu pula  digunakan istilah zakat terhadap shodaqoh. Zakat menurut bahasa artinya berkembang (an-namaau) berarti juga pensucian (tathhir).Sedang menurut istilah syara’ , zakat memiliki dua makna tersebut. Karena dengan mengeluarkan zakat menjadi sebab timbulnya berkah pada harta. Seperti yang dinyatakan dalam sebuah hadits “Tidak berkurang harta karena shodaqoh (dikeluarkan zakatnya). Sebab lain, karena zakat itu menambah banyak pahala, mensucikan diri dari sifat bakhil (kikir) dan membersihkan dari dosa. (Al Amwal fi Daulatil Khilafah, Abd Qodim Zallum, hal 149)
       Secara definisi, zakat adalah sejumlah nilai/ukuran  tertentu yang wajib dikeluarkan dari harta (yang jenisnya) tertentu pula. Zakat adalah salah satu ibadah dan merupakan salah satu rukun  dari rukun-rukun Islam. Zakat hanya wajib bagi kaum muslimin. Untuk zakat fitrah kewajiban mutlak ditujukan kepada seluruh kaum muslimin baik kaya dan miskin. Zakat Mal dikhususkan pada mereka yang telah memenuhi kriteria tertentu secara hukum syara’ sehingga mengharuskan untuk mengeluarkan zakatnya. Allah SWT telah berfirman :
واتوا الزکاة
“Dan keluarkanlah zakat oleh kalian [kaum muslimin]” ( TQS. Al Baqoroh [2]: 43)
Rasulullah SAW pernah mengutus Mu’az bin Jabal ke Yaman, dan bersabda : “Beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah SWT telah mewajibkan atas mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya diantara mereka untuk kemudian dikembalikan kepada orang-orang fakir diantara mereka”.
Jenis-Jenis Zakat Mal
Zakat diwajibkan pada harta-harta sebagai berikut :
1.   Ternak, yaitu unta, sapi dan kambing
2.   Tanaman (hasil pertanian) dan buah-buahan
3.   Nuqud / Mata Uang (Emas dan perak)
4.   Keuntungan dari Perdagangan
Zakat diwajibkan pada 4 hal diatas jika telah mencapai nishob, hutangnya sudah dilunasi dan telah mencapai 1 tahun (haul). Kecuali untuk tanaman hasil pertanian dan buah-buahan zakatnya wajib saat panen.
1.      ZAKAT EMAS DAN PERAK
Zakat emas dan perak , termasuk didalamnya uang adalah wajib hukumnya untuk dikeluarkan sebagaimana yang ada dalam sunah dan ijma’ shohabat.
Tidak ada seorang pun yang pada dirinya  memiliki emas dan perak, kemudian tidak mengeluarkan zakatnya, kecuali pada hari Kiamat nanti akan dipakaikan kepadanya pakaian dari api neraka, yang dengan pakaian itu di dalam neraka jahannam pinggang dan keningnya meleleh demikian juga punggungnya. Setiap bagian anggota tubuh tadi hancur maka dikembalikan ke keadaan semula, dan itu berlangsung pada kadar waktu sehari sama dengan lima puluh ribu tahun sampai ditetapkan oleh Allah ketetapan diatara hamba dan diperlihatkan kepadanya apakah jalanya menuju syurga ataukan jalan menuju Neraka” (HR Al Khomsah, kecuali Tirmidzi).
Ukuran nishob emas yang harus dikeluarkan adalah  setelah mencapai nilai 20 dinar, dengan mengeluarkan ½ dinar (2,5 %). Sedangkan ukuran 1 Dinar adalah setara dengan 4,25 gram emas. Jadi nilainya sama dengan 20 x 4,25 = 85 gram Emas. Selain memenuhi kriteria nishob, juga harus telah mencapai satu tahun (haul).
              Sabda nabi SAW dari Aisyah r.a : “Tidak ada zakat pada harta sehingga mencapai haulnya”
        Dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata :
“Setiap 20 dinar zakatnya ½ dinar, dan setiap 40 dinar zakatnya satu dinar”
        Dari Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dari Nabi SAW berliau bersabda : ”Tidak ada zakat bagi emas yang ukurannya kurang dari 20 mitsqol”
Oleh karena itu jika ditaksirkan 1 gram emas harganya 400.000 rupiah. Maka nishob harta emas dan perak menjadi 85 Gram x 400.000 = 34.000.000, maka setiap kaum muslimin yang memiliki uang/tabungan atau harta baik berupa emas/perak atau uang senilai 34.000.000 atau lebih ( sesuai dengan harga emas yang berlaku) wajib hukumnya mengeluarkan zakat sebesar 2,5%. Jadi perhitungannya adalah menjadi 34.000.000 X 2,5% = Rp. 850.000
2.      ZAKAT TERNAK
            2.1. Nishob zakat Unta  yang wajib dikeluarkan :
1
5 ekor unta
1 ekor kambing
2
10 ekor unta
2 ekor kambing
3
15 ekor unta
3 ekor kambing
4
20 ekor unta
4 ekor kambing
5
25 ekor unta
1 ekor anak Unta betina (bintu makhadl)
(1 ekor anak unta jantan umur lebih dari 2 tahun)
6
36 ekor unta
1 ekor anak unta betina (bintu labun)
7
46 ekor unta
1 ekor anak unta betina (hiqqoh Untsa)
8
61 ekor unta
1 ekor  onta betina muda (jadza’ah)
9
76 ekor unta
2 ekor unta betina (bintaa labun)
10
96 ekor unta
2 ekor unta betina (hiqqatani)
             2.2. Nishob zakat Sapi dan  Kerbau (Jamus) zakatnya sama :
1
  30 ekor sapi
1 ekor sapi umur 1 tahun lebih (tabi’)
2
  40 ekor sapi
1 ekor sapi musinah ( tumbuh gigi, umur 2 th lebih)
3
  60 ekor sapi
2 ekor tabi’
4
  70 ekor sapi
2 ekor ( tabi’ dan musinah)
5
  80 ekor sapi
2 ekor musinah
6
  90 ekor sapi
3 ekor tabi’ah
7
100 ekor sapi
1 ekor musinah dan 2 ekor tabi’
8
110 ekor sapi
2 ekor musinah dan 1 ekor tabi’
9
120 ekor sapi
3 ekor musinah / 4 ekor tabi’
              2.3.Nishob zakat Kambing yang wajib dikeluarkan :
1
40 ekor kambing
1 ekor kambing
2
121 ekor kambing
2 ekor kambing
3
201 ekor kambing
3 ekor kambing
4
400 ekor kambing
4 ekor kambing
3.      ZAKAT TANAMAN
Zakat tanaman hanya diwajibkan atas 4 Jenis :
            1. Gandum ( al Qamhu)
            2. Jewawut ( Asu-Sya’ir)
            3. Kurma (At Tamru)
            4. Kismis ( Az-Zahib)
Dari Musa bin Thalhah, berkata : “Rasulullah SAW telah memerintahkan Mu’adz bin Jabal pada saat diutus ke Yaman yaitu agar dia mengambil zakat dari jewawut, gandum, kurma dan anggur
Dikatakan berikutnya  :
لاتآخد الصدقة الا من هده الاربعة : الشعیر والحنطة والزبیب والتمر
”Janganlah kalian berdua mengambil zakat kecuali dari keempat macam (yaitu) gandum, jewawut, kismis dan kurma”
Mengapa hanya 4 macam saja?
Baihaqi menjelaskan, disebabkan adanya lafadz –illa—apabila diawali dengan nafiy atau nahi menunjukkan makna ‘pembatasan’ terhadap segala sesuatu yang disebut sebelumnya atas segala sesuatu yang disebut sesudahnya. Selain itu, keempat makanan tersebut diatas  adalah merupakan isim jamid, sehingga tidak mengandung arti yang lain baik secara mantuq, mafhum, maupun iltizam. Hal itu karena bukan termasuk isim sifat, bukan juga isim-isim ma’ani, tetapi dibatasi oleh jenis yang disebut dengan isim tersebut. Sehingga mutlak tidak bisa diqiyaskan dengan tanaman jenis lainnya seperti padi, atau dengan lainnya.
Nishob Zakat Tanaman :
            Nishob zakat tanaman yang wajib dikeluarkan adalah 5 wasaq. Sebagaimana rasulullah SAW bersabda : “Tidak ada zakat dalam jumlah yang kurang dari lima wasaq (HR. Bukhari dan Muslim).
Ukuran 1 washoq adalah sama dengan 60 sha’. Satu sha’ sama dengan 4 mud, dan 1 mud sama dengan 1,33 rithl Baghdad. 1 Sha’ = 2,176 kg ( ukuran gandum).Maka untuk 5 wasaq untuk biji-bijian sama dengan 652 kg. Maka setiap panen mencapai 652 Kilo gram wajib mengeluarkan zakat.
Zakat tanaman dikeluarkan saat panen. Besarnya zakat sebagaimana disebutkan dari Imam Ali : “Apabila disiram air hujun, zakatnya sepersepuluh (10%) dan apabila disiran dengan kincir atau alat penyiram, zakatnya seperduapuluh (5%)”.
4.      ZAKAT PERDAGANGAN
            Harta yang digunakan untuk perdagangan wajib dikeluarkan zakatnya berdasarkan kesepakatan para ulama salaf maupun khalaf. Dari Samurah bin Jundab berkata : “Kemudian dari pada itu, sesungguhnya Rasulullah SAW memerintahkan  kepada kami mengambil zakat dari semua yang kami maksudkan untuk dijual” ( HR. Abu Dawud).
Harta perdagangan adalah sesuatu (selain uang) yang digunakan untuk menjalankan perdagangan, baik dengan pembelian maupun penjualan, yang bertujuan memperoleh keuntungan. Harta perdagangan meliputi makanan, pakaian, kendaraan, barang-barang industry, hewan, barang-barang tambang, bangunan, tanah, dan lain-lainnya yang biasa diperjual belikan.
      Zakat perdagangan ini wajib dikeluarkan apabila telah mencapai nilai nishob emas (85 gram emas) dan mencapai haul ( 1 tahun).
Perhitungannya adalah sebagai berikut :
 Apabila seorang pedagang memulai perdagangan dengan harta yang jumlahnya mencapai nishob  misalnya dengan modal 1000 dinar. Setelah 1 tahun  bersamaan dengan keuntungan menjadi 3000 dinar. Maka diwajibkan mengeluarkan harta perdagangan tersebut berdasarkan jumlah terakhir harta yang dimiliki yaitu 3000 dinar bukan 2000 dinar.hal ini seperti seokor kambing yang melahirkan anak-anaknya akan dihitung secara keseluruhan dari awal hingga jumlah terakhir. Perhitungannya sama dengan zakat emas dan perak yakni 1/40 atau 2,5 % dari total keseluruhan harta perdagangan yang ada.
Catatan : Zakat tersebut tidak berlaku jika seseorang yang telah mencapai nishob dan haul tetali masih memilikii hutang, maka harus dukelurkan dahulu untuk membaya hutang dan sisanya baru dihitung kembali. Jika masih masuk hitungan nishob , maka secara syar’I harus mengeluarkan zakatnya. Wallahu a’lam bi ash showab.

HUKUM KARTU KRIDIT : RIBA

Image

hukum kartu kredit haram

Kartu kredit haram atau halal? Banyak kaum muslimin yang sadar atau terpaksa telah perperangkap dengan permainan kartu kredit, yang jika tidak tahu, selain jatuh dalam dosa riba juga bisa bangkrut dalam kehidupannya. Lantaran keberadaan kartu kredit mendorong seseorang untuk bergaya konsumtif, padahal secara real orang tersebut kebanyakan tidak memiliki kemampuan finasial. Tulisan ini akan mengulas bagaimana sebenarnya hukum kartu kredit dalam pandangan Islam.

Kartu yang dikeluarkan bank bisa dibagi menjadi dua: kartu kredit dan kartu debit. Kartu kredit adalah suatu jenis penyelesaian transaksi ritel (retail) dan sistem kredit, yang namanya berasal dari kartu plastik yang diterbitkan untuk pengguna sistem tersebut. Kartu kredit berbeda dengan kartu debit. Bedanya, penerbit kartu kredit meminjami konsumen uang dan bukan mengambil uang dari rekening. Kebanyakan kartu kredit memiliki bentuk dan ukuran yang sama, seperti yang dispesifikasikan oleh standar ISO 7810. Lazimnya pinjaman, pengguna kartu tersebut wajib mengembalikan pinjamannya pada tenggat waktu yang telah ditetapkan. Jika tidak bisa, selain terkena beban bunga, juga denda atau pinalti. Contoh kartu kredit: Mastercard, VISA, American Express, Diners Club, JCB dan lain-lain.

Adapun kartu debit adalah sebuah kartu pembayaran secara elektronik yang diterbitkan oleh sebuah bank. Kartu ini mengacu pada saldo tabungan bank Anda di bank penerbit kartu tersebut. Apabila tabungan Anda Rp 1 juta, misalnya, Anda tidak bisa melakukan transaksi di atas nilai tersebut. Dengan kata lain, nilai transaksi dibatasi oleh nilai tabungan Anda. Setiap pembayaran dengan kartu debit akan mengurangi saldo tabungan Anda secara langsung (realtime) seperti halnya Anda menarik tabungan di ATM. Fungsi dari kartu debit adalah untuk memudahkan pembayaran ketika berbelanja tanpa harus membawa uang tunai. Kartu tersebut akan digesekkan pada sebuah alat pembaca kartu (magstripe reader) di merchand tempat Anda belanja dan Anda akan diminta untuk memasukkan nomor PIN sebagai bukti Anda mengakui pembelanjaan tersebut. Info dari hasil pembacaan beserta informasi total belanja akan di teruskan ke bank penerbit untuk dilakukan verifikasi keabsahan dari kartu tersebut. Sesudah verifikasi berhasil, saldo tabungan Anda langsung didebit (dikurangi). Contoh kartu debit ini seperti Kartu Debit BCA, Mandiri, BNI, BRI dan sebagainya.

Berdasarkan kedua fakta di atas, hukum kartu kredit berbeda dengan hukum kartu debit. Kartu kredit jelas-jelas haram. Dalil keharamannya dikembalikan pada dalil tentang keharaman riba. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kalian orang-orang Mukmin (QS al-Baqarah [2]: 278).

Ini karena transaksi dengan menggunakan kartu kredit merupakan bentuk qardh (hutang) dari pengguna kartu kepada pihak bank, disertai dengan bunga dan denda. Mungkin ada yang bertanya, bagaimana kalau dalam pengemba-liannya bisa menghindari bunga, misalnya dibayar tepat waktu, sehingga bisa terhindar dari bunga. Yang pasti, bunga tidak bisa dihindari oleh pemegang kartu, karena memang sudah ditetapkan oleh pihak bank. Adapun yang bisa dihindari, sebenarnya bukanlah bunga, melainkan denda atau pinaltinya. Dengan demikian, jelas bahwa kartu kredit tersebut nyata-nyata transaksi riba, yang status akadnya batil dan diharamkan di dalam Islam.

Berbeda dengan kartu debit. Penggunaan kartu debit statusnya bukanlah dayn dari pemegang kartu kepada pihak bank, melainkan pemindahan hak yang dimiliki oleh pengguna kartu kepada pihak lain, yang dilakukan oleh bank atas perintah pengguna kartu tersebut. Dalam kasus ini, status penggunaan kartu debit tersebut sama dengan hawalah. Hawalah itu sendiri hukumnya mubah. Rasulullah saw. bersabda:

مَطَلُ الْغَنِيُّ ظُلْمٌ وَإِذَا أُحِيْلَ أَحَدُكُمْ عَلَى غَنِيٍّ فَلْيَسْتَحِلْ

Orang kaya yang menangguh-nangguhkan (pembayaran hutang) adalah zalim. Jika salah seorang di antara kalian memindahkan (hutang) kepada orang kaya maka hendaknya dia memindahkan (hutangnya) (Dikeluarkan oleh Ibn Rusyd dalam Al-Bidâyah).

Menurut Ibn Rusyd, hawalah ini merupakan bentuk transaksi yang sah, dan dikecualikan dari praktik pembayaran hutang dengan hutang.1 Dalam praktik hawalah, biasanya ada empat hal: muhil (orang yang memindahkan hak), muhtal (orang yang diminta memindahkan hak), muhal ‘alayhi (orang yang menerima hak), muhal bihi (hak/tanggungan yang dipindahkan). Dengan logika hawalah ini bisa dipetakan, bahwa pemegang kartu debit tadi bertindak sebagai muhil, pihak bank adalah muhtal, pihak ketiga yang mendapatkan haknya disebut muhal ‘alaihi, dan hak (uang) yang diberikan kepadanya disebut muhal bihi.

Hukum hawalah pada dasarnya mubah. Hawalah tidak akan terjadi manakala muhil tidak memiliki hak yang ada pada muhtal, yang bisa dipindahkan kepada pihak ketiga (muhal ‘alayhi). Karena itu, Ibn Qudamah menyebut hawalah ini sama dengan taslîm (penyerahan hak/tanggungan).2Dalam praktiknya, hawalah tidak hanya berupa debit dari dana pengguna kartu bank tertentu, tetapi juga bisa berupa transfer dan pengiriman uang. Ini juga sama-sama bisa dikategorikan sebagai praktik hawalah. Praktik hawalah yang terakhir ini juga tidak hanya dilakukan oleh bank, tetapi juga dilakukan oleh jasa pengiriman uang, seperti Western Union, Kantor Pos dan lain-lain.

Hawalah juga bisa dilakukan dengan menggunakan kertas berharga yang mempunyai nilai nominal tertentu, seperti cek. Ini biasanya disebut Hawalah al-’Ayn. Ada juga yang berbentuk bill of exchange, yang biasanya disebut Hawalah ad-Dayn. Harus dicatat, meski di dalam praktiknya hawalah tersebut melibatkan empat hal: muhil, muhtal, muhal ‘alaihi dan muhal bihi; hawalah ini bukanlah akad sehingga harus memenuhi unsur ijab dan qabul, dan suka sama suka. Hawalah adalah tindakan pribadi, yang bisa dilakukan tanpa harus menunggu persetujuan pihak lain, baik pihak kedua maupun pihak ketiga.3

Ini berbeda dengan pinjaman, tepatnya qardh. Qardh adalah akad. Dalam kasus kartu kredit, pihak bank bertindak sebagai muqridh (pemberi pinjaman), sedangkan pihak pengguna kartu kredit disebut muqtaridh (penerima pinjaman). Antara muqridh dan muqtaridh terjadi akad peminjaman (qardh), dengan disertai bunga yang diberikan kepada muqridh. Sebagai akad, qardh seharusnya merupakan bentuk pinjaman dengan pengembalian yang fixed dan sama, baik dari segi jenis maupun nominalnya.4 Karena itu, seharusnya pengguna kartu kredit, yang bertindak sebagai muqtaridh tersebut, tidak boleh mengembalikan, kecuali dengan jumlah yang sama. Tanpa bunga dan denda. Ditetapkannya bunga dan denda dalam syarat qardh, dalam kasus kartu kredit tersebut, menurut Mazhab Syafii, bukan saja fasad di dalam syaratnya, tetapi juga merusak akadnya. Dengan kata lain, akadnya tidak sah.5

Mungkin ada yang bertanya, bukankah kartu kredit dan kartu debit, di dalamnya sama-sama mempraktikkan hutang? Mengapa yang satu diharamkan, yang satu tidak? Jawabannya, hutang (qardh) di dalam kartu kredit merupakan transaksi dasar, sedangkan hutang (dayn) atau tepatnya tanggungan (dzimmah) dalam kartu debit merupakan konsekuensi dari hawalah. Sebagai perbandingan, seorang suami yang menanggung nafkah istri dan keluarganya bisa disebut berhutang atau mempunyai dayn; begitu juga seorang wanita yang mengajukan khulû’ juga mempunyai dayn, karena harus membayar sejumlah uang. Namun, dayn di sini merupakan konsekuensi dari kewajiban membayar nafkah dan khulû’, sebagaimana dalam kasus hawalah di atas. Karena itu, status qardh dalam kartu kredit dengan dayn dalam kartu debit jelas berbeda. Selain itu, praktik qardh dalam kasus kartu kredit tersebut merupakan bentuk akad, sementara dayn dalam kasus kartu debit tersebut tidak bisa disebut akad, tetapi tindakan derivatif dari hawalah, yang bisa berlangsung tanpa harus menunggu suka sama suka ataupun ijab dan qabul.

Lalu ada satu lagi pertanyaan, bagaimana dengan syarat bunga yang diberikan oleh bank selaku peminjam kepada pengguna kartu debit selaku pemberi pinjaman? Menurut mazhab Syafii, syarat seperti ini memang fasad, tetapi tidak merusak akad. Dengan kata lain, akadnya tetap sah, selama syarat tersebut diabaikan. Wallahu A’lam bi ash-showab

RIBA DAN ANCAMAN BAGI PELAKUNYA

Masih banyak di kalangan ummat Islam yang belum mengerti  Hukum Bunga Bank. Islam telah menetapkan hukum riba dan larangannya, termasuk di dalamnya.Dan bunga bank termasuk di dalamnya yang secara jelas merupakan praktek kapitalisme yang berbau riba. Dan semua ulama yang  takut dengan Allah akan mengatakan “haram ” hukumnya bunga bank berapapun prosentasenya.

Praktek-praktek kapitalisme berupa bunga Bank, kartu kredit, kredit motor, kredit mobil, kredit barang-barang rumah tangga hingga KPR atau kredit perumahan. Semua praktek riba tersebut hukumnya haram, pelakunya dihinakan Allah jika tidak segera bertaubat, dasarnya sangat tegas terdapat dalam firman Allah SWT QS. Al Baqarah (2) ayat 275 :

ٱلَّذِينَ يَأْكُلُونَ ٱلرِّبَوٰا۟ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِى يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيْطَٰنُ مِنَ ٱلْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوٓا۟ إِنَّمَا ٱلْبَيْعُ مِثْلُ ٱلرِّبَوٰا۟ ۗ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلْبَيْعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰا۟ ۚ فَمَن جَآءَهُۥ مَوْعِظَةٌۭ مِّن رَّبِّهِۦ فَٱنتَهَىٰ فَلَهُۥ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ
“Orang-orang  yang  makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan  seperti berdirinya orang yang  kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.

Hukum riba dan bunga bank hingga saat ini masih banyak kaum muslimin yang tidak faham. Sebagian mengatakan riba itu haram jika berlipat-lipat, dan sebagaian mengatakan seberapapun jumlah tambahan dari pinjaman itulah definisi riba. Ada yang mengatakan bahwa bunga bank itu tidak haram karena hanya kecil bunganya sehingga dianggap sebagai jasa penyimpanan saja.Bagaimana melihat fenomena pendapat dimasyarakat terkait hukum riba dan bunga bank? tulisan ini akan mencoba mengulasnya.

RIBA adalah sebuah fenomena yang telah mendunia. Praktek riba sudah dikenal sejak munculnya transaksi perdagangan dalam peradaban manusia ribuan tahun yang silam. Dalam masyarakat Yunani kuno kata riba dikenal dengan istilah “rokos” yang artinya keturunan makhluq organik (maksudnya bisa melahirkan mata uang baru ). Demikian pula persoalan riba sempat disinggung dalam kitab Taurat maupun Injil. Dan Al Qur’an dengan jelas memaparkan pandangannya mengenai riba.

            Kedudukan persoalan ini yang mendapatkan perhatian penting setiap peradaban dan agama samawi mempunyai arti bahwa dosa riba telah menjadi borok peradaban manusia yang menggerogoti tubuhnya secara perlahan-lahan, yang mampu menghancurkan sendi-sendi peradaban, dan diperlukan tindakan preventif untuk menanggulangi bahkan untuk menghancurkan penyakit ini secara keseluruhan. Hal inilah yang menjadikan riba mendapat perhatian penting dalam setiap kurun dan peradaban manusia.

            Namun masih banyak orang yang tidak mengetahui apa hakikat riba dan bagaimana Islam membasmi praktek-praktek riba dan yang sejenisnya dari akar-akarnya. Bagaimana kerasnya siksa yang ditimpakan Allah SWT kepada pelaku riba di akhirat kelak serta kehinaan yang mereka terima di dunia. Tidak ada masalah jahili­yah yang dinilai Islam begitu keji dan keharusan yang sangat untuk memberantasnya melebihi masalah riba ini. Dan tidak ada kemungkaran selain syirik yang begitu besar ancamannya melebihi kemungkaran riba.

Definisi Riba

            Riba menurut bahasa berarti “tambahan”.Sedangkan menurut syara’, riba adalah “tambahan yang diperoleh dari seseorang yang meminjam (barang atau uang) dengan tempo atau batas waktu” . Menurut Ali bin Muhammad ad-Durjani, riba adalah tambahan yang tidak menjadi imbalan bagi sesuatu yang disyaratkan bagi salah seorang yang meminjam dan yang mem­beri pinjaman. Riba menurut istilah tadi barangkali terlalu sempit. Istilah yang lebih baik dikemukakan oleh Syaikh ‘Abdur­rahman  yaitu setiap tambahan pada salah satu pihak (dalam) aqad Mu’awwadhoh tanpa mendapat imbalan, atau tambahan itu dipe­roleh karena penangguhan.

            Riba terdiri dari dua macam : riba nasiah dan riba fadhal.Akan tetapi menurut para ulama pengikut Syafi’i, riba terdiri atas tiga macam : riba fadhal yang di dalamnya termasuk riba qardh, riba nasiah, dan riba yad. Berdasarkan hal itu maka kita mengenal berbagai bentuk riba yang tercakup dalam empat kategori:

1. Riba Nasiah: memberi hutang kepada orang lain dengan tempo yang jika terlambat mengembalikan akan dinaikkan jumlah/nilainya sebagai tambahan atau sanksi.

2. Riba Fadhal: menukarkan barang yang sejenis tetapi tidak

sama keadaannya atau menukar barang yang sejenis tetapi berbeda nilanya.

3. Riba Qardh: meminjam uang kepada seseorang dengan syarat ada kelebihan/keuntungan bagi pihak pemberi utang.

4. Riba Yadd: pihak peminjam dan yang meminjamkan uang/barang telah berpisah dari tempat aqad sebelum diadakan timbang terima. Dalam keadaan demikian khawatir terjadi penyimpangan.

            Riba Nasiah lebih terkenal dengan sebutan riba jahiliyyah, dimana seseorang memberi pinjaman kepada orang lain dan setiap bulan diambilnya tambahan tertentu jika melewati batas/temponya. Mengenai istilah riba jahiliyyah disinggung pada khutbah Rasulullah SAW pada saat Hijjatul Wada :

“… dan sesungguhnya riba jahiliyyah itu dihapuskan, dan bahwa­sannya riba yang pertama kali kuhapuskan adalah riba pamanku Abbas bin ‘Abdul Muthallib…”

            Adapun hadits yang menyinggung riba fadhal diriwayatkan dari Abu Sa’id bahwasannya Rasulullah SAW bersabda :

Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, garam dengan garam, sama-sama dari tangan ke tangan. Barang siapa yang menambahkan atau meminta tambahan sungguh ia telah berbuat riba“. (HR. Bukhari dan Ahmad).

            Tentang riba qardl, maka kita mengenal kaedah fiqih yang berkaitan dengan masalah ini.

“Setiap bentuk qardl (pinjaman) yang menarik manfaat (membuahkan bunga) adalah riba.” 10)

Ini menunjukkan bahwa pemanfaatan uang dibalik pinjaman termasuk riba yang dilarang oleh syari’at Islam.

           Mengenai riba yadd telah diriwayatkan bahwasannya Malik bin Aus bin Hadtsan mencari-cari orang yang dapat menukar uangnya 100 dinar, lalu datang Thalhah. Thalhah menjelaskan ciri-ciri ba­rangnya, sampai kemudian Malik mau menerimanya. Tatkala Thalhah mengambil uangnya (penukar 100 dinar) ia berkata: ‘Tunggu sampai orang yang membawa uangku (bendahara) di al-Ghaba (nama tempat dekat Madinah). Peristiwa ini kemudian didengar oleh Umar seraya berkata: ‘Tidak, demi Allah janganlah meninggalkannya sampai ia mengambil pembayarannya. ‘Rasululla saw telah bersabda: “Emas dengan perak adalah riba kecuali langsung serah terima, gandum dengan gandum adalah riba kecuali langsung serah terima, kurma dengan kurma adalah riba kecuali langsung serah terima, sya’ir dengan sya’ir adalah riba kecuali langsung serah terima.”

Peristiwa diatas menunjukkan bahwa pertukaran suatu barang dengan barang lainnya harus dilakukan saat itu juga. Pengunduran waktu serah terima dari salah satu pihak dapat menyebabkan adanya riba.

            Berdasarkan pengertian beberapa macam istilah riba ini, maka dalam praktek perekonomian dewasa ini banyak sekali yang bisa dimasukkan dalam salah satu kategori tadi sesuai dengan pertumbu­han dan perkembangan aktifitas ekonomi, perdagangan dan keuangan yang meningkat dengan pesat. Oleh karena itu Rasulullah saw bersabda:

Riba itu mempunyai 73 macam tingkatan …..(HR Ibnu Majah dan al-Hakim dari Ibnu Mas’ud dengan sanad shahih). Dalam hadits lain Rasulullah mengisyaratkan akan mun­culnya sekelompok manusia yang menghalalkan riba dengan dalih aspek perdagangan.
“Akan datang suatu saat nanti kepada umat ini tatkala orang-orang menghalalkan riba dengan dalih ‘perdagangan” (HR Ibnu Bathah dari al-Auza’i)

            Ringkasnya,dengan melihat perkembangan perekonomian yang tumbuh dengan cepat maka definisi riba harus mencakup seluruh bentuk riba, baik yang ada di masa Jahiliah (seperti riba nasi’ah,riba fadhal, riba qardl dan riba yadd) maupun riba yang ada dimasa sekarang seperti riba bunga bank termasuk didalamnya bunga dalam pinjaman/kredit, infestasi, deposito, jual beli surat berharga, agio saham, penundaan dari salah satu pihak yang bera­qad dalam pertukaran mata uang maupun pengalihan rekening antar bank dan sebagainya. Jadi pengertian riba adalah tambahan dalam aqad dari salah satu pihak, baik dari segi uang, materi/barang, waktu maupun persyaratan lainnya tanpa ada usaha apapun dari pihak yang menerima tambahan tersebut.

Hukum Riba dan Tanggapan Atas pihak Yang Menghalalkannya

hukum riba dan bunga bank

hukum riba dan bunga bank : haram

Al Qur’an telah menyinggung masalah riba dalam beberapa ayatnya. Dan sebagaimana diketahui bahwa pengharaman riba saat itu didahului beberapa ayat yang menunjukkan kekejian riba dan ancaman yang telah menimpa orang-orang Yahudi dahulu karena mereka sering mengambil riba dalam dagang dan utang-piutang, kemudian diturunkan satu ayat yang mengharamkan riba yang berli­pat ganda saja, … sampai ayat yang terakhir yang mengharamkan segala jenis dan bentuk riba, besar maupun kecil.

           Ayat pertama yang diturunkan tentang riba adalah firman Allah SWT :

“Dan suatu riba (tambahan) yang kamu berikan untuk menambah harta manusia, maka yang demikian itu tidak (berarti) bisa menambah di sisi Allah …” (QS.Ar Ruum:39).
Ayat ini diturunkan di Mekkah tetapi ia tidak menunjukkan isyarat apapun mengenai haramnya riba. Yang ada hanyalah isyarat keben­cian Allah SWT terhadap riba sekaligus peringatan supaya berhenti dari aktivitas riba.

            Sedangkan ayat yang kedua adalah firman Allah SWT tentang tindakan Bani Israil yang menyebabkan kemurkaan Allah SWT. Bunyi ayat tersebut sebagai berikut :

“Maka lantaran kedzaliman yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi itu, Kami haramkan atas mereka beberapa jenis makanan yang baik-baik*)yang sedianya dihalalkan kepada mereka. Dan lantaran perbuatan mereka yang menghalangi manusia dari jalan Allah yang banyak sekali itu serta mereka yang mengambil riba, padahal mereka telah dilarangnya”(QS. An Nisa : 160-161).

Ayat ini turun di Madinah kira-kira sebelum perang Qurayzah yang terjadi pada tahun ke V atau sebelum perang Bani An Nadlir pada tahun ke IV H. Ayat ini memberikan kepada kita kisah pela­jaran tentang tingkah laku Yahudi yang melanggar larangan Allah dengan melakukan praktek-praktek riba. Maka merekapun mendapat­kan laknat dari Allah SWT. Ayat ini tidak bisa dijadikan dalil untuk mengharamkan riba, sebab kaitannya dengan syari’at Bani Israil dan hanya menunjukkan bagaimana perilaku orang-orang Yahudi yang dilaknat Allah SWT. *) Makanan-makanan yang diharamkan tercantum dalam QS. Al An’am:146

            Adapun ayat yang ketiga adalah firman Allah SWT :
“Hai orang-orang yang beriman , janganlah kamu makan riba dengan berlipat ganda…” (QS. Ali’Imran:130)

Ayat ini diturunkan di Madinah dan mengandung larangan yang tegas yang mengharamkan salah satu jenis riba (Riba Nasiah). Berarti larangannya masih bersifat sebagian, belum menyeluruh. Penghara­man riba pada ayat ini hanya berlaku bagi praktek-praktek riba yang keji dan jahat, yang membungakan uang berlipat-lipat.

            Ayat yang terakhir diturunkannya mengenai riba adalah ayat :
“Hai orang-orang yang beriman takutlah kepada Allah dan tinggal­kanlah apa yang masih tersisa dari riba jika kamu orang-orang yang beriman…” (QS. Al Baqarah : 278).

Dengan turunnya ayat ini maka riba telah diharamkan secara menye­luruh, tidak lagi membedakan banyak maupun sedikit. Ayat ini dan tiga ayat berikutnya sekaligus merupakan ayat tentang hukum yang terakhir dan pemutus hubungan antara bumi dan langit.

             Bagi kaum muslimin saat ini, yang hidup setelah Rasulullah SAW meninggalkan kita, maka hukum yang berlaku adalah hukum pada ayat yang terakhir, yang telah menasakh hukum pada ayat-ayat sebelumnya. Ayat di atas tadi menjelaskan bahwasanya riba diha­ramkan dalam segala bentuknya. Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama kaum muslimin mengenai keharamannya sebab hal ini telah ditetapkan berdasarkan Kitab Allah, Sunnah RasulNya, dan Ijma’ kaum muslimin termasuk madzhab yang empat. Dalam hal diharamkannya riba tidak ada perbedaan antara laki-laki, perem­puan, budak, maupun mukatib, semuanya sama. Hal ini telah dimaklumi oleh kaum muslimin sejak kurun yang pertama, dan mereka memasukkan riba ke dalam dosa/kemaksiatan yang besar, yang pelakunya akan mendapatkan adzab yang tak terpelakkan pedihnya di akhirat.

            Memang pada akhir-akhir ini muncul segolongan di antara kaum muslimin yang membolehkan praktek-praktek riba, khususnya ten­tang bunga bank (intereast) yang telah membudaya dalam masyara­kat. Mereka membolehkan dengan alasan darurat, dan mengungkap­kan bahwa pada saat ini ummat tidak akan dapat melakukan aktivi­tas ekonomi tanpa terkait deangan bunga atau bank. Jadi tidak ada jalan lain keacuali meambolehkannya.

            Alasan seperti ini tampaknya alasan klise untuk menjustifik­asi apa yang telah mereka lakukan. Lagi pula terminologi daru­rat dalam syariat Islam adalah seperti yang dikemukakan oleh Imam Suyuthi

“Sampainya seseorang pada batas suatu keadaan yang jika orang tersebut tidak melakukan hal-hal yang dilarang maka ia akan binasa (rusak atau mati-pen) atau mendekatinya”.

Maka muncul pertanyaan apakah keadaan saat ini sudah sampai kepada situasi dan kondisi seperti itu? Kalau misalnya hal ini bisa diterima maka tentu saja yang nama nya darurat itu ada batas dan masanya, tidak akan berlaku selamanya. Berarati bila ada seseorang menderita kelaparan yang tidak mendapatkan jalan lain kecuali deangan meminjam uang dari bank, dengan ketentuan riba, maka ia dibolehkan membayar uang bunga tersebut sampai penderitaannya berlalu. Akan tetapi dasar tersesbut tidak bisa diterima untuk kebutuhan sekunder selain dari makanan dan minuman. Berdasarkan alasan tadi maka dalih yang dibuat oleh segolongan umat yang maenghalalkan praktek riba tidak bisa diterima.

            Sebagian kaum musllimin yang imannya lemah berpendapat bahwa riba yang diharamkan adalah riba yang keji, yang menarik bunga sangat tinggi dan dapat mencekik leher manusia. Adapaun riba yang sedikit tidaklah haram dengan alasan QS. Ali Imran (3) :130 di atas.

           Dalam al-qur’an lafadz ‘adl ‘afan mudloafah ‘(berlipat ganda) berfungsi sebagai ‘waqi’atul ‘ain, yaitu suatu penjelasan atas peristiwa yang pernah terjadi di masa jahiliah dan menun­jukkan betapa kejahatan yang mereka lakukan.  Dan bagi mereka yang masih awwam tentang agama dan tidak mau mengerti mengenai hukum Islam, apakah mereka tidak beriman kepada seluruh ayat Al-Qur’an, apakah mereka kufur terhadap sebagian ayat dan beriman terhadap sebagian yang lain? Mengapa justru ayat itu yang dipakai sebagai alasan bukan ayat Qs.Al-Baqarah :275 dan 278, yang telah menghapus hukum yang sebelumnya.

“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (Qs. 2 :275)
“…….takutlah kepada Allah dan tinggalkanlah apayang tersisa dari riba…..” (Qs. Al-Baqarah :278)

            Yang lebih parah adalah munculnya segolongan diantara kaum muslimin yang mengatakan riba untuk tujuan produktif ( dengan pinjam di bank) adalah boleh, dengan alasan riba yang dilarang sebagaimana dimasa jahili­ah adalah untuk keperluan konsumtif.

           Alasan seperti ini terlalu dibuat-buat, mencerminkan sifat-sifat orang munafik dan orang-orang yahudi yang senantiasa men­cari-cari alasan untuk membenarkan tindakan mereka. Lafadz Riba ( ) bermakna umum, Huruf alifdan lam didepan menunjukkan sifat lil jins atau lil istighraq yang melukiskas keumumannya. 20) Berdasarkan pengertian ini maka lafadz riba berarti mencakup baik yang konsumtif maupun yang produktif, keduanya termasuk riba yang diharamkan. Untuk mengeluarkan atau mengecualikan hukum-hukum dari lafadz yang bersifat umum diperlukan dalil-dalil yang lain yang mentakhsiskan keumuman ini. Dalam masalah riba tidak ada satu nashpun yang mentakhsiskan hukumdari ayat-ayat tentang riba, sehingga hukum riba berlaku sesuai dengan keumuman lafadz­nya.

Ancaman Terhadap Pelaku Riba
A. Ancaman dari al-Qur’an.

Dalam QS. Al Baqaah ayat 275 :

“Orang-orang yang memakan harta riba itu tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syethan, lanta­ran (tekanan) penyakit gila…” (Qs. al-Baqarah :275).

Orang yang melakukan praktek-praktek riba, kelak dihari kiamat perilakunya bagaikan orang yang kesurupan syethan yang tercekik.21). Abdullah bin Abas menerangkan mengenai ayat ini bahwasannya kelak di hari kiamat akan dikatakan kepada para pemakan riba:’Angkatlah senjatamu untuk berperang’.

Muhammad Ali Ash-Shobuni lebih lanjut menerangkan dalam tafsirnya

“Dipersamakannya pemakan riba dengan orang-orang yang kesurupan adalah suatu ungkapan yang halus sekali, yaitu Allah memasukkan riba kedalam perut mereka lalu barang itu memberatkan mereka, sehingga sempoyongan, jatuh bangun. Hal ini menjadi ciri-ciri mereka dihari kiamat sehingga semua orang mengenalnya”.

Firman Allah SWT dalam surah Al Baqarah ayat 279 :

“Kemudian jika kamu tidak mau mengerjakan (meninggalkan riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. ( Qs : Al-Baqarah:279 )

Maksud dari ayat ini bahwasannya apabila seseorang tidak mau meninggalkan aktifitas riba,maka ketahuilah baginya berhak untuk diperangi didunia dan diakhirat kelak akan dilempar kedalam api neraka,karena melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya.

Lafadz ‘harbun dengan bentuk nakiroh adalah untuk menun­jukkan besarnya masalah ini, lebih-lebih dengan menisbatkan kepada Allah dan Rasul-Nya. Seolah-olah Allah memaklumkan :

‘Percayalah akan ada suatu peperangan yang dahsyat dari Allah dan Rasul-Nya yang tidak mungkin dapat dikalahkan. Hal ini mengisya­ratkan akibat akibat yang paling mengenaskan yang pasti akan dialami oleh para pemakan riba.25) Adapun lafadz ‘kaffar'( ) dan ‘Atsim'( ) yang termasuk sighot mubalaghoh,yang artinya menunjukkan banyak kekufuran dan banyak berbuat dosa (dalam Qs al-Baqarah :276) melukiskan bahwa keharaman riba itu keras seka­li, termasuk perbuatan orang-orang kafir dan bukan perbuatan orang-orang Islam

 

 B. Ancaman Dari Hadits dan Pendapat Shahabat

            Tidak ada seorang muslimpun yang tidak mengetahui bahwa melakukan riba adalah sesuatu yang terlarang dan harus dihindari. Bahkan riba termsuk salah satu dosa besar. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda :

“Tinggalkanlah tujuh hal yang dapat membinasakan ….(salah satunya adalah) memakan riba ….” (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karaena itu, orang yang melakukan riba akan mendapatkan laknat dari Allah, sebagaimana diriwayaatkan dari Jabir bahwasa­nyaRasuilullah SAW telah melaknat orang yang memakan riba, yang memberi makan, penulisnya dan dua orang saksinya. Dan beliau bersabda mereka itu sama.” (HR. Muslim, dan Bukhari dri Abi Juhaifah).

            Di dalam hadits-hadits yang lain dinyatakan bahwa perbuatan riba lebih menjijikkan dari pada perbuatan zina. Dari Abdullah bin Mas’ud, Nabi SAW bersabda:

“Riba itu mempunyai 73 pintu (dosa), sedangkan yang paling ringan adalah seperti seseorang yang bersetubuh dengan ibunya …” (HR. Ibnu Majah dan Al Hakim).
“Satu dirham yang diproleh seseorang dari hasil riba lebih besar dosanya 36 kali dari perbuatan zina dalam Islam”, (HR. Baihaqi dariAnas bin malik)

            Dalam menanggapi QS. Al Baqarah(2):275 Abdullah bin Abbas ra. berkata :

“Siapa saja yang masih tetap mengambil riba dan tidak mau meninggalkannya, maka telah menjadi kewajiban bagi seorang Imam (Khalifah) untukmenasihati orang-orang tersebut. Jika mereka masih tetapkeras kepala, maka seorang Imam dibolehkan untuk memenggal lehernya

Menurut Muhammad Ali Sais, jika seseo­rang melakukan riba tetapi tidak taubat, maka seorang Imam harus menghukumnya deng ahukuman ta’zir.

            Berdasarkan keterangan di atas apabila Daulah Islam telah berdiri, maka praktek-prektek riba apapun bentuk [ termasuk kredit bank, kpr, kartu kedit, leasing,  dan apapun namanya harus dihapuskan. Orang yang masih melakukan riba akan menghada­pi sanksi yang sangat keras di dunia, dan di akhirat kelak akan mendapatkan dirinya dilempardan kekal di neraka. Abu Hurairah ra. berkata bahwasanya Rasulullah SAW bersabda :

“Tatkala malam aku di mi’rajkan, aku melihat suatu kaum yang perut mereka bagai­kan rumah, tampak di dalamnya ular-ular berjalan keluar, lalu aku bertanya;”Siapakah mereka itu wahai Jibril ?” Jawab Jibril,”Mereka adalah para Pemakan riba”.

            Barangkali ada baiknya jika Kita meneladani bagaimana sikap para shahabat dalam menghadapi persoalan ini. Diriwayatkan bahwa Umar ra. berkata : “Diantara ayat-ayat yang terakhir turunnya adalah ayat tentang riba, dan Rasulullah meninggal dunia sebelum menerangkan perinciannya kepada kami, oleh karena itu tinggalkan­lah riba dan setiap hal yang meragukan”.

            Wahai kaum Muslimin tidakkah kalian memba­yangkan betapa dahsyatnya balasan bagi para pelaku riba, pedihnya siksaan yang akan mereka alami dan sepanjang hidupnya mendapatkan la,nat daro Allah dan Rasulnya ? Dan tidakkah kalian perhatikan bagaimana dalam ayat riba pada akhirnya Allah memperingatkan kepada kita :

Dan peliharalah dirinmu (dari adzab) pada suatu hari, dimana kamu sekalian akan dikembalikan kepada Allah di hari itu, kemud­ian masing-madsing jiwa akan dibalas dengan sempurna apa yang telah dikerjakannya itu dan mereka tidak akan dianiaya“. (Qs. Al-Baqarah 281)

Related Posts :

Hukum KPR dan Leasing dalam Islam | Hukum Asuransi dalam Islam Hukum Pajak dan Jizyah dalam Islam | Hukum Atas Penista AgamaHukum Demo Haramkah ? | Hukum Menimbun Barang / kanzul Mal | Hukum Menegakkan Khilafah untuk menerapkan syariat Islam | Hukum Menghina Nabi | Larangan Mengangkat Non Muslim Sebagai PemimpinBahaya Riba  |  Bahaya Kartu Kridit  | Jilbab Wajib Kerjakanlah | Siapakah Ahlul Kitab?  | Kewajiban dan Hukum Zakat Mal | Bid’ah dalam Pandangan Islam | Perbedaan Fa’ dan Ghanimah | Wajib Amar ma’ruf Nahi Munkar

KONFLIK PALESTINA-ISRAEL DALAM SEJARAH

Image
Konflik Palestina – Israel menurut sejarah hingga tahun ini, sudah 43 tahun ketika pada tahun 1967 Israel menyerang Mesir, Yordania dan Syria dan berhasil merebut Sinai dan Jalur Gaza (Mesir), dataran tinggi Golan (Syria), Tepi Barat dan Yerussalem (Yordania).. Sampai sekarang perdamaian sepertinya jauh dari harapan. Ditambah lagi terjadi ketidaksepakatan tentang masa depan Palestina dan hubungannya dengan Israel di antara faksi-faksi di Palestina sendiri. Tulisan ini dimaksudkan sebagai pengingat sekaligus upaya membuka pemahaman kita mengenai latar belakang sejarah sebab terjadinya konflik ini.

2000 SM – 1500 SM

Istri Nabi Ibrahim A.s., Siti Hajar mempunyai anak Nabi Ismail A.s. (bapaknya bangsa Arab) dan Siti Sarah mempunyai anak Nabi Ishak A.s. yang kemudian mempunyai anakNabi Ya’qub A.s. alias Israel (Israil, Qur’an). Anak keturunannya disebut Bani Israel sebanyak 7 (tujuh) orang. Salah satunya bernama Nabi Yusuf A.s. yang ketika kecil dibuang oleh saudara-saudaranya yang dengki kepadanya. Nasibnya yang baik membawanya ke tanah Mesir dan kemudian dia menjadi bendahara kerajaan Mesir. Ketika masa paceklik, Nabi Ya’qub A.s. beserta saudara-saudara Yusuf bermigrasi ke Mesir. Populasi anak keturunan Israel (Nabi Ya’qub A.s.) membesar.

1550 SM – 1200 SM

Politik di Mesir berubah. Bangsa Israel dianggap sebagai masalah bagi negara Mesir. Banyak dari bangsa Israel yang lebih pintar dari orang asli Mesir dan menguasai perekonomian. Oleh pemerintah Firaun bangsa Israel diturunkan statusnya menjadi budak.

1200 SM – 1100 SM

Nabi Musa A.s. memimpin bangsa Israel meninggalkan Mesir, mengembara di gurun Sinai menuju tanah yang dijanjikan, asalkan mereka taat kepada Allah Swt – dikenal dengan cerita Nabi Musa A.s. membelah laut ketika bersama dengan bangsa Israel dikejar-kejar oleh tentara Mesir menyeberangi Laut Merah. Namun saat mereka diperintah untuk memasuki tanah Filistin (Palestina), mereka membandel dan berkata: “Hai, Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi ada orang yang gagah perkasa di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu (Tuhanmu), dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (QS 5:24)
Akibatnya mereka dikutuk oleh Allah Swt dan hanya berputar-putar saja di sekitar Palestina. Belakangan agama yang dibawa Nabi Musa A.s. disebut Yahudi – menurut salah satu marga dari bangsa Israel yang paling banyak keturunannya, yakni Yehuda, dan akhirnya bangsa Israil – tanpa memandang warga negara atau tanah airnya – disebut juga orang-orang Yahudi.

1000 SM – 922 SM

Nabi Daud A.s. (anak Nabi Musa A.s.) mengalahkan Goliath (Jalut, Qur’an)dari Filistin. Palestina berhasil direbut dan Daud dijadikan raja. Wilayah kerajaannya “membentang dari tepi sungai Nil hingga sungai Efrat di Iraq”. Sekarang ini Yahudi tetap memimpikan kembali kebesaran Israel Raya seperti yang dipimpin raja Daud. Bendera Israel adalah dua garis biru (sungai Nil dan Eufrat) dan Bintang Daud. Kepemimpinan Daud A.s. diteruskan oleh anaknya Nabi Sulaiman A.s. dan Masjidil Aqsa pun dibangun.

922 SM – 800 SM

Sepeninggal Sulaiman A.s., Israel dilanda perang saudara yang berlarut-larut, hingga akhirnya kerajaan itu terbelah menjadi dua, yakni bagian Utara bernama Israel beribukotaSamaria dan Selatan bernama Yehuda beribukota Yerusalem.

800 SM – 600 SM

Karena kerajaan Israel sudah terlalu durhaka kepada Allah Swt maka kerajaan tersebut dihancurkan oleh Allah Swt melalui penyerangan kerajaan Asyiria.
Sesungguhnya Kami telah mengambil kembali perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini hawa nafsu mereka, maka sebagian rasul-rasul itu mereka dustakan atau mereka bunuh.” (QS 5:70)

Hal ini juga bisa dibaca di Injil (Bible) pada Kitab Raja-raja ke-1 14:15 dan Kitab Raja-raja ke-2 17:18.
600 SM – 500 SM

Kerajaan Yehuda dihancurkan lewat tangan Nebukadnezar dari Babylonia. Dalam Injil Kitab Raja-raja ke-2 23:27 dinyatakan bahwa mereka tidak mempunyai hak lagi atas Yerusalem. Mereka diusir dari Yerusalem dan dipenjara di Babylonia.

500 SM – 400 SM

Cyrus Persia meruntuhkan Babylonia dan mengijinkan bangsa Israel kembali ke Yerusalem.

330 SM – 322 SM

Israel diduduki Alexander Agung dari Macedonia (Yunani). Ia melakukan hellenisasi terhadap bangsa-bangsa taklukannya. Bahasa Yunani menjadi bahasa resmi Israel, sehingga nantinya Injil pun ditulis dalam bahasa Yunani dan bukan dalam bahasa Ibrani.

300 SM – 190 SM
Yunani dikalahkan Romawi. Maka Palestina pun dikuasai imperium Romawi.
1 – 100 M

Nabi Isa A.s. / Yesus lahir, kemudian menjadi pemimpin gerakan melawan penguasa Romawi. Namun selain dianggap subversi oleh penguasa Romawi (dengan ancaman hukuman tertinggi yakni dihukum mati di kayu salib), ajaran Yesus sendiri ditolak oleh para Rabbi Yahudi. Namun setelah Isa tiada, bangsa Yahudi memberontak terhadap Romawi.

100 – 300

Pemberontakan berulang. Akibatnya Palestina dihancurkan dan dijadikan area bebas Yahudi. Mereka dideportasi keluar Palestina dan terdiaspora ke segala penjuru imperium Romawi. Namun demikian tetap ada sejumlah kecil pemeluk Yahudi yang tetap bertahan di Palestina. Dengan masuknya Islam kemudian, serta dipakainya bahasa Arab di dalam kehidupan sehari-hari, mereka lambat laun terarabisasi atau bahkan masuk Islam.

313
Pusat kerajaan Romawi dipindah ke Konstantinopel dan agama Kristen dijadikan agama negara.
500 – 600

Nabi Muhammad Saw lahir di tahun 571 M. Bangsa Yahudi merembes ke semenanjung Arabia (di antaranya di Khaibar dan sekitar Madinah), kemudian berimigrasi dalam jumlah besar ke daerah tersebut ketika terjadi perang antara Romawi dengan Persia.

621

Nabi Muhammad Saw melakukan perjalanan ruhani Isra’ dari masjidilHaram di Makkahke masjidil Aqsa di Palestina dilanjutkan perjalana Mi’raj ke Sidrathul Muntaha (langit lapis ke-7). Rasulullah menetapkan Yerusalem sebagai kota suci ke-3 ummat Islam, dimana sholat di masjidil Aqsa dinilai 500 kali dibanding sholat di masjid lain selain masjidil Haram di Makkah dan masjid Nabawi di Madinah. Masjidil Aqsa juga menjadi kiblat umat Islam sebelum dipindah arahnya ke Ka’bah di masjidil Haram, Makkah.

622

Hijrah Nabi Muhammad Saw ke Madinah dan pendirian negara Islam – yang selanjutnya kepeminpinannya disebut Khilafah Islamiyyah . Nabi mengadakan perjanjian dengan bangsa Yahudi yang menjadi penduduk Madinah dan sekitarnya, yang dikenal dengan “Piagam Madinah”.

626

Pengkhianatan Yahudi dalam perang Ahzab (perang parit) dan berarti melanggar Perjanjian Madinah. Sesuai dengan aturan di dalam kitab Taurat mereka sendiri, mereka harus menerima hukuman dibunuh atau diusir.

638

Di bawah pemerintahan Khalifah Umar Ibnu Khattab ra. Seluruh Palestina dimerdekakan dari penjajah Romawi. Seterusnya seluruh penduduk Palestina, Muslim maupun Non Muslim, hidup aman di bawah pemerintahan khilafah. Kebebasan beragama dijamin sepenuhnya.

700 – 1000

Wilayah Islam meluas dari Asia Tengah, Afrika hingga Spanyol. Di dalamnya, bangsa Yahudi mendapat peluang ekonomi dan intelektual yang sama. Ada beberapa ilmuwan terkenal di dunia Islam yang sesungguhnya adalah orang Yahudi.

1076

Yerusalem dikepung oleh tentara salib dari Eropa. Karena pengkhianatan kaum munafik (sekte Drusiah yang mengaku Islam tetapi ajarannya sesat), pada tahun 1099 M tentara salib berhasil menguasai Yerusalem dan mengangkat seorang raja Kristen. Penjajahan ini berlangsung hingga 1187 M sampai Salahuddin Al-Ayyubi membebaskannya dan setelah itu ummat Islam yang terlena sufisme yang sesat bisa dibangkitkan kembali.

1453

Setelah melalui proses reunifikasi dan revitalisasi wilayah-wilayah khilafah yang tercerai berai setelah hancurnya Baghdad oleh tentara Mongol (1258 M), khilafah Utsmaniahdibawah Muhammad Fatih menaklukan Konstatinopel, dan mewujudkan nubuwwah Rasulullah.

1492

Andalusia sepenuhnya jatuh ke tangan Kristen Spanyol (reconquista). Karena cemas suatu saat umat Islam bisa bangkit lagi, maka terjadi pembunuhan, pengusiran dan pengkristenan massal. Hal ini tidak cuma diarahkan pada Muslim namun juga pada Yahudi. Mereka lari ke wilayah khilafah Utsmaniyah, diantaranya ke Bosnia. Pada 1992Raja Juan Carlos dari Spanyol secara resmi meminta maaf kepada pemerintah Israel atas holocaust (pemusnahan etnis) 500 tahun sebelumnya. (Tapi tidak permintaan maaf kepada umat Islam).

1500 – 1700

Kebangkitan pemikiran di Eropa, munculnya sekularisme (pemisahan agama / gereja dengan negara), nasionalisme dan kapitalisme. Mulainya kemajuan teknologi moderen di Eropa. Abad penjelajahan samudera dimulai. Mereka mencari jalur perdagangan alternatif ke India dan Cina, tanpa melalui daerah-daerah Islam. Tapi akhirnya mereka didorong oleh semangat kolonialisme dan imperialisme, yakni Gold, Glory dan Gospel. Gold berarti mencari kekayaan di tanah jajahan, Glory artinya mencari kemasyuran di atas bangsa lain dan Gospel (Injil) artinya menyebarkan agama Kristen ke penjuru dunia.

1529

Tentara khilafah berusaha menghentikan arus kolonialisme/imperialisme serta membalas reconquista langsung ke jantung Eropa dengan mengepung Wina, namun gagal. Tahun1683 M kepungan diulang, dan gagal lagi. Kegagalan ini terutama karena tentara Islam terlalu yakin pada jumlah dan perlengkapannya.
“… yaitu ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dan bercerai-berai.” (QS 9:25).

1798

Napoleon berpendapat bahwa bangsa Yahudi bisa diperalat bagi tujuan-tujuan Perancis di Timur Tengah. Wilayah itu secara resmi masih di bawah Khilafah.

1831

Untuk mendukung strategi “devide et impera” Perancis mendukung gerakan nasionalisme Arab, yakni Muhammad Ali di Mesir dan Pasya Basyir di Libanon.Khilafah mulai lemah dirongrong oleh semangat nasionalisme yang menular begitu cepat di tanah Arab.

1835

Sekelompok Yahudi membeli tanah di Palestina, dan lalu mendirikan sekolah Yahudi pertama di sana. Sponsornya adalah milyuder Yahudi di Inggris, Sir Moshe Monteveury, anggota Free Masonry. Ini adalah pertama kalinya sekolah berkurikulum asing di wilayah Khilafah.

1838

Inggris membuka konsulat di Yerusalem yang merupakan perwakilan Eropa pertama di Palestina.

1849
Kampanye mendorong imigrasi orang Yahudi ke Palestina. Pada masa itu jumlah Yahudi di Palestina baru sekitar 12.000 orang. Pada tahun 1948 jumlahnya menjadi 716.700 dan pada tahun 1964 sudah hampir 3 juta orang.
1882

Imigrasi besar-besaran orang Yahudi ke Palestina yang berselubung agama, simpati dan kemanusiaan bagi penderitaan Yahudi di Eropa saat itu.

1891

Para penduduk Palestina mengirim petisi ke Khalifah, menuntut dilarangnya imigrasi besar-besaran ras Yahudi ke Palestina. Sayang saat itu khilafah sudah “sakit-sakitan” (dijuluki “THE SICK MAN AT BOSPORUS). Dekadensi pemikiran meluas, walau Sultan Abdul Hamid sempat membuat terobosan dengan memodernisir infrastruktur, termasuk memasang jalur kereta api dari Damaskus ke Madinah via Palestina! Sayang, sebelum selesai, Sultan Abdul Hamid dipecat oleh Syaikhul Islam (Hakim Agung) yang telah dipegaruhi oleh Inggris. Perang Dunia I meletus, dan jalur kereta tersebut dihancurkan.

1897

Theodore Herzl menggelar KONGRES ZIONIS SEDUNIA di Basel Swiss. Peserta Kongres I Zionis mengeluarkan resolusi, bahwa “umat Yahudi tidaklah sekedar umat beragama, namun adalah bangsa dengan tekad bulat untuk hidup secara berbangsa dan bernegara”. Dalam resolusi itu, kaum zionis menuntut tanah air bagi umat Yahudi – walaupun secara rahasia – pada “tanah yang bersejarah bagi mereka”. SebelumnyaInggris hampir menjanjikan tanah protektorat Uganda atau di Amerika Latin ! Di kongres itu, Herzl menyebut, Zionisme adalah jawaban bagi “diskriminasi dan penindasan” atas umat Yahudi yang telah berlangsung ratusan tahun. Pergerakan ini mengenang kembali bahwa nasib umat Yahudi hanya bisa diselesaikan di tangan umat Yahudi sendiri. Di depan kongres, Herzl berkata, “Dalam 50 tahun akan ada negara Yahudi !” Apa yang direncanakan Herzl menjadi kenyataan pada tahun 1948.

1916

Perjanjian rahasia SYKES – PICOT oleh sekutu (Inggris, Perancis, Rusia) dibuat saat meletusnya Perang Dunia (PD) I, untuk mencengkeram wilayah-wilayah Arab dan Khalifah Utsmaniyah dan membagi-bagi di antara mereka. PD I berakhir dengan kemenangan sekutu, Inggris mendapat kontrol atas Palestina. Di PD I ini, Yahudi Jerman berkomplot dengan Sekutu untuk tujuan mereka sendiri (memiliki pengaruh atau kekuasaan yang lebih besar).

1917

Menlu Inggris keturunan Yahudi, Arthur James Balfour, dalam deklarasi Balfour memberitahu pemimpin Zionis Inggris, Lord Rothschild, bahwa Inggris akan memperkokoh pemukiman Yahudi di Palestina dalam membantu pembentukan tanah air Yahudi. Lima tahun kemudian Liga Bangsa-bangsa (cikal bakal PBB) memberi mandat kepada Inggris untuk menguasai Palestina.

1938

Nazi Jerman menganggap bahwa pengkhianatan Yahudi Jerman adalah biang keladi kekalahan mereka pada PD I yang telah menghancurkan ekonomi Jerman. Maka mereka perlu “penyelesaian terakhir” (endivsung). Ratusan ribu keturunan Yahudi dikirim ke kamp konsentrasi atau lari ke luar negeri (terutama ke AS).Sebenarnya ada etnis lain serta kaum intelektual yang berbeda politik dengan Nazi yang bernasib sama, namun setelah PD II Yahudi lebih berhasil menjual ceritanya karena menguasai banyak surat kabar atau kantor-kantor berita di dunia.

1944

Partai buruh Inggris yang sedang berkuasa secara terbuka memaparkan politik “membiarkan orang-orang Yahudi terus masuk ke Palestina, jika mereka ingin jadi mayoritas. Masuknya mereka akan mendorong keluarnya pribumi Arab dari sana.” Kondisi Palestina pun memanas.

1947
PBB merekomendasikan pemecahan Palestina menjadi dua negara: Arab dan Israel.
1948, 14 Mei.

Sehari sebelum habisnya perwalian Inggris di Palestina, para pemukim Yahudi memproklamirkan kemerdekaan negara Israel. Mereka melakukan agresi bersenjata terhadap rakyat Palestina yang masih lemah, hingga jutaan dari mereka terpaksa mengungsi ke Libanon, Yordania, Syria, Mesir dan lain-lain. Palestina Refugees menjadi tema dunia. Namun mereka menolak eksistensi Palestina dan menganggap mereka telah memajukan areal yang semula kosong dan terbelakang. Timbullah perang antara Israel dan negara-negara Arab tetangganya. Namun karena para pemimpin Arab sebenarnya ada di bawah pengaruh Inggris – lihat ImperialismePerancis dan Inggris di tanah Arab sejak tahun 1798 – maka Israel mudah merebut daerah Arab Palestina yang telah ditetapkan PBB.

1948, 2 Desember

Protes keras Liga Arab atas tindakan AS dan sekutunya berupa dorongan dan fasilitas yang mereka berikan bagi imigrasi zionis ke Palestina. Pada waktu itu, Ikhwanul Muslimin (IM) di bawah Hasan Al-Banna mengirim 10.000 mujahidin untuk berjihad melawan Israel. Usaha ini kandas bukan karena mereka dikalahkan Israel, namun karena Raja Farouk yang korup dari Mesir takut bahwa di dalam negeri, IM bisa melakukan kudeta, akibatnya tokoh-tokoh IM dipenjara atau dihukum mati.

1956, 29 Oktober

Israel dibantu Inggris dan Perancis menyerang Sinai untuk menguasai terusan Suez. Pada kurun waktu ini, militer di Yordania menawarkan baiat ke Hizbut Tahrir (salah satu harakah Islam) untuk mendirikan kembali KhilafahNamun Hizbut Tahrir menolak, karena melihat rakyat belum siap.

1964

Para pemimpin Arab membentuk PLO (Palestine Liberation Organization). Dengan ini secara resmi, nasib Palestina diserahkan ke pundak bangsa Arab-Palestina sendiri, dan tidak lagi urusan umat Islam. Masalah Palestina direduksi menjadi persoalan nasional bangsa Palestina.

1967

Israel menyerang Mesir, Yordania dan Syria selama 6 hari dengan dalih pencegahan, Israel berhasil merebut Sinai dan Jalur Gaza (Mesir), dataran tinggi Golan (Syria), TepiBarat dan Yerussalem (Yordania). Israel dengan mudah menghancurkan angkatan udara musuhnya karena dibantu informasi dari CIA (Central Intelligence Agency = Badan Intelijen Pusat milik USA). Sementara itu angkatan udara Mesir ragu membalas serangan Israel, karena Menteri Pertahanan Mesir ikut terbang dan memerintahkan untuk tidak melakukan tembakan selama dia ada di udara.

1967, Nopember

Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi Nomor 242, untuk perintah penarikan mundur Israel dari wilayah yang direbutnya dalam perang 6 hari, pengakuan semua negara di kawasan itu, dan penyelesaian secara adil masalah pengungsi Palestina.

1969

Yasser Arafat dari faksi Al-Fatah terpilih sebagai ketua Komite Eksekutif PLO dengan markas di Yordania.

1970

Berbagai pembajakan pesawat sebagai publikasi perjuangan rakyat Palestina membuat PLO dikecam oleh opini dunia, dan Yordania pun dikucilkan. Karena ekonomi Yordania sangat tergantung dari AS, maka akhirnya Raja Husein mengusir markas PLO dariYordania. Dan akhirnya PLO pindah ke Libanon.

1973, 6 Oktober

Mesir dan Syria menyerang pasukan Israel di Sinai dan dataran tinggi Golan pada hari puasanya Yahudi “Yom Kippur”. Pertempuran ini dikenal dengan Perang Oktober. Mesir dan Syria hampir menang, kalau Israel tidak tiba-tiba dibantu oleh AS. Presiden Mesir Anwar Sadat terpaksa berkompromi, karena dia cuma siap untuk melawan Israel, namun tidak siap berhadapan dengan AS. Arab membalas kekalahan itu dengan menutup keran minyak (politik minyak). Akibatnya harga minyak melonjak pesat.

1973, 22 Oktober

Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi Nomor 338, untuk gencatan senjata, pelaksanaan resolusi Nomor 242 dan perundingan damai di Timur Tengah.

1977

Pertimbangan ekonomi (perang telah memboroskan kas negara) membuat Anwar Sadat pergi ke Israel tanpa konsultasi dengan Liga Arab. Ia menawarkan perdamaian, jika Israel mengembalikan seluruh Sinai. Negara-negara Arab merasa dikhianati. Karena langkah politiknya ini, belakangan Anwar Sadat dibunuh pada tahun 1982.

1978, September

Mesir dan Israel menandatangani perjanjian Camp David yang diprakarsai AS. Perjanjian itu menjanjikan otonomi terbatas kepada rakyat Palestina di wilayah-wilayah pendudukan Israel. Sadat dan PM Israel Menachem Begin dianugerahi Nobel Perdamaian 1979. namun Israel tetap menolak perundingan dengan PLO dan PLO menolak otonomi. Belakangan, otonomi versi Camp David ini tidak pernah diwujudkan, demikian juga otonomi versi lainnya. Dan AS sebagai pemrakarsanya juga tidak merasa wajib memberi sanksi, bahkan selalu memveto resolusi PBB yang tidak menguntungkan pihak Israel.

1980

Israel secara sepihak menyatakan bahwa mulai musim panas 1980 kota Yerussalem yang didudukinya itu resmi sebagai ibukota.

1982

Israel menyerang Libanon dan membantai ratusan pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila. Pelanggaran terhadap batas-batas internasional ini tidak berhasil dibawa ke forum PBB karena – lagi-lagi – veto dari AS. Belakangan Israel juga dengan enaknya melakukan serangkaian pemboman atas instalasi militer dan sipil di Iraq, Libya dan Tunis.

1987

Intifadhah, perlawanan dengan batu oleh orang-orang Palestina yang tinggal di daerah pendudukan terhadap tentara Israel mulai meledak. Intifadhah ini diprakarsai oleh HAMAS, suatu harakah Islam yang memulai aktivitasnya dengan pendidikan dan sosial.

1988, 15 Nopember

Diumumkan berdirinya negara Palestina di Aljiria, ibu kota Aljazair. Dengan bentuk negara Republik Parlementer. Ditetapkan bahwa Yerussalem Timur sebagai ibukota negara dengan Presiden pertamanya adalah Yasser Arafat.
Setelah Yasser Arafat mangkat kursi presiden diduduki oleh Mahmud Abbas. Dewan Nasional Palestina, yang identik dengan Parlemen Palestina beranggotakan 500 orang.

1988, Desember

AS membenarkan pembukaan dialog dengan PLO setelah Arafat secara tidak langsung mengakui eksistensi Israel dengan menuntut realisasi resolusi PBB Nomor 242 pada waktu memproklamirkan Republik Palestina di pengasingan di Tunis.

1991, Maret

Yasser Arafat menikahi Suha, seorang wanita Kristen. Sebelumnya Arafat selalu mengatakan “menikah dengan revolusi Palestina”.

1993, September

PLO – Israel saling mengakui eksistensi masing-masing dan Israel berjanji memberikan hak otonomi kepada PLO di daerah pendudukan. Motto Israel adalah “land for peace”(tanah untuk perdamaian). Pengakuan itu dikecam keras oleh pihak ultra-kanan Israel maupun kelompok di Palestina yang tidak setuju. Namun negara-negara Arab (Saudi Arabia, Mesir, Emirat dan Yordania) menyambut baik perjanjian itu. Mufti Mesir dan Saudi mengeluarkan “fatwa” untuk mendukung perdamaian.
Setelah kekuasaan di daerah pendudukan dialihkan ke PLO, maka sesuai perjanjian dengan Israel, PLO harus mengatasi segala aksi-aksi anti Israel. Dengan ini maka sebenarnya PLO dijadikan perpanjangan tangan Yahudi.
Yasser Arafat, Yitzak Rabin dan Shimon Peres mendapat Nobel Perdamaian atas usahanya tersebut.

1995

Rabin dibunuh oleh Yigar Amir, seorang Yahudi fanatik. Sebelumnya, di Hebron, seorang Yahudi fanatik membantai puluhan Muslim yang sedang shalat subuh. Hampir tiap orang dewasa di Israel, laki-laki maupun wanita, pernah mendapat latihan dan melakukan wajib militer. Gerakan Palestina yang menuntut kemerdekaan total menteror ke tengah masyarakat Israel dengan bom “bunuh diri”. Targetnya, menggagalkan usaha perdamaian yang tidak adil itu. Sebenarnya “land for peace” diartikan Israel sebagai “Israel dapat tanah, dan Arab Palestina tidak diganggu (bisa hidup damai).”

1996

Pemilu di Israel dimenangkan secara tipis oleh Netanyahu dari partai kanan, yang berarti kemenangan Yahudi yang anti perdamaian. Netanyahu mengulur-ulur waktu pelaksanaan perjanjian perdamaian. Ia menolak adanya negara Palestina, agar Palestina tetap sekedar daerah otonom di dalam Israel. Ia bahkan ingin menunggu/menciptakan kontelasi baru (pemukiman Yahudi di daerah pendudukan, bila perlu perluasan hingga ke Syria dan Yordania) untuk sama sekali membuat perjanjian baru.
AS tidak senang bahwa Israel jalan sendiri di luar garis yang ditetapkannya. Namun karena lobby Yahudi di AS terlalu kuat, maka Bill Clinton harus memakai agen-agennya di negara-negara Arab untuk “mengingatkan” si “anak emasnya” ini. Maka sikap negara-negara Arab tiba-tiba kembali memusuhi Israel. Mufti Mesir malah kini memfatwakan jihad terhadap Israel. Sementara itu Uni Eropa (terutama Inggris dan Perancis) juga mencoba “aktif” menjadi penengah, yang sebenarnya juga hanya untuk kepentingan masing-masing dalam rangka menanamkan pengaruhnya di wilayah itu. Mereka juga tidak rela kalau AS “jalan sendiri” tanpa bicara dengan Eropa.

2002 – Sampai sekarang

Sebuah usul perdamaian saat ini adalah Peta menuju perdamaian yang diajukan olehEmpat Serangkai Uni Eropa, Rusia, PBB dan Amerika Serikat pada 17 September 2002. Israel juga telah menerima peta itu namun dengan 14 “reservasi”. Pada saat ini Israel sedang menerapkan sebuah rencana pemisahan diri yang kontroversial yang diajukan oleh Perdana Menteri Ariel Sharon. Menurut rencana yang diajukan kepada AS, Israel menyatakan bahwa ia akan menyingkirkan seluruh “kehadiran sipil dan militer yang permanen” di Jalur Gaza (yaitu 21 pemukiman Yahudi di sana, dan 4 pemumikan di Tepi Barat), namun akan “mengawasi dan mengawal kantong-kantong eksternal di darat, akan mempertahankan kontrol eksklusif di wilayah udara Gaza, dan akan terus melakukan kegiatan militer di wilayah laut dari Jalur Gaza.” Pemerintah Israel berpendapat bahwa “akibatnya, tidak akan ada dasar untuk mengklaim bahwa Jalur Gaza adalah wilayah pendudukan,” sementara yang lainnya berpendapat bahwa, apabila pemisahan diri itu terjadi, akibat satu-satunya ialah bahwa Israel “akan diizinkan untuk menyelesaikan tembok – artinya, Penghalang Tepi Barat Israel – dan mempertahankan situasi di Tepi Barat seperti adanya sekarang ini”
Di hari kemenangan Partai Kadima pada pemilu tanggal 28 Maret 2006 di Israel,Ehud Olmert – yang kemudian diangkat sebagai Perdana Menteri Israel menggantikanAriel Sharon yang berhalangan tetap karena sakit – berpidato. Dalam pidato kemenangan partainya, Olmert berjanji untuk menjadikan Israel negara yang adil, kuat, damai, dan makmur, menghargai hak-hak kaum minoritas, mementingkan pendidikan, kebudayaan dan ilmu pengetahuan serta terutama sekali berjuang untuk mencapai perdamaian yang kekal dan pasti dengan bangsa Palestina. Olmert menyatakan bahwa sebagaimana Israel bersedia berkompromi untuk perdamaian, ia mengharapkan bangsa Palestina pun harus fleksibel dengan posisi mereka. Ia menyatakan bahwa bila Otoritas Palestina, yang kini dipimpin Hamas, menolak mengakui Negara Israel, maka Israel “akan menentukan nasibnya di tangannya sendiri” dan secara langsung menyiratkan aksi sepihak. Masa depan pemerintahan koalisi ini sebagian besar tergantung pada niat baik partai-partai lain untuk bekerja sama dengan perdana menteri yang baru terpilih.
Sementara itu sebelum terjadinya serangan habis-habisan Israel ke Gaza (27/12/2008), sudah terjadi serangan-serangan kecil di antara kedua belah pihak di sekitar Jalur Gaza, disebabkan Israel menutup tempat-tempat penyeberangan atau jalur komersial ke Gaza sehingga pasokan bahan bakar minyak terhenti, yang memaksa satu-satunya pusat pembangkit listrik di Jalur Gaza tutup.
Sebagai catatan akhir, Perdana Menteri Israel setelah Benjamin Netanyahu berutur-turut adalah Ehud BarakAriel Sharon, dan yang masih berkuasa di Israel dalam penyerangan di Gaza sekarang adalah Ehud Olmert. Sedangkan 4 faksi utama di Palestina adalah PLO,Al-Fatah, Jihad Islam Palestina (JIP), dan yang berkuasa sekarang di Palestina adalah Hamas dengan Perdana Menterinya Ismail Haniya. Dan gambar peta (klik di sini) yang menggambarkan hilangnya tanah Palestina yang dicaplok oleh Israel sejak tahun 1946 sampai dengan tahun 2000. Lihat posisi Gaza yang terjepit di daerah kekuasaan Israel.

KHILAFAH ISLAM JANJI ALLAH DAN KEWAJIBAN UMMAT

khilafah islam adalah janji allah dan kewajiban kaum musliminKhilafah Islamiyyah, yang menerapkan syariat Islam secara kaffah,  adalah Janji Allah SWT,  kendati diantara orang-orang kafir menghalang-halanginya dan sebagian kaum muslimin merasa berat memperjuangkannya.  Namun hukum menegakkan dan memperjuangkannya hingga institusi khilafah islamiyyah benar-benar tegak adalah “Kewajiban” yang harus dilaksanakan oleh seluruh kaum muslimin. Hal itu karena tanpa institusi khilafah Islamiyyah, yang terjadi adalah musibah dan kedholiman dimana-mana. Perhatikan bagaiamaan pendindasan terjadi pada umat Islam oleh umat  budha  di Burma, pembantaian atas muslim di patani,  pembunuhan sistematik negara atas muslim Palestina,  penistaan Agama, menghinaan sosok Nabi SAW dan masih banyak lagi. Lebih parah lagi, tanpa Khilafah,  seluruh hukum-hukum Allah SWT [ Hukum Islam ]  sirna  di muka bumi.

Wahai segenap kaum Muslimin, perhatikanlah janji Allah dalam hadits Nabi dibawah ini , akan tegaknya Khilafah Islamiyyah  , dengan atau tanpa dukungan kita :

Imam Ahmad berkata, “Sulaiman bin Dawud al-Thayaalisiy telah meriwayatkan sebuah hadits kepada kami; di mana ia berkata, “Dawud bin Ibrahim al-Wasithiy telah menuturkan hadits kepadaku (Sulaiman bin Dawud al-Thayalisiy).

Dawud bin Ibrahim berkata, “Habib bin Salim telah meriwayatkan sebuah hadits dari Nu’man bin Basyir; dimana ia berkata, “Kami sedang duduk di dalam Masjid bersama Nabi saw, –Basyir sendiri adalah seorang laki-laki yang suka mengumpulkan hadits Nabi saw. Lalu, datanglah Abu Tsa’labah al-Khusyaniy seraya berkata, “Wahai Basyir bin Sa’ad, apakah kamu hafal hadits Nabi saw yang berbicara tentang para pemimpin? Hudzaifah menjawab, “Saya hafal khuthbah Nabi saw.” Hudzaifah berkata :

بسم الله الرحمن الرحيم

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنِي دَاوُدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ سَالِمٍ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ بَشِيرٌ رَجُلًا يَكُفُّ حَدِيثَهُ فَجَاءَ أَبُو ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيُّ فَقَالَ يَا بَشِيرُ بْنَ سَعْدٍ أَتَحْفَظُ حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأُمَرَاءِ فَقَالَ حُذَيْفَةُ أَنَا أَحْفَظُ خُطْبَتَهُ فَجَلَسَ أَبُو ثَعْلَبَةَ فَقَالَ حُذَيْفَةُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ

(رَوَاهُ اَحْمَدُ)

 

Nabi saw bersabda, Akan datang kepada kalian masa kenabian dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa Kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa  raja menggigit / raja yang dzalim  [mulkan ‘aadz-dzon]  dan atas kehendak Allah masa itu akan datang.  Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya.  Setelah itu, akan datang masa raja dictator / pemaksa (Mulkan Jabriyyatan) dan atas kehendak Allah masa itu akan datang;  lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, akan datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah  (Khilafah yang berjalan di atas kenabian ) Setelah itu, beliau diam  [HR. Imam Ahmad].

Dari hadits diatas memang harus dipahami bahwa KHILAFAH ISLAMIYYAH ADALAH JANJI DARI ALLAH SWT

Hadits tersebut bersumber dari Musnad Imam Ahmad, hadits no.17680, dan hanya Imam Ahmad bin Hanbal sendiri yang meriwayatkan hadits ini (infarada Imam Ahmad bin Hanbal). Riwayat ini termasuk hadits marfu’ (bersambung hingga Rasulullah saw). Adapun perawi hadits ini adalah sebagai berikut. Sulaiman bin Dawud al-Thayaalisiy. Nama beliau adalah Sulaiman bin Dawud al-Jaarud. Beliau adalah seorang tabi’ut tabi’iy kecil (shugra min al-atbaa’). Nasabnya adalah al-Thayaalisiy. Kunyahnya adalah Abu Dawud. Beliau tinggal di kota Bashrah dan meninggal di kota yang sama pada tahun 204 Hijriyah. Guru-gurunya adalah Aban bin Yazid, Ibrahim bin Sa’ad bin Ibrahim bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Bakar bin ‘Isyasy bin Salim, Ishaq bin Sa’id bin ‘Aman bin Sa’id bin al-‘Ash, Israil bin Yunus bin Abi Ishaq, Ismail bin Ja’far bin Abi Katsir, Asy’ats bin Said, Bustham bin Muslim bin Numair, Tsabit bin Yazid, Jarir, bin Hazm bin Zaid, Habib bin Abu Habib Yazid, Harb bin Syaddad, Huraisy bin Salim, Al-Hasan bin Abi Ja’far ‘Ijlaan, al-Hakam bin ‘Athiyyah, Himad bin Salamah bin Dinar, Humaid bin Abi Humaid Mahran, Kharijah bin Mush’ab bin Kharijah, Khalid bin Dinar, Dawud bin Abi al-Farat ‘Amru bin al-Farat, Dawud bin Qais, Rubbah bin ‘Ubadah bin al-‘Ilaa`, Zaidah bin Qudamah, Zum’ah bin Shalih, Dawud bin Ibrahim, Zuhair bin Mohammad, dan lain-lain. Murid-murid yang meriwayatkan hadits darinya adalah, Ahmad bin Ibrahim bin Katsir, Ahmad bin ‘Abdullah bin ‘Ali bin Suwaid bin Manjuf, Ahmad bin ‘Ubadah bin Musa, Ahmad bin Mohammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad, Ishaq bin Manshur bin Bahram, Hujjaj bin Yusuf bin al-Hujjaj, Al-Hasan bin ‘Ali bin Mohammad, Khalifah bin Khiyaath bin Khalifah bin Khiyaath, dan lain sebagainya.

STATUS HADITS TEGAKNYA KHILAFAH ISLAMIYYAH

Hadits di atas adalah hadits marfu’ yang diriwayatkan oleh perawi-perawi yang tsiqah. Oleh karena itu, hadits di atas maqbul, alias absah dijadikan hujjah. Adapun penilaian Imam Bukhari terhadap Habib bin Salim sesungguhnya tidak menggugurkan penilaian-penilaian ahli hadits yang lain terhadap Habib bin Salim. Meskipun Imam Bukhari tidak memasukkan riwayat ini di dalam kitab shahihnya, akan tetapi ulama-ulama hadits lain menganggapnya shahih, dan menilai Habib bin Salim sebagai perawi yang tsiqqah. Atas dasar itu, jika kita mengikuti penilaian Ibnu Hibban, dan muhadditsiin lain yang menganggap tsiqqah Habib bin Salim, maka hadits di atas adalah hadits shahih yang layak dijadikan dalil istinbath tanpa ada keraguan sedikitpun.

Hadits ini didukung sekitar delapan hadits lain, dengan makna yang sama. Seperti masuknya Islam ke setiap rumah, al-waraq al-mu’allaq, turunnya Khilafah di al-Quds, dan sebagainya. Makna hadits kembalinya Khilafah ‘ala Minhaj Nubuwwah ini diriwayatkan oleh 25 sahabat, yang kemudian diriwayatkan oleh 39 tabiin, lalu diriwayatkan oleh 62 tabiit tabiin. Ini menunjukkan bahwa, hadits tentang bisyarah (khabar gembira) akan tegaknya Khilafah ‘Ala Minhaj An Nubuwwah termasuk hadits mutawatir bil makna.

PERAN UMMAT ISLAM DEMI TEGAKNYA KHILAFAH

Hanya saja, Janji Allah tegaknya Khilafah ‘Islamiyyah menyertakan peran dan andil dari kaum Muslim, bukan semata-mata hanya andil dari Allah swt. Untuk itu, kaum Muslim wajib  menegakkan dan mewujudkan kembali Khilafah Islamiyyah ini. Ia dilarang menunggu-nunggu tegaknya Khilafah Islamiyyah tanpa melakukan tindakan apapun, dengan alasan berdirinya khilafah merupakan taqdir dan qadla’nya Allah swt. Oleh karena itu, seandainya hadits ini tidak ada, atau dianggap tidak layak dijadikan dalil, sesungguhnya kaum Muslim tetap diperintahkan untuk menegakkan Khilafah Islamiyyah hingga datangnya hari kiamat.

Mereka dilarang hidup tanpa keberadaan seorang Khalifah yang mengatur urusan mereka dengan syariat Allah swt. Sesungguhnya, yang diwajibkan syariat atas kaum Muslim adalah menegakkan Khilafah al-Islamiyyah, karena dengan institusi tersebut hukum-hukum di dalam Al Qur’an dan AS-Sunnah akan bisa diterapkan secara kaffah.

Hanya saja, seorang Muslim wajib menyakini dan mengimani apa yang telah dijanjikan Allah swt kepada mereka; yakni, jika mereka bersungguh-sungguh dan sabar dalam menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong mereka dan meneguhkan kedudukan mereka.  Mari Saudaraku..jadilah kita penolong-penolong  Agama Allah, dengan berjuang menegakkan Khilafah ISlamiyyah. Allah swt berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong  (agama)  Allah, niscaya  Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”.[TQS Muhammad  (47):7]
Wallahu a’lam bi ash-showab | Mushonnif Huda Al Qondaly
Related Posts :

Hukum KPR dan Leasing dalam Islam | Hukum Asuransi dalam Islam Hukum Pajak dan Jizyah dalam Islam | Hukum Atas Penista AgamaHukum Demo Haramkah ? | Hukum Menimbun Barang / kanzul Mal | Hukum Menegakkan Khilafah untuk menerapkan syariat Islam | Hukum Menghina Nabi | Larangan Mengangkat Non Muslim Sebagai PemimpinBahaya Riba  |  Bahaya Kartu Kridit  | Jilbab Wajib Kerjakanlah | Siapakah Ahlul Kitab?  | Kewajiban dan Hukum Zakat Mal | Bid’ah dalam Pandangan Islam | Perbedaan Fa’ dan Ghanimah | Wajib Amar ma’ruf Nahi Munkar

LARANGAN MENGANGKAT PEMIMPIN NON MUSLIM

Akhir-akhir ini dihebohkan dengan pemberitaan yang cukup memprihatinkan ummat Islam. Mengapa cukup memprihatinkan, karena statement yang disampaikan oleh tohoh ormas Islam yang notabene terbesar di Indonesia. Statetmen tersebut adalah ” Lebih baik memilih pemimpin kafir tapi amanah daripada muslim tapi koruptor”.

pemimpin non muslim

Statement itu tidak akan keluar kecuali dari pemahaman yang liberal bahkan sesat dan menyesatkan. Walaupun yang menyapaikan itu seorang professor ataupun kyai sekalipun. Lebih parah lagi, sosok yang disebut-sebut kyai tersebut mengusung dan mengelilingkan tokoh non muslim –untuk cari dukungan menjadi pemimpin negeri ini –ke pesantren dan dikerubuti para santriwati yang bahkan juga berebut cium tangan.

 satriwati cium tangan Hary Tanoe
satriwati cium tangan Hary Tanoe

Entah apa motif yang ada di benak sang kyai tersebut, uangkah? politiskah? hawa nafsukah? atau liberalkah? atau khilafkah? tentu perilaku tersebut jagan sampai terjadi lagi.

Bagaimana Al Qur’an berbicara tentang pemimpin non muslim? Mari perhatikan beberapa dalil  berikut :

LARANGAN NON MUSLIM SEBAGAI PEMIMPIN

Allah SWt berfirman :

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara  diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).” [QS. 3. Ali ‘Imraan : 28. ]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ?” QS. 4. An-Nisaa’ : 144.]

 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi PEMIMPINMU, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” [QS. 5. Al-Maa-idah : 57.]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak  memberi petunjuk kepada orang-orang yang ZALIM.” [ QS. 5. Al-Maa-idah : 51.]

LARANGAN NON MUSLIM SEBAGAI KEPERCAYAAN

ALlah SWT Berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi TEMAN  KEPERCAYAANMU orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang  disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” [QS. 3. Aali ‘Imraan : 118.]

“Kabarkanlah kepada orang-orang MUNAFIQ bahwa mereka akan mendapat siksaan  yang pedih. (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu ? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” [QS. 4. An-Nisaa’ : 138-139.]

LARANGAN NON MUSLIM MENGUASAI KAUM MUSLIMIN

Allah SWT Berfirman :

“…… dan Allah sekali-kali tidak akan MEMBERI JALAN kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” [ QS. 4. An-Nisaa’ : 141. ]

Dan masih banyak lagi terkait larangan seorang non muslim dijadikan  pemimpin, teman keercayaan, bahkan diber kesempatan untuk bisa menguasai kaum muslimin. Wallahu a’lam bi ash-showab.| Mushannif Huda Al Qondaly

Related Posts :

Hukum KPR dan Leasing dalam Islam | Hukum Asuransi dalam Islam Hukum Pajak dan Jizyah dalam Islam | Hukum Atas Penista AgamaHukum Demo Haramkah ? | Hukum Menimbun Barang / kanzul Mal | Hukum Menegakkan Khilafah untuk menerapkan syariat Islam | Hukum Menghina Nabi | Larangan Mengangkat Non Muslim Sebagai PemimpinBahaya Riba  |  Bahaya Kartu Kridit  | Jilbab Wajib Kerjakanlah | Siapakah Ahlul Kitab?  | Kewajiban dan Hukum Zakat Mal | Bid’ah dalam Pandangan Islam | Perbedaan Fa’ dan Ghanimah | Wajib Amar ma’ruf Nahi Munkar

 

ISLAM RAHMATAN LIL ALAMIN

islam-rahmatanAllah SWT mengutus Nabi Muhammad saw dengan membawa Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Seluruh interaksi antar manusia diatur sedemikian rupa oleh syariat Islam sehingga bisa mewujudkan kebahagian bagi manusia dan harmoni seluruh alam semesta.

Wujud kerahmatan Islam itu bisa tampak manakala Islam diterapkan secara sempurna (kaffah) dalam negara khilafah. Umat baik secara individu dan berjamaah akan terlindungi oleh Islam. Mengapa? Karena Islam:

  1. Menjaga agama [hifdh ad-dîn]

Islam adalah agama yang luar biasa dalam hal toleransinya terhadap pemeluk agama lain. Agama lain bisa hidup tenang di bawah naungan Islam. Ini terjadi sejak masa Nabi SAW ketika saat itu Madinah hidup beberapa komunitas berbeda yakni Islam, Yahudi, dan orang-orang Musyrik. Kondisi itu terus berlangsung hingga masa khilafah di sepanjang masa keberadaannya. Ketika Spanyol berada dalam kekuasaan Islam, Islam bisa mengayomi Nasrani dan Yahudi sehingga saat itu Andalusia dikenal dengan sebutan negara dengan tiga agama.

 

Pengakuan Islam terhadap pluralitas masyarakat ini tidak lepas dari ajaran Islam. Allah SWT berfirman:

﴿لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّيْنِ﴾[سورة البقرة: 256]

 Tidak ada paksaan dalam memeluk agama [Islam].(Q.s. al-Baqarah [02]: 256)

Selain melindungi Islam, Negara Khilafah pun melindungi agama lainnya dengan syarat pemeluknya menjadi ahli dzimmah. Negara membiarkan mereka Kristen, Yahudi, Hindu, Budha dan sebagainya.  Nabi saw. bersabda:

 

كَتَبَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِلَى أَهْلِ الْيَمَنِ، أَنَّهُ مَنْ كَانَ عَلَى يَهُودِيَّةٍ أَوْ نَصْرَانِيَّةٍ، فَإِنَّهُ لا يُفْتَنُ عَنْهَا، وَعَلَيْهِ الْجِزْيَةُ [أخرجه ابن حزم في المحلى]

 Rasulullah saw. menulis surat kepada penduduk Yaman, bahwa siapa saja yang tetap memeluk Yahudi atau Nasrani, maka dia tidak boleh dipaksa untuk meninggalkan agamanya. Dia wajib membayar jizyah.(HR Ibn Hazm dalam kitabnya, al-Muhalla).

Orang-orang non-Muslim tetap bebas untuk beribadah, menikah, cerai, termasuk makan, minum dan pakaian sesuai dengan agama mereka.

Namun bagi Muslim, mereka tidak diperbolehkan meninggalkan Islam, alias murtad. Orang Islam yang murtad, mengaku Nabi, menistakan Islam dan syariatnya akan dibunuh. Nabi saw. bersabda:

مَنْ بَدَّلَ دِيْنَهُ فَاقْتُلُوْهُ  [رواه الترميذي]

 Siapa saja yang murtad dari agamanya, maka bunuhlah dia.(HR at-Tirmidzi).

Cara Islam ini menjadi semacam imunitas bagi seluruh kaum Muslim. Dengan cara ini pula maka pemurtadan akan menghadapi tembok tebal. Virus kemurtadan yang ingin ditularkan oleh orang-orang murtad seperti saat ini tidak akan terjadi. Mengapa? Karena tak akan ada orang murtad yang hidup dan menjadi misionaris. Bersamaan dengan itu, khilafah justru mengajarkan akidah Islam kepada seluruh warga negara melalui jalur pendidikan dan media massa.

Penjagaan khilafah yang luar biasa terhadap agama ini tidak akan memungkinkan munculnya aliran-aliran sesat, seperti yang terjadi di negeri ini. MUI Pusat mencatat ada lebih dari 300 aliran sesat di Indonesia. Tidak mungkin ada Gafatar yang menipu ribuan orang dengan Nabi palsunya.  Demikian pula Ahmadiyah, tidak akan bisa menyebarkan ajaran sesatnya seperti sekarang. Khilafah pasti akan menghentikan dan menghabisi ajarannya sampai ke akar-akarnya.

Penjagaan khilafah atas agama ini pun tidak akan memungkinkan munculnya orang-orang liberal yang merusak Islam dari dalam. Negara akan menghentikan mereka sebelum mereka menyebarkan pemikiran rusak dan sesat mereka. Khilafah tak akan memberi ruang sedikitpun bagi pemikiran Barat (liberalisme, sekulerisme, pluralisme, dan kapitalisme) berkembang di dunia pendidikan.

Demikian pula penistaan terhadap Islam, Alquran, dan Nabi  SAW tidak akan muncul. Syariah Islam telah memiliki sejumlah sanksi keras atas penistaan ini.

  1. Menjaga akal [hifdh al-‘aql]

Khilafah mencegah rakyatnya dari kerusakan akal. Sebagaimana sudah dimaklumi, akal manusia bisa rusak akibat khamer dan apa saja yang memabukkan. Penjagaan khilafah ini merupakan implementasi dari firman Allah SWT:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴾[سورة المائدة: 90]

 Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.(Q.s. al-Maidah [05]: 90)

Sabda Nabi saw:

حُرِمَتِ الْخَمْرُ لِعَيْنِهَا وَالْسَكْرُ مِنْ كُلِّ شَرَابٍ [أخرجه ابن همام]

 Khamer diharamkan karena zatnya. Sedangkan yang memabukkan itu dari semua yang diminimum [dihisap].(Hr. Ibn Humam).

 

Kemaslahatan ini terwujud, dan bisa dirasakan manusia, ketika khamer, narkoba dan sejenisnya diharamkan. Begitu juga tontonan yang bisa merusak akal juga diharamkan, seperti film, gambar dan aksi porno. Orang yang memproduksi, mengkonsumsi dan mendistribusikannya pun diharamkan, dan akan dikenai sanksi. Dengan begitu, akal manusia pun terjaga.

Ini sangat bertolak belakang dengan sistem kehidupan kita saat ini. Begitu mudahnya orang mendapatkan minuman keras (miras) karena negara membolehkan minuman beralkohol dengan kadar kurang dari 5 persen. Bahkan tidak ada aturan negara yang melarang seorang Muslim menenggak khamer. Tidak ada juga larangan memproduksi khamer. Bahkan salah satu pabrik bir besar di Jakarta, sebagian sahamnya adalah milik pemerintah.

Ironisnya, belakangan orang begitu mudahnya membuat miras sendiri. Mereka mengoplos miras. Kasus terbaru di Sleman, Yogyakarta, 22 orang tewas karena menenggak minuman keras oplosan dari satu produsen miras oplosan.

Menyedihkannya lagi, miras ini tidak hanya dinikmati oleh orang awam. Aparat keamanan yang seharusnya menertibkan masyarakat malah ikut-ikutan. Ini yang terjadi di Papua. Tiga polwan sampai teler karena mengonsumsi miras di indekos mereka.

Kondisi ini kian diperparah dengan maraknya peredaran narkoba. Negeri Muslim terbesar itu kini masuk dalam kategori darurat narkoba. Mengapa? Pertama, jumlah pengguna narkoba saat ini sudah mencapai 4 juta orang lebih. Angka meninggal dunia tercatat 30-50 orang setiap hari. Kedua, banyaknya pelaku yang berhasil ditangkap menjadikan penjara makin penuh. Bahkan berdasarkan data, separuh dari lembaga pemasyarakatan dan rutan diisi oleh para pelaku narkoba.

Bagaimana negeri ini penduduknya merasakan kebahagiaan hidup jika banyak orang di sekitarnya rusak akalnya. Apalagi, semua orang sudah tahu orang yang rusak akalnya cenderung melakukan tindak kejahatan berikutnya.

Makanya, Islam sangat peduli dengan nasib umat ini. Pada saat yang sama, Islam mewajibkan kaum Muslim belajar, menuntut ilmu, berpikir dan berijtihad. Semuanya ini bisa meningkatkan kemampuan intelektual manusia. Islam juga memuji para ulama’, karena ilmu dan sikapnya.

﴿يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوْا اْلعِلْمَ دَرَجَاتٍ﴾[سورة المجادلة: 11]

 Allah mengangkat orang-orang yang beriman dan diberi ilmu di antara kalian beberapa derajat.(Q.s. al-Mujadalah [58]: 11)

 Bisa dibayangkan, apa jadinya negeri yang di dalamnya bersih dari orang-orang yang rusak akalnya. Itulah kerahmatan yang luar biasa.

  1. Menjaga jiwa [hifdh al-nafs]

Tanpa syariah Islam, terbukti aturan manusia tak bisa mencegah dan tak bisa menjerakan manusia untuk berbuat aniaya terhadap orang lain. Apakah bentuknya melukai, menyerang secara fisik, sampai membunuh jiwa.

Setiap hari media massa menyiarkan bagaimana dengan mudahnya seseorang menganiaya orang lain. Begitu gampangnya pula orang membunuh orang lain hanya gara-gara hal sepele. Bahkan kasus terbaru di Kalimantan Barat, betapa bejatnya seorang anggota kepolisian dengan sadis membunuh dan kemudian memutilasi dua anak kandungnya sendiri yang masih kecil.

Mengapa kejadian sperti itu terus berlangsung? Bukankah sudah banyak orang dihukum, dimasukkan penjara?

Kondisi seperti ini akan diminimalisir oleh Islam. Khilafah akan menjaga setiap jiwa dari tindakan penganiayaan sesama manusia. Ini adalah implementasi dari firman Allah SWT:

﴿إِنَّهُ مَن قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا ﴾[سورة المائدة: 32]

 Bahwa, siapa siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan siapa saja yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.(Q.s. al-Maidah [05]: 32)

Maka bila ada orang yang melanggar ketentuan ini, Islam akan menjatuhkan sanksi yang keras. Bisa dalam bentuk diyat [tebusan darah], atau qishash [dibunuh]. Ini sesuai dengan firman Allah SWT:

﴿وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴾[سورة البقرة: 179]

 “Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (Q.s. al-Baqarah [05]: 179)

Dengan begitu, darah dan jiwa manusia pun terjaga. Inilah kerahmatan Islam dalam menjaga setiap jiwa kaum Muslim.

  1. Menjaga harta [hifdh al-mâl]

 Banyak orang yang tahu bahwa mencuri, merampok, ghashab (menipu), dan korupsi adalah tindakan yang salah. Tapi kenapa banyak anggota masyarakat yang melakukannya?

Selain karena faktor kesejahteraan yang diabaikan oleh negara, faktor sanksi yang ringan menjadi alasan bagi para pelaku tindak kejahatan tersebut. Ada kecenderungan angka kriminalitas terus meningkat dari tahun ke tahun.

Polda Metro Jaya misalnya, mencatat 3.000 kejahatan setiap bulan atau ratusan setiap hari terjadi di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya pada tahun 2015. Bentuknya antara lain kejahatan konvensional, kejahatan jalanan, pencurian dengan kekerasan, pencurian dengan pemberatan, dan pencurian kendaraan bermotor.

Di tahun 2013, BPS menghitung, setiap 1 menit 32 detik terjadi satu tindak kriminal di Indonesia. Sementara itu dari 100 ribu orang di Indonesia, 140 orang di antaranya berisiko terkena tindak kejahatan. Angka ini didasarkan pada laporan yang masuk ke kepolisian. Besaran angka kriminalitas ini akan bertambah bila ditambah angka kejahatan yang tidak dilaporkan ke kepolisian.

Itu baru yang kecil-kecil. Maling-maling berdasi pun terus bertambah. Meski sudah banyak koruptor ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), ternyata korupsi terus terjadi.  Ada 439 kasus yang ditangangi KPK sejak tahun 2004 hingga Juli 2015. Pelakunya birokrat di daerah hingga pejabat di pusat, sampai level menteri.

Mereka tak takut dengan penjara. Bahkan banyak di antara mereka belajar di penjara agar menjadi penjahat yang lebih hebat.

 

Kondisi itu tidak akan terjadi dalam sistem Islam. Sanksi Islam terhadap mereka sangat keras karena tindakan tersebut adalah sebuah keharaman. Bagi orang yang mencuri, baik Muslim maupun non-Muslim, akan dikenai sanksi potong tangan. Allah SWT berfirman:

﴿وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوْا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ  ﴾[سورة المائدة: 38]

 “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.s. al-Maidah [05]: 38)

 Bisa dibayangkan, para pencuri akan teridentifikasi kejahatan yang pernah dilakukannya sepanjang hidupnya. Ini akan mencegahnya mencuri ulang. Dan bagi masyarakat akan senantiasa waspada bila bertemu dengan para mantan pencuri ini.

Sedangkan orang yang ghashab (merampas) dan korupsi, akan dikenai sanksi ta’zîr. Hukumannya diserahkan kepada hakim. Dan hakim pun bisa menjatuhkan hukuman yang maksimal seperti hukuman mati.

Dengan begitu, harta akan terjaga, dan tak ada seorang pun yang berani mengambil harta orang lain yang bukan haknya.

Semuanya ini membuktikan dengan jelas, bahwa Islam telah menjaga agama, akal, jiwa dan harta benda manusia dengan sangat sempurna. Dengannya, kehidupan masyarakat pun menjadi tenang, tenteram dan bahagia, serta dijauhkan sejauh-jauhnya dari hal-hal yang bisa merusak ketenteraman dan kebahagiannya. Itulah kerahmatan Islam bagi masyarakat, dari urusan agama hingga harta benda. wallahu a’lam bi ash-shawab. | Mushannif Huda Al Qondaly

Related Posts :

Hukum KPR dan Leasing dalam Islam | Hukum Asuransi dalam Islam Hukum Pajak dan Jizyah dalam Islam | Hukum Atas Penista AgamaHukum Demo Haramkah ? | Hukum Menimbun Barang / kanzul Mal | Hukum Menegakkan Khilafah untuk menerapkan syariat Islam | Hukum Menghina Nabi | Larangan Mengangkat Non Muslim Sebagai PemimpinBahaya Riba  |  Bahaya Kartu Kridit  | Jilbab Wajib Kerjakanlah | Siapakah Ahlul Kitab?  | Kewajiban dan Hukum Zakat Mal | Bid’ah dalam Pandangan Islam | Perbedaan Fa’ dan Ghanimah | Wajib Amar ma’ruf Nahi Munkar

Islam Rahmatan Lil Alamin Hanya Jika ISLAM Diterapkan Secara Kaffah