SERUAN DAKWAH NABI KEPADA KERABAT

siroh-nabi-2
Dakwah Nabi Pada Kerabatnya

Nabi SAW, baru saja mengundang kerabat dekatnya sebanyak 45 orang dan tidak ada perkataan apapun yang keluar dari beliau. Bahkan Abu Lahab telah mendahuluinya dan mengancamnya. Nabi tidak berbicara sedikitpun, hal itu menjadi strategi Beliau untuk mendengar dan mengetahui bagaimana keberadaan aqidah tauhid yang dibawanya itu ditanggapi oleh kerabatnya dari Bani Abdul Muththolib bin Abdi Manaf.

Kemudian Beliau SAW mengundang yang kedua kalinya, dan berkata : Segala puji bagi Allah dan aku memuji-Nya, memohon pertolonganNya, percaya dan Tawakkal kepadaNya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Illah selain Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya.  Sesungguhnya seorang pemandu itu tidak akan mendustakan keluarganya. Demi Allah yang tidak ada Illah selain Dia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah  kepada kalian secara khusus dan kepada manusia secaa umum. Demi Allah kalian akan mati layaknya sedang tidur nyenyak dan akan dibangkitkan lagi layaknya bangun tidur. Kalian akan dihisab terhadap apapun yang kalian perbuat , lalu disana ada syurga yang abadi dan neraka yang abadi pula.”

Dakwah Nabi kepada kerabat yang kedua itu  mendapat  dukungan dari Abu Thalib, hanya dukungan keamanan saja bukan sebagai pengikutnya. Abu Thalib berkata : “Kami tidak suka menolongmu ( Agamamu), menjadi penasihatmu, dan membenarkan perkataanmu. Orang-orang yang menjadi Bani Bapakmu ini sudah sepakat . Aku hanya segelintir orang diantara mereka. Namun AKulah orang yang pertama kali mendukung apa yang engkau sukai. Maka lanjutkanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Demi Allah, aku senantiasa akan menjaga dan melindungimu, namun aku tidak mempunyai pilihan lain untuk meninggalkan agama Bani Abdul Muth-thalib”.

Lalu Abu Lahab berkata :” Demi Allah ini adakah kabar buruk. Ambillah tindakan terhadap dirinya sebelum orang lain melakukannya.”

Abu Thalib menimpali :”Demi Allah kami tetap akan melindunginya selagi kami masih Hidup.” [ Fiqh Siroh, Ibnu Atsir, hal 77-78].

*****

Pelajaran dari siroh diatas adalah,  kita tidak boleh ragu atas keyakinan dan ajaran Islam yang mulia, tetap semangat dalam dakwah. Dalam setiap dakwah pasti ada rintangan, mulailah dari kerabat dekat, teman dekat, dan terus ke masyarakat. Kita tidak tahu Siapa sosok yang Allah akan siapkan dan tunjuk dikemudian hari yang akan menjadi ahlu nushroh ( Penolong ) dalam medan dakwah ini. Sehingga Islam dimenangkan dan akan jaya kembali dan berkuasa kembali. to be continued..

Advertisements

MASALAH AHLUL KITAB

Allah Ta’ala berfirman,

وَقُلْ لِلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ

Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab.” (QS. Ali Imron: 20)

Berikut penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengenai ayat di atas.

Ayat ini ditujukan pada Ahli Kitab di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal ajaran ahli kitab yang hidup di zaman beliau sudah mengalami naskh wa tabdiil (penghapusan dan penggantian). Maka ayat ini menunjukkan bahwa siapa saja yang menisbatkan dirinya pada Yahudi dan Nashrani, merekalah ahli kitab. Ayat ini bukan khusus membicarakan ahli kitab yang betul-betul berpegang teguh dengan Al Kitab (tanpa penghapusan dan penggantian). Begitu pula tidak ada beda antara anak Yahudi dan Nashrani yang hidup setelah adanya penggantian Injil-Taurat di sana-sini dan yang hidup sebelumnya. Jika setelah adanya perubahan Injil-Taurat di sana-sini, anak Yahudi dan Nashrani disebut ahli kitab, begitu pula ketika anak Yahudi dan Nashrani tersebut hidup sebelum adanya perubahan Taurat-Injil, mereka juga disebut Ahli Kitab dan mereka kafir jika tidak mengimani Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah Ta’ala tetap mengatakan kepada orang Yahudi dan Nashrani yang hidup di zaman beliau,

وَقُلْ لِلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ

Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab.” (QS. Ali Imron: 20)

Allah tentu saja mengatakan hal ini kepada orang yang hidup di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau diperintahkan menyampaikan wahyu. Dan tidak mungkin ditujukan kepada Yahudi dan Nashrani yang telah mati.

***

Demikian kutipan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al Iman. Jadi kesimpulannya, orang Yahudi dan Nashrani di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga yang hidup di zaman ini termasuk ahlul kitab, walaupun mereka sudah tidak lagi berpegang dengan kitab mereka yang asli dan kitab mereka telah mengalami perubahan di sana-sini.

BAGAIMANA MENIKAHI WANITA AHLUL KITAB ?

Para fuqaha dari berbagai mazhab –di antaranya adalah mazhab yang empat, yaitu mazhab Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad– telah sepakat mengenai bolehnya seorang laki-laki muslim menikahi perempuan Ahli Kitab (kitabiyyah), yaitu perempuan beragama Yahudi dan Nashrani, sesuai firman Allah SWT :

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنْ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنْ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ

(Dan dihalalkan menikahi) wanita-wanita merdeka [al muhshanat] di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita merdeka [al muhshanat] di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu.” (QS Al Maa`idah [5] : 5). (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 7/143; Abdurrahman Al Jaziri, Al Fiqh ‘Ala Al Madzahib Al Arba’ah, 4/73;Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, 1/369; Wahbah Al Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 9/145).

Hanya saja, meskipun Imam Syafi’i –rahimahullah– termasuk yang membolehkan seorang laki-laki muslim menikahi perempuan Ahli Kitab, beliau membuat syarat (taqyiid), yaitu perempuan Ahli Kitab tersebut haruslah perempuan Bani Israil. Jika dia bukan perempuan Bani Israil, misalnya perempuan Arab tapi menganut Yahudi atau Nashrani, maka dia tidak termasuk Ahli Kitab sehingga haram hukumnya bagi laki-laki muslim untuk menikahinya. (Imam Al Baihaqi, Ahkamul Qur`an, 1/187, Beirut : Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah).

Pendapat Imam Syafi’i tersebut dalam nash (teks) yang asli dari Imam Syafi’i, sebagaimana dikutip oleh Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra (7/173) adalah sebagai berikut :

وأهل الكتاب الذين يحل نكاح حرائرهم : أهل الكتابين المشهورين – : التوراة و الإنجيل . – وهم اليهود والنصارى من بني إسرائيل دون المجوس.

“Dan Ahli Kitab yang halal menikahi wanita-wanita merdekanya, adalah Ahli [Pemilik] Dua Kitab yang masyhur, yaitu Taurat dan Injil. Mereka adalah orang-orang Yahudi dan Nashrani dari Bani Israil, bukan orang Majusi.” (Imam Al Baihaqi, Ahkamul Qur`an Lil Imam Al Syafi’i, 1/187, Beirut : Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, 1975).

Imam Syafi’i menjelaskan dalil pendapatnya tersebut dalam kitabnya Al Umm (3/7) dengan bersandar pada beberapa khabar (hadits) yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Jarir (w. 310 H), di antaranya khabar dari ‘Atha` yang berkata :

ليس نصارى العرب بأهل كتاب وإنما أهل الكتاب بنو إسرائيل الذين جاءتهم التوراة والإنجيل .فأما من دخل فيهم من الناس فليسوا منهم

“Orang-orang Nashrani Arab bukanlah Ahli Kitab. [Karena] Ahli Kitab itu hanyalah orang-orang Bani Israil yang datang kepada mereka kitab Taurat dan Injil. Adapun siapa saja yang masuk ke dalam mereka [menjadi penganut Yahudi dan Nashrani] dari kalangan manusia [bukan Bani Israil], maka mereka itu tidaklah termasuk golongan mereka [Ahli Kitab].” (Nuruddin ‘Adil, Mujadalah Ahlil Kitab fi Al Qur`an Al Karim wa As Sunnah An Nabawiyyah, hlm. 79; Riyadh : Maktabah Ar Rusyd, 2007).

Berdasarkan riwayat seperti itulah, Imam Syafi’i berpendapat bahwa siapa saja orang non Bani Israil yang beragama dengan agama Ahli Kitab yang kepada mereka diturunkan Taurat dan Injil, maka mereka itu Ahli Kitab sekedar nama, bukanlah Ahli Kitab yang hakiki. (Imam Al Baihaqi, Ahkamul Qur`an, 2/57)

Pendapat Imam Syafi’i tersebut kemudian dijelaskan lebih lanjut oleh para ulama madzhab Syafi’i seperti Imam Al Khathib Al Syarbaini pengarang kitab Mughni Al Muhtaj (3/187) dan Imam Nawawi pengarang kitab Al Majmu’ (2/44). Dikatakan, bahwa menikahi perempuan Ahli Kitab dari kalangan Bani Israil dihalalkan, karena berarti perempuan itu adalah keturunan orang Yahudi atau Nashrani yang ketika pertama kali masuk agama Yahudi atau Nashrani, kitabnya masih asli dan belum mengalami perubahan (tahrif). Sedang perempuan Ahli Kitab yang bukan keturunan Bani Israil, haram dinikahi karena mereka adalah keturunan orang Yahudi atau Nashrani yang ketika pertama kali masuk agama Yahudi atau Nashrani, kitabnya sudah tidak asli lagi atau sudah mengalami perubahan (tahrif), kecuali jika mereka menjauhi apa-apa yang sudah diubah dari kitab mereka. (Lihat Wahbah Al Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 9/147).

Pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat jumhur ulama yang membolehkan laki-laki muslim menikahi perempuan Ahli Kitab secara mutlak, baik perempuan itu dari Bani Israil maupun bukan Bani Israil.

Adapun yang merajihkan pendapat jumhur, adalah 3 (tiga) dalil sebagai berikut :

Pertama, karena dalil-dalil yang ada dalam masalah ini adalah dalil yang mutlak, tanpa ada taqyiid (pembatasan/pensyaratan) dengan suatu syarat tertentu. Perhatikan dalil yang membolehkan laki-laki menikahi Kitabiyyah (perempuan Ahli Kitab), yang tidak menyebutkan bahwa mereka harus dari kalangan Bani Israil. Firman Allah SWT :

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنْ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنْ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ

(Dan dihalalkan menikahi) wanita-wanita merdeka [al muhshanat] di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita merdeka [al muhshanat] di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu.” (QS Al Maa`idah [5] : 5).

Ayat di atas mutlak, yaitu membolehkan menikahi perempuan muhshanat yang diberi Al Kitab sebelum umat Islam, tanpa menyinggung sama sekali bahwa mereka itu harus dari keturunan Bani Israil. Dalam hal ini berlakulah kaidah ushuliyah yang menyebutkan :

المطلق يجري على إطلاقه ما لم يرد دليل يدل على التقييد

Al muthlaqu yajriy ‘alaa ithlaaqihi maa lam yarid daliilun yadullu ‘ala at taqyiid.” (dalil yang mutlak tetap dalam kemutlakannya, selama tidak terdapat dalil yang menunjukkan adanya pembatasan). (Wahbah Zuhaili, Ushul Al Fiqh Al Islami, 1/208).

Kemutlakan dalil inilah yang menjadikan Syaikh Wahbah Zuhaili menguatkan pendapat jumhur ulama atas pendapat Imam Syafi’i. Syaikh Wahbah Zuhaili berkata :

والراجح لدي هو قول الجمهور، لإطلاق الأدلة القاضية بجواز الزواج بالكتابيات، دون تقييد بشيء

“Pendapat yang rajih bagi saya adalah pendapat jumhur, berdasarkan kemutlakan dalil-dalil yang memutuskan bolehnya wanita-wanita Ahli Kitab, tanpa ada taqyiid (pembatasan) dengan sesuatu (syarat).” (Wahbah Al Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 9/147).

Dengan ini jelaslah bahwa Ahli Kitab itu tidak hanya dari keturunan Bani Israil saja, melainkan siapa saja yang beragama Yahudi dan Nashrani baik dia keturunan Bani Israil maupun bukan keturunan Bani Israil.

Kedua, karena tindakan Rasulullah SAW (af’aal rasulullah) dalam memperlakukan Ahli Kitab seperti menerapkan kewajiban membayar jizyah atas mereka, menunjukkan bahwa yang menjadi kriteria seseorang digolongkan Ahli Kitab adalah agamanya, bukan nenek moyangnya, yaitu apakah nenek moyang mereka itu ketika pertama kali masuk Yahudi/Nashrani kitabnya masih asli ataukah sudah mengalami perubahan (tahrif) dan pergantian (tabdiil).

Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah telah menjelaskan hal itu dalam kitabnya Zadul Ma’ad (3/158) dengan perkataannya :

العرب أمة ليس فيها في الأصل كتاب، وكانت كل طائفة منهم تدين بدين من جاورها من الأمم …فأجرى رسول الله صلى الله عليه وسلم أحكام الجزية ، و لم يعتبر آباءهم ولا من دخلوا في دين أهل الكتاب : هل كان دخولهم قبل النسخ والتبديل أو بعده

Orang Arab adalah suatu umat yang pada asalnya tidak ada sebuah kitab di tengah mereka. Setiap kelompok dari mereka beragama dengan agama umat-umat yang berdekatan dengan mereka… Maka Rasulullah SAW memberlakukan hukum-hukum jizyah, dan beliau tidak mempertimbangkan nenek moyang mereka juga tidak [mempertimbangkan] orang-orang yang masuk ke dalam agama Ahli Kitab : apakah dulu masuknya mereka itu sebelum terjadinya penghapusan (nasakh) [dengan turunnya Al Qur`an] dan penggantian (tabdiil) [tahrif terhadap Taurat dan Injil] ataukah sesudahnya.” (Ibnul Qayyim Al Jauziyyah, Zadul Ma’ad, 3/158; Lihat Nuruddin ‘Adil, Mujadalah Ahlil Kitab fi Al Qur`an Al Karim wa As Sunnah An Nabawiyyah, hlm. 80).

Atas dasar itu, orang yang tergolong Ahli Kitab itu tidak dilihat lagi nenek moyangnya, apakah ketika mereka masuk Yahudi atau Nashrani kitab mereka masih asli, ataukah sudah mengalami perubahan, ataukah ketika sudah diturunkan Al Qur`an. Maka, orang masa sekarang, yaitu setelah diturunkannya Al Qur`an, jika menganut Yahudi atau Nashrani, juga digolongkan Ahli Kitab.

Ketiga, ayat-ayat Al Qur`an yang turun untuk pertama kalinya dan berbicara kepada orang Yahudi dan Nashrani pada zaman Nabi SAW, sudah menggunakan panggilan atau sebutan “Ahli Kitab” untuk mereka. Padahal mereka pada saat itu sudah menyimpang dari agama asli mereka, bukan orang-orang yang masih menjalankan kitabnya yang murni/asli. Misalnya firman Allah SWT :

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَسْتُمْ عَلَى شَيْءٍ حَتَّى تُقِيمُوا التَّوْرَاةَ وَالإِنجِيلَ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ

“Katakanlah [Muhammad],’Wahai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Qur`an yang diturunkan kepadamu [Muhammad] dari Tuhanmu.” (QS Al Maa`idah [5] : 68).

Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa orang Yahudi dan Nashrani pada zaman Nabi SAW tidaklah menjalankan ajaran-ajaran Taurat dan Injil yang diturunkan Allah kepada mereka. Meski demikian, mereka tetap disebut “Ahli Kitab” di dalam Al Qur`an. Dan ayat-ayat semacam ini dalam Al Qur`an banyak. (Nuruddin ‘Adil, Mujadalah Ahlil Kitab fi Al Qur`an Al Karim wa As Sunnah An Nabawiyyah, hlm. 80).

Dengan demikian, istilah “Ahli Kitab” sejak awal memang ditujukan kepada orang-orang Yahudi dan Nashrani yang sudah menyimpang dan tidak lagi menjalankan ajaran Taurat dan Injil. Istilah “Ahli Kitab” bukan ditujukan kepada orang Yahudi dan Nashrani yang masih asli kitabnya atau masih lurus menjalankan agamanya. Jadi tidak benar anggapan bahwa saat ini sudah tak lagi Ahli Kitab dengan alasan istilah “Ahli Kitab” ditujukan untuk orang Yahudi dan Nashrani yang masih asli kitabnya. Pendapat ini tidak benar.

Berdasarkan tiga dalil di atas, jelaslah bahwa pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat jumhur ulama yang membolehkan laki-laki muslim menikahi perempuan Ahli Kitab secara mutlak, baik perempuan itu dari Bani Israil maupun bukan Bani Israil. Baik nenek moyang mereka masuk agama Yahudi dan Nashrani ketika kitabnya masih asli maupun ketika kitabnya sudah mengalami perubahan (tahrif). Baik sebelum diturunkannya Al Qur`an maupun sesudah diturunkannya Al Qur`an.

Namun yang perlu kami tegaskan, sesuatu yang mubah itu jelas bukan sesuatu yang dianjurkan (sunnah), atau yang diharuskan (wajib). Bahkan perkara yang hukumnya mubah, pada kasus-kasus tertentu dapat diharamkan secara syar’i jika menimbulkan bahaya (mudharat/mafsadat), meski hukum pokoknya yang mubah tetap ada dan tidak hilang. Hal ini sesuai kaidah fiqih yang dirumuskan oleh Imam Taqiyuddin An Nabhani –rahimahullah– sebagai berikut :

كل فرد من أفراد المباح إذا كان ضارا أو مؤديا إلى ضرر حرم ذلك الفرد وظل الأمر مباحا

Setiap kasus dari kasus-kasus perkara yang mubah, jika terbukti berbahaya atau membawa kepada bahaya, maka kasus itu diharamkan, sedangkan perkara pokoknya tetap mubah.” (Taqiyuddin An Nabhani, Al Syakhshiyyah Al Islamiyyah, 3/456).

Berdasarkan kaidah fiqih tersebut, pada kasus tertentu, haram hukumnya seorang laki-laki muslim menikahi perempuan Ahli Kitab, jika terbukti berbahaya atau dapat membawa kepada bahaya bagi laki-laki itu secara khusus. Misalnya, laki-laki muslimnya lemah dalam beragama, sedang perempuan Ahli Kitabnya seorang misionaris Kristen atau Katolik yang sangat kuat beragama dan kuat pula pengaruhnya kepada orang lain. Maka dalam kondisi seperti ini, haram hukumnya laki-laki muslim tersebut menikahi perempuan Ahli Kitab ini, karena diduga kuat laki-laki muslim itu akan dapat terseret menjadi murtad dan mengikuti agama istrinya, atau diduga kuat perempuan itu akan dapat mempengaruhi agama anak-anaknya sehingga mereka menjadi pengikut Nashrani. Na’uzhu billahi min dzalik.

Namun pada saat yang sama, hukum bolehnya laki-laki muslim menikahi perempuan Ahli Kitab tetaplah ada, dan tidak lenyap. Hukum ini dapat diberlakukan misalnya untuk laki-laki muslim yang sangat kuat beragama, misalnya ulama atau mujtahid atau mujahid, yang menikahi perempuan Ahli Kitab dari kalangan rakyat negara Khilafah. Seperti halnya dahulu, ketika sebagian shahabat Nabi SAW menikahi perempuan Ahli Kitab dari kalangan Ahludz Dzimmah. Misalnya Utsman bin ‘Affan –radhiyallahu ‘anhu— yang menikahi seorang perempuan Nashrani bernama Na`ilah, yang kemudian masuk Islam di bawah bimbingan Utsman. Hudzaifah bin Al Yaman RA pernah menikahi seorang perempuan Yahudi dari penduduk Al Mada`in. Jabir bin Abdillah RA pernah ditanya mengenai laki-laki muslim yang menikah dengan perempuan Yahudi atau Nashrani. Maka Jabir menjawab,”Dahulu kami dan Sa’ad bin Abi Waqqash pernah menikahi mereka pada saat penaklukan Kufah.” (Wahbah Al Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 9/145).

BAGAIMANA SEMBELIHAN AHLUL KITAB ?

Halalnya sembelihan ahlul kitab bagi kaum muslimin meski tidak disembelih dengan nama Allah

Selama memang hewan tersebut halal. Adapun sembelihan kaum kafir lainnya maka bagi kaum muslimin tetap dihukumi sebagai bangkai yang tidak disembelih sesuai syariat.

{وَطَعَامُالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ}

Artinya: “Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka (QS. Al Maidah:5)

PROBLEMATIKA SEPUTAR  AHLUL KITAB YANG MASIH MURNI , APAKAH ADA DI JAMAN NABI?
Seluruh ayat-ayat yang berbicara tentang ahlul kitab  jika ditilik kembali, maka konteksnya selalu bermuara pada dua hal.
Pertama: mereka adalah orang yang beriman pada ajaran asli nabi mereka sebelum datangnya risalah Nabi Muhammad.
Kedua: atau mereka yang kemudian beriman kepada risalah Nabi Muhammad setelah kedatangannya.
Sebagai contoh dua ayat ini dapatlah diketengahkan:

{وَإِنَّمِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَمَاأُنْزِلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِينَ لِلَّهِ لا يَشْتَرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَناً قَلِيلاًأُوْلَئِكَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ}

Artinya: “Dan sesungguhnya di antara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya” (QS.Al Imron: 199)

{الَّذِينَ آتَيْنَاهُمْ الْكِتَابَ مِنْقَبْلِهِ هُمْ بِهِ يُؤْمِنُونَ. وَإِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ قَالُوا آمَنَّا بِهِإِنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّنَا إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلِهِ مُسْلِمِينَ}

Artinya: “Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka AlKitab sebelum Al Quran, mereka beriman (pula) dengan Al Quran itu. Dan apabila dibacakan (Al Quran itu) kepada mereka, mereka berkata: ‘Kami beriman kepadanya, sesungguhnya  Al Quran itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan kami, sesungguhnya kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan(nya).” (QS. Al Qashash: 52-53)Adapun ayat yang mengesankan seolah-olah ada kafir tapi tidak musyrik, maka bisa dijawab sebagai berikut. Pertama: bahwa kata (من) di situ bukan bermakna sebagian melainkan bermakna yaitu (bayan), maksudnya orang-orang kafir berupa ahlul kitab dan kaum musyrik.

Kedua: bahwa ayat itu jelas menyebut mereka sebagai kafir yang berarti bukan Islam.
Ketiga: pada surat yang sama Allah menyebutkan tempat kembali mereka, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk” (QS. Al Bayyinah: 6).
Keempat: Allah juga dengan tegas mengatakan bahwa mereka berbuat syirik sebagaimana dalam ayat yang telah disebut di atas, “Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (AtTaubah : 31)

Sumber:

Related Posts :

Hukum KPR dan Leasing dalam Islam | Hukum Asuransi dalam Islam Hukum Pajak dan Jizyah dalam Islam | Hukum Atas Penista AgamaHukum Demo Haramkah ? | Hukum Menimbun Barang / kanzul Mal | Hukum Menegakkan Khilafah untuk menerapkan syariat Islam | Hukum Menghina Nabi | Larangan Mengangkat Non Muslim Sebagai PemimpinBahaya Riba  |  Bahaya Kartu Kridit  | Jilbab Wajib Kerjakanlah | Siapakah Ahlul Kitab?  | Kewajiban dan Hukum Zakat Mal | Bid’ah dalam Pandangan Islam | Perbedaan Fa’ dan Ghanimah | Wajib Amar ma’ruf Nahi Munkar

HUKUM ISLAM ATAS PENISTAAN AGAMA

Penistaan terhadap Agama ( baca Agama Islam), terus menerus terjadi.  Baik menyerang sosok Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah, juga menyerang ayat-ayat dalam Al Qur’an.

berita terakhir disebutkan Habib Novel , Sekretaris DPP FPI menganggap Ahok terang-terangan menistakan agama karena menyebutkan umat Islam dibohongi oleh Surah Al Maidah ayat 51 yang tidak membolehkan umat Islam memilih pemimpin non-Muslim.

Pernyataan Ahok sebagaimana dikutip dalam video Youtube: “Bapak ibu tidak bisa pilih saya karena dibohongi pakai surat AI Maidah 51 acem-macem itu. Itu hak bapak ibu. Jadi kalau bapak ibu perasaan tidak bisa pilih nih takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, enggak papa, karena ini kan panggilan pribadi bapak ibu. Problemnya jalan saja. Jadi bapak ibu enggak usah merasa enggak enak.”

Dalam negara RI, Ahok terancam melanggar Pasal 156 a KUHP Jo pasal 28 ayat (2) UU No 11 tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.

Dalam negara Islam ( Khilafah Islam), ada ketentuan hukuman bagi pelaku penistaan agama secara terang-terangan. Disebutkan dalam kitab Nizhâm al-’Uqûbât, karya syeikh Taqiyuddin An-Nabhani  dijelaskan beberapa tindakan yang dikategorikan menodai agama Islam beserta sanksi yang dapat diterapkan negara atas pelakuknya:

  1. a) orang yang melakukan propaganda ideologi atau pemikiran kufur diancam hukuman penjara hingga 10 tahun. Jika ia seorang Muslim maka sanksinya adalah sanksi murtad, yakni dibunuh;
  2. b) orang yang menulis atau menyerukan seruan yang mengandung celaan atau tikaman terhadap akidah kaum Muslim diancam 5-10 tahun. Jika celaan tersebut masuk dalam kategori murtad maka pelakunya (jika Muslim) dibunuh;
  3. c) orang yang melakukan seruan pemikiran kufur kepada selain ulama, atau menyebarkan pemikiran kufur melalui berbagai media, dipenjara hingga 5 tahun;
  4. d) orang yang menyerukan seruan pada akidah yang dibangun atas dalil zhann atau pemikiran yang dapat mengakibatkan kemunduran umat Islam dicambuk dan dipenjara hingga 5 tahun;
  5. e) orang yang meninggalkan shalat dipenjara hingga 5 tahun; jika tidak berpuasa tanpa uzur, ia dipenjara dua bulan dikalikan puasa yang ia tinggalkan; dan orang yang menolak menunaikan zakat, selain dipaksa membayar zakat, ia dipenjara hingga 15 tahun.

Kasus Ahok sebenarnya termasuk bentuk penistaan agama karena statemennya termasuk Celaan terhadap Agama Islam. ( dalam Pasal 2b di atas yang tercetak miring). Maka Ahok bisa diancam hukuman 5-10 tahun penjara dalam daulah Islam. Bahkan jikalau penistaannya kategori berat dan dengan niatan menghina Al Qur’an, maka khilafah bisa menjatuhi hukuman mati.

Bagaimana hukum celaan terhadap agama Lain?

Adapun tehadap agama ahludz-dzimmah, Islam telah melarang setiap celaan yang ditujukan pada tuhan-tuhan dan sesembahan agama mereka. Hal ini karena perbuatan tersebut dapat memicu terjadinya perlakukan serupa oleh mereka kepada Allah SWT yang jelas merupakan kemungkaran. Allah SWT berfirman:

وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

Janganlah kalian mencela tuhan-tuhan yang mereka seru selain Allah sehingga mereka mereka mencela Allah dengan dengan permusuhan dan tanpa ilmu (QS al-An’am [6]: 108).

Para ulama, menurut al-Qurthubi, menyatakan bahwa larangan mencela tuhan-tuhan mereka bersifat tetap bagi umat pada segala keadaan; jika orang-orang kafir mencegah diri dan takut untuk mencegah Islam, Nabi saw. atau Allah azza wajalla, maka tidak halal bagi seorang Muslim untuk mencela salib-salib mereka, agama mereka dan gereja-gereja mereka; dan tidak melakukan hal-hal yang dapat mengantarkan pada hal tersebut karena itu akan mendorong terjadinya kemaksiatan. Oleh karena itu, jika sebuah media di dalam Negara Islam terbukti melakukan penistaan terhadap tuhan dan keyakinan agama ahludz-dzimmah maka penanggung jawab media tersebut akan divonis penjara hingga enam bulan.

Pada masa pemerintahan Islam. aturan di atas telah ditegakkan oleh Nabi saw. dan para Khalifah setelahnya. Jabir ra. berkata, “Ummu Marwan telah murtad. Lalu Rasulullah saw. memerintahkan untuk menawarkan Islam kepadanya. Jika ia bertobat maka diterima, namun jika tidak maka ia dibunuh.” (HR al-Baihaqi dan ad-Daruquthni).

Umar bin Abdul Aziz, misalnya, pernah mendebat dan menyadarkan Ghilan ad-Dimasyqi, seorang tokoh Qadariah yang berpendapat bahwa tidak ada takdir Allah dan Allah tidak bersemayam di atas ’Arsy. Namun, pada masa Hisyam bin Abdul Malik, orang tersebut kembali menyebarkan idenya. Setelah mendapatkan bantahan dari Khalifah dan Imam al-Auza’i, sementara ia tetap kukuh dengan pendapatnya, maka ia pun dibunuh dan disalib.

Pasca runtuhnya negara Khilafah, munculnya berbagai penodaan terhadap agama Islam ( penistaan agama) yang dilakukan oleh berbagai pihak, baik atas nama individu atau kelompok, terus tumbuh dari waktu ke waktu. Tindakan mereka ini terus dibiarkan oleh negara dengan alasan kebebasan berpendapat. Umat Islam memang tidak tinggal diam menyaksikan hal tersebut. Meski demikian, upaya mereka senantiasa terbentur oleh tembok kekuasaan.

Seharusnya hal tersebut semakin menyadarkan umat bahwa negara sekular saat ini sangat sulit diharapkan bahkan mustahil melindungi agama Islam dan umatnya dari berbagai penistaan. Karena itu, Khilafah Islamlah—yang akan menjaga dan memelihara Islam serta kaum Muslim, termasuk mencegah dan membasmi berbagai penistaan agama ( Islam) —menjadi sangat relevan dan wajib untuk segera diwujudkan. Wallâhu a’lam bi ash-shawâb

LIWA DAN ROYAH BENDERA RASULULLAH

MENGENAL  AL LIWA DAN ARROYAH, BENDERA RASULULAH

Ar-Raayah secara harfiah bermakna al-‘alam (panji). Bentuk jamaknya adalah raayaat. Kata ar-raayah, sebagaimana dalam hadits ‘Ali bin Abi Thalib saat Perang Khaibar, bermakna al-‘alam (panji). Ar-Raayah juga bermakna sejenis bendera yang diikatkan di leher. Bendera kecil disebut dengan ruyaih. Bentuk kata kerjanya adalah: rayaitu rayaan, wa rayyiitu, taryatah.

roya-bendera-pasukan

liwa dan royah bendera rasulullah

Sedangkan al-Liwaa’ , secara harfiah, juga berkonotasi al-‘alam. Bentuk jamaknya alwiyah dan alwiyaat. Liwa’ adalah panji yang diberikan kepada Amir (panglima tentara, bisa juga komandan detasemen). Sedangkan ‘Alam adalah Liwaa’ (panji) yang digunakan sebagai tanda untuk berkumpulnya pasukan. Ahli bahasa menyatakan, al-‘alam adalah panji yang diikatkan di ujung tombak. Az-Zubaidiy berkata, al-‘alam adalah rasm at-tsaub (baju resmi) yang di pinggir-pinggirnya diberi garis-garis.

LIWA DAN ROOYAH BENDERA RASULULLAH

liwa-bendera-negara

Al-‘Allamah al-Qalqasyandi telah mendefinisikan al-a’laam (bendera) sebagai berikut, “Ia adalah ar-raayaat (panji) yang dibawa oleh wakil (pengganti) Sultan yang diletakkan di atas kendaraannya.”. Kadang-kadang al-a’laam digambarkan dengan al- ‘ashaaib (serban), bentuk jamak dari ‘ashabah, yang maknanya adalah al-alwiyah. Lafadz ini diambil dari kata ‘ashabah ar-ra’s (serban kepala), sebab ar-raayah biasanya dikenakan di ujung tombak bagian atas. Kadang-kadang dilukiskan dengan as-sanaajiq (panji-panji), bentuk jamak dari as-sinjaq. Ini adalah bahasa orang Turki, yang bermakna ath-tha’n (tikaman).

Raayah [ rooyah] dinamakan seperti itu, sebab dipasang di bagian atas tombak. Sedangkan tombak adalah alat untuk menikam. Ini merupakan penamaan yang bersifat majaziy (kiasan). Al-Abadi berkata, “Ath-Thurisiy berkata, Raayah adalah panji yang diserahkan kepada pemimpin perang, di mana seluruh pasukan berperang di bawah kepemimpinannya dan akan mempertahankannya hidup atau mati.”

Sedangkan liwaa’ adalah panji yang menunjukkan posisi pemimpin pasukan, dan ia akan dibawa mengikuti posisi pemimpin pasukan’. Ar-Raazi berkata, Liwaa’ adalah panjinya pemimpin perang (Amir), sedangkan Alwiyah adalah al-mathaarid (tombak pendek) tanpa panji dan bendera.” Al-Mathraziy berkata, Raayah adalah bendera pasukan yang diibaratkan dengan induk peperangan. Ar-Raayah lebih kecil daripada al-liwaa’.”   Al-Abadiy juga berkata, Raayah adalah (al-’alam) bendera kecil, sedangkan Liwaa’ adalah bendera besar. Pada masa kita sekarang ini, Raayaat dan Alwiyaat disebut dengan al-a’laam, al-bunuud, dan al-bayaariq.”

bendera-umat-islam
liwa dan royah [ Al Liwaa’ dan Ar-Rooyah] bendera islam

Abu Bakar ibn al-‘Arabiy berkata, Liwaa’ berbeda dengan ar-raayah. Liwaa’ adalah bendera yang diikatkan di ujung tombak, kemudian dililitkan di gagang tombak. Sedangkan ar-raayah adalah bendera yang dipasang di ujung tombak dan dibiarkan hingga berkibar ditiup angin.” Ada juga yang menyatakan bahwa Liwaa’ berbeda dengan Raayah. Liwaa’ adalah bendera yang berukuran besar, sedangkan ‘Alam adalah tanda yang menunjukkan di mana posisi Amir (pemimpin pasukan). Adapun Raayah adalah bendera yang diserahkan kepada pemimpin pasukan’ (Fath al-Baariy: VI/126-127; ‘Umdatul Qaari lil-‘Aina: XII/47; ‘Uynul Ma’bud li al-Abadiy: VII/254).

Warna dan Ukuran Rayah dan Liwa’

Imam Sarakhsiy berkata, “Bendera kaum Muslim (Liwaa’) harusnya berwarna putih. Sedangkan panji-panjinya (Raayaat) berwarna hitam”. Dari Ibnu ‘Abbas ra berkata, “Raayah (panji) Rasul SAW berwarna hitam, sedangkan Liwa’ (bendera)-nya berwarna putih.” (Syarh as-Sayir al-Kabir: I/72; Jami’ at-Tirmidzi: IV/197, no. 1681; Sunan Ibn Majjah: II/941, no. 2818; Mu’jamul Ausath at-Thabrani: I/77, no. 219; Mu’jam al-Kabir: XII/207, no. 12909; al-Mustadrak al-Hakim: II/115, no.2506/131).

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Panji Rasulullah SAW (raayat) berwarna hitam, sedangkan liwa’ (bendera)-nya berwarna putih.” Jabir ra menuturkan, Bendera Nabi SAW (liwaa’) pada saat masuk kota Makkah berwarna putih.” Dari ‘Aisyah ra, berkata, Liwaa’ Nabi SAW berwarna putih.” Dari Ibnu ‘Umar ra berkata,   “Tatkala Rasulullah SAW memasangkan benderanya, beliau memasangkan bendera (liwaa’) yang berwarna putih.” Rasyid bin Sa’ad telah menceritakan sebuah riwayat dari Rasulullah SAW, Panji (raayah) Nabi SAW berwarna hitam, sedangkan liwa’nya berwarna putih.” Ibnu ‘Asakir juga meriwayatkan dengan sanad dari Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya dari ‘Aisyah, bahwa Nabi SAW memiliki sebuah panji hitam yang bernama al-‘Uqab.

Sebagian besar nash hanya menyatakan bahwa panji Rasulullah SAW berbentuk persegi empat. Disebutkan dalam riwayat Bara’ bin al-‘Azib, “(Panji Rasulullah SAW) berbentuk persegi empat dan terbuat dari wool.” Dalam riwayat Ibnu ‘Abbas disebutkan, “(Panji Rasulullah SAW) berwarna hitam, berbentuk persegi empat, dan terbuat dari kain wool.” Al-Kattaaniy mengeluarkan riwayat dari Abu Zar’ah al-Qaza’iy, yang menyatakan, “Rasulullah SAW telah menyerahkan kepada ‘Ali sebuah panji berwarna putih yang ukurannya sehasta kali sehasta.” Ini menunjukkan, ukuran panji di masa Rasulullah SAW, yakni sehasta kali sehasta. Ini juga berarti, bahwa ukuran bendera Rasulullah SAW lebih besar lagi. (Taratib al-Idariyyah: I/320-322).

At-Thabrani dan Abu Syaikh menuturkan dari Abu Hurairah dan Ibnu ‘Abbas, bahwa bendera Rasulullah SAW bertuliskan “La ilaha Illa Al-Allah Mohammad Rasul al-Allah”. (Akhlaq an-Nabi wa Adabuhu-Abu Syaikh: hal. 155, no. 426). Riwayat senada juga dituturkan at-Thabarani dari Buraidah al-Aslami, dan Ibnu ‘Adiy dari Abu Hurairah. Sedangkan khath (tulisan)-nya adalah khath yang masyhur di masa Rasulullah SAW, yakni khath Makkiy (khath Makkah) dan Madaniy (khath Madinah). Ini didasarkan pada keterangan yang disampaikan oleh Ibnu an-Nadim (al-Fahrist: hal. 8).

Dari sini bisa disimpulkan, sebagai berikut:

1-   Bendera Rasulullah SAW yang paling besar (Liwa’) berwarna putih dan bertuliskan “La ilaha Illa Allah Muhammad Rasulullah”.

2-     Panji (Rayah) Rasulullah SAW berwarna hitam, dan di dalamnya bertuliskan “La ilaha Illa Allah Muhammad Rasulullah” warna putih.

3-      Al-‘Alam adalah al-liwaa’ al-a’dham (bendera besar). Sedangkan ar-raayaat adalah panji yang secara khusus dimiliki oleh setiap kabilah atau tiap divisi pasukan, dan lain-lain. Panji semacam ini jumlahnya sangat banyak. Sedangkan liwaa’ (bendera) jumlahnya hanya satu, tidak banyak.

4-     Liwaa’ (bendera) adalah bendera resmi Daulah Islam di masa Rasulullah SAW dan para Khalifah setelah beliau SAW. Ini adalah kesimpulan Imam al-Sarakhsiy, dan dikuatkan dalam kitab Syarh As-Sair al-Kabir, karya Imam Muhammad bin al-Hasan as-Syaibaniy, murid Imam Abu Hanifah. Disimpulkan, “Liwaa adalah bendera yang berada di tangan penguasa. Ar-Raayah, adalah panji yang dimiliki oleh setiap pemimpin divisi pasukan, di mana semua pasukan yang ada dalam divisinya disatukan di bawah panji tersebut. Liwaa hanya berjumlah satu buah untuk keseluruhan pasukan. Liwaa digunakan sebagai patokan pasukan ketika mereka merasa perlu untuk menyampaikan keperluan mereka ke hadapan penguasa (Imam). Liwaa dipilih berwarna putih. Ini ditujukan agar ia bisa dibedakan dengan panji-panji berwarna hitam yang ada di tangan para pemimpin divisi pasukan.”[]

Related Posts

Rohingnya menunggu Khilafah Mu’tasimBillah | 5 Fase sebelum datangnya Kiamat | Konflik Palesina-Israel dalam Sejarah  |  Hukum Seputar Ru’yat GlobalLima Alasan mengapa Ummat Islam Butuh Khilafah | Khilafah Islam Janji Allah  | Bendera Rasulullah Liwa-Roya | Hukum Menegakkan Khilafah |

HUKUM MENEGAKKAN KHILAFAH ISLAMIYYAH

Hukum menegakkan  Khilafah Islam [ Al Khilafah Al Islamiyyah ] yang akan menerapkan kitabullah dan sunnah Nabi SAW sebagai kewajiban kaum muslimin, sebenarnya merupakan ma’luumun mina ad-din bi dzoruurah (merupakan perkara tidak terjadi perdebatan dikalangan ulama salaf).  Namun perdebatan hangat tentang Perjuangan menegakkan khilafah hingga kini masih terus terjadi, tidak hanya mereka [kaum muslimin] dari golongan nasionalis yang belum  faham tentang syari’at Islam, bahkan terjadi di kalangan

khilafah kewajiban dan janji Allah

hukum menegakkan khilafah | Wajib !

ulama muta’akhirin dewasa ini. Diskursus pun terjadi pada  para pejabat, penguasa, ulama, pengusaha dan semua elemen masyarakat tentang khilafah, apa itu khilafah islamiyyah, apa bedanya dengan kholifah, dan bagaimana hukum menegakkan khilafah. Oleh karena itu tulisan ini akan memberi jawaban Dalil-dalil Syar’iy tentang hukum Menegakkan Khilafah yang dinukilkan dari kitab Aslinya oleh para Ulama Salaf

 اقوال العلماء عن وجوب الامـامة (الخلافة)

 PENDAPAT ULAMA KEWAJIBAN MENEGAKKAN KHILAFAH

قد جمعنا فى هذا الجزء بعض اقوال العلماء القاطبة عن وجوب الامامة او الخلافة. طبعا اقوالهم نتيجة عن استنباطهم من الادلة الشرعية.

قال شيخ الاسلام الامام الحافظ ابو زكريا  النووي :الفصل الثاني في وجوب الإمامة وبيان طرقها لا بد للأمة من إمام يقيم الدين وينصر السنة وينتصف للمظلومين ويستوفي الحقوق ويضعها مواضعها. قلت تولي الإمامة فرض كفاية فإن لم يكن من يصلح إلا وأحد تعين عليه ولزمه طلبها إن لم يبتدئوه والله أعلم. وتنعقد الإمامة بثلاثة طرق أحدها البيعة كما بايعت الصحابة أبا بكر رضي الله عنهم …

(شيح الاسلام الامام الحافظ ابو زكريا يحي بن شرف بن مرو النووي,  روضة الطالبين و عمدة المفتين 1 صحيفة 386)

قال شيخ الاسلام الامام زكريا الانصاري: ( بَابُ الْإِمَامَةِ ) الْعُظْمَى ( وَهِيَ فَرْضُ كِفَايَةٍ ) كَالْقَضَاءِ إذْ لَا بُدَّ لِلْأُمَّةِ مِنْ إمَامٍ يُقِيمُ الدِّينَ وَيَنْصُرُ السُّنَّةَ وَيُنْصِفُ الْمَظْلُومِينَ وَيَسْتَوْفِي الْحُقُوقَ وَيَضَعُهَا مَوَاضِعَهَا ( فَإِنْ لَمْ يَصْلُحْ ) لَهَا ( إلَّا وَاحِدٌ ) ، وَلَمْ يَطْلُبُوهُ ( لَزِمَهُ طَلَبُهَا ) لِتَعَيُّنِهَا عَلَيْهِ ( وَأُجْبِرَ ) عَلَيْهَا ( إنْ امْتَنَعَ ) مِنْ قَبُولِهَا فَإِنْ صَلُحَ لَهَا جَمَاعَةٌ فَحُكْمُهُ حُكْمُ مَا لَوْ صَلُحَ جَمَاعَةٌ لِلْقَضَاءِ وَسَيَأْتِي حُكْمُهُ فِي بَابِهِ مَعَ أَنَّهُ تَعَرَّضَ لِبَعْضِ ذَلِكَ فِي الْفَصْلِ الْآتِي .

الشَّرْحُ

( بَابُ الْإِمَامَةِ الْعُظْمَى ) ، قَالَ قَوْمٌ الْإِمَامَةُ رِئَاسَةٌ عَامَّةٌ فِي أُمُورِ الدِّينِ وَالدُّنْيَا لِشَخْصٍ مِنْ الْأَشْخَاصِ .فَقَيْدُ الْعُمُومِ احْتِرَازٌ عَنْ الْقَاضِي وَالرَّئِيسِ وَغَيْرِهِمَا ، وَنَقْضُ هَذَا التَّعْرِيفِ بِالنُّبُوَّةِ ، وَالْأَوْلَى أَنْ يُقَالَ هِيَ خِلَافَةُ الرَّسُولِ فِي إقَامَةِ الدِّينِ وَحِفْظِ حَوْزَةِ الْمِلَّةِ بِحَيْثُ يَجِبُ اتِّبَاعُهُ عَلَى كُلِّ كَافَّةِ الْأُمَّةِ ( قَوْلُهُ : وَهِيَ فَرْضُ كِفَايَةٍ ) لِلْإِجْمَاعِ ، وَقَدْ بَادَرَ الصَّحَابَةُ إلَيْهَا ، وَتَرَكُوا التَّشَاغُلَ بِتَجْهِيزِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَخَافَةَ أَنْ يَدْهَمَهُمْ أَمْرٌ ، وَأَيْضًا لَوْ تُرِكَ النَّاسُ فَوْضَى لَا يَجْمَعُهُمْ عَلَى الْحَقِّ جَامِعٌ ، وَلَا يَرْدَعُهُمْ عَنْ الْبَاطِلِ رَادِعٌ لَهَلَكُوا ، وَلَاسْتَحْوَذَ أَهْلُ الْفَسَادِ عَلَى الْعِبَادِ ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى { ، وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ } . (شيخ الاسلام الامام الحافظ  أَبُو يَحْيَى زَكَرِيَّا الْأَنْصَارِيُّ, اسنى المطالب, 19 صحيفة 352)

اما صاحب تحفة المحتج فى شرح المنهاج قال:  ( فَصْلٌ ) فِي شُرُوطِ الْإِمَامِ الْأَعْظَمِ وَبَيَانِ طُرُقِ الْإِمَامَةِ . هِيَ فَرْضُ كِفَايَةٍ كَالْقَضَاءِ فَيَأْتِي فِيهَا أَقْسَامُهُ الْآتِيَةُ مِنْ الطَّلَبِ وَالْقَبُولِ وَعَقَّبَ الْبُغَاةِ لِكَوْنِ الْكِتَابِ عُقِدَ لَهُمْ وَالْإِمَامَةُ لَمْ تُذْكَرْ إلَّا تَبَعًا بِهَذَا ؛ لِأَنَّ الْبَغْيَ خُرُوجٌ عَلَى الْإِمَامِ الْأَعْظَمِ الْقَائِمِ بِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فِي حِرَاسَةِ الدِّينِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا… (تحفة المحتج فى شرح المنهاج, الجزء 34 صحيفة 159)

قد بين العلامة الشيخ محمد الشربيني الخطيب: فَقَالَ [ فَصْلٌ ] فِي شُرُوطِ الْإِمَامِ الْأَعْظَمِ وَبَيَانِ انْعِقَادِ طُرُقِ الْإِمَامَةِ .وَهِيَ فَرْضُ كِفَايَةٍ كَالْقَضَاءِ ، إذْ لَا بُدَّ لِلْأُمَّةِ مِنْ إمَامٍ يُقِيمُ الدِّينَ وَيَنْصُرُ السُّنَّةَ وَيُنْصِفُ الْمَظْلُومَ مِنْ الظَّالِمِ وَيَسْتَوْفِي الْحُقُوقَ وَيَضَعُهَا مَوَاضِعَهَا ، وَقَدَّمَا فِي الشَّرْحِ وَالرَّوْضَةِ الْكَلَامَ عَلَى الْإِمَامَةِ عَلَى أَحْكَامِ الْبُغَاةِ… (الشيخ مُحَمَّدٌ الشِّرْبِينِيُّ الْخَطِيبُ ,مغنى المحتج الى معرفة ألفاظ المنهاج, الجزء 16  صحيفة 287)

اما فى نهاية المحتج الى شرح المنهاج قيل:  ( فَصْلٌ ) فِي شُرُوطِ الْإِمَامِ الْأَعْظَمِ وَبَيَانِ طُرُقِ الْإِمَامَةِ وَهِيَ فَرْضُ كِفَايَةٍ كَالْقَضَاءِ فَيَأْتِي فِيهَا أَقْسَامُهُ الْآتِيَةُ مِنْ طَلَبٍ وَقَبُولٍ ، وَعَقَّبَ الْبُغَاةَ بِهَذَا ؛ لِأَنَّ الْبَغْيَ خُرُوجٌ عَلَى الْإِمَامِ الْأَعْظَمِ الْقَائِمِ بِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فِي حِرَاسَةِ الدِّينِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا…

(نهاية المحتج الى شرح المنهاج, الجزء 25 صحيفة 419)

قال الامام ابو يحي زكريا الانصاري فى كتابه فتح الوهب بشرح منهاج الطلاب:  (فصل) في شروط الامام الاعظم، وفي بيان طرق انعقاد الامامة، وهي فرض كفاية كالقضاء (شرط الامام كونه أهلا للقضاء) بأن يكون مسلما حرا مكلفا عدلا ذكرا مجتهدا ذا رآى وسمع وبصر ونطق لما يأتي في باب القضاء وفي عبارتي زيادة العدل (قرشيا) لخبر النسائي الائمة من قريش فإن فقد فكناني، ثم رجل من بني إسماعيل ثم عجمي على ما في التهذيب أو جر همي على ما في التتمة، ثم رجل من بني إسحاق (شجاعا) ليغزو بنفسه، ويعالج الجيوش ويقوي على فتح البلاد ويحمي البيضة، وتعتبر سلامته من نقص يمنع استيفاء الحركة وسرعة النهوض، كما دخل في الشجاعة…  (شيخ الاسلام  الامام الحافظ  زكريا بن محمد بن أحمد بن زكريا الانصاري , فتح الوهب بشرح منهاج الطلاب , الجزء 2 صحيفة 268)

 حين بين  قوله تعالى فى سورة المائدة اية 38 قال الامام فخر الدين الرازي الشافعي صاحب مناقب الشافعي: …احتج المتكلمون بهذه الآية في أنه يجب على الأمة أن ينصبوا لأنفسهم إماماً معيناً والدليل عليه أنه تعالى أوجب بهذه الآية إقامة الحد على السراق والزناة ، فلا بدّ من شخص يكون مخاطباً بهذا الخطاب ، وأجمعت الأمة على أنه ليس لآحاد الرعية إقامة الحدود على الجناة ، بل أجمعوا على أنه لا يجوز إقامة الحدود على الأحرار الجناة إلا للإمام ، فلما كان هذا التكليف تكليفاً جازماً ولا يمكن الخروج عن عهدة هذا التكليف إلا عند وجود الإمام ، وما لا يتأتى الواجب إلا به ، وكان مقدوراً للمكلف ، فهو واجب ، فلزم القطع بوجوب نصب الإمام حينئذٍ . (الامام فخر الدين الرازي ,مفاتيح الغيب فى التفسير,  الجزء 6 صحيفة 57, الجزء 11 صحيفة 233).

قال الامام ابو القاسم الشافعي النيسابوري:  … أجمعت الأمة على أن المخاطب بقوله { فاجلدوا } هو الإمام حتى احتجوا به على وجوب نصب الإمام فإن ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب. ( الامام أبو القاسم الحسن بن محمد بن حبيب بن أيوب  الشافعي النَّيْسابُورى, تفسير النيسابوري, الجزء 5 صحيفة 465)

قال العلامة الشيخ عبد الحميد الشروني: قوله: (هي فرض كفاية) إذ لا بد للامة من إمام يقيم الدين وينصر السنة وينصف المظلوم من الظالم ويستوفي الحقوق ويضعها موضعها… (الشيخ عبد الحميد الشرواني ,حواشى الشروانى  الجزء 9  صحيفة 74)

واما فى حاشيتا قليوبي و عميرة قيل: فَصْلٌ فِي شُرُوطِ الْإِمَامِ الْأَعْظَمِ وَمَا مَعَهُ وَالْإِمَامَةُ فَرْضُ كِفَايَةٍ كَالْقَضَاءِ فَيَجْرِي فِيهَا مَا فِيهِ مِنْ جَوَازِ الْقَبُولِ وَعَدَمِهِ . (حاشيتا قليوبي- وعميرة الجزء 15  صحيفة 102)

قال العلامة  الشيخ سليمان بن عمر بن محمد البجيرمي: …فِي شُرُوطِ الْإِمَامِ الْأَعْظَمِ وَفِي بَيَانِ طُرُقِ انْعِقَادِ الْإِمَامَةِ وَهِيَ فَرْضُ كِفَايَةٍ . كَالْقَضَاءِ فَشُرِطَ لِإِمَامٍ كَوْنُهُ أَهْلًا لِلْقَضَاءِ قُرَشِيًّا لِخَبَرِ : { الْأَئِمَّةُ مِنْ قُرَيْشٍ } شُجَاعًا لِيَغْزُوَ بِنَفْسِهِ وَتُعْتَبَرُ سَلَامَتُهُ مِنْ نَقْصٍ يَمْنَعُ اسْتِيفَاءَ الْحَرَكَةِ وَسُرْعَةَ النُّهُوضِ كَمَا دَخَلَ فِي الشَّجَاعَة… ( العلامة الشيخ سليمان بن عمر بن محمد البجيرمي, حاشية البجيرمي على الخطيب الجزء 12 صحيفة 393)

اما فى حاشية البجيرمي على المنهاج قيل: ( فَصْلٌ ) فِي شُرُوطِ الْإِمَامِ الْأَعْظَمِ وَفِي بَيَانِ طُرُقِ انْعِقَادِ الْإِمَامَةِ وَهِيَ فَرْضُ كِفَايَةٍ كَالْقَضَاءِ … (حاشية البجيرمى على المنهاج الجزء 15 صحيفة 66)

و ذهب الامام الحافظ ابو محمد على بن حزم الاندلوسي الظاهري : اتفقوا على ان من بغى من اللصوص فطلب أخذ الروح أو الحرم أو المال أن قتاله واجب واختلفوا أيجوز قتالهم أم لا اذا نصبوا اماما وخرجوا بتأويل واتفقوا أن   الامامة  فرض وانه لا بد من امام حاشا النجدات وأراهم قد حادوا الاجماع وقد تقدمهم واتفقوا انه لا يجوز أن يكون على المسلمين في وقت واحد في جميع الدنيا امامان لا متفقان ولا مفترقان ولا في مكانين ولا في مكان واحد…  ( الامام الحافظ ابو محمد على بن حزم الاندلوسي الظاهري, مراتب الاجماع, الجزء 1 صحيفة 124)

قال الامام علاء الدين الكاساني الحنفي: … وَلِأَنَّ نَصْبَ الْإِمَامِ الْأَعْظَمِ فَرْضٌ ، بِلَا خِلَافٍ بَيْنَ أَهْلِ الْحَقِّ ، وَلَا عِبْرَةَ – بِخِلَافِ بَعْضِ الْقَدَرِيَّةِ – ؛ لِإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ عَلَى ذَلِكَ ، وَلِمِسَاسِ الْحَاجَةِ إلَيْهِ ؛ لِتَقَيُّدِ الْأَحْكَامِ ، وَإِنْصَافِ الْمَظْلُومِ مِنْ الظَّالِمِ ، وَقَطْعِ الْمُنَازَعَاتِ الَّتِي هِيَ مَادَّةُ الْفَسَادِ ، وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ الْمَصَالِحِ الَّتِي لَا تَقُومُ إلَّا بِإِمَامٍ ، لِمَا عُلِمَ فِي أُصُولِ الْكَلَامِ … (الامام علاء الدين الكاساني الحنفي, بدائع الصنائع في ترتيب الشرائع  ,الجزء 14 صحيفة 406)

قال الامام الحافظ ابو الفداء اسماعل ابن كثير حين بين قوله تعالى فى سورة البقرة  اية 30: …وقد استدل القرطبي وغيره بهذه الآية على وجوب نصب الخليفة ليفصل بين الناس فيما يختلفون فيه، ويقطع تنازعهم، وينتصر لمظلومهم من ظالمهم، ويقيم الحدود، ويزجر عن تعاطي الفواحش، إلى غير ذلك من الأمور المهمة التي لا يمكن إقامتها إلا بالإمام، وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب.

(الامام الحافظ ابو الفداء اسماعل ابن كثير ,تفسير القرآن العظيم, الجزء ا صحيفة 221)

واما الامام القرطبي, حين فسر اية 30 من سورة البقرة, قال:  … هذه الآية أصل في نصب إمام وخليفة يسمع له ويطاع، لتجتمع به الكلمة، وتنفذ به أحكام الخليفة. ولا خلاف في وجوب ذلك بين الامة ولا بين الائمة إلا ما روي عن الاصم (1) حيث كان عن الشريعة أصم، وكذلك كل من قال بقوله واتبعه على رأيه ومذهبه، قال: إنها غير واجبة في الدين بل يسوغ ذلك، وأن الامة متى أقاموا حجهم وجهادهم، وتناصفوا فيما بينهم، وبذلوا الحق من أنفسهم، وقسموا الغنائم والفئ والصدقات على أهلها، وأقاموا الحدود على من وجبت عليه، أجزأهم ذلك، ولا يجب عليهم أن ينصبوا إماما يتولى ذلك.

ودليلنا قول الله تعالى: ” إني جاعل في الارض خليفة ” [ البقرة: 30 ]، وقوله تعالى: ” يا داود إنا جعلناك خليفة في الارض ” [ ص: 26 ]، وقال: ” وعد الله الذين آمنوا منكم وعملوا الصالحات ليستخلفنهم في الارض ” [ النور: 55 ] أي يجعل منهم خلفاء، إلى غير ذلك من الآراء. وأجمعت الصحابة على تقديم الصديق بعد اختلاف وقع بين المهاجرين والانصار في سقيفة بني ساعدة في التعيين، حتى قالت الانصار: منا أمير ومنكم أمير، فدفعهم أبو بكر وعمر والمهاجرون عن ذلك، وقالوا لهم: إن العرب لا تدين إلا لهذا الحي من قريش، ورووا لهم الخبر في ذلك، فرجعوا وأطاعوا لقريش. فلو كان فرض الامامة غير واجب لا في قريش ولا في غيرهم لما ساغت هذه المناظرة والمحاورة عليها، ولقال قائل: إنها ليست بواجبة لا في قريش ولا في غيرهم، فما لتنازعكم وجه ولا فائدة في أمر ليس بواجب ثم إن الصديق رضي الله عنه لما حضرته الوفاة عهد إلى عمر في الامامة، ولم يقل له أحد هذا أمر غير واجب علينا ولا عليك، فدل على وجوبها وأنها ركن من أركان الدين الذي به قوام المسلمين، والحمد لله رب العالمين. وقالت الرافضة: يجب نصبه عقلا، وإن السمع إنما ورد على جهة التأكيد لقضية العقل، فأما معرفة الامام فإن ذلك مدرك من جهة السمع دون العقل. وهذا فاسد، لان العقل لا يوجب ولا يحظر ولا يقبح ولا يحسن، وإذا كان كذلك ثبت أنها واجبة من جهة الشرع لا من جهة العقل، وهذا واضح.

(1)الاصم: من كبار المعتزلة واسمه أبو بكر الاصم

( الامام محمد بن احمد بن ابو بكر بن فرح القرطبي, الجامع لاحكام القرآن, الجزء 1 صحيفة 264-265)

قال الامام ابو حيان الاندلوسي: …وقد ذكر بعض المفسرين هنا أحكام الإمامة الكبرى ، وإن كان موضوعها أصول الدين ، فهناك ذكرها ، لكني لا أخلي كتابي عن شيء ملخص فيها دون الاستدلال . فنقول : الذي عليه أصحاب الحديث والسنة ، أن نصب الإمام فرض ، خلافاً لفرقة من الخوارج ، وهم أصحاب نجدة الحروري . زعموا أن الإمامة ليست بفرض ، وإنما على الناس إقامة كتاب الله وسنة رسوله ، ولا يحتاجون إلى إمام ، ولفرقة من الإباضية زعمت أن ذلك تطوع . واستناد فرضية نصب الإمام للشرع لا للعقل ، خلافاً للرافضة ، إذ أوجبت ذلك عقلاً….

ثم قال الامام ابى الحيان الاندلوسي : ولا ينعقد لإمامين في عصر واحد ، خلافاً للكرامية ، إذ أجازوا ذلك ، وزعموا أن علياً ومعاوية كانا إمامين في وقت واحد … (الامام  أبو حيان محمد بن يوسف بن علي بن يوسف بن حيّان الاندلوسي ,تفسير البحر المحيط, الجزء 1 صحيفة 496)

اما الامام عمر بن على بن عادل الحنبلي الدمشقي الشاهر بابن عادل حين بين قوله تعالى فى سورة البقرة اية 30 قال: …وقال « ابن الخطيب » : الخليفة : اسم يصلح للواحد والجمع كما يصلح للذكر والأنثى …

ثم قال: هذه الآية دليلٌ على وجوب نصب إمام وخليفة يسمع له ويُطَاع ، لتجتمع به الكلمة ، وتنفذ به أحكام الخليفة ، ولا خلاف في وجوب ذلك بَيْنَ الأئمة إلاّ ما روي عن الأصَمّ ، وأتباعه أنها غير واجبةٍ في الدين -وأن الأمة متى أقاموا حججهم وجهادهم ، وتناصفوا فيما بينهم ، وبذلوا الحقّ من أنفسهم ، وقسموا الغَنَائم والفَيء والصدقات على أهلها ، وأقاموا الحُدُود على من وجبت عليه ، أجزأهم ذلك ، ولا يجب عليهم أن ينصبوا إماماً يتولّى ذلك ، وشروط الإمامة مذكورة في كتب الفِقْه . وتناصفوا فيما بينهم ، وبذلوا الحقّ من أنفسهم ، وقسموا الغَنَائم والفَيْء والصدقات على أهلها ، وأقاموا الحُدُود على من وجبت عليه ، أجزأهم ذلك ، ولا يجب عليهم أن ينصبوا إماماً يتولّى ذلك ، وشروط الإمامة مذكورة في كتب الفِقْه . (الامام عمر بن على بن عادل الحنبلى الدمشقي, تفسير اللباب فى علوم الكتاب, الجزء 1 صحيفة 204)

       قال الامام المرداوي الحنبلي فى كتابه الانصاف:  …بَابُ قِتَالِ أَهْلِ الْبَغْيِ فَائِدَتَانِ إحْدَاهُمَا : نَصْبُ الْإِمَامِ : فَرْضُ كِفَايَةٍ . قَالَ فِي الْفُرُوعِ : فَرْضُ كِفَايَةٍ عَلَى الْأَصَحِّ . فَمَنْ ثَبَتَتْ إمَامَتُهُ بِإِجْمَاعٍ ، أَوْ بِنَصٍّ ، أَوْ بِاجْتِهَادٍ ، أَوْ بِنَصِّ مَنْ قَبْلَهُ عَلَيْهِ . (الامام ابو الحسن على بن سليمن المرداوي الحنبلي , الانصاف فى معرفة الراجح من الخلاف على مذهب الامام احمد بن حمبل,  الجزء 16 صحيفة , 459,60)

       قال الامام البهوتي الحنفي: …( نَصْبُ الْإِمَامِ الْأَعْظَمِ ) عَلَى الْمُسْلِمِينَ ( فَرْضُ كِفَايَةٍ ) لِأَنَّ بِالنَّاسِ حَاجَةٌ إلَى ذَلِكَ لِحِمَايَةِ الْبَيْضَةِ وَالذَّبِّ عَنْ الْحَوْزَةِ وَإِقَامَةِ الْحُدُودِ وَاسْتِيفَاءِ الْحُقُوقِ وَالْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنْ الْمُنْكَر…  (الامام منصور بن يونس بن ادريس البهوتي الحنفي, كشاف القناع عن متن الإقناع, الجزء 21 صحيفة 61)

قال الامام الحافظ ابن حزم فى كتابه المحلى:  1768 مسألة. لا يحل لمسلم أن يبيت ليلتين ليس في عنقه لامام بيعة  لما رويناه من طريق مسلم قال: نا عبيد الله  بن معاذ العنبري نا أبى قال: نا عاصم بن محمد بن زيد بن عبد الله بن عمر بن الخطاب عن نافع قال قال لى عمر: (سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: من خلع يدا من طاعة لقى الله يوم القيامة لا حجة له ومن مات وليس في عنقه بيعة مات ميتة جاهلية) فان قيل: قد مات عمر رضى الله عنه وجعل الخلافة شورى في ستة نفر عثمان. وعلى. وعبد الرحمن بن عوف. وسعد بن أبى وقاص. وطلحة. والزبير رضى الله عنهم وأمرهم أن يتشاوروا ثلاثة أيام في أيهم يولى قلنا: نعم وليس في هذا خلاف لامر رسول الله صلى الله عليه وسلم الذى ذكرنا لانه رضى الله عنه استخلف أحدهم وهو الذى يتفقون عليه فعثمان هو الخليفة من حين موت عمر والناس تلك الثلاثة الايام بمنزلة من بعد عن بلد الخليفة فلم يعلمه باسمه ولا بعينه الا بعد مدة فهو معتقد لامامته وبيعته وان لم يعلمه باسمه ولا بنسبه ولا بعينه وبالله تعالى التوفيق.  (الامام الحافظ ابى محمد على بن حزم الاندلسي الظاهرى, المحلى, الجزء 9 صحيفة 359)

قال الامام الشوكاني فى النيل: حَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَحَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ قَدْ أَخْرَجَ نَحْوَهُمَا الْبَزَّارُ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ مِنْ حَدِيثِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ بِلَفْظِ { إذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً فِي سَفَرٍ فَأَمِّرُوا أَحَدَكُمْ ذَاكَ أَمِيرٌ أَمَّرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ } وَأَخْرَجَ الْبَزَّارُ أَيْضًا بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ مَرْفُوعًا بِلَفْظِ { إذَا كَانُوا ثَلَاثَةً فِي سَفَرٍ فَلْيُأَمِّرُوا أَحَدَهُمْ } وَأَخْرَجَهُ بِهَذَا اللَّفْظِ الطَّبَرَانِيُّ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ ، وَهَذِهِ الْأَحَادِيثُ يَشْهَدُ بَعْضُهَا لِبَعْضٍ وَقَدْ سَكَتَ أَبُو دَاوُد وَالْمُنْذِرِيُّ عَنْ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَكِلَاهُمَا رِجَالُهُمَا رِجَالُ الصَّحِيحِ إلَّا عَلِيَّ ابْنَ بَحْرٍ وَهُوَ ثِقَةٌ ، وَلَفْظُ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ { إذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُأَمِّرُوا أَحَدَهُمْ } وَفِيهَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ يُشْرَعُ لِكُلِّ عَدَدٍ بَلَغَ ثَلَاثَةً فَصَاعِدًا أَنْ يُؤَمِّرُوا عَلَيْهِمْ أَحَدَهُمْ لِأَنَّ فِي ذَلِكَ السَّلَامَةَ مِنْ الْخِلَافِ الَّذِي يُؤَدِّي إلَى التَّلَافِ ، فَمَعَ عَدَمِ التَّأْمِيرِ يَسْتَبِدُّ كُلُّ وَاحِدٍ بِرَأْيِهِ وَيَفْعَلُ مَا يُطَابِقُ هَوَاهُ فَيَهْلِكُونَ ، وَمَعَ التَّأْمِيرِ يَقِلُّ الِاخْتِلَافُ وَتَجْتَمِعُ الْكَلِمَةُ ، وَإِذَا شُرِّعَ هَذَا لِثَلَاثَةٍ يَكُونُونَ فِي فَلَاةٍ مِنْ الْأَرْضِ أَوْ يُسَافِرُونَ فَشَرْعِيَّتُهُ لِعَدَدٍ أَكْثَرَ يَسْكُنُونَ الْقُرَى وَالْأَمْصَارَ وَيَحْتَاجُونَ لِدَفْعِ التَّظَالُمِ وَفَصْلِ التَّخَاصُمِ أَوْلَى وَأَحْرَى وَفِي ذَلِكَ دَلِيلٌ لِقَوْلِ مَنْ قَالَ : إنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِينَ نَصْبُ الْأَئِمَّةِ وَالْوُلَاةِ وَالْحُكَّامِ . وَقَدْ ذَهَبَ الْأَكْثَرُ إلَى أَنَّ الْإِمَامَةَ وَاجِبَةٌ ، لَكِنَّهُمْ اخْتَلَفُوا هَلْ الْوُجُوبُ عَقْلًا أَوْ شَرْعًا ، فَعِنْدَ الْعِتْرَةِ وَأَكْثَرِ الْمُعْتَزِلَةِ وَالْأَشْعَرِيَّةِ تَجِبُ شَرْعًا ، وَعِنْدَ الْإِمَامِيَّةِ تَجِبُ عَقْلًا فَقَطْ… (الامام الحافظ محمد بن على بن محمد  الشوكاني, نيل الاوطار, الجزء 13 صحيفة 290)

اما فى حاشية الجمل قيل: …فِي شُرُوطِ الْإِمَامِ الْأَعْظَمِ ، وَفِي بَيَانِ طُرُقِ انْعِقَادِ الْإِمَامَةِ وَهِيَ فَرْضُ كِفَايَةٍ كَالْقَضَاءِ ( شَرْطُ الْإِمَامِ كَوْنُهُ أَهْلًا لِلْقَضَاءِ ) بِأَنْ يَكُونَ مُسْلِمًا حُرًّا مُكَلَّفًا عَدْلًا ذَكَرًا مُجْتَهِدًا ذَا رَأَى وَسَمْعٍ وَبَصَرٍ وَنُطْقٍ لِمَا يَأْتِي فِي بَابِ الْقَضَاءِ… (حاشية الجمل الجزء 21 صحيفة 42)

قد بين امام الشهرستاني  عن الامامة والخلافة: …مادار فى قلبه ولا فى قلب أحد أن يجوز خلوا الارض عن امام. فدل ذلك كله على أن الصحابة و هم الصدر الاول, كانوا على بكرة أبيهم متفقين على انه لابد من امام, فذلك الاجماع على هذا الوجه, دليل قاطع على وجوب الامامة…

( الامام أبو الفتح محمد بن عبد الكريم بن أحمد الشهرستاني, نهاية الاقدام فى علم الكلام , صحيفة 480)

قال صاحب مطالب اولى النهى فى شرح غاية المنتهى: …( وَنَصْبُ الْإِمَامِ فَرْضُ كِفَايَةٍ ) ؛ لِأَنَّ بِالنَّاسِ حَاجَةً لِذَلِكَ لِحِمَايَةِ الْبَيْضَةِ ، وَالذَّبِّ عَنْ الْحَوْزَةِ ، وَإِقَامَةِ الْحُدُودِ ، وَابْتِغَاءِ الْحُقُوقِ ، وَالْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنْ الْمُنْكَرِ ، وَيُخَاطَبُ بِذَلِكَ طَائِفَتَانِ : أَحَدُهُمَا : أَهْلُ الِاجْتِهَادِ حَتَّى يَخْتَارُوا. الثَّانِيَةُ : مَنْ تُوجَدُ فِيهِمْ شَرَائِطُ الْإِمَامَةِ حَتَّى يَنْتَصِبَ لَهَا أَحَدُهُمْ : أَمَّا أَهْلُ الِاخْتِيَارِ فَيُعْتَبَرُ فِيهِمْ الْعَدَالَةُ وَالْعِلْمُ الْمُوَصِّلُ إلَى مَعْرِفَةِ مَنْ يَسْتَحِقُّ الْإِمَامَةَ وَالرَّأْيُ وَالتَّدْبِيرُ الْمُؤَدِّي إلَى اخْتِيَارِ مَنْ هُوَ لِلْإِمَامَةِ أَصْلَحُ . (العلامة الشيخ مصطفى بن سعد بن عبده السيوطى الدمشقى الحنبلى, مطالب أولي النهى في شرح غاية المنتهى, الجزء 18 صحيفة 381)

أخيرا, كان اجماع الصحابة دليلا صريحا و قويا على وجوب نصب خليفة (انظر من قال بانقاد اجماع الصحابة على وجوب نصب الخليفة للمسلمين فى مرجع التالية: (ا) المغني فى ابواب التوحيد والعدل الجزء 20القسم الاول ص 47-48. (ب) صحيح مسلم بشرح النووي الجزء 12 ص 205-206 (الهامش), (ج) تحفة المريد على جوهر التوحيد الجزء 2 ص 100-101,(د) غاية المرام فى علم الكلام ص 142, (ه) المسامرة فى شرح المياسرة ص 142)

 (مصطفى على المرتضى)

Kesimpulan :

  • Hakekat Khilafah Islamiyah adalah institusi / lembaga dimana dengan Khilafah Islam hukum-hukum Islam akan bisa diterapkan kembali, seperti hukum potong tangan, hukum rajam, jihad fi Sabilillah, dan sebagainya. Maka tanpa Khilafah Islam , hukum Islam tidak bisa diterapkan secara kaffah.
  • Hakekat Khilafah Islamiyyah adalah Institusi pemersatu seluruh kaum muslimin seluruh dunia, sebagaimana  pernah  terjadi masa Nabi hingga runtuhnya kekhilafahan Turki Utsmani tahun 1924.
  • Hakekat Khilafah Islam adalah negara adil dan penebar kebajikan dan keberkahan serta mewujudkan Islam rahmatan lil ‘alamin.
  • Khilafah Islam adalah kewajiban kaum muslimin dan Janji Allah SWT.

Demikian pendapat yang dinukilkan dari para ulama tengan Kewajiban Menegakkan Khilafah bagi Kaum muslimin. Semoga Khilafah Islamiyah yang dijanjikan Allah akan segera tegak kembali atas Izin Allah SWT dan perjuangan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Wallahu a’lam bi ash-showab.

Related Posts :

Hukum KPR dan Leasing dalam Islam | Hukum Asuransi dalam Islam Hukum Pajak dan Jizyah dalam Islam | Hukum Atas Penista AgamaHukum Demo Haramkah ? | Hukum Menimbun Barang / kanzul Mal | Hukum Menegakkan Khilafah untuk menerapkan syariat Islam | Hukum Menghina Nabi | Larangan Mengangkat Non Muslim Sebagai PemimpinBahaya Riba  |  Bahaya Kartu Kridit  | Jilbab Wajib Kerjakanlah | Siapakah Ahlul Kitab?  | Kewajiban dan Hukum Zakat Mal | Bid’ah dalam Pandangan Islam | Perbedaan Fa’ dan Ghanimah | Wajib Amar ma’ruf Nahi Munkar

HUKUM MENGHINA NABI : DIBUNUH

Majalan Prancis Charlie Hebdo adalah salah satu dari majalah Eropa yang paling rajin merilis karikatur anti-Islam.  Seperti yang diwartakan Republika (29/10/2014), majalah ini pernah menggambarkan seorang Yahudi mendorong Nabi Muhammad di atas kursi roda. Di halaman ceritanya, Charlie Hebdo menggambarkan Nabi sedang telanjang.  Bahkan ada dialog dimana Nabi Muhammad mengatakan dirinya sendiri seorang Yahudi.

Charlie Hebdo juga menggambarkan Muslim sebagai pembunuh, suka memicu peperangan, orang-orang gila yang suka berteriak, membakar kedutaan, dan berbagai hinaan lainnya. Charlie Hebdo mengatakan Muslim lah yang akan memicu Perang Dunia III di muka bumi ini.

Padahal sebenarnya sikap ummat Islam selama ini  ( jika memang benar tuduhannya) adalah rekasi atas kedzoliman mereka. Perhatikan bagaimana nasib ummat Islam di Burma, di Xinjiang, di Palestina, India, suriyah, Iraq dan belahan bumi lainnya hingga kini menjadi bulan-bulanan ketidakadilah mereka.

Dalam Syariat Islam, Hukum Menghina Nabi adalah Dibunuh

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ra, ada Laki-laki buta itu berdiri dan berjalan melewati orang-orang dengan meraba-raba hingga ia duduk di hadapan Nabi saw. Dia baru saja membunuh Ummul Walad ( budak yang melahirkan anak dari tuannya) karena selalu menghina Nabi SAW waktu itu. Kisahnya lalu dilaporkan kepada Nabi SAW ia berkata : “Wahai Rasulullah, akulah pembunuhnya. Wanita itu senantiasa mencela dan menjelek-jelekkanmu. Sedang aku telah berusaha mencegahnya, namun ia tetap tidak mau berhenti, dan aku juga telah berusaha melarangnya, namun ia tetap saja tidak menghiraukannya. Bahkan, darinya aku telah mempunyai dua anak yang laksana dua buah mutiara. Wanita itu adalah teman hidupku. Namun kemarin, ia kembali mencela dan menjelek-jelekkanmu. Kemudian aku pun mengambil pedang dan menebaskan ke perutnya serta menghunjamkan dalam-dalam hingga aku membunuhnya.”

Kemudian Rasulullah saw bersabda:

أَلَا اشْهَدُوا أَنَّ دَمَهَا‏ ‏هَدَرٌ

Saksikanlah bahwa darah wanita itu halal.” (HR. Abu Dawud, an-Nasa’i dan dijadikan hujjah oleh Ahmad)

Imam Asy-Syaukani rahimahullah mengatakan dalam Nailul Authar: Hadits Ibnu Abbas ini adalah dalil bahwa orang yang menghina Nabi saw harus dibunuh. Ibn Mundzir berkata tentang kesepakatan para ulama bahwa orang yang menghina Nabi saw dengan terang-terangan harus dibunuh. Sementara itu, Abu Bakar al-Farisi, salah seorang imam dalam madzhab imam Syafi’i berkata dalam kitabnya Al-Ijma’ bahwa orang yang menghina Nabi saw dengan penghinaan yang jelas adalah kafir berdasarkan konsensus (ijma’) para ulama. Sehingga kalaupun ia bertobat, maka hukuman mati atasnya tidak gugur, sebab hukuman atas penghinaannya itu adalah dibunuh, sedang hukuman itu tidak gugur dengan pertobatan. Al-Khathabi berkata: Aku tidak mengetahui ada perbedaan di antara para ulama tentang wajibnya membunuh orang yang menghina Nabi saw, jika ia adalah seorang Muslim.

Adapun jika orang yang menghina Nabi saw itu di antara orang kafir mu’ahid (terikat perjanjian), dan kafir dzimmi (warga negara non-Muslim), maka Ibnu Qayyim berkata dari Malik: di antara orang kafir mu’ahid dan dzimmi yang menghina Nabi saw itu hukumannya dibunuh, kecuali ia masuk Islam. Ibn Mundzir berkata bahwa ini pendapat al-Laits, asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq dan lainnya.

Adapun tentang Nabi saw yang tidak membunuh orang Yahudi ketika mereka mengatakan kepada Nabi saw: “as-sāmu ‘alaika, kematian atasmu”, karena mereka melakukan itu tanpa ilmu dan tanpa kesengajaan; dikatakan bahwa lidah mereka tidak bisa mengucapkan dengan benar, sehingga Nabi saw tidak membunuhnya. Dalam hal apapun, kekufuran Yahudi lebih buruk, namun darah mereka terpelihara oleh perjanjian. Dan dalam perjanjian tidak ada ketentuan bahwa mereka boleh menghina Nabi saw, sehingga siapa saja dari mereka yang menghina Nabi saw, atau selain mereka seperti kaum Nashrani (Kristen), maka itu sebagai bentuk pelanggaran atas perjanjian, dan perjanjiannya batal, sehingga status mereka seperti orang kafir yang tidak ada perjanjian, darahnya halal dan harus membunuhnya.

Sementara apa yang dilakukan oleh orang-orang kafir saat ini yang mencemarkan kesucian Nabi saw, dan menghinanya, maka itu tidak lain adalah pelaksanaan atas rencana-rencana yang dibuat oleh negara-negara Eropa dan Amerika yang bertujuan untuk meningkatkan semangat kebencian perang salib pada rakyat mereka terhadap Islam, setelah mereka yakin dan melihat bahwa Islam tengah menyapu bersih penghalang-penghalang yang mereka buat, dan Islam telah sampai ke pintu gerbang negara mereka, sehingga rakyat mereka menyambutnya. Dengan demikian, Islam adalah alternatif alami dan bawaan bagi keyakinan dan ideologi mereka yang rusak, demokrasi mereka yang busuk, serta kapitalisme mereka yang buas. Negara Islam akan datang, insya Allah, yang dengan kekuatan akan menghantarkan para pengemban risalah Islam kepada mereka dan seluruh dunia secara praktis. Negara Islam ini yang akan membalas dan memberi pelajaran kepada mereka yang telah menghina Nabi saw. “Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (TQS. Asy-Syu’ara [26] : 226). Yakni mereka akan merasakan akibat buruk dari apa yang mereka lakukan, dan mereka menyesalinya. Namun apa daya penyesalan sudah tidak lagi berguna. Wallahu a’lam

HUKUM SEPUTAR RUKYAH GLOBAL

Yang dikehendaki dengan rukyat global di sini adalah merukyat hilal [melihat bulan sabit] tanggal satu Ramadlan atau tanggal satu Sawal, untuk mengawali atau mengakhiri ibadah puasa Ramadlan, di mana rukyat tersebut dilakukan oleh sebagian dari kaum muslim di seluruh dunia dan berlaku untuk seluruh kaum muslim di seluruh dunia, tanpa mempersoalkan batas-batas Negara nasional. Maka dalam prakteknya, sebagai contohnya, kaum muslim yang berada di Negara Indonesia boleh mengikuti rukyatul hilal yang dilakukan oleh sebagian kaum muslim di Hijaz atau Arab Saudi untuk mengawali atau mengakhiri ibadah puasa Ramadlon. Berikut adalah pendapat para ulama terkait hal tersebut:

 

واتفقوا [أي الأئمة الأربعة] عَلَى أَنَهُ إذا رئى الهلال فى بلدة قاصية أنه يجب الصوم على سائر أهل الدنيا، إلا أن أصحاب الشافعي صححوا أنه يلزم حكمه البلد القريب دون البعيد. واتفقوا على أنه لااعتبار بمعرفة الحساب والمنازل، إلا فى وجه عن ابن شريح، بالنسبة إلى العارف بالحساب. [مييزان الكبرى لعبد الوهاب الشعرانى، الجزء الثاني، ص: 17-18].

Empat Imam madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’iy dan Imam Ahmad) telah sepakat bahwa ketika bulan sabit telah terlihat di belahan dunia yang jauh, maka wajib puasa atas seluruh penduduk dunia. Hanya saja ashhab Syafi’iy telah mentashih bahwa hukum tersebut hanya mengikat (penduduk) negeri yang dekat, bukan (penduduk negeri) yang jauh.  Dan mereka telah sepakat bahwasanya pengetahuan hisab dan posisi bintang itu tidak diperhitungkan (dalam menentukan awal dan akhir Ramadlan), kecuali miturut pendapat Ibnu Syuraih, bagi orang yang mengerti hisab.

ذهب الجمهور إلى أنه لاعبرة باختلاف المطالع، متى رأى الهلال أهل البلد وجب الصوم على جميع أهل البلاد، لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم: صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته … وهو خطاب عام لجميع الأمة، فمن رآه منهم، في أي مكان، كان ذلك رؤية لهم جميعا [فقه السنة للسيد سابق، ص: 367-369].

Jumhur (mayoritas ulama mujtahid) berpendapat bahwasanya perbedaan mathlak itu tidak diperhitungkan. Kapan saja penduduk suatu negeri telah melihat bulan sabit, maka wajib puasa atas semua penduduk dunia, karena Rasulullah SAW bersabda: “Berpuasalah kalian karena melihat bulan sabit, dan berhari rayalah kalian karena melihatnya…..”. Seruan Nabi itu ditujukan kepada semua umat Islam. Maka siapa saja di antara mereka telah melihat bulan sabit di tempat manapun, maka hal itu menjadi rukyat bagi mereka semua.

فصل: واتفقوا [أي الأئمة الأربعة] على أنه إذا رؤي الهلال فى بلد رؤية فاشية، فإنه يجب الصوم على سائر أهل الدنيا، إلا أن أصحاب الشافعي صححوا أنه يلزم حكمه أهل بلد القريب، دون البعيد. والبعيد يعتبر على ما صححه إمام الحرمين والغزالي والرافعي بمسافة القصر، وعلى ما رجحه النووي باختلاف المطالع كالحجاز والعراق. واتفقوا على أنه لااعتبار بمعرفة الحساب والمنازل، إلا فى وجه عن ابن شريح من عظماء الشافعية، بالنسبة الى العارف بالحساب. [رحمة الأمة، هامش ميزان الكبرى، باب الصيام، لأبي عبد الله محمد بن عبد الرحمن الدمشقي العثماني الشافعي].

Empat Imam madzhab telah sepakat bahwasanya ketika bulan sabit telah terlihat di negeri rukyat yang jauh, maka wajib puasa atas seluruh penduduk dunia. Hanya saja Ashhab Syafi’iy telah mentashih bahwa hukum tersebut hanya mengikat penduduk negeri yang dekat, bukan yang jauh. Sedang perhitungan negeri yang jauh miturut pendapat yang telah ditashih oleh Imam Haromain, Imam Ghazali dan Imam Rafi’iy adalah jarak mengqashar shalat. Sedang miturut pendapat yang telah diunggulkan oleh Imam Nawawi adalah perbedaan mathlak seperti Hijaz dan Irak. Dan mereka telah sepakat bahwasanya pengetahuan hisab dan posisi bintang itu tidak diperhitungkan, kecuali miturut pendapat Ibnu Syuraih termasuk pembesar syafi’iyyah, bagi orang yang mengerti hisab.

وانظر نيل الأوطار للشوكاني، وفتح البر لابن حجر العسقلاني، وسبل السلام للصنعاني، والروائع البيان لعلي الصبوني، والفقه على المذاهب الأربعة لعبد الرحمن الجزيري، والجامع لأحكام القرأن للقرطبي، والدر المختار للحشفاكي، ومغني المحتاج لابن قدامة، ومجموع الفتاوى لإبن تيمية، كل ذلك فى باب الصيام أو الصوم.

Dan lihat kitab Nailul Authar karya Imam Syaukani,  Fathul Barri karya Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Subulus Salam karya Imam Shan’ani, Rowaiul Bayan karya Imam Ali Shabuni, al-Fiqh ‘ala Madzahibil Arba’ah karya Imam Abdurrahman al-Jaziri, al-Jami’ li Ahkamil Qur’an karya Imam Qurthubi, al-Durrul Mukhtar karya Imam Hasyfaki, Mughnil Muhtaj karya Imam Ibnu Qudamah, dan Majmu’ul Fatawa karya Imam Ibnu Taimiyah, di mana semuanya terdapat pada bab puasa.

 

Hadis-hadis terkait rukyat global yang dipakai oleh jumhur ulama:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته، فإن غم عليكم الشهر فعدوا ثلاثين. رواه البخاري ومسلم والنسائي. وفي لفظ: عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته، فإن غم عليكم فاقدروا ثلاثين.

Dari Abu Hurairah RA berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah kalian karena melihat hilal. Lalu apabila bulan terhalang mendung atas kalian, maka hitunglah tigapuluh”. HR Bukhari, Muslim dan Nasai. Dan dalam lafadz lain. Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah kalian karena melihat hilal. Lalu apabila kalian terhalang mendung, maka perkirakanlah tigapuluh”.

وعن أبي هريرة رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إذا رأيتم الهلال فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا، فإن غم عليكم فصوموا ثلاثين يوما. رواه مسلم وابن ماجه.

Dan dari Abu Hurairah RA: Bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apabila kalian telah melihat hilal, maka berpuasalah. Dan apabila kalian telah melihat hilal, maka berbukalah. Lalu apabila kalian terhalang mendung, maka berpuasalah tigapuluh hari”. Dan hadis-hadis lain yang senada.

وروي عن جماعة من الأنصار قالوا غم علينا هلال شوال، فأصبحنا صياما، فجاء ركب من آخر النهار، فشهدوا عند رسول الله صلى الله عليه وسلم أنهم رأوا الهلال بالأمس، فأمر رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يفطروا من يومهم، وأن يخرجوا لعيدهم من الغد. رواه الخمسة إلا الترمذي.

Dan telah diriwayatkan dari Jama’ah Anshar bahwa mereka telah berkata: “Hilal bulan Sawal telah tertutup mendung atas kami, lalu pagi harinya kami berpuasa, lalu pada sore harinya datang kafilah, lalu mereka bersaksi kepada Rasulullah SAW bahwa mereka telah melihat hilal kemaren, lalu Rasulullah SAW memerintahkan agar mereka berbuka pada hari itu juga, dan agar keluar untuk shalat ‘idul fitri pada pagi harinya”.

Dan lihat kitab Bulughul Marom karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani pada bab shalat ‘idul fitri dan ‘idul adlha serta syarahnya, yaitu kitab Subulus Salam karya Imam Shan’ani.

Catatan;

Satu   mathla’ = 24 farsakh / pos [fathul mu’iin]

Satu  farsakh  = radius 7.499,9925 m / 7,5 km [fathul qodir]

Berarti, satu mathla’ = 24 farsakh x 7.499,9925m = radius 179.999,82m

Sedangkan luas wilayah Indonesia sekitar 5.200, km.

Lalu 5.200, km : 179.999,82m = 28,888917778 [28 mathla’ lebih].

Maka Indonesia memiliki 28 mathla’.

Dengan demikian dapat dipastikan bahwa sistem rukyat yang dipakai oleh sebagian organisasi di Indonesia telah keluar dari sistem ikhtilaful mathali’ [perbedaan mathla’] miturut pendapat yang telah ditarjeh oleh Imam Nawawi, karena Indonesia memiliki 28 mathla’, dan telah keluar dari sistem masafatul qashri [jarak mengqashar shalat] miturut pendapat yang telah ditashih oleh Imam Ghazali, Imam Haromain dan Imam Rofi’i, maka status  hadits Kuraib dari Ibnu Abbas ra. yang mendasarinya tidak perlu diperdebatkan lagi karena secara substansial dan factual hadis itu sudah tidak terpakai lagi.

Hadis Kuraib;

عن كريب رضي الله عنه: أن أم الفضل بعثته إلى معاوية بالشام. قال: فقدمت بالشام فقضيت حاجتها واستهل علي هلال رمضان وأنا بالشام. فرأيت الهلال ليلة الجمعة، ثم قدمت المدينة في آخر الشهر، فسألني عبد الله بن عباس –ثم ذكر الهلال- فقال: متى رأيتم الهلال؟ فقلت: رأيناه ليلة الجمعة. قال: أنت رأيته ليلة الجمعة؟ قلت: نعم، ورآه الناس فصاموا وصام معاوية. قال: لكن رأيناه ليلة السبت فلا نزال نصوم حتى نكمل ثلاثين يوما أو نراه. فقلت: أولا نكتفي برؤية معاوية وصيامه؟ قال: لا، هكذا أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم. أخرجه مسلم و النسائ وأبو داود والترميذي.

Dari Kuraib bahwa Umul Fadlal pernah mengutusnya ke Muawiyah di Syam. Kuraib berkata: “Lalu aku datang ke Syam. Lalu aku menyelesaikan hajatnya (Umul Fadlal) dan hilal Ramadlan telah terlihat dan aku berada di Syam. Maka aku telah melihat hilal pada malam Jum’at. Kemudian aku datang ke Madinah pada akhir bulan. Lalu Abdullah Ibnu Abbas menanyaiku, –kemudian ia menuturkan hilal- lalu beliau berkata: “Kapan kalian melihat hilal?”, lalu aku berkata: “Kami telah melihatnya pada malam Jum’at”. Beliau berkata: “Akan tetapi kami telah melihatnya pada malam Sabtu, maka kami terus berpuasa sampai menyempurnakan tigapuluh hari, atau kami melihatnya”. Lalu aku berkata: “Apakah kami tidak cukup dengan rukyatnya Muawiyah serta puasanya?”, beliau berkata: “Tidak, demikianlah Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada kami”.

Mengenai topik Ikhtilaful Mathali’ [perbedaan mathla’], maka Syaikh Muhammad Husain Abdullah rh. telah menjelaskan alasannya sebagai berikut ;

أما اختلاف المطالع التي يتذرع بعض العلماء وغيرهم فهي من باب تحقيق مناط الحكم الذي بحثه الفقهاء السابقون للواقع الذي كان موجودا زمنهم حيث كان المسلمون لا يتمكنون من إبلاغ رؤية الهلال إلى جميع سكان دولة الخلافة المترامية الأطراف، لأن وسائل الإعلام التي كانت متاحة يومئذ كانت قاصرة عن ذلك.

Adapun perbedaan mathla’ yang dijadikan alasan oleh sebagian ulama dan oleh yang lain, maka itu termasuk bab ‘Tahqiqu Manathil Hukmi’ (identifikasi terhadap obyek hukum) yang telah dibahas oleh fuqaha terdahulu terhadap realita yang ada saat itu, di mana kaum muslim tidak bisa menyampaikan rukyat hilal kepada semua penduduk Negara Khilafah yang wilayahnya saling berjauhan, karena sarana informasi yang ada saat itu tidak dapat menjangkau semuanya.

وأما اليوم، فوسائل الإعلام الموجودة قادرة على نقل خبر رؤية الهلال إلى أي مكان، فى ثوان معدودة، فيلزم المسلمين اليوم الصوم، أو الإفطار، لمجرد سماعهم خبر رؤية الهلال، ولو لم يروه هم فى بلدهم، مادام الذي رآه مسلم … [مفاهم إسلامية للشيخ محمد حسين عبد الله، ج، 2 ص: 159].

Adapun sekarang, maka sarana informasi yang ada telah mampu memindahkan berita rukyat hilal ke tempat manapun dalam beberapa menit saja. Maka wajib atas kaum muslim saat ini berpuasa atau berbuka hanya dengan mendengar berita rukyat hilal meskipun mereka sendiri tidak melihatnya di negerinya, selama yang telah melihatnya adalah orang muslim.

Dari pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa pendapat rukyat global yang dipraktekkan oleh Hizbut Tahrir dan kelompok lain adalah pendapat yang kuat dan realistis juga rasional. Apalagi kalau dikaitkan dengan sejumlah hadis yang melarang mendahului bulan Ramadhan atau bulan Syawal dalam berpuasa dan berbuka, yang mengharamkan puasa pada hari raya, dan yang terkait dengan puasa Tarwiyah dan Arofah yang harus bersamaan dengan jamaah haji yang membawa bekal air minum untuk pergi ke Arofah dan jamaah haji yang wukuf di Arafah, maka semakin jelaslah kekeliruan pendapat rukyat lokal atau rukyat nasional, karena tidak memiliki dasar hukum yang kuat, dan tidak realistis dan tidak rasional, ibarat makanan telah kedaluwarsa. Wallahu a’lam bish shawab.

HUKUM JILBAB : WAJIB BAGI MUSLIMAH

Jilbab merupakan busana muslimah yang wajib dipakai seorang muslimah.  Kewajiban mengenakan jilbab tidak jauh berbeda dengan  kewajiban-kewajiban lainnya, yang jika melanggarnya ( tidak mengenakannya) akan berdosa. Hanya saja banyak diantara kaum muslimah ( bahkan mayoritas) di negeri indonesia tidak mengenakannya. Kebanyakan diantara mereka karena tidak tahu  hukum memakai jilbab, namun tidak sedikit yang tahu tapi tidak mau tahu karena sudah terbiasa dengan pola hidup sekulerisme.

Disamping itu, banyak kesalahpahaman terhadap Islam di tengah masyarakat. Misalnya saja jilbab. Tak sedikit orang menyangka bahwa yang dimaksud dengan jilbab adalah kerudung. Padahal tidak demikian. Jilbab bukan kerudung. Kerudung dalam al-Qur’an surah An-Nuur [24]: 31 disebut dengan istilah khimar (jamaknya: khumur), bukan jilbab. Adapun jilbab yang terdapat dalam surah al-Ahzab [33]: 59, sebenarnya adalah baju longgar yang menutupi seluruh tubuh perempuan dari atas sampai bawah.

Akumulasi ketidakfahaman terhadap hukum jilbab maupun khimar atau kerudung dan pola hidup sekulerisme tersebut membuat muslimah banyak yang enggan mengenakannya. Hal itu merupakan ujian kesabaran dan keimanan kaum muslimah untuk konsisten terhadap ajaran Islam yang mulia. Bahkan Allah SWT akan melipatgandakan pahala bagi siapa saja yang menjalankan sunnah rasul disaat orang banyak meninggalkannya, sebagaimana sabdanya :

 Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang memerlukan kesabaran. Kesabaran pada masa-masa itu bagaikan memegang bara api. Bagi orang yang mengerjakan suatu amalan pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan semisal amalan itu. Ada yang berkata, “Hai Rasululah, apakah itu pahala lima puluh di antara mereka?” Rasululah Saw menjawab, “Bahkan lima puluh orang di antara kalian (para shahabat).” [HR. Abu Dawud, dengan sanad hasan].

Aurat Dan Busana Muslimah

Ada 3 (tiga) masalah yang sering dicampuradukkan yang sebenarnya merupakan masalah-masalah yang berbeda-beda.

Pertama, masalah batasan aurat bagi wanita.

Kedua, busana muslimah dalam kehidupan khusus (al hayah al khashshash), yaitu tempat-tempat di mana wanita hidup bersama mahram atau sesama wanita, seperti rumah-rumah pribadi, atau tempat kost.

Ketiga, busana muslimah dalam kehidupan umum (al hayah ‘ammah), yaitu tempat-tempat di mana wanita berinteraksi dengan anggota masyarakat lain secara umum, seperti di jalan-jalan, sekolah, pasar, kampus, dan sebagainya. Busana wanita muslimah dalam kehidupan umum ini terdiri dari jilbab dan khimar.

a. Batasan Aurat Wanita

Aurat wanita adalah seluruh anggota tubuhnya kecuali wajah dan dua telapak tangannya. Lehernya adalah aurat, rambutnya juga aurat bagi orang yang bukan mahram, meskipun cuma selembar. Seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan adalah aurat yang wajib ditutup. Hal ini berlandaskan firman Allah SWT:

Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (Qs. an-Nuur [24]: 31).

Yang dimaksud “wa laa yubdiina ziinatahunna” (janganlah mereka menampakkan perhiasannya), adalah “wa laa yubdiina mahalla ziinatahinna” (janganlah mereka menampakkan tempat-tempat (anggota tubuh) yang di situ dikenakan perhiasan) (Lihat Abu Bakar Al-Jashshash, Ahkamul Qur’an, juz III, hal. 316).

Selanjutnya, “illa maa zhahara minha” (kecuali yang (biasa) nampak dari padanya). Jadi ada anggota tubuh yang boleh ditampakkan. Anggota tubuh tersebut, adalah wajah dan dua telapak tangan. Demikianlah pendapat sebagian shahabat, seperti ‘Aisyah, Ibnu Abbas, dan Ibnu Umar (Al-Albani, 2001 : 66). Ibnu Jarir Ath-Thabari (w. 310 H) berkata dalam kitab tafsirnya Jami’ Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an, juz XVIII, hal. 84, mengenai apa yang dimaksud dengan “kecuali yang (biasa) nampak dari padanya” (illaa maa zhahara minha): “Pendapat yang paling mendekati kebenaran adalah yang mengatakan, ‘Yang dimaksudkan adalah wajah dan dua telapak tangan’.” Pendapat yang sama juga dinyatakan Imam Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, juz XII, hal. 229 (Al-Albani, 2001 : 50 & 57).

Jadi, yang dimaksud dengan apa yang nampak dari padanya adalah wajah dan dua telapak tangan. Sebab kedua anggota tubuh inilah yang biasa nampak dari kalangan muslimah di hadapan Nabi Saw sedangkan beliau mendiamkannya. Kedua anggota tubuh ini pula yang nampak dalam ibadah-ibadah seperti haji dan shalat. Kedua anggota tubuh ini biasa terlihat di masa Rasulullah Saw, yaitu di masa masih turunnya ayat al-Qur’an (An-Nabhani, 1990 : 45). Di samping itu terdapat alasan lain yang menunjukkan bahwasanya seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan dua telapak tangan karena sabda Rasulullah Saw kepada Asma’ binti Abu Bakar:

Wahai Asma’ sesungguhnya seorang wanita itu apabila telah baligh (haidl) maka tidak boleh baginya menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini, seraya menunjukkan wajah dan telapak tangannya.” [HR. Abu Dawud].

Inilah dalil-dalil yang menunjukkan dengan jelas bahwasanya seluruh tubuh wanita itu adalah aurat, kecuali wajah dan dua telapak tangannya. Maka diwajibkan atas wanita untuk menutupi auratnya, yaitu menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangannya.

b. Busana Muslimah Dalam Kehidupan Khusus

Adapun dengan apa seorang muslimah menutupi aurat tersebut, maka di sini syara’ tidak menentukan bentuk/model pakaian tertentu untuk menutupi aurat, akan tetapi membiarkan secara mutlak tanpa menentukannya dan cukup dengan mencantumkan lafadz dalam firman-Nya (Qs. an-Nuur [24]: 31) “wa laa yubdiina” (Dan janganlah mereka menampakkan) atau sabda Nabi Saw “lam yashluh an yura minha” (tidak boleh baginya menampakkan tubuhnya) [HR. Abu Dawud]. Jadi, pakaian yang menutupi seluruh auratnya kecuali wajah dan telapak tangan dianggap sudah menutupi, walau bagaimana pun bentuknya. Dengan mengenakan daster atau kain yang panjang juga dapat menutupi, begitu pula celana panjang, rok, dan kaos juga dapat menutupinya. Sebab bentuk dan jenis pakaian tidak ditentukan oleh syara’.

Berdasarkan hal ini maka setiap bentuk dan jenis pakaian yang dapat menutupi aurat, yaitu yang tidak menampakkan aurat dianggap sebagai penutup bagi aurat secara syar’i, tanpa melihat lagi bentuk, jenis, maupun macamnya.

Namun demikian syara’ telah mensyaratkan dalam berpakaian agar pakaian yang dikenakan dapat menutupi kulit. Jadi pakaian harus dapat menutupi kulit sehingga warna kulitnya tidak diketahui. Jika tidak demikian, maka dianggap tidak menutupi aurat. Oleh karena itu apabila kain penutup itu tipis/transparan sehingga nampak warna kulitnya dan dapat diketahui apakah kulitnya berwarna merah atau coklat, maka kain penutup seperti ini tidak boleh dijadikan penutup aurat.

Mengenai dalil bahwasanya syara’ telah mewajibkan menutupi kulit sehingga tidak diketahui warnanya, adalah hadits yang diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwasanya Asma’ binti Abubakar telah masuk ke ruangan Nabi Saw dengan berpakaian tipis/transparan, lalu Rasulullah Saw berpaling seraya bersabda:

Wahai Asma` sesungguhnya seorang wanita itu apabila telah baligh (haidl) tidak boleh baginya untuk menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini.” [HR. Abu Dawud].

Jadi Rasulullah Saw menganggap kain yang tipis itu tidak menutupi aurat, malah dianggap menyingkapkan aurat. Oleh karena itu lalu Nabi Saw berpaling seraya memerintahkannya menutupi auratnya, yaitu mengenakan pakaian yang dapat menutupi.

Dalil lainnya juga terdapat dalam hadits riwayat Usamah bin Zaid, bahwasanya ia ditanyai oleh Nabi Saw tentang Qibtiyah (baju tipis) yang telah diberikan Nabi Saw kepada Usamah. Lalu dijawab oleh Usamah bahwasanya ia telah memberikan pakaian itu kepada isterinya, maka Rasulullah Saw bersabda kepadanya:

Suruhlah isterimu mengenakan baju dalam di balik kain Qibtiyah itu, karena sesungguhnya aku khawatir kalau-kalau nampak lekuk tubuhnya.” [HR. Ahmad dan Al-Baihaqi, dengan sanad hasan. Dikeluarkan oleh Adh-Dhiya’ dalam kitab Al-Ahadits Al-Mukhtarah, juz I, hal. 441] (Al-Albani, 2001 : 135).

Qibtiyah adalah sehelai kain tipis. Oleh karena itu tatkala Rasulullah Saw mengetahui bahwasanya Usamah memberikannya kepada isterinya, beliau memerintahkan agar dipakai di bagian dalam kain supaya tidak kelihatan warna kulitnya dilihat dari balik kain tipis itu, sehingga beliau bersabda: “Suruhlah isterimu mengenakan baju dalam di balik kain Qibtiyah itu.

Dengan demikian kedua hadits ini merupakan petunjuk yang sangat jelas bahwasanya syara’ telah mensyaratkan apa yang harus ditutup, yaitu kain yang dapat menutupi kulit. Atas dasar inilah maka diwajibkan bagi wanita untuk menutupi auratnya dengan pakaian yang tidak tipis sedemikian sehingga tidak tergambar apa yang ada di baliknya.

c. Busana Muslimah Dalam Kehidupan Umum

Pembahasan poin b di atas adalah topik mengenai penutupan aurat wanita dalam kehidupan khusus. Topik ini tidak dapat dicampuradukkan dengan pakaian wanita dalam kehidupan umum, dan tidak dapat pula dicampuradukkan dengan masalah tabarruj pada sebagian pakaian-pakaian wanita.

Jadi, jika seorang wanita telah mengenakan pakaian yang menutupi aurat, tidak berarti lantas dia dibolehkan mengenakan pakaian itu dalam kehidupan umum, seperti di jalanan umum, atau di sekolah, pasar, kampus, kantor, dan sebagainya. Mengapa? Sebab untuk kehidupan umum terdapat pakaian tertentu yang telah ditetapkan oleh syara’. Jadi dalam kehidupan umum tidaklah cukup hanya dengan menutupi aurat, seperti misalnya celana panjang, atau baju potongan, yang sebenarnya tidak boleh dikenakan di jalanan umum meskipun dengan mengenakan itu sudah dapat menutupi aurat.

Seorang wanita yang mengenakan celana panjang atau baju potongan memang dapat menutupi aurat. Namun tidak berarti kemudian pakaian itu boleh dipakai di hadapan laki-laki yang bukan mahram, karena dengan pakaian itu ia telah menampakkan keindahan tubuhnya (tabarruj). Tabarruj adalah, menempakkan perhiasan dan keindahan tubuh bagi laki-laki asing/non-mahram (izh-haruz ziinah wal mahasin lil ajaanib) (An-Nabhani, 1990 : 104). Oleh karena itu walaupun ia telah menutupi auratnya, akan tetapi ia telah bertabarruj, sedangkan tabarruj dilarang oleh syara’.

busana muslimah dalam kehidupan umum ada 2 (dua), yaitu baju bawah (libas asfal) yang disebut dengan jilbab, dan baju atas (libas a’la) yaitu khimar (kerudung). Dengan dua pakaian inilah seorang wanita boleh berada dalam kehidupan umum, seperti di kampus, supermarket, jalanan umum, kebun binatang, atau di pasar-pasar.

Apakah pengertian jilbab? Dalam kitab Al Mu’jam Al Wasith karya Dr. Ibrahim Anis (Kairo : Darul Maarif) halaman 128, jilbab diartikan sebagai “Ats tsaubul musytamil ‘alal jasadi kullihi” (pakaian yang menutupi seluruh tubuh), atau “Ma yulbasu fauqa ats tsiyab kal milhafah” (pakaian luar yang dikenakan di atas pakaian rumah, seperti milhafah (baju terusan), atau “Al Mula`ah tasytamilu biha al mar’ah” (pakaian luar yang digunakan untuk menutupi seluruh tubuh wanita).

Jadi jelaslah, bahwa yang diwajibkan atas wanita adalah mengenakan kain terusan (dari kepala sampai bawah) (Arab: milhafah/mula`ah) yang dikenakan sebagai pakaian luar (di bawahnya masih ada pakaian rumah, seperti daster, tidak langsung pakaian dalam) lalu diulurkan ke bawah hingga menutupi kedua kakinya.

Untuk baju atas, disyariatkan khimar, yaitu kerudung atau apa saja yang serupa dengannya yang berfungsi menutupi seluruh kepala, leher, dan lubang baju di dada. Pakaian jenis ini harus dikenakan jika hendak keluar menuju pasar-pasar atau berjalan melalui jalanan umum (An-Nabhani, 1990 : 48).

Apabila ia telah mengenakan kedua jenis pakaian ini (jilbab dan khimar) dibolehkan baginya keluar dari rumahnya menuju pasar atau berjalan melalui jalanan umum, yaitu menuju kehidupan umum. Akan tetapi jika ia tidak mengenakan kedua jenis pakaian ini maka dia tidak boleh keluar dalam keadaan apa pun, sebab perintah yang menyangkut kedua jenis pakaian ini datang dalam bentuk yang umum, dan tetap dalam keumumannya dalam seluruh keadaan, karena tidak ada dalil yang mengkhususkannya.

Dalil mengenai wajibnya mengenakan dua jenis pakaian ini, karena firman Allah SWT mengenai pakaian bagian bagian atas (khimar/kerudung):

Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (Qs. an-Nuur [24]: 31).

Dan karena firman Allah SWT mengenai pakaian bagian bawah (jilbab):

Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya.

 

” (Qs. al-Ahzab [33]: 59).

Adapun dalil bahwa jilbab merupakan pakaian dalam kehidupan umum, adalah hadits yang diriwayatkan dari Ummu ‘Athiah r.a., bahwa dia berkata:

Rasulullah Saw memerintahkan kaum wanita agar keluar rumah menuju shalat Ied, maka Ummu ‘Athiyah berkata, ‘Salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab?’ Maka Rasulullah Saw menjawab: ‘Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya kepadanya!’” [Muttafaqun ‘alaihi] (Al-Albani, 2001 : 82).

Berkaitan dengan hadits Ummu ‘Athiyah ini, Syaikh Anwar Al-Kasymiri, dalam kitabnya Faidhul Bari, juz I, hal. 388, mengatakan: “Dapatlah dimengerti dari hadits ini, bahwa jilbab itu dituntut manakala seorang wanita keluar rumah, dan ia tidak boleh keluar (rumah) jika tidak mengenakan jilbab.” (Al-Albani, 2001 : 93).

Dalil-dalil di atas tadi menjelaskan adanya suatu petunjuk mengenai pakaian wanita dalam kehidupan umum. Allah SWT telah menyebutkan sifat pakaian ini dalam dua ayat di atas yang telah diwajibkan atas wanita agar dikenakan dalam kehidupan umum dengan perincian yang lengkap dan menyeluruh. Kewajiban ini dipertegas lagi dalam hadits dari Ummu ‘Athiah r.a. di atas, yakni kalau seorang wanita tak punya jilbab —untuk keluar di lapangan sholat Ied (kehidupan umum)— maka dia harus meminjam kepada saudaranya (sesama muslim). Kalau tidak wajib, niscaya Nabi Saw tidak akan memerintahkan wanita mencari pinjaman jilbab.

Untuk jilbab, disyaratkan tidak boleh potongan, tetapi harus terjulur sampai ke bawah sampai menutup kedua kaki, sebab Allah SWT mengatakan:

yudniina ‘alaihinna min jalabibihinna” (Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka). Dalam ayat tersebut terdapat kata “yudniina” yang artinya adalah yurkhiina ila asfal (mengulurkan sampai ke bawah/kedua kaki).

Penafsiran ini —yaitu idnaa’ berarti irkhaa’ ila asfal— diperkuat dengan dengan hadits Ibnu Umar bahwa dia berkata, Rasulullah Saw telah bersabda:

Barang siapa yang melabuhkan/menghela bajunya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada Hari Kiamat nanti.’ Lalu Ummu Salamah berkata,’Lalu apa yang harus diperbuat wanita dengan ujung-ujung pakaian mereka (bi dzuyulihinna).” Nabi Saw menjawab,’Hendaklah mereka mengulurkannya (yurkhiina) sejengkal (syibran)’ (yakni dari separoh betis). Ummu Salamah menjawab, ‘Kalau begitu, kaki-kaki mereka akan tersingkap.’ Lalu Nabi menjawab, ‘Hendaklah mereka mengulurkannya sehasta (fa yurkhiina dzira`an) dan jangan mereka menambah lagi dari itu.” [HR. At-Tirmidzi, juz III, hal. 47; hadits sahih] (Al-Albani, 2001 : 89).

Hadits di atas dengan jelas menunjukkan bahwa pada masa Nabi Saw, pakaian luar yang dikenakan wanita di atas pakaian rumah —yaitu jilbab— telah diulurkan sampai ke bawah hingga menutupi kedua kaki.

Berarti jilbab adalah terusan, bukan potongan. Sebab kalau potongan, tidak bisa terulur sampai bawah. Atau dengan kata lain, dengan pakaian potongan seorang wanita muslimah dianggap belum melaksanakan perintah “[/i]yudniina ‘alaihinna min jalaabibihina[/i]” (Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbabnya). Di samping itu kata min dalam ayat tersebut bukan min lit tab’idh (yang menunjukkan arti sebagian) tapi merupakan min lil bayan (menunjukkan penjelasan jenis). Jadi artinya bukanlah “Hendaklah mereka mengulurkan sebagian jilbab-jilbab mereka” (sehingga boleh potongan), melainkan Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka (sehingga jilbab harus terusan) (An-Nabhani, 1990 : 45-51).

HUKUM DAN BATASAN ZAKAT MAL

Shodaqoh yang menjadi sumber pemasukan baitul mal adalah zakat. Istilah shodaqoh digunakan untuk menyebut zakat, begitu pula  digunakan istilah zakat terhadap shodaqoh. Zakat menurut bahasa artinya berkembang (an-namaau) berarti juga pensucian (tathhir).Sedang menurut istilah syara’ , zakat memiliki dua makna tersebut. Karena dengan mengeluarkan zakat menjadi sebab timbulnya berkah pada harta. Seperti yang dinyatakan dalam sebuah hadits “Tidak berkurang harta karena shodaqoh (dikeluarkan zakatnya). Sebab lain, karena zakat itu menambah banyak pahala, mensucikan diri dari sifat bakhil (kikir) dan membersihkan dari dosa. (Al Amwal fi Daulatil Khilafah, Abd Qodim Zallum, hal 149)
       Secara definisi, zakat adalah sejumlah nilai/ukuran  tertentu yang wajib dikeluarkan dari harta (yang jenisnya) tertentu pula. Zakat adalah salah satu ibadah dan merupakan salah satu rukun  dari rukun-rukun Islam. Zakat hanya wajib bagi kaum muslimin. Untuk zakat fitrah kewajiban mutlak ditujukan kepada seluruh kaum muslimin baik kaya dan miskin. Zakat Mal dikhususkan pada mereka yang telah memenuhi kriteria tertentu secara hukum syara’ sehingga mengharuskan untuk mengeluarkan zakatnya. Allah SWT telah berfirman :
واتوا الزکاة
“Dan keluarkanlah zakat oleh kalian [kaum muslimin]” ( TQS. Al Baqoroh [2]: 43)
Rasulullah SAW pernah mengutus Mu’az bin Jabal ke Yaman, dan bersabda : “Beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah SWT telah mewajibkan atas mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya diantara mereka untuk kemudian dikembalikan kepada orang-orang fakir diantara mereka”.
Jenis-Jenis Zakat Mal
Zakat diwajibkan pada harta-harta sebagai berikut :
1.   Ternak, yaitu unta, sapi dan kambing
2.   Tanaman (hasil pertanian) dan buah-buahan
3.   Nuqud / Mata Uang (Emas dan perak)
4.   Keuntungan dari Perdagangan
Zakat diwajibkan pada 4 hal diatas jika telah mencapai nishob, hutangnya sudah dilunasi dan telah mencapai 1 tahun (haul). Kecuali untuk tanaman hasil pertanian dan buah-buahan zakatnya wajib saat panen.
1.      ZAKAT EMAS DAN PERAK
Zakat emas dan perak , termasuk didalamnya uang adalah wajib hukumnya untuk dikeluarkan sebagaimana yang ada dalam sunah dan ijma’ shohabat.
Tidak ada seorang pun yang pada dirinya  memiliki emas dan perak, kemudian tidak mengeluarkan zakatnya, kecuali pada hari Kiamat nanti akan dipakaikan kepadanya pakaian dari api neraka, yang dengan pakaian itu di dalam neraka jahannam pinggang dan keningnya meleleh demikian juga punggungnya. Setiap bagian anggota tubuh tadi hancur maka dikembalikan ke keadaan semula, dan itu berlangsung pada kadar waktu sehari sama dengan lima puluh ribu tahun sampai ditetapkan oleh Allah ketetapan diatara hamba dan diperlihatkan kepadanya apakah jalanya menuju syurga ataukan jalan menuju Neraka” (HR Al Khomsah, kecuali Tirmidzi).
Ukuran nishob emas yang harus dikeluarkan adalah  setelah mencapai nilai 20 dinar, dengan mengeluarkan ½ dinar (2,5 %). Sedangkan ukuran 1 Dinar adalah setara dengan 4,25 gram emas. Jadi nilainya sama dengan 20 x 4,25 = 85 gram Emas. Selain memenuhi kriteria nishob, juga harus telah mencapai satu tahun (haul).
              Sabda nabi SAW dari Aisyah r.a : “Tidak ada zakat pada harta sehingga mencapai haulnya”
        Dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata :
“Setiap 20 dinar zakatnya ½ dinar, dan setiap 40 dinar zakatnya satu dinar”
        Dari Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dari Nabi SAW berliau bersabda : ”Tidak ada zakat bagi emas yang ukurannya kurang dari 20 mitsqol”
Oleh karena itu jika ditaksirkan 1 gram emas harganya 400.000 rupiah. Maka nishob harta emas dan perak menjadi 85 Gram x 400.000 = 34.000.000, maka setiap kaum muslimin yang memiliki uang/tabungan atau harta baik berupa emas/perak atau uang senilai 34.000.000 atau lebih ( sesuai dengan harga emas yang berlaku) wajib hukumnya mengeluarkan zakat sebesar 2,5%. Jadi perhitungannya adalah menjadi 34.000.000 X 2,5% = Rp. 850.000
2.      ZAKAT TERNAK
            2.1. Nishob zakat Unta  yang wajib dikeluarkan :
1
5 ekor unta
1 ekor kambing
2
10 ekor unta
2 ekor kambing
3
15 ekor unta
3 ekor kambing
4
20 ekor unta
4 ekor kambing
5
25 ekor unta
1 ekor anak Unta betina (bintu makhadl)
(1 ekor anak unta jantan umur lebih dari 2 tahun)
6
36 ekor unta
1 ekor anak unta betina (bintu labun)
7
46 ekor unta
1 ekor anak unta betina (hiqqoh Untsa)
8
61 ekor unta
1 ekor  onta betina muda (jadza’ah)
9
76 ekor unta
2 ekor unta betina (bintaa labun)
10
96 ekor unta
2 ekor unta betina (hiqqatani)
             2.2. Nishob zakat Sapi dan  Kerbau (Jamus) zakatnya sama :
1
  30 ekor sapi
1 ekor sapi umur 1 tahun lebih (tabi’)
2
  40 ekor sapi
1 ekor sapi musinah ( tumbuh gigi, umur 2 th lebih)
3
  60 ekor sapi
2 ekor tabi’
4
  70 ekor sapi
2 ekor ( tabi’ dan musinah)
5
  80 ekor sapi
2 ekor musinah
6
  90 ekor sapi
3 ekor tabi’ah
7
100 ekor sapi
1 ekor musinah dan 2 ekor tabi’
8
110 ekor sapi
2 ekor musinah dan 1 ekor tabi’
9
120 ekor sapi
3 ekor musinah / 4 ekor tabi’
              2.3.Nishob zakat Kambing yang wajib dikeluarkan :
1
40 ekor kambing
1 ekor kambing
2
121 ekor kambing
2 ekor kambing
3
201 ekor kambing
3 ekor kambing
4
400 ekor kambing
4 ekor kambing
3.      ZAKAT TANAMAN
Zakat tanaman hanya diwajibkan atas 4 Jenis :
            1. Gandum ( al Qamhu)
            2. Jewawut ( Asu-Sya’ir)
            3. Kurma (At Tamru)
            4. Kismis ( Az-Zahib)
Dari Musa bin Thalhah, berkata : “Rasulullah SAW telah memerintahkan Mu’adz bin Jabal pada saat diutus ke Yaman yaitu agar dia mengambil zakat dari jewawut, gandum, kurma dan anggur
Dikatakan berikutnya  :
لاتآخد الصدقة الا من هده الاربعة : الشعیر والحنطة والزبیب والتمر
”Janganlah kalian berdua mengambil zakat kecuali dari keempat macam (yaitu) gandum, jewawut, kismis dan kurma”
Mengapa hanya 4 macam saja?
Baihaqi menjelaskan, disebabkan adanya lafadz –illa—apabila diawali dengan nafiy atau nahi menunjukkan makna ‘pembatasan’ terhadap segala sesuatu yang disebut sebelumnya atas segala sesuatu yang disebut sesudahnya. Selain itu, keempat makanan tersebut diatas  adalah merupakan isim jamid, sehingga tidak mengandung arti yang lain baik secara mantuq, mafhum, maupun iltizam. Hal itu karena bukan termasuk isim sifat, bukan juga isim-isim ma’ani, tetapi dibatasi oleh jenis yang disebut dengan isim tersebut. Sehingga mutlak tidak bisa diqiyaskan dengan tanaman jenis lainnya seperti padi, atau dengan lainnya.
Nishob Zakat Tanaman :
            Nishob zakat tanaman yang wajib dikeluarkan adalah 5 wasaq. Sebagaimana rasulullah SAW bersabda : “Tidak ada zakat dalam jumlah yang kurang dari lima wasaq (HR. Bukhari dan Muslim).
Ukuran 1 washoq adalah sama dengan 60 sha’. Satu sha’ sama dengan 4 mud, dan 1 mud sama dengan 1,33 rithl Baghdad. 1 Sha’ = 2,176 kg ( ukuran gandum).Maka untuk 5 wasaq untuk biji-bijian sama dengan 652 kg. Maka setiap panen mencapai 652 Kilo gram wajib mengeluarkan zakat.
Zakat tanaman dikeluarkan saat panen. Besarnya zakat sebagaimana disebutkan dari Imam Ali : “Apabila disiram air hujun, zakatnya sepersepuluh (10%) dan apabila disiran dengan kincir atau alat penyiram, zakatnya seperduapuluh (5%)”.
4.      ZAKAT PERDAGANGAN
            Harta yang digunakan untuk perdagangan wajib dikeluarkan zakatnya berdasarkan kesepakatan para ulama salaf maupun khalaf. Dari Samurah bin Jundab berkata : “Kemudian dari pada itu, sesungguhnya Rasulullah SAW memerintahkan  kepada kami mengambil zakat dari semua yang kami maksudkan untuk dijual” ( HR. Abu Dawud).
Harta perdagangan adalah sesuatu (selain uang) yang digunakan untuk menjalankan perdagangan, baik dengan pembelian maupun penjualan, yang bertujuan memperoleh keuntungan. Harta perdagangan meliputi makanan, pakaian, kendaraan, barang-barang industry, hewan, barang-barang tambang, bangunan, tanah, dan lain-lainnya yang biasa diperjual belikan.
      Zakat perdagangan ini wajib dikeluarkan apabila telah mencapai nilai nishob emas (85 gram emas) dan mencapai haul ( 1 tahun).
Perhitungannya adalah sebagai berikut :
 Apabila seorang pedagang memulai perdagangan dengan harta yang jumlahnya mencapai nishob  misalnya dengan modal 1000 dinar. Setelah 1 tahun  bersamaan dengan keuntungan menjadi 3000 dinar. Maka diwajibkan mengeluarkan harta perdagangan tersebut berdasarkan jumlah terakhir harta yang dimiliki yaitu 3000 dinar bukan 2000 dinar.hal ini seperti seokor kambing yang melahirkan anak-anaknya akan dihitung secara keseluruhan dari awal hingga jumlah terakhir. Perhitungannya sama dengan zakat emas dan perak yakni 1/40 atau 2,5 % dari total keseluruhan harta perdagangan yang ada.
Catatan : Zakat tersebut tidak berlaku jika seseorang yang telah mencapai nishob dan haul tetali masih memilikii hutang, maka harus dukelurkan dahulu untuk membaya hutang dan sisanya baru dihitung kembali. Jika masih masuk hitungan nishob , maka secara syar’I harus mengeluarkan zakatnya. Wallahu a’lam bi ash showab.

HUKUM KARTU KRIDIT : RIBA

Image

hukum kartu kredit haram

Kartu kredit haram atau halal? Banyak kaum muslimin yang sadar atau terpaksa telah perperangkap dengan permainan kartu kredit, yang jika tidak tahu, selain jatuh dalam dosa riba juga bisa bangkrut dalam kehidupannya. Lantaran keberadaan kartu kredit mendorong seseorang untuk bergaya konsumtif, padahal secara real orang tersebut kebanyakan tidak memiliki kemampuan finasial. Tulisan ini akan mengulas bagaimana sebenarnya hukum kartu kredit dalam pandangan Islam.

Kartu yang dikeluarkan bank bisa dibagi menjadi dua: kartu kredit dan kartu debit. Kartu kredit adalah suatu jenis penyelesaian transaksi ritel (retail) dan sistem kredit, yang namanya berasal dari kartu plastik yang diterbitkan untuk pengguna sistem tersebut. Kartu kredit berbeda dengan kartu debit. Bedanya, penerbit kartu kredit meminjami konsumen uang dan bukan mengambil uang dari rekening. Kebanyakan kartu kredit memiliki bentuk dan ukuran yang sama, seperti yang dispesifikasikan oleh standar ISO 7810. Lazimnya pinjaman, pengguna kartu tersebut wajib mengembalikan pinjamannya pada tenggat waktu yang telah ditetapkan. Jika tidak bisa, selain terkena beban bunga, juga denda atau pinalti. Contoh kartu kredit: Mastercard, VISA, American Express, Diners Club, JCB dan lain-lain.

Adapun kartu debit adalah sebuah kartu pembayaran secara elektronik yang diterbitkan oleh sebuah bank. Kartu ini mengacu pada saldo tabungan bank Anda di bank penerbit kartu tersebut. Apabila tabungan Anda Rp 1 juta, misalnya, Anda tidak bisa melakukan transaksi di atas nilai tersebut. Dengan kata lain, nilai transaksi dibatasi oleh nilai tabungan Anda. Setiap pembayaran dengan kartu debit akan mengurangi saldo tabungan Anda secara langsung (realtime) seperti halnya Anda menarik tabungan di ATM. Fungsi dari kartu debit adalah untuk memudahkan pembayaran ketika berbelanja tanpa harus membawa uang tunai. Kartu tersebut akan digesekkan pada sebuah alat pembaca kartu (magstripe reader) di merchand tempat Anda belanja dan Anda akan diminta untuk memasukkan nomor PIN sebagai bukti Anda mengakui pembelanjaan tersebut. Info dari hasil pembacaan beserta informasi total belanja akan di teruskan ke bank penerbit untuk dilakukan verifikasi keabsahan dari kartu tersebut. Sesudah verifikasi berhasil, saldo tabungan Anda langsung didebit (dikurangi). Contoh kartu debit ini seperti Kartu Debit BCA, Mandiri, BNI, BRI dan sebagainya.

Berdasarkan kedua fakta di atas, hukum kartu kredit berbeda dengan hukum kartu debit. Kartu kredit jelas-jelas haram. Dalil keharamannya dikembalikan pada dalil tentang keharaman riba. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kalian orang-orang Mukmin (QS al-Baqarah [2]: 278).

Ini karena transaksi dengan menggunakan kartu kredit merupakan bentuk qardh (hutang) dari pengguna kartu kepada pihak bank, disertai dengan bunga dan denda. Mungkin ada yang bertanya, bagaimana kalau dalam pengemba-liannya bisa menghindari bunga, misalnya dibayar tepat waktu, sehingga bisa terhindar dari bunga. Yang pasti, bunga tidak bisa dihindari oleh pemegang kartu, karena memang sudah ditetapkan oleh pihak bank. Adapun yang bisa dihindari, sebenarnya bukanlah bunga, melainkan denda atau pinaltinya. Dengan demikian, jelas bahwa kartu kredit tersebut nyata-nyata transaksi riba, yang status akadnya batil dan diharamkan di dalam Islam.

Berbeda dengan kartu debit. Penggunaan kartu debit statusnya bukanlah dayn dari pemegang kartu kepada pihak bank, melainkan pemindahan hak yang dimiliki oleh pengguna kartu kepada pihak lain, yang dilakukan oleh bank atas perintah pengguna kartu tersebut. Dalam kasus ini, status penggunaan kartu debit tersebut sama dengan hawalah. Hawalah itu sendiri hukumnya mubah. Rasulullah saw. bersabda:

مَطَلُ الْغَنِيُّ ظُلْمٌ وَإِذَا أُحِيْلَ أَحَدُكُمْ عَلَى غَنِيٍّ فَلْيَسْتَحِلْ

Orang kaya yang menangguh-nangguhkan (pembayaran hutang) adalah zalim. Jika salah seorang di antara kalian memindahkan (hutang) kepada orang kaya maka hendaknya dia memindahkan (hutangnya) (Dikeluarkan oleh Ibn Rusyd dalam Al-Bidâyah).

Menurut Ibn Rusyd, hawalah ini merupakan bentuk transaksi yang sah, dan dikecualikan dari praktik pembayaran hutang dengan hutang.1 Dalam praktik hawalah, biasanya ada empat hal: muhil (orang yang memindahkan hak), muhtal (orang yang diminta memindahkan hak), muhal ‘alayhi (orang yang menerima hak), muhal bihi (hak/tanggungan yang dipindahkan). Dengan logika hawalah ini bisa dipetakan, bahwa pemegang kartu debit tadi bertindak sebagai muhil, pihak bank adalah muhtal, pihak ketiga yang mendapatkan haknya disebut muhal ‘alaihi, dan hak (uang) yang diberikan kepadanya disebut muhal bihi.

Hukum hawalah pada dasarnya mubah. Hawalah tidak akan terjadi manakala muhil tidak memiliki hak yang ada pada muhtal, yang bisa dipindahkan kepada pihak ketiga (muhal ‘alayhi). Karena itu, Ibn Qudamah menyebut hawalah ini sama dengan taslîm (penyerahan hak/tanggungan).2Dalam praktiknya, hawalah tidak hanya berupa debit dari dana pengguna kartu bank tertentu, tetapi juga bisa berupa transfer dan pengiriman uang. Ini juga sama-sama bisa dikategorikan sebagai praktik hawalah. Praktik hawalah yang terakhir ini juga tidak hanya dilakukan oleh bank, tetapi juga dilakukan oleh jasa pengiriman uang, seperti Western Union, Kantor Pos dan lain-lain.

Hawalah juga bisa dilakukan dengan menggunakan kertas berharga yang mempunyai nilai nominal tertentu, seperti cek. Ini biasanya disebut Hawalah al-’Ayn. Ada juga yang berbentuk bill of exchange, yang biasanya disebut Hawalah ad-Dayn. Harus dicatat, meski di dalam praktiknya hawalah tersebut melibatkan empat hal: muhil, muhtal, muhal ‘alaihi dan muhal bihi; hawalah ini bukanlah akad sehingga harus memenuhi unsur ijab dan qabul, dan suka sama suka. Hawalah adalah tindakan pribadi, yang bisa dilakukan tanpa harus menunggu persetujuan pihak lain, baik pihak kedua maupun pihak ketiga.3

Ini berbeda dengan pinjaman, tepatnya qardh. Qardh adalah akad. Dalam kasus kartu kredit, pihak bank bertindak sebagai muqridh (pemberi pinjaman), sedangkan pihak pengguna kartu kredit disebut muqtaridh (penerima pinjaman). Antara muqridh dan muqtaridh terjadi akad peminjaman (qardh), dengan disertai bunga yang diberikan kepada muqridh. Sebagai akad, qardh seharusnya merupakan bentuk pinjaman dengan pengembalian yang fixed dan sama, baik dari segi jenis maupun nominalnya.4 Karena itu, seharusnya pengguna kartu kredit, yang bertindak sebagai muqtaridh tersebut, tidak boleh mengembalikan, kecuali dengan jumlah yang sama. Tanpa bunga dan denda. Ditetapkannya bunga dan denda dalam syarat qardh, dalam kasus kartu kredit tersebut, menurut Mazhab Syafii, bukan saja fasad di dalam syaratnya, tetapi juga merusak akadnya. Dengan kata lain, akadnya tidak sah.5

Mungkin ada yang bertanya, bukankah kartu kredit dan kartu debit, di dalamnya sama-sama mempraktikkan hutang? Mengapa yang satu diharamkan, yang satu tidak? Jawabannya, hutang (qardh) di dalam kartu kredit merupakan transaksi dasar, sedangkan hutang (dayn) atau tepatnya tanggungan (dzimmah) dalam kartu debit merupakan konsekuensi dari hawalah. Sebagai perbandingan, seorang suami yang menanggung nafkah istri dan keluarganya bisa disebut berhutang atau mempunyai dayn; begitu juga seorang wanita yang mengajukan khulû’ juga mempunyai dayn, karena harus membayar sejumlah uang. Namun, dayn di sini merupakan konsekuensi dari kewajiban membayar nafkah dan khulû’, sebagaimana dalam kasus hawalah di atas. Karena itu, status qardh dalam kartu kredit dengan dayn dalam kartu debit jelas berbeda. Selain itu, praktik qardh dalam kasus kartu kredit tersebut merupakan bentuk akad, sementara dayn dalam kasus kartu debit tersebut tidak bisa disebut akad, tetapi tindakan derivatif dari hawalah, yang bisa berlangsung tanpa harus menunggu suka sama suka ataupun ijab dan qabul.

Lalu ada satu lagi pertanyaan, bagaimana dengan syarat bunga yang diberikan oleh bank selaku peminjam kepada pengguna kartu debit selaku pemberi pinjaman? Menurut mazhab Syafii, syarat seperti ini memang fasad, tetapi tidak merusak akad. Dengan kata lain, akadnya tetap sah, selama syarat tersebut diabaikan. Wallahu A’lam bi ash-showab

Islam Rahmatan Lil Alamin Hanya Jika ISLAM Diterapkan Secara Kaffah