Category Archives: Tafsir Qur’an

CELAKA BAGI ORANG YANG CURANG

TAFSIR QS. AL MUTHOFFIFIN ( 83 ) AYAT 1-6

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ .  الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ  .  وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ  .  أَلا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ  .  لِيَوْمٍ عَظِيمٍ  .  يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (1) (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi (2) dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.(3) Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan (4) pada suatu hari yang besar (5) yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?(6) ( QS. Al Muthoffifin : 1-6)

 KetikaNabi SAW baru sampai di Madinah, kota tersebut terkenal dengan penduduknya yang curang. Kemudian turun surat yang Al Muthoffifin ayat 1,

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. ( 83:1).

Suatu hari Hilal Ibn Talq bertanya kepada Ibnu Umar, Siapakah manusia yang paling baik dan paling memenuhi dalam memakai takaran? Penduduk Makkah atau Madinah? Ibnu Umar menjawab : Sudah seharusnya bagi mereka berbuat demikian  tidakkah negkau mendengar firman-Nya Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. ( 83:1).

Kata wailun, adalah bentuk adzab yaitu adzab jahannam, yaitu bagi orang yang curang. Makna thaffif disini adalah curang dalam memakai takaran dan timbangan,yang adakalanya meminta tambahan bila menagih dan mengurangi jika membayar kepada mereka. Oleh karena itu orang yang curang itu dijelaskan dalam ayat berikutnya :

الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ

(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi (83:2)

Yakni bila mereka menerima takaran dari orang lain ,maka mereka meminta supaya dipenuhi dan diberi tambahan.

وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ

dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. (83:3)

Dalam ayat lain Allah dengan tegas untuk menegakkan timbangan sebagaimana firmanNya dalam surat Ar Rohman ayat 9 :

وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ

Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. ( QS. 55: 9)

Dan Allah telah membinasakan kaum Syu’aib dan menghancurkannya disebabkan mereka curang terhadap orang lain dalam melakukan timbangan.

Kemudian Allah SWT berfirman :

أَلا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ . لِيَوْمٍ عَظِيمٍ

Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan (4) pada suatu hari yang besar (5)

Iman senantiasa menyatukan  antara kepercayaan terhadap eksistensi Allah sebagai sang khaliq dan kepastian akan hari akhir. Keyakinan terhadap Allah dan hari berbangkit itu mendorong seseorang senantiasa takut untuk melanggar perintah-perintahNya  dan larangan-larangan-Nya.

Orang yang biasa menakar timbangan ( curang) itu hakekatnya tidak takut dengan hari berbangkit. Yang di hari itu mereka akan diberdirikan dihadapan Tuhan Yang mengetahui semua isi dan rahasia,  untuk dimintai pertanggungjawaban.

Lalu Allah SWT mengingatkan bahwa pada hari kebangkitan tersebut setiap manusia tidak terkecuali akan berdiri menghadap hari perhitungannya masing-masing, sebagaimana firmanNya :

يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?(83: 6)

ImamMalik telah meriwayatkan dari Nafi’, dari Ibn Umar r.a. bahwasanya  nabi SAW pernah bersabda :

: Di hari ketika manusia berdiri di adapan Tuhan semesta alam, sehingga seseorang dari mereka tenggelam ke dalam keringatnya sampai sebatas pertengahan hidungnya.

Imam Muslim telah  menceritakan, dari Al Hakam Ibnu Musa dari Yahya ibnu Hamzah, bahwa Nabi SAW telah bersabda :

Apabila hari kiamat terjadi matahari didekatkan kepada semua hamba sampe jarak satu atau dua mil. Sinar matahari memanggang mereka, maka keringat mereka sesuai dengan kadar amal perbuatan masing-masing. Diantara mereka ada yang keringatnya hanya sampai kedua mata kakinya, diantara mereka ada yang smapai kedua lututnya, diantara mereka ada yang smaapi pinggangnya, diantara mereka ada yang benar-benar ditenggelamkan keringatnya.

 Dalam hadits lain disebutkan mereka berdiri selama 70 tahun tanpa ada yang bicara. Pendapat lainnya mengatakan mereka berdiri selama 300 tahun dna menurut pendapat lainnya 40.000 tahun lalu dilakukan peradilan diantara mereka dalam masa yang lamanya 10.000 tahun sebagaimana disebutkan dalam kitab shahih muslim melalui Abu Hurairah secara marfu. Sedang dalam sehari setara dengan 50.000 tahun.

Nabi SAW bersabda : Maka apabila kamu telah mengungsi di peraduanmu, mohonlah perlindungan kepada Allah SWT dari kesusahan di hari kiamat dan hisab yang buruk.

Rasul bersabda :

Bahwa Rasulullah SAW membuka qiyamul Lail dengan membaca takbir 10 X, tahmid 10 X dan tasbih 10X dan istighfar 10 x kemudian berdoa, Ya Allah beriah ampunan bagiku, berilah aku petunjuk, berilah aku rizki, dan berilah aku kesejahteraan, Lalu berlia berlindung kepada Allah dari sempitnya tempat berdiri di hari qiamat.

Amalan agar diringankan di padang mahsyar

وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلا طَوِيلا . إِنَّ هَؤُلاءِ يُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَاءَهُمْ يَوْمًا ثَقِيلا

Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari. (26) Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat).(27) [ QS. Al Insan 76 : 26-26]

Ibnu Abbas berkata : Barangsiap ingin mendapatkan keringanan akan lamanya berdiri di padang mahsyar,maka hendaklah ia memperhatikan dirinya kepada Alah dengan lamanya berdiri, rukuk dan sujud dalam qiyamul lail ( Ibnu Jarir dalam Tafsirnya)

 Referensi :

Kitab Tafsir Ibnu Katsir Juz 30
Tafsir Jalalain/ Juz 30/Hal 587
 

 

Advertisements

WASPADA TERHADAP BERITA BOHONG

TAFSIR SURAT AL HUJURAT [46] AYAT 6

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat: 6).

Jalaluddin Asy-Syuyuthi & Jalaluddin Muhammad Ibn Ahmad Al-Mahalliy, dalam tafsir Jalalain mengatakan maksud ayat :

إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

Maksudnya jika datang berita dari seorang yang fasik,  maka hendaklah periksa ( tabayyun),  adalah mencari kebenaran berita apakah berita tersebut benar atau  dusta. Menurut suatu qiraat dibaca Fatatsabbatuu berasal dari lafal Ats-Tsabaat, artinya telitilah terlebih dahulu kebenarannya.

Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim berkata, “Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan kroscek terhadap berita dari orang fasik. Karena boleh jadi berita yang tersebar adalah berita dusta atau keliru.” (Artinya,  kroscek tersebut harus datang kepada sumbernya langsung bukan berita dari sumber lain.-pen)

Lalu Allah SWT memperingatkan dengan firmanNya :

أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ

Agar tidak menimpa suatu kaum, akibat tidak mengetahui keadaanya,   yaitu disebabkan berita bohong atau dusta tersebut.

Lalu dari ayat  tersebut Allah memperingatkan dampak berikutnya dengan firmanNya :

فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Penyesalan (naadimin) adalah kegelisahan yang menderita manusia karena perbuatan yang sudah lalu, dan dia berangan-angan seandainya saja dia tidak melakukannya.

Ayat diatas  turun berkaitan dengan  Rasulullah Saw. mengutus Al-Walid ibnu Uqbah kepada Al-Haris ibnu Abu Dirar Al-Khuza’i , pimpinan bani Mustalik, untuk mengambil harta zakat yang telah dikumpulkannya. Ketika Al-Walid sampai di tengah jalan, tiba-tiba hatinya gentar dan takut, lalu ia kembali kepada Rasulullah Saw. dan melapor kepadanya, “Hai Rasulullah, sesungguhnya Al-Haris tidak mau memberikan zakatnya kepadaku, dan dia akan membunuhku.” Mendengar laporan itu Rasulullah Saw. marah, lalu beliau mengirimkan sejumlah pasukan kepada Al-Haris. Setelah dikirim utusan susulan dari Nabi SAW ternyata Al Walid ibnu Uqbah yang berbohong.

Lalu Siapa kriteria orang  yang termasuk  Faasiquun ( orang fasik), hingga beritanya harus dikroscek ?

Al Qur’an telah menyebutkan beberapa ciri orang Fasik, yaitu  (1). “Orang yang mengingkari ayat-ayat Al Qur’an (QS Al Baqoroh : 99), (2). Orang yang mengubah hukum-hukum Allah dengan buatan manusia dan dzalim ( QS. Al Baqoroh:59),  (3). Orang yang mengingkari perjanjian dengan Allah/ suka ingkar janji ( Al A’raf: 102), (4). Orang yang tidak taat pada perintah Allah SWT ( QS. Al An’am : 121). (5). Orang yang lebih mencintai dunia dibanding akhirat ( At Taubah : 24). (6). Orang yang munafiq [QS. At-Taubah: Ayat 67], dan (7). Orang yang menuduh wanita berbuat zina [QS. An-Nur: Ayat 4]
Kesimpulan:

  1. Hendaklah seorang muslim selalu meneliti setiap berita yang datang, khususnya terhadap orang fasik.
  2. Jika terhadap orang fasik saja harus meneliti secara cermat, terlebih-lebih berita yang datang dari orang kafir. Kini kita tahu bahwa media massa yang ada saat ini rata-rata milik orang kafir. Maka ummat Islam harus benar-benar tabayyun agar tidak terjadi adu domba dan fitnah.
  3. Cara meneliti berita yang benar adalah dengan melakukan kroscek kepada sumber beritanya langsung, agat terdapat kebenaran yang akurat dan agar tidak menyebabkan fitnah hanya karena berita bohong dan atas dasar kebencian semata. Sehingga pada akhirnya kita ummat Islam akan rugi dan menyesal semuanya. Allahu a’lam bi ash-showab. Arif Al Qondaly

 

 

TAFSIR SURAT AL BAQOROH AYAT 183-185 | FIQH PUASA

SEPUTAR HUKUM PUASA, SERTA HIKMAH YANG TERKANDUNG DI DALAMNYA

Dalam firman Allah SWT surat Al Baqoroh ayat 183-185 mengandung beberapa hikmah penting yang harus dijadikan pedoman bagi ummat Islam.  Diantaranya adalah hikmah disyariatkannya puasa,  ketentuan sepurat puasa, serta turunnya Al Quran sebagai petunjuk, penjelas  dan pembeda yang haq dan yang bathil.

Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu) di antara umat manusia (agar kamu bertakwa). ( QS 2 : 183)

Maksudnya adalah Allah mewajibkan puasa kepada ummat Islam dengan tujuan menjaga diri dari maksiat, karena puasa itu dapat membendung syahwat,  yang menjadi pangkal sumber kemaksiatan itu. Itulah target puasa adalah agar kita bertaqwa.

Antara Shiyam dan Shoum

Allah SWT menyebut dalam Al Qur’an sebanyak 7 kali kata shiyam bukan shoum, mengandung makna khusus, yaitu :

Imsak ‘an al-‘akli wa al-syurbi wa al-jima’ min thulu’ al-fajr ila ghurub al-syams ma’a al-niyyah. (Tak makan, tak minum, dan tak berhubungan intim sejak fajar terbit hingga matahari terbenam).

Sedang kata shoum disebut dalam Al Qur’an sekali,  mengandung makna umum sebagaimana dalam surah Maryam ayat ke-26:

فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

( Makan, minum, dan bersenang hatilah kamu.  Jika  kamu  melihat seseorang, katakanlah,  “Sesungguhnya  aku  telah bernazar shaum untuk Tuhan Yang Maha Pemurah; aku tidak akan berbicara dengan seorang pun pada hari ini.”)

Antara Fajar dan Imsyak

Yang dimaksud fajar dalam ayat itu adalah fajar shadiq, bukan fajar kadzib. Dalilnya hadits ‘Aisyah RA, dia berkata,”Janganlah adzan Bilal mencegah dari sahur kamu, karena dia menyerukan adzan pada malam hari. Makan minumlah kamu hingga kamu mendengar adzan Ibnu Ummi Maktum, karena dia tidak menyerukan adzan hingga terbit fajar.” (HR Bukhari, Muslim, Nasa`i, Ahmad, Ibnu Hibban, dan Ibnu Khuzaimah).

Perlu kami jelaskan disini bahwa waktu imsak hanya untuk kehati-hatian (ihtiyath) saja, bukan batas akhir waktu sahur. Dalilnya hadits Zaid bin Tsabit ra  yang berkata,”Kami pernah makan sahur bersama Nabi SAW, kemudian kami berdiri untuk shalat (Shubuh).’ Lalu Anas bertanya kepada Zaid bin Tsabit, ‘Berapa lama antara keduanya (sahur dan shalat Shubuh)?’ Zaid bin Tsabit menjawab,’Kadarnya (lamanya) sekitar bacaan 50 ayat.(HR Bukhari, Muslim, Nasa`i, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Lalu Allah SWT melanjutkan firmanNya :

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

 

(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.( QS. 2 : 184)

Bilangan Puasa Ramadhan

(Beberapa hari) sebagai manshub atau sebagai maf`ul dari fi`il amar  ‘shiyam’ atau ‘shaum’ (berbilang) artinya yang sedikit atau ditentukan waktunya dengan bilangan yang telah diketahui, yakni selama bulan Ramadan sebagaimana yang akan datang nanti. Dikatakannya ‘yang sedikit’ untuk memudahkan bagi mualaf.

Sebulan dalam kalender hijriyah adalah sebagaimana rasulullah SAW sabdakan :

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ ، لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسِبُ ,الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا

Sesungguhnya kami adalah umat ummiyah, Kami tidak mengenal tulis-menulis (mayoritas tidak bisa baca-tulis,  pent) dan tidak pula mengenal ilmu hisab (Mayoritas tidak tahu ilmu hisab, pent) Bulan itu bisa seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 29) dan seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 30).” (HR. Bukhari no. 1913 dan Muslim no. 1080)

Demikian juga hadits,

الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ لَيْلَةً ، فَلاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلاَثِينَ

Bulan itu(bulan Sya’ban)  dua puluh sembilan malam. Maka janganlah kalian berpuasa hingga melihat hilal. Dan apabila tertutup mendung, sempurnakanlah (bulan Sya’ban) menjadi tiga  puluh hari.” (HR. Bukhari no. 1907 dan Muslim no. 1080)

Penentuan 29 hari itu yang paling shohih adalah dengan cara ru’yatul hilal, makajika hilal tidak tampak baru digenapkan ( ikmal) menjadi 30 hari.

Rukhshoh Puasa

(Maka barang siapa di antara kamu) yakni sewaktu kehadiran hari-hari berpuasa itu (sakit atau dalam perjalanan) maksudnya perjalanan untuk mengerjakan puasa dalam kedua situasi tersebut, lalu ia berbuka, (maka hendaklah dihitungnya) berapa hari ia berbuka, lalu berpuasalah sebagai gantinya (pada hari-hari yang lain.)

(Dan bagi orang-orang yang tidak sanggup melakukannya) disebabkan usia lanjut atau penyakit yang tak ada harapan untuk sembuh (maka hendaklah membayar fidyah) yaitu (memberi makan seorang miskin) artinya sebanyak makanan seorang miskin setiap hari, yaitu satu mud dari makanan pokok penduduk negeri. Menurut satu qiraat, dengan mengidhafatkan ‘fidyah’ dengan tujuan untuk penjelasan. Ada pula yang mengatakan tidak, bahkan tidak ditentukan takarannya. Di masa permulaan Islam, mereka diberi kesempatan memilih, apakah akan berpuasa atau membayar fidyah. Kemudian hukum ini dihapus (mansukh) dengan ditetapkannya berpuasa dengan firman-Nya. “Maka barang siapa di antara kamu yang menyaksikan bulan, hendaklah ia berpuasa.” Kata Ibnu Abbas, “Kecuali wanita hamil dan yang sedang menyusui, jika berbukanya itu disebabkan kekhawatiran terhadap bayi, maka membayar fidyah itu tetap menjadi hak mereka tanpa nasakh.” (Dan barang siapa yang secara sukarela melakukan kebaikan) dengan menambah batas minimal yang disebutkan dalam fidyah tadi (maka itu) maksudnya berbuat tathawwu` atau kebaikan (lebih baik baginya. Dan berpuasa) menjadi mubtada’, sedangkan khabarnya ialah, (lebih baik bagi kamu) daripada berbuka dan membayar fidyah (jika kamu mengetahui) bahwa berpuasa lebih baik bagimu, maka lakukanlah.

Mengenai batas safar

mayoritas ulama dari kalangan Syafi’i, Hambali dan Maliki. Dalil mereka adalah hadits,

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَابْنُ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهم – يَقْصُرَانِ وَيُفْطِرَانِ فِى أَرْبَعَةِ بُرُدٍ وَهْىَ سِتَّةَ عَشَرَ فَرْسَخًا

“Dahulu Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum mengqashar shalat dan tidak berpuasa ketika bersafar menempuh jarak 4 burud (yaitu: 16 farsakh).” (HR. Bukhari secara mu’allaq –tanpa sanad-. Diwasholkan oleh Al Baihaqi 3: 137. Lihat Al Irwa’ 565)

Imam Malik, Syafii, Ahmad dan lainnya mengatakan batas sfar minimal berjarak 4 burud (16 farsakh). 1 Farsakh = 4 mil. Dalam tahkik kitab Bidayatul Mujtahid dituliskan bahwa 4 burud itu sama dengan 88, 704 km.

Rinciannya :

1 Barid = 4 Farsakh
1 Farsakh = 5.544 km
1 Barid= 4 x 5,544 km= 22,176km
4 Barid = 88,704 km.

Ketentuan fidyah

Dalilnya adalah :

عن مالك عن نافع أن ابن عمر سئل عن المرءة الحامل إذا خافت على ولدها، فقال: تفطر و تطعم مكان كل يوم مسكينا مدا من حنطة

Dari Nafi’, bahwa Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma pernah ditanya tentang wanita hamil yang khawatir terhadap anaknya (jika puasa). Beliau menjawab, “Dia boleh berbuka dan memberi makan orang miskin dengan satu mud gandum halus sebanyak hari yang dia tinggalkan.” (HR. Al-Baihaqi dari jalur Imam Syafi’i dan sanadnya sahih)

Ukuran pembayaran fidyah 1 hari ditinggalkannya adalah  1 mud (setara 0,75 kg untuk gandum) atau 1/2 sha’ (2 mud = 1,5 kg) untuk selain gandum ( menurut Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin)
1 sho’ = 4 mud
1 sho’ kira-kira 3 kg
1/2 sho’ = 2 mud atau kira- kira 1½ kg
Maka 1 mud = 0,75 kg atau 3/4 kg  ( gandum )

Seseorang dapat membayar fidyah, pada hari itu juga ketika dia tidak melaksanakan puasa. Atau diakhirkan sampai hari terakhir bulan Ramadhan, sebagaimana dilakukan oleh sahabat Anas bin Malik ketika beliau telah tua.

Menurut Syaikh Sholih Al Fauzan hafizhohullah , “Mengeluarkan fidyah tidak bisa digantikan dengan uang sebagaimana yang penanya sebutkan. Fidyah hanya boleh dengan menyerahkan makanan yang menjadi makanan pokok di daerah tersebut.
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.( QS.2 :  185)

Tujuan Diturunkan Al Qur’an

Hari-hari tersebut adalah (bulan Ramadan yang padanya diturunkan Alquran) yakni dari Lawhmahfuz ke langit dunia di malam lailatul qadar (sebagai petunjuk) menjadi ‘hal‘, artinya yang menunjukkan dari kesesatan (bagi manusia dan penjelasan-penjelasan) artinya keterangan-keterangan yang nyata (mengenai petunjuk itu) yang menuntun pada hukum-hukum yang hak (dan) sebagai (pemisah/pembeda) yang memisahkan antara yang hak dengan yang batil. (Maka barang siapa yang menyaksikan) artinya hadir (di antara kamu di bulan itu, hendaklah ia berpuasa dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan, lalu ia berbuka, maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari yang lain).

Sebagaimana telah diterangkan terdahulu. Diulang-ulang agar jangan timbul dugaan adanya nasakh dengan diumumkannya ‘menyaksikan bulan’ (Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesempitan) sehingga oleh karenanya kamu diperbolehkan-Nya berbuka di waktu sakit dan ketika dalam perjalanan. Karena yang demikian itu merupakan `illat atau motif pula bagi perintah berpuasa, maka diathafkan padanya.

(Dan hendaklah kamu cukupkan) ada yang membaca ‘tukmiluu‘ dan ada pula ‘tukammiluu‘ (bilangan) maksudnya bilangan puasa Ramadan (hendaklah kamu besarkan Allah) sewaktu menunaikannya (atas petunjuk yang diberikan-Nya kepadamu) maksudnya petunjuk tentang pokok-pokok agamamu (dan supaya kamu bersyukur) kepada Allah Taala atas semua itu.

Kesimpulan :

  1.  Hakekar Puasa adalah membentuk manusia yang taqwa, yang mampu menjauhi segala maksiyat , karena dengan puasa pintu syahwat telah tertutup dari syaithon.
  2. Jumlah hari dalam sebulan adalah 29 hari dalam berpuasa, maka jika pandangan tertutup awan, puasa ramadhon disempurnakan menjadi 30 hari.
  3. Ada rukhshoh (keringanan) dalam puasa ramadhan bagi orang sakit dan wanita hamil dan menyusui yang dikhawatirkan mengancam jiwanya jika tetap berpuasa. Dan jika tidak dimungkinkan menganti pada hari lain dibulan ramadhan , dapat diganti dengan fidyah sebesar setengah sha ( 1,5 kg beras) tiap hari yang ditinggalkannya.
  4. Bulan ramadhan bulan diturunkan Al Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia, penjelas serta pembeda yang haq dan yang bathil. Ini menunjukan bahwa Al Qur’an adalah petunjuk yang tidak boleh ditinggalkan manusia dalam segala aspek kehidupannya.
  5. Ummat Islam diminta senantiasa mengagunggkan Allah ( dalam beribadah)  dan bersyukur atas hidayah al qur’an yang telah ada.

Referensi :

Tafsir Qur’an , Tafsir Jalalain, Imam Jalaluddin al-Mahally dan Imam Jalaluddin Asy-Syuyuthi, Juz 2
Kitab HR. Bukhari dan Muslim

TAFSIR SURAT ‘ABASA AYAT 1-10

 

Allah SWT berfirman :

عَبَسَ وَتَوَلَّى (1) أَنْ جَاءَهُ الأعْمَى (2) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى (3) أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى (4) أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى (5) فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى (6) وَمَا عَلَيْكَ أَلا يَزَّكَّى (7) وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى (8) وَهُوَ يَخْشَى (9) فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى (10)

Surat ini diturunkan berkenaan dengan kisah anak Ummi  Maktum (Abdullah Ibnu Ummi Maktum) yang bernama ‘Amr ibnu Qois, yaitu anak laki-laki paman Siti Khadijah. Ia adalah seorang tuna netra dan ikut berhijrah ke Madinah bersaa para sahabat lainnya. Nabierkali-kali menyuruhnya sebagai pengganti beliau dalam memimami salat dengan kaum muslimin di madinah. Ia adalah Muazzinur rasul kedua setelah sahabat Bilal.

Suatu hari ibnu Ummi Maktum bergegas menemui Rasulullah saw di Makkah, yang pada saat itu Rasulullah sedang menemui beberapa pimpinan Quraisy. Diantara mereka ada Utbah bin Syaibah, Abu Jahal ibn Hisyam, Al Abbas ibn Abdil Muthalib, Umayyah ibn Khalaf dan Walid ibn Mughirah. Ketika itu Rasulullah sedang mengajak mereka untuk masuk Islam dan mengingatkan akan hari akhir dan mengingatkan mereka agar takut kepada kekuatan dan kekuasaan Allah. Nabi juga menjanjikan bahwa apabila mereka masuk Islam akam mendapatkan pahala yang paling baik. Nabi sangat mengharapkan mereka masu Islam karena mereka adalah para pemimpin kaum. Sebab dengan Islamnya mereka, akan banyak pula orang-orang yang masuk Islam ( Al Maraghi, Juz 30, hal. 70).

Ketika Abdullah Ummi Maktum sampai di majlis rasulullah, ia berkata kepadanya : “Wahai Rasulullallah! Bacakanlah kepada kami dan ajarilah kami apa-apa yang telah Allah ajarkan kepada anda”. Ia mengulang-ulang perkataannya karena kebutaannya sehingga ia tiadak mengetahui kesubukan yang sedang dihadapi nabi SAW saati itu. Sementara Nabi tidak suka menghentikan pembicaraaan beliau dengan mereka. Hal itu tampak dari roman muka beliau yang berbah menjadi masam dan belia memalingkan muka dari Inu Ummi Maktum.
Kemudian Allah SWT menegurnya dalam firmanNya :

عَبَسَ وَتَوَلَّى. أَنْ جَاءَهُ الأعْمَى

 Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. karena telah datang seorang buta kepadanya.

Alasan Nabi karena beliau tidak suka pembicaraannya dengan para pemimpin kaum  saat itu terpotong oleh Ibnu Ummi Maktum. Dan Kondisi Ibnu Ummi Maktum juga tidak sepenuhnya salah karena kebutaannya yang menyebabkan tidak mengetahui kondisi yang tengah terjadi pada Nabi SAW saat itu. Namun  Allah menegur Nabi SAW karena Allah menghendaki Nabi tidak bersikap terhadap ibnu Ummi Maktum seperti itu.  Lalu Allah SWT memberikan alasannya dengan firmanNya :

وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى (3) أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى (4)

Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?

Hal ini menunjukkan bahwa manusia seperti nabipun tidak mengetahui isi hati seorang hambanya, apakah yang hendak ia lakukan, sebagaimana yang difikirkan Nabi terhadap ibn Ummi Maktum. Demikian juga yang nabi fikirkan dan harapkan dari para pembesar quraisy waktu itu.

Lalu Allh SWT memberikan pengajaran berikutnya :

أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى (5) فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى (6) وَمَا عَلَيْكَ أَلا يَزَّكَّى (7)

Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).

Saat itu nabi melayani dan menjamu secara baik, dengan harapan keislaman mereka akan membawa kebaikan  terhadap kaummya. Padahal tidak ada jaminan yang kaya dan yang memiliki jabatan itu akan dengan mudah memeluk Islam. Dan tidak ada celaan  bagi Muhammad SAW  untuk tidak memprioritaskannya.

Pada ayat 7 ini mengandung pengertian,  Allah tidak menuntut atas apa yang dilakukan (Nabi), jika mereka tidak membersihkan diri ( beriman). (Ibn Katsir, juz 30/398)

Lalu Allah perbandingkan dengan firmanNya :

وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى (8) وَهُوَ يَخْشَى (9) فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى (10)

Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya.

Prioritas dakwah ini hendaklah dilakukan bukan karena kedudukan dan kekayaannya, karena teguran Allah ini mengandung maksud, bahwa janganlah engkau berharap keIslaman mereka dan janganlah menyibukkan diri dengan ajakan kepada mereka kemudian memalingkan muka dari orang yang telah tertanam dalam jiwanya keimanan yang baik kepada Allah. Dari teguran inilah Nabi saw. setelah itu, apabila datang Abdullah bin Umi Maktum berkunjung kepadanya, beliau selalu mengatakan, “Selamat datang orang yang menyebabkan Rabbku menegurku karenanya,” lalu beliau menghamparkan kain serbannya sebagai tempat duduk Abdullah bin Umi Maktum.

Kesimpulan :

    1. Manusia tidak mampu mengetahui isi hati orang lain, terkait apakah ia akan masuk Islam atau tidak, mau menerima dahwah atau menolaknya.
    2. Memprioritaskan dakwah agar memeluk Islam pada orang terpandang, pemimpin atau orang kaya dibanding orang lemah adalah sikap yang tidak tepat. Karena boleh jadi orang-orang lemah itulah yang sejatinya ingin membersihkan dir dari dosa,  dan masuk Islam.
    3. Nabi dan para pengemban dahwah hendaklah menyadari bahwa nabi hanyalah pemberi peringatan saja ( dakwah).
    4. Manusia tidak dituntut atas hasil dakwah ( tapi proses dakwahnya), Sedang kehendak memeluk Islam sepenuhnya ada pada obyek dakwah dan hidayah dari Allah SWT semata.  Wallahu a’lam bi ash-shawab. Arif AlQondaly

 

 

Referensi :

Tafsir Al Maraghi, Juz 30, hal 27
Tafsir Ibn Katsir, Juz 30, hal 398
Tafsir Jalalain, Juz 30,

TAFSIR SURAT ANNUR AYAT 55 | JANJI AKAN KEMENANGAN ISLAM

ISLAM PASTI AKAN MENANG

Allah SWT berfirman :

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun  dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah ( janji )  itu, maka  mereka itulah orang-orang yang  fasik [ QS, An Nur 24:55]

Para ulama ahli tafsir seperti al-Qurthubi rahimahullâh (wafat: 671-H) berpendapat bahwa janji Allâh dalam ayat tersebut berlaku umum untuk seluruh umat Muhammad  Dalam tafsirnya berliau mengatakan:

هَذِهِ الْحَالُ لَمْ تَخْتَصَّ بِالْخُلَفَاءِ الْأَرْبَعَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ حَتَّى يُخَصُّوا بِهَا مِنْ عُمُومِ الْآيَةِ، بَلْ شَارَكَهُمْ فِي ذَلِكَ جَمِيعُ الْمُهَاجِرِينَ بَلْ وَغَيْرُهُم… فَصَحَّ أَنَّ الْآيَةَ عَامَّةٌ لِأُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرُ مَخْصُوصَةٍ.

Janji Allâh ini tidak terbatas hanya untuk Khulafâ-ur Râsyidîn radhiallâhu’anhum saja, sampai harus dikhususkan dari keumuman ayat. Bahkan segenap Muhâjirîn dan kaum muslimin yang lain juga masuk dalam janji-janji ayat ini (tentu saja jika syarat-syaratnya terpenuhi-pen)… sampai pada ucapan beliau… Maka pendapat yang shahih adalah bahwa ayat ini berlaku umum untuk umat Muhammad r , tidak bersifat khusus (untuk generasi tertentu dari umat ini-pen).[Tafsîr al-Qurthubi: 12/299]

Al-Imâm as-Sa’di rahimahullâh (wafat: 1376-H) mengatakan:

لا يزال الأمر إلى قيام الساعة، مهما قاموا بالإيمان والعمل الصالح، فلا بد أن يوجد ما وعدهم الله، وإنما يسلط عليهم الكفار والمنافقين، ويُديلهم في بعض الأحيان، بسبب إخلال المسلمين بالإيمان والعمل الصالح.

“(Janji Allâh dalam ayat ini) akan senantiasa berlaku sampai hari kiamat, selama mereka (kaum muslimin) menegakkan iman dan amal shalih. Diraihnya apa yang telah dijanjikan Allâh, adalah sebuah kepastian. Kemenangan orang-orang kafir dan munafik pada sebagian masa, serta berkuasanya mereka di atas kaum muslimin, tidak lain disebabkan oleh pelanggaran kaum muslimin dalam iman dan amal shalih.” [Tafsîr as-Sa’di hal. 573]

Makna “Wa’amilush shâlihât…”

Ibnu Jarîr ath-Thabari menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan “wa’amilush shâlihât” dalam ayat ini adalah; (وأطاعوا الله ورسوله فيما أمراه ونهياه); “mereka menaati Allah dan Rasul-Nya pada perkara yang diperintahkan dan perkara yang dilarang oleh keduanya.” [lih. Tafsîr ath-Thabari: 19/209]

Dalam konteks kekuasaan, ada 4 jenis amalan lahiriyah yang dijadikan indikasi oleh para ulama atas kekhalifahan Islam yang termasuk dalam janji ayat ini. Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah rahimahullâh mengatakan:

وَصَلَاحُ أَمْرِ السُّلْطَانِ بِتَجْرِيدِ الْمُتَابَعَةِ لِكِتَابِ اللَّهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ وَنَبِيِّهِ وَحَمْلِ النَّاسِ عَلَى ذَلِكَ فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ جَعَلَ صَلَاحَ أَهْلِ التَّمْكِينِ فِي أَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ: إقَامُ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَر

Kebaikan seorang penguasa adalah dengan memurnikan ittibâ’ pada Kitabullâh dan Sunnah Rasul-Nya, serta menjadikan orang-orang untuk melakukan hal yang sama. Karena Allâh telah menjadikan kebaikan bagi Ahlut Tamkîn dengan adanya 4 perkara; penegakan shalat, penunaian zakat, amar ma’ruf dan nahi munkar. [Majmû’ al-Fatâwa: 28/242]

Apa yang diungkapkan oleh Ibnu Taimiyyah tersebut, didasarkan pada firman Allah:

الَّذِينَ إنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ

“(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar…” [QS. Al-Hajj: 41]

Dikatakan amal shaleh

Perlu digaris bawahi bahwa suatu amalan harus memenuhi dua syarat agar bisa dikategorikan sebagai “amal yang shâlih”; pertama, amal tersebut harus dilakukan ikhlas karena Allâh, dan kedua, amal tersebut punya landasan syar’i dari sunnah Rasulullâh  yang shahîh. Dengan demikian, amalan-amalan bid’ah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullâh  dan Khulafâ-ur Râsyidîn, tidak termasuk dalam lingkup definisi “amal yang shâlih”.

Amalan bid’ah yang banyak merebak di tengah-tengah kaum muslimin sedikitpun tidak memberikan saham dalam membangun kekuatan umat Islam. Justru sebaliknya, amalan bid’ah adalah racun yang melemahkan persatuan kaum muslimin. Tidaklah umat Islam berpecah belah dari masa ke masa menjadi sekian banyak sekte dan aliran, melainkan bid’ah—khususnya dalam bentuk ideologi dan pemikiran—, pasti telah mengambil peran yang besar di dalamnya.

Amalan yang bisa mewujudkan janji-janji Allah dalam ayat di atas adalah amalan yang benar, amalan yang sesuai dengan tuntunan Rasulullâh r. Bukan amalan-amalan bid’ah, sekalipun mayoritas manusia menganggapnya sebagai amalan yang baik.

Makna “Ya’budûnanî…”

Dalam Tasîr ath-Thabari disebutkan bahwa makna (يَعْبُدُوْنَنِيْ) adalah (يخضعون لي بالطاعة ويتذللون لأمري ونهيي); “Mereka menundukkan diri pada-Ku dengan ketaatan, dan mereka menghinakan diri di bawah perintah-Ku dan larangan-Ku.” Mujahid rahimahullâh mengatakan: (يَعْبُدُوْنَنِيْ) yaitu (لا يخافون غيري); “Mereka tidak takut kepada selain-Ku.”

Sedangkan makna (لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا) adalah (لا يشركون في عبادتهم إياي الأوثان والأصنام ولا شيئا غيرها، بل يخلصون لي العبادة فيفردونها إليَّ دون كل ما عبد من شيء غيري); “Mereka tidak menyekutukan Aku dalam peribadatan mereka kepada-Ku dengan sesuatu apapun seperti berhala dan patung-patung, akan tetapi mereka memurnikan peribadatan hanya untuk-Ku. Mereka mengkhususkan ibadah tersebut hanya untuk-Ku, tidak untuk segala macam sesembahan selain-Ku.”

Nah, jika kita renungkan hakikat makna “Ya’budûnani” lalu kita bandingkan dengan realita umat Islam saat ini, maka mau tidak mau kita akan mengakui bahwa umat di zaman ini masih jauh dari kemurnian tauhid. Masih banyak di antara saudara-saudara kita yang terjerembab dalam kubangan lumpur kesyirkan; mereka thawaf di kuburan, meminta-meminta di kuburan orang shalih (berharap agar shâhibul kubur bisa memberikan “uluran tangan” dari alam ghaib, sebagai mediator untuk mereka kepada Sang Khâlik atas segala hajat sekaligus musibah dan kesedihan mereka). Belum lagi maraknya praktek klenik-perdukunan, menjamurnya orang-orang yang terbuai oleh janji-janji ramalan bintang, trend Feng-shui, dan kepercayaan akan kekuatan alam yang mandiri dan lepas dari Qudrâtullâh (kuasa Allâh).

Di sisi yang lain, manusia-manusia moderen yang skeptis (tidak percaya) pada hal-hal yang berbau klenik dan mistik, malah jatuh pada bentuk kesyirikan yang lain, yaitu ketidakpercayaan terhadap perkara-perakara ghaib yang termaktub dalam al-Qur’ân dan hadits-hadits yang shahih. Sehingga lahirlah keangkuhan atheisme yang mengingkari eksistensi Allâh (padahal fitrah mereka meyakini keberadaan-Nya)

Penyebab Utama Rasa Takut & Ketidakamanan

Al-Qur’ân menegaskan bahwa penyebab utama rasa takut yang merasuki orang-orang yang tidak beriman kepada Allâh adalah semata-mata karena kesyirikan mereka. Allâh berfirman:

سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ

“Kami akan campakkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, disebabkan mereka telah berbuat syirik kepada Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak pernah menurunkan keterangan tentangnya. Tempat kembali mereka adalah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang yang zhalim.” [QS. Ali ‘Imran: 151]

نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ عَلَى الْعَدُوِّ

Aku (Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam) ditolong (oleh Allah dengan dicampakkannya rasa takut di hati) musuh-musuhku.” [Shahih Muslim no. 523]

Maka jangan sampai kondisi tersebut berbalik justru menimpa kita, gara-gara kesyirikan yang tumbuh marak di tengah-tengah kaum muslimin.

Renungkanlah sabda Rasulullâh r berikut ini:

عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ، قَالَ: بَيْنَا أَنَا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ أَتَاهُ رَجُلٌ فَشَكَا إِلَيْهِ الفَاقَةَ، ثُمَّ أَتَاهُ آخَرُ فَشَكَا إِلَيْهِ قَطْعَ السَّبِيلِ، فَقَالَ: «يَا عَدِيُّ، هَلْ رَأَيْتَ الحِيرَةَ؟» قُلْتُ: لَمْ أَرَهَا، وَقَدْ أُنْبِئْتُ عَنْهَا، قَالَ «فَإِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَاةٌ، لَتَرَيَنَّ الظَّعِينَةَ تَرْتَحِلُ مِنَ الحِيرَةِ، حَتَّى تَطُوفَ بِالكَعْبَةِ لاَ تَخَافُ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ، – قُلْتُ فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَ نَفْسِي فَأَيْنَ دُعَّارُ طَيِّئٍ الَّذِينَ قَدْ سَعَّرُوا البِلاَدَ -، وَلَئِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَاةٌ لَتُفْتَحَنَّ كُنُوزُ كِسْرَى» ، قُلْتُ: كِسْرَى بْنِ هُرْمُزَ؟ قَالَ: ” كِسْرَى بْنِ هُرْمُزَ، وَلَئِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَاةٌ، لَتَرَيَنَّ الرَّجُلَ يُخْرِجُ مِلْءَ كَفِّهِ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍ، يَطْلُبُ مَنْ يَقْبَلُهُ مِنْهُ فَلاَ يَجِدُ أَحَدًا يَقْبَلُهُ مِنْهُ … قَالَ عَدِيٌّ: فَرَأَيْتُ الظَّعِينَةَ تَرْتَحِلُ مِنَ الحِيرَةِ حَتَّى تَطُوفَ بِالكَعْبَةِ لاَ تَخَافُ إِلَّا اللَّهَ [ص:198]، وَكُنْتُ فِيمَنِ افْتَتَحَ كُنُوزَ كِسْرَى بْنِ هُرْمُزَ وَلَئِنْ طَالَتْ بِكُمْ حَيَاةٌ، لَتَرَوُنَّ مَا قَالَ النَّبِيُّ أَبُو القَاسِمِ: صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخْرِجُ مِلْءَ كَفِّه

“Dari ‘Ady bin Hâtim dia menceritakan: ‘Suatu ketika aku berada di sisi Nabi r tiba-tiba seorang pria menghampiri beliau seraya mengeluhkan kefakiran yang menimpanya. Kemudian datang pria lain mengeluhkan maraknya perampokan di jalan (tidak ada rasa aman)’. Lantas beliau r berkata: ‘Wahai ‘Ady, pernahkah engkau melihat Hîrah (sebuah tempat di Iraq, dekat Kûfah)’. Aku katakan: ‘Aku belum pernah melihatnya, namun aku pernah dikabari tentangnya’. Beliau r berkata: ‘Jika umurmu panjang, sungguh engkau akan melihat seorang wanita akan melakukan perjalanan dari Hîrah untuk thawaf di Ka’bah, dia tidak merasa takut kepada siapapun kecuali hanya pada Allâh’. Aku berkata dalam hati: ‘Lantas kemana perginya, orang-orang bejat yang membuat fitnah dan huru-hara di negeri-negeri?’ Beliau r berkata: ‘Jika usiamu panjang, sungguh suatu saat akan dibuka perbendaharaan Raja Kisrâ’. Aku berkata: ‘Kisrâ bin Hurmuz’? Beliau r berkata: ‘Ya, Kisrâ bin Hurmuz. Andaikata umurmu masih panjang, engkau akan menyaksikan seorang mengeluarkan segenggam penuh emas atau perak di tangannya, dia mencari orang yang sudi menerimanya, namun ia tidak mendapatkan seorangpun yang mau menerimanya’… … ‘Ady berkata: ‘Aku telah menyaksikan ada seorang wanita yang bepergian dari Hîrah sampai ia thawaf di Ka’bah, tidak ada seorangpun yang ia takuti kecuali hanya Allah. Dan aku (kata ‘Ady) adalah termasuk orang yang menaklukkan Kerajaan Kisrâ dan membuka perbendaharaannya. Sungguh jika umur kalian panjang, kalian akan menyaksikan kebenaran sabda Rasulullâh r tentang laki-laki yang mencari-cari orang yang sudi menerima pemberian emasnya (inilah gambaran betapa makmur, aman dan tentramnya kehidupan umat Islam saat itu, dan ini merupakan janji yang bersifat pasti -pen).” [Shahîh al-Bukhâri: 3595]

Abu Hurairah radhiallâhu’anhu meriwayatkan bahwasanya Rasulullâh  pernah bersabda:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ، فَيَقْتُلُهُمُ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ، فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوِ الشَّجَرُ: يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ اللهِ هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي، فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ، إِلَّا الْغَرْقَدَ، فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ

“Kiamat tidak akan terjadi sampai kaum muslimin memerangi Yahudi. Kaum muslimin membinasakan mereka sampai-sampai mereka bersembunyi di balik batu dan pepohonan, maka saat itulah batu dan pohon berkata: ‘Wahai muslim, wahai hamba Allâh, ini Si Yahudi bersembunyi di balikku, kemari! Bunuhlah dia! Kecuali pohon Gorqod, karena ia adalah pohon Yahudi.” [Shahîh Muslim: 2922]