Category Archives: hukum islam

HUKUM WARIS MERATA DALAM ISLAM

HUKUM WARIS MERATA ANAK LAKI DAN PEREMPUAN BOLEHKAH?

Banyak dikalangan ummat Islam yang belum faham ketentuan syariat Islam, dalam hal ini tentang hukum waris. Sehingga  seakan meremehkan ketentuan hukum tersebut [ faraidh ] yang sudah dijelaskan di dalam al Qur’an Surat An Nisa ayat 11-12 secara  rinci. Akibatnya  tidak sedikit muncul pemikiran yang mengatakan bolehnya membagi harta waris sama rata baik anak laki atau perempuan. Mereka beralasan selama   ikhlas,  dan untuk kemaslahatan keluarga.

Oleh karena itu mengkaji tentang ilmu faraidh / Ilmu Waris itu sangat urgen sekali bagi umat Islam, disamping suatu kewajiban yang  yang harus ditunaikan. Mengapa demikian, karena ilmu faraidh itu yang pertama-tama akan ditinggalkan ummat Islam sebagaimana Rasulullah SAW telah bersabda :

Dari Abu Hurairah ra, bahwa nabi SAW bersabda : “Pelajarilah faraidh dan ajarkanlah kepada manusia, karena faraidh adalah separuh dari ilmu dan akan dilupakan. Faraidhlah ilmu yang pertama kali dicabut dari ummatku” [ HR. Ibnu Majah dan AdDaruqutni]

Jika ilmu itu telah dicabut,  maka yang ada adalah kebodohan [ Jahlun], yang berujung pada pelanggaran terhadap aturan-aturan dari Allah SWT.  Padahal ketika Allah SWT telah menetapkan aturan atau hukum, tidak patut bagi muslim atau muslimah membuat aturan sendiri. Allah Maha Adil, dan Allah mengetahui apa yang terbaik bagi  hambanya. Allah SWT berfirman :

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا

Artinya : “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al Ahzab : 36)

Kalau kita merujuk pada QS An Nisa ayat 11, sebenarnya diakhir ayat ini telah ditegaskan tentang ketentuan syariat yang semestinya dipatuhi seorang hamba,  dengan firmanNya :

يُوصِيكُمُ اللّهُ فِي أَوْلاَدِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأُنثَيَيْنِ

Artinya : “Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan.” (QS. An Nisaa : 11)

Lalu, secara tegas ketentuan pembagian waris yang terdapat dalam QS An Nisa ayat 11-12 itu ditegaskan kembali dalam firman Nya pada ayat berikutnya QS. An nisa ayat 13 :

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. [ QS. AN Nisa : 13 ]

Mafhum Mukholafah ( mafhum kebalikannya ) adalah, jika hukum waris itu telah ada ketentuannya dari Allah, artinya telah disyariatkan secara tegas, maka barangsiapa menyelisihi atau mengambil aturan baru, ancamannya adalah Neraka. Sebaliknya Syurga bagi yang mengikuti ketentuanNya.

Kesimpulannya :

  1. Hukum waris yang sesuai ketentuan di dalam Al Qur’an tidak boleh dirubah dengan pembagian merata ( semisal anak anak laki-laki dan anak perempuan dibagi sama), kendati dengan niat ikhlas dan untuk kemaslahatan keluarga.
  2. Jika pembagiannya dilakukan sebelum orang tua meninggal, maka dibolehkan dibagi hingga merata, sebagai bentuk hibah dari orang tua, dengan pembagian yang makruf dan adil.
  3. Jika harus dibagi rata ketika orang tua sudah meninggal, maka tetap harus dibagi sesuai ketentuan hukum waris terlebih dahulu, baru bagi si anak laki-laki boleh memberikan kepada si anak perempuan sebagai hibah, dan tidak ada syarat sebelum pembagian waris. Artinya harta waris si anak laki boleh diberikan sebagian dan boleh tidak, karena tidak mengikat. Allahu A’lam bi ash-showab [ Arif TH Al Qondaly ]

 

Sumber :
Tafsir Ibnu Katsir , Juz 4 / 368
Fiqh Sunnah Juz 12,13,14 hal 255

Advertisements

HUKUM WANITA / MUSLIMAH NAIK TAXI

Hukum  Wanita naik Taxi  saat ini marak ditanyakan kaum muslimah karena maraknya taxi online semisal grab dan lainnya yang menawarkan taxi dengan mudah, cepat dan biaya yang murah. Karena ketidak hati-hatiannya atau karena kurang paham erhadap hukum Islam terkait masalah khalwat, banyak kaummuslimin yang melangarnya.

Oleh karena itu tulisan ini akan menjelaskan  hukum boleh dan tidaknya seorang wanita  naik taxi dengan driver seorang laki-laki non mahram dan berada dalam mobil berdua.

Hukum Umum terkait dengan khalwat.

Berduaan seorang  wanita dengan laki-laki non mahram hukum asalny adah haram sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam,

لا يخلون رجل بامرأة إلا مع ذي محرم

Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan perempuan kecuali bersama mahramnya.

Demikian juga sangat tegas larangan berduaan laki-laki -perempuan non mahram ( khalwat ) sebagaimana sabda nabi SAW :

وما من رجل خلا بامرأة إلا كان ثالثهما الشيطان

Tidaklah seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang wanita kecuali ketiganya adalah setan.”

Bagaimana hukum seorang wanita naik taxi dengan sopir laki-laki non mahram?

Seorang syeikh ditanya tentang seorang wanita yang naik taxi sendirian , padahal berduaan dengan sopir laki-laki non mahram, jawabnya sebagai berikut :

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله صلى الله عليه وسلم، وبعد

Tidak mengapa wanita naik taksi (dengan posisi) di belakang supir taksi, di daerah yang banyak rumah dan banyak orang di sana. Sehingga orang-orang bisa melihatnya dan juga bisa melihat di supir taksi. Namun ini ketika terdesak untuk melakukannya.

Oleh karena itu, maka hendaknya tidak bermudah-mudah dalam melakukan hal ini, kecuali karena darurat sebagaimana sudah saya sebutkan.

Adapun jika di daerah yang di jalannya tidak banyak rumah-rumah, maka dalam kondisi ini tidak diperbolehkan. Demikian juga jika melakukan perjalanan safar, juga tidak diperbolehkan. Tidak halal bagi seorang wanita untuk bersafar berdua saja dengan supir taksi. Demikian juga tidak diperbolehkan jika safarnya hanya ditemani teman wanita, karena seorang wanita itu bukan mahram safar bagi wanita yang lain. [Sumber Fatwa Syaikh Musthafa Al Adawi dalam : http://mostafaaladwy.com/play-8086.html ]

Menurut penulis pendapat diatas terkait wanita yang naik taxi yang jelas identitas sebagai taxi resmi  seperti kosti, atlas, blue bird dan sejenisnya bukan taxi online  semisal go car.  Hukum terkait naik taxi online yang tidak jelas simbulnya sebagai taxi sebagai transportasi umum adalah haram karena masuk pada wilayah private. Karena hukumnya berlaku sama dengan naik mobil pribadi .

Oleh karena itu marilah sebagai seorang muslim dan muslimah untuk senantiasa menjaga kesucian dirinya, agar menjauhkan dari persoalan yang melanggar ketentuan batas-batas yang diharamkan Allah, dan juga senantiasa menjaga  harga diri dan menghindarkan diri dari fitnah . Allahu a’lam bi ash-showab [ Arif Tri Al Qondaly]

HUKUM MUSLIMAH NAIK OJEK

Masih banyak pertanyaan terkati Hukum Muslimah ( Wanita ) Naik Ojek dalam pandangan Islam. Hal ini terkait maraknya penyedia layanan ojek online seperti gojek, grab dan lainnya. Kendati keberadaannya ( ojek Online) cukup membantu , namun masyarakat khususnya akhwat/muslimah perlu mengetahui hukumnya dalam pandangan Islam.

Bagaimana hukum wanita naik ojek dalam pandangan Islam?

Hukum terkait wanita naik ojek, bisa dilihat di dalam Hadits no. 4849 dalam kitab Sahih Bukhari; dan hadits no. 2182 dalam kitab Sahih Muslim tentang Asma binti Abu Bakar (saudari Aisyah dan ipar Nabi) yang pernah diajak naik unta bersama Nabi (boncengan bersama dalam satu kendaraan):

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، قَالَتْ : ” تَزَوَّجَنِي الزُّبَيْرُ وَمَا لَهُ فِي الْأَرْضِ مِنْ مَالٍ وَلَا مَمْلُوكٍ وَلَا شَيْءٍ غَيْرَ نَاضِحٍ وَغَيْرَ فَرَسِهِ ، فَكُنْتُ أَعْلِفُ فَرَسَهُ وَأَسْتَقِي الْمَاءَ وَأَخْرِزُ غَرْبَهُ وَأَعْجِنُ ، وَلَمْ أَكُنْ أُحْسِنُ أَخْبِزُ ، وَكَانَ يَخْبِزُ جَارَاتٌ لِي مِنْ الْأَنْصَارِ وَكُنَّ نِسْوَةَ صِدْقٍ وَكُنْتُ أَنْقُلُ النَّوَى مِنْ أَرْضِ الزُّبَيْرِ الَّتِي أَقْطَعَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَأْسِي وَهِيَ مِنِّي عَلَى ثُلُثَيْ ، فَرْسَخٍ ، فَجِئْتُ يَوْمًا وَالنَّوَى عَلَى رَأْسِي ، فَلَقِيتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَهُ نَفَرٌ مِنْ الْأَنْصَارِ ، فَدَعَانِي ، ثُمَّ قَالَ : إِخْ إِخْ ، لِيَحْمِلَنِي خَلْفَهُ فَاسْتَحْيَيْتُ أَنْ أَسِيرَ مَعَ الرِّجَالِ وَذَكَرْتُ الزُّبَيْرَ وَغَيْرَتَهُ وَكَانَ أَغْيَرَ النَّاسِ ، فَعَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِّي قَدِ اسْتَحْيَيْتُ ، فَمَضَى ، فَجِئْتُ الزُّبَيْرَ ، فَقُلْتُ : لَقِيَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى رَأْسِي النَّوَى وَمَعَهُ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِهِ ، فَأَنَاخَ لِأَرْكَبَ فَاسْتَحْيَيْتُ مِنْهُ وَعَرَفْتُ غَيْرَتَكَ ، فَقَالَ : وَاللَّهِ لَحَمْلُكِ النَّوَى كَانَ أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ رُكُوبِكِ مَعَهُ ، قَالَتْ : حَتَّى أَرْسَلَ إِلَيَّ أَبُو بَكْرٍ بَعْدَ ذَلِكَ بِخَادِمٍ يَكْفِينِي سِيَاسَةَ الْفَرَسِ فَكَأَنَّمَا أَعْتَقَنِي ” .

Ringkasan atinya : Dari Asma bin Abu Bakar … Suatu hari saya datang ke kebun Zubair (suami saya) dan memanggul benih di atas kepala saya. Di tengah jalan saya bertemu Rasulullah bersama sekolompok orang dari Sahabat Anshar. Lalu Nabi memanggilku dan menyuruh untanya (dengan mengatakan “ikh .. ikh”) agar merunduk untuk membawaku di belakang Nabi.

Dalam menganalisa hadits ini, Imam Nawawi dalam Syarh Muslim XIV/166 , menyatakan:

. وفي هذا الحديث جواز الإرداف على الدابة إذا كانت مطيقة ، وله نظائر كثيرة في الصحيح سبق بيانها في مواضعها . وفيه ما كان عليه صلى الله عليه وسلم من الشفقة على المؤمنين والمؤمنات ورحمتهم ومواساتهم فيما أمكنه . وفيه جواز إرداف المرأة التي ليست محرما إذا وجدت في طريق قد أعيت ، لا سيما مع جماعة رجال صالحين ، ولا شك في جواز مثل هذا . وقال القاضي عياض : هذا خاص للنبي صلى الله عليه وسلم بخلاف غيره ، فقد أمرنا بالمباعدة من أنفاس الرجال والنساء ، وكانت عادته صلى الله عليه وسلم مباعدتهن لتقتدي به أمته ، قال : وإنما كانت هذه خصوصية له لكونها بنت أبي بكر ، وأخت عائشة ، وامرأة الزبير ، فكانت كإحدى أهله [ ص: 339 ] ونسائه ، مع ما خص به صلى الله عليه وسلم أنه أملك لإربه . وأما إرداف المحارم فجائز بلا خلاف بكل حال . قولها ( أرسل إلى بخادم ) أى جارية تخدمنى يقال للذكر والأنثى خادم بلا هاء قولها فى الفقير الذى استأذنها فى أن يبيع فى ظل دارها وذكرت الحيلة فى استرضاء الزبير هذا فيه حسن الملاطفة فى تحصيل المصالح ومداراة أخلاق الناس فى تتميم ذلك والله أعلم

Artinya: Hadits ini menunjukkan bolehnya berboncengan (antara lelaki dan perempuan bukan mahram) pada satu kendaraan apabila wanita itu seorang yang taat agamanya. Dalam soal hadits ini ada banyak pendapat ulama yang berbeda antara lain: (a) adanya sifat belas kasih Nabi pada umat Islam baik laki-laki dan perempuan dan berusaha membantu sebisa mungkin ; (b) Pendapat lain menyatakan bolehnya membonceng perempuan yang bukan mahram apabila dia ditemukan di tengah jalan dalam keadaan kecapean. Apalagi kalau bersama sejumlah laki-laki lain yang saleh. Dalam konteks ini maka tidak diragukan kebolehannya.; (c) Menurut Qadhi Iyad bolehnya ini khusus untuk Nabi saja, tidak yang lain. (Karena) Nabi telah menyuruh kita agar laki-laki dan perempuan. saling menjauhkan diri. Dan biasanya Nabi menjauhi para perempuan dengan tujuan supaya dikuti umatnya. Kasus ini adalah kasus khusus karena Asma adalah putri Abu Bakar, saudari Asiyah alias ipar dan istri dari Zubair. Maka, seakan Asma itu seperti salah satu keluarganya… Adapun lelaki membonceng wanita mahram maka hukumnya boleh secara mutlak dalam segala kondisi.

Berkaitan dengna sarah diatas dan berdasar fakta tunggangan yang dipakai nabi saat membonjengkan Asma, dapat diambil pendapat ( disimpulkan ) sebagai berikut ::

  1. Dibolehkan muslimah naik ojek  dengan beberapa pertimbangan, jika terdapat sekat antara driver dengan penumpangnya seperti punuk onta antara nabi dengan asma’. Sehingga tidak terjadi bersinggungan badan atau kulit. Namun jika tidak ada sekat yang jelas seperti ojek online hukumnya haram.
  2. Dalam perjalanan dekat yang tidak melewati batas safar dan berada di tempat atau melewati tempat yang ramai bukan sepi sehingga tidak menimbulkan fitnah dan membahayakan muslimahnya.
  3. Dalam keadaan darurat ,  dimana tidak ada lagi alternatif kendaraan lainnya, sementara  wanita tersebut membutuhkan tunggangan untuk segera melakukan perjalanan. Allahu a’lam bi ash Showab. ( Arif Tri Al Qondaly)

 

 

HUKUM WANITA BEPERGIAN ( SAFAR ) TANPA MAHRAM

Bagaimana hukum wanita bepergian ( safar) tanpa mahram? Dalam hal ini sebenarnya tidak ada pertentangan di kalangan ulama tentang larangan safar seorang wanita lebih dari sehari semalam tanpa Mahram. Namu ketika memahami illat ( sebab munculnya hukum) terkait larangan safar,para ulama berbeda pendapat.

Pendapat pertama tetap menggunakan keumuman dalil atas larangan safar, tanpa ada syarat dan sebab-sebab yang bisa diterima. Sedang pendapat kedua, menggunakan kaedah yang intinya , wanita bisa safar tanpa disertai mahram, asal dilakukan rombongan para wanita yang secara gholabatu adz-adzan ( dugaan kuat) dijamin aman dan tidak menimbulkan fitnah. Misalnya dalam hal safar  haji di zaman sekarang ini. Dalam hal ini penulis hanya memaparkan kedua pendapat yang berseberangan dan kami rangkum seperti dibawah ini.

Dalil Larangan Wanita Berpergian tanpa Mahram

  1. Ibnu Umar rodhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda yang artinya,”Tidak diperbolehkan bagi wanita untuk bepergian selama tiga hari kecuali bersama mahromnya.”.”
  2. Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,”Tidak halal bagi wanita untuk bepergian sejauh perjalanan sehari semalam kecuali bersama mahromnya.” (Muttafaqun ‘alaihi).
  3. Hadist Ibnu Abbas: radhiyallahu ‘anhumabahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabdas :

“Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berkholwat (berduaan) dengan seorang wanita dan janganlah sekali-kali seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya”. Lalu ada seorang laki-laki yang bangkit seraya berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah mendaftarkan diriku untuk mengikutu suatu peperangan sedangkan istriku pergi menunaikan hajji”. Maka Beliau bersabda: “Tunaikanlah hajji bersama istrimu” (HR Bukhori)

Dalil Bolehnya Wanita Safar tanpa Mahram

  1. Seorang wanita muslimah dibolehkan melaksanakan ibadah haji tanpa mahram.  Dan mahram bukanlah syarat wajib haji bagi seorang wanita muslimah. Ini adalah pendapat Hasan Basri, Auza’I, Imam Malik Syafi’I, dan Ahmaddalam salah satu riwayat dari beliau, serta pendapat Dhahiriyah. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Taimiyah dalam riwayat terakhir beliau. (al-Majmu’: 8/382, al-Furu’: 3/ 177). Juga diriwayatkan dari al-Karabisi salah satu ulama Syafi’iyah yang membolehkan wanita melakukan safar mustahab tanpa disertai mahram.
  2. Imam Malik menyatakan bahwa mahram bisa diganti dengan rombongan wanita yang bisa dipercaya selama perjalanan aman. Berkata Imam al Baji al-Maliki :

“Adapun yang disebut oleh sebagian ulama dari teman-teman kami, itu dalam keadaan sendiri dan jumlah yang sedikit. Adapun dalam keadaan jumlah rombongan sangat banyak, sedang jalan – yang dilewati – adalah jalan umum yang ramai dan aman, maka bagi saya keadaan tersebut seperti keadaan dalam kota yang banyak pasar-pasarnya dan para pedagang yang berjualan, maka seperti ini dianggap aman bagi wanita yang bepergian tanpa mahram dan tanpa teman wanita. “ (al-Muntaqa : 3/17)

  1. “Dari Aisyah tatkala ada orang yang menyampaikan kepada beliau bahwa mahram adalah syarat wajib haji bagi wanita muslimah, beliau berkata:  “Apakah semua wanita memiliki mahram untuk pergi haji?!” (Riwayat Baihaqi)
  2. Kaidah Fiqhiyah.

“ Dalam masalah ibadah mahdha dasarnya adalah  ta’abbud, ( menerima apa adanya tanpa dicari-cari alasannya, seperti jumlah rekaat sholat) dan dalam masalah mu’amalat dasarnya adalah ta’lil.( ilat syar’iyyah) ”

  1. “Apa-apa yang diharamkan karena dzatnya, tidaklah dibolehkan kecuali dalam keadaan darurat, dan apa-apa yang diharamkan dengan tujuan menutup jalan ( kemaksiatan ), maka dibolehkan pada saat dibutuhkan “

Demikian seputar hukum safar bagi wanita tanpa mahrom. Terlepas dari perbedaan pendata di atas, kedua-duanya memiliki pendapat  ( hujjah) yang masuk dalam ra’yul islamiy dan harus dihormati.  Untuk mengetahui jarak atau batas safar bisa diklik hukum  safar dan jarak safar. Arif TH AL Qondaly.

 

 

 

 

 

 

 

 

HUKUM BERSERIKAT DALAM QURBAN ( PATUNGAN QURBAN )

Banyak dikalangan ummat Islam yang berselisih paham tentang hukum Patungan ( berserikat) dalam qurban. Padahal secara dalil telah jelas diterangkan Rasulullah SAW. Berikut tinjauan dalil tentang hukum Patungan ( berserikat) dalam ibadah qurban.

Dalil bolehnya berserikat (patungan) 7 orang di seekor sapi adalah hadits dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata:

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَشْتَرِكَ فِي الإِبِلِ وَالْبَقَرِ كُلَّ سَبَعَةٍ مِنَّا فِي بَدَنَةٍ

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan kami patungan pada sesekor unta dan sapi. Setiap 7 orang dari kami berserikat dalam satu ekor.” (HR. Muslim)

Dibolehkan urunan/patungan/berserikat  masimal 7 orang untuk qurban sapi atau onta. Namun tidak dibolehkan urunan lebih dari 7 orang untuk qurban sapi. Imam Ibnu Utsaimin mengatakan:

وتجزئ الواحدة من الغنم عن الشخص الواحد ، ويجزئ سُبع البعير أو البقرة عما تجزئ عنه الواحدة من الغنم ….  وإذا اشترك اثنان فأكثر في ملك أضحية يضحيان بها ، فهذا لا يجوز ، ولا يصح أضحية إلا في الإبل والبقر إلى سبعة فقط ، وذلك لأن الأضحية عبادة وقربة إلى الله تعالى ، فلا يجوز إيقاعها ولا التعبد بها إلا على الوجه المشروع زمناً وعددا وكيفية.

Satu kambing sah untuk qurban satu orang. Sementara sepertujuh onta atau sapi, sah untuk qurban senilai satu kambing. Jika ada dua orang atau lebih, urunan untuk qurban satu kambing, kemudian mereka jadikan qurban, ini hukumnya tidak boleh, dan qurbannya tidak sah, kecuali untuk onta atau sapi, maksimal 7 orang saja. Karena qurban adalah ibadah kepada Allah. Karena itu, tidak boleh dilaksanakan kecuali dengan aturan yang ditetapkan syariat, baik terkait waktu, jumlah orang yang ikut, atau tata caranya. ( Risalah Fiqhiyah, hlm. 58 – 59).

Sedangkan dalil satu ekor kambing boleh untuk satu orang dan anggota keluarganya adalah hadits dari Abu Ayyub Radhiyallahu ‘Anhu, “Ada seseorang di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berqurban seekor kambing untuk dirinya dan anggora keluarganya, lalu mereka makan dan membagikannya.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Tirmidzi dan beliau menyahihkannya)

Seekor kambing hanya untuk qurban satu orang dan boleh pahalanya diniatkan untuk seluruh anggota keluarga meskipun jumlahnya banyak atau bahkan yang sudah meninggal dunia.

كَانَ الرَّجُلُ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُضَحِّى بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ

Pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ada seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya.” [ HR. Tirmidzi no. 1505, Ibnu Majah no. 3138. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Al Irwa’ no. 1142.]

Asy Syaukani mengatakan, “(Dari berbagai perselisihan ulama yang ada), yang benar, qurban kambing boleh diniatkan untuk satu keluarga walaupun dalam keluarga tersebut ada 100 jiwa atau lebih. [Nailul Author, Asy Syaukani, 8/125, Mawqi’ Al Islam.]

Demikian penjelasan mengenai hukum patungan/urunan/berserikat dalam qurban, dan telah jelas dan tidak ada keraguan lagi. Sehingga dibolehkan maximal 7 orang untuk patungan qurban sapi, dan untuk kambing hanya 1 orang untuk satu ekor kambing. Sedang pahalanya bisa utuk 1 keluarga. Allahu a’lam bi ash-showab.

 

 

 

 

EMPAT AMALAN UTAMA RAMADHAN

Banyak amalan-amalan  utama dibulan ramadhan yang semestinya kita perhatikan. Diantara amal-amal di  bulan ramadhan itu ada 4 amalan yang sangat utama yang sebaiknya diperhatikan setiap muslim ketika memasuki bulan ramadhan.

(1). Perbanyak Taubat

 Mari kita renungkan hadits nabi SAW ini :

 رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَىَّ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ فَلَمْ يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ

“Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang disebutkanku, lalu dia tidak bershalawat atasku. Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang datang kepadanya Ramadhan kemudian bulan tersebut berlalu sebelum diampuni untuknya (dosa-dosanya). Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang mendapati kedua orangtuanya lalu keduanya tidak memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Tirmidzi).

يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَار
وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ

“Wahai hamba-hambaKu! Setiap siang dan malam kalian senantiasa berbuat salah, namun Aku mengampuni semua dosa. Karena itu, mohonlah ampunanKu agar Aku mengampuni kalian.” (Hadits Qudsi Riwayat Muslim 4674)

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran ayat 133)

(2). Perbanyak Tilawatul Qur’an

Nabi SAW bersabda :

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Alquran, karena ia akan datang pada hari kiamat memberikan syafaat kepada pembacanya.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ

Tidaklah berkumpul sebuah kaum di salah satu rumah Allah, mereka membaca kitab Allah dan mempelajarinya, kecuali akan turun ketentraman kepada mereka, diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat dan Allah akan menyebut mereka ke hadapan makhluk di sisi-Nya.” (HR. Muslim)

(3). Banyak Sedekah

Sebagaimana taubat, maka sedekah juga bisa menghapus dosa , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

والصدقة تطفىء الخطيئة كما تطفىء الماء النار

  “Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi, di dalam Shahih At Tirmidzi, 614)

Orang yang sedekah dapat masuk pintu di syurga dengan pintu khusus, sebagaimana sabdanya :

من أنفق زوجين في سبيل الله، نودي في الجنة يا عبد الله، هذا خير: فمن كان من أهل الصلاة دُعي من باب الصلاة، ومن كان من أهل الجهاد دُعي من باب الجهاد، ومن كان من أهل الصدقة دُعي من باب الصدقة

“Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah. (HR. Bukhari no.3666, Muslim no. 1027

Dapat pahala puasa orang yang sedekah pada orang yang puasa  sebagaimana sabdanya :

مَنْ فَطَرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ وَلَا يَنْقُصُ مِنْ اَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئٌ

 Barang siapa yang memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa itu” (Shohih Nasa’i dan Tirmidzi)

 (4). Lakukan  I’tikaf dan Berdo’a di Malam Lailatul Qodar

Keutamaan I’tikaf

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Thabrani dan Baihaqi, walau sebagian ulama tidak bersepakat atas keshohihannya namun hadits ini dapat diterima dan digunakan untuk keutamaan amal, dalam hal ini adalah i’tikaf:

عن ابن عباس رضى الله عنهما “ومن اعتكف يوما ابتغاء وجه الله جعل الله بينه وبين النار ثلاتة خنادق) كل خندق أبعد مما بين الخافقين . رواه الطبرانى والبيهقى والحاكم وصححه

Dari ibnu Abbas ra: “Barang siapa beri’tikaf satu hari karena mengharap keridhoaan Allah, Allah akan menjadikan jarak antara dirinya dan api neraka sejauh tiga parit, setiap parit sejauh jarak timur dan barat. (HR. Thabrani, Baihaqi dan dishohihkan oleh Imam Hakim)

Imam Al-Khatib dan Ibnu Syahin meriwayatkan hadits dari Tsauban ra meriwayatkan:

من اعتكف نفسه ما بين المغرب والعشاء فى مسجد جماعة لم يتكلم إلا بصلاة وقرآن كان حقا على الله تعالى أن يبنى له قصرا فى الجنة “.

Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang beri’tikaf antara Maghrib dan Isya di ةasjid, dengan tidak berbicara kecuali sholat dan membaca Al-Quran, maka Allah berhak membangunkan untuknya istana di surga.”

Do’a di Malam Lailatul Qodr

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab, “Katakanlah:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ  تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ [Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku].” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah.

Demikian empat amalan utama di bulan ramadhan, semoga menambah semangat kita untuk beribadah secara sungguh-sungguh di bulan yang penuh rahmat dan maghfirah ini. ( Arif Al Qondaly)

 

 

 

 

HUKUM BERGABUNG DENGAN IDB ( Bank Pembangunan Islam)

Bank Pembangunan Islam (IDB) didirikan pada tahun 1973, dalam konferensi Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang sekarang bernama Organisasi Kerjasama Islam. Bank Pembangunan Islam (IDB) adalah haram dan tidak sah menurut hukum Islam, meski disebut “Bank Islam”, sebab ia tidak lain adalah produk dari sistem kapitalis. Di mana sumber utama pendapatan bagi organisasi ini adalah keuntungan atas dasar suku bunga (riba) dan sejumlah transfer yang tidak sesuai dengan hukum Islam. Selain itu, bahwa Bank Pembangunan Islam ini dibuat oleh orang-orang kafir dan dijalankan melalui tangan para penguasa Muslim yang korup yang melayani orang-orang kafir.

Pertama: Bank Pembangunan Islam adalah alat di tangan orang-orang kafir untuk memisahkan dan mencegah kaum Muslim dari kembali pada perlindungan sistem ekonomi Islam. Kaum Muslim yang bergantung pada organisasi seperti Bank Pembangunan Islam ini, bahwa mereka melakukannya untuk mencari keselamatan dari masalah ekonomi mereka, atau untuk melaksanakan berbagai jenis proyek yang membutuhkan pembiayaan. Mereka ini lupa bahwa ada keputusan yang benar dalam Islam, yang menjamin kemakmuran bagi perekonomian mereka dan kesejahteraannya di dunia dan akhirat. Hal ini, pada gilirannya, akan menghentikan kaum Muslim dari perjuangan untuk mendirikan Negara Khilafah yang tegak di atas metode kenabian, ‘ala minhājin nubuwah, yang akan menjadi penyelamat dengan ajaran samawi (bersumber dari Allah SWT), sehingga bebas dari kesalahan, kerusakan atau kekejian.

Kedua: Bank Pembangunan Islam digunakan sebagai alat tekanan politik dan ekonomi, serta penjajahan pada negara kita. Di mana, dengan memberikan sejumlah dana untuk pengembangan sektor ekonomi tertentu di negara ini, maka orang-orang kafir tahu bahwa kediktatoran dan korupsi akan mendominasi di negara kita. Para pejabat dan mereka yang berkuasa, dipastikan akan mencuri sebagian besar dana, dan ini pasti akan membawa negara pada berbagai krisis akibat utang, yang akan meningkat dari waktu ke waktu, karena faktanya bahwa negara tidak akan mampu membayar secara tepat waktu. Hal ini pada gilirannya, akan memaksa para penguasa negara kita untuk menandatangani kontrak yang diperlukan yang memungkinkan orang-orang kafir dari menjarah sumber daya alam kita, dan melaksanakan kebijakan yang diperlukan bagi mereka, baik pada negara atau wilayah, di mana mereka akan memaksa kita untuk berperang melawan para demonstran Muslim dalam bentuk apapun, dan bahkan juga lebih dari itu.

Rasulullah saw bersabda: “Allah melaknat orang yang makan riba dan yang menyuruh memakannya.” (HR. Muslim, Tirmidzi dan Abu Dawud).

Sebagaimana Allah SWT berfirman: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (TQS. Al-Baqarah [2] : 275).

 

KHILAFAH TIDAK MEMBAHAYAKAN PANCASILA DAN NKRI

Diskursus tentang Khilafah Islamiyah, Pancasila dan NKRI tengah hangat di Indonesia akhir-akhir ini seiring dengan seruan pemerintah yang ingin membubarkan Ormas Islam legal Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Sebelum berfikir negatif tentang gagasan HTI yang dianggap bertentangan dengan ide Pancasila dan NKRI, mari simak terlebih dahulu  tulisan dibawah ini.

Khilafah Islam hanyalah institusi atau lembaga, yang esensinya adalah ” bagaimana lembaga tersebut dibawah seorang imam/kepala negara mampu menerapkan syariat Islam secara kaffah“. Oleh karena itu Institusi Khilafah Islamiyyah disebut dengan Imamah Islamiyyah.  Kepala negaranya disebut Kholifah,  Imam, atau amirul mu’minin. Tugas seorang Kholifah adalah memastikan diterapkannya Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Misi tersebut semata-mata perintah dari ajaran Islam, sebagaimana Firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.[ QS. Al Baqoroh : 208]

Apakah penerapan syariat Islam berarti membahayakan non muslim? Ini yang selalu diserukan kaum liberalis. Justru Nabi mengatakan pada ahlul zimmah, orang non muslim yang berada di Negara khilafah dengan mengatakan ;

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menzalimi seorang mu’ahid (ahlu zimmah), atau mengurangi haknya, atau membebaninya di atas kemampuannya, atau mengambil darinya sesuatu di luar haknya, maka aku menjadi lawannya di hari kiamat.” (HR Abu Daud)

Jika syariat Islam diterapkan apakah peribadatan selain Islam dilarang? Islam mempraktekkan toleransi sejak jaman nabi.  Melalui Piagam Madinah itu, Rasul saw. sebagai kepala negara menunjukkan bukti, betapa beliau sangat menghormati agama lain. Contoh, saat Rasul saw. melihat ada rombongan orang mengusung jenazah Yahudi melewati beliau, beliau sepontan berdiri (sebagai penghormatan). Sahabat protes, “Wahai Rasulullah, bukankah dia seorang Yahudi?”

Rasulullah saw. menjawab, “Bukankah dia manusia?

Di lain kesempatan, ketika Rasul saw. ditanya oleh para Sahabat tentang memberikan bantuan materi kepada non-Muslim, “Apakah kami boleh memberi bantuan kepada kaum Yahudi?”

Beliau menjawab, “Boleh, sebab mereka juga makhluk Allah, dan Allah akan menerima sedekah kita.”

Bagaiman dengan Pancasila?

Ketika Islam bisa diterapkan secara kaffah, sejatinya  nilai-nilai Pancasila akan membumi bersama penerapan syariat Islam tersebut. Ummat Islam mayoritas telah beranggapan bahwa tidak ada satu nilaipun dalam Pancasila yang bertentangan dengan hukum Islam. Namun Pancasila tidak akan bisa diterapkan tanpa terlebih dahulu diterapkan hukum Islam secara kaffah. Mengapa demikian, karena semua nilai-nilai yang ada di dalam Pancasila ada di dalam syariat Islam, dan secara riil tidak aplicable dalam sistem  demokrasi. Pancasila sebenarnya  kontradiktif  dalam system republik. Hak beragama ummat Islam secara kaffah  sesungguhnya terkebiri dalam alam demokrasi, namun “tragisnya” ummat Islam sendiri mengharapkan “kebaikan demokrasi” untuk Islam . Sebagai contoh, konsep demokrasi, kebenaran adalah suara mayoritas, maka kendati suara mayoritas salah, akan menjadi produk hukum.  Sedang dalam Islam kebenaran adalah apa yang datang dari sang Pencipta. Inilah esensi perbedaannya.

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ

“Kebenaran itu datang dari Rabb mu, maka janganlah sekali-kali kamu termasuk orang yang ragu.” (Q.S Al-Baqarah : 147)

Mengapa komunisme, marxisme, Lenisisme dilarang ? karena tidak  sesuai dengan nilai pancasila Pasal 1 (Ketuhanan yang Maha Esa). Sedang Islam esensi yang diajarkan adalah nilai tauhid ( keEsaan Allah) yang wujud konkritnya dalam kehidupan bernegara adalah diterapkannya hukum Islam. Namun perlu dipahami,  Islam dan syariat Islam adalah dua  hal yang tidak bisa dipisahkan ( ibarat dua sisi mata ulang).  Memisahkan keduanya artinya “sekulerisme”. Sampai disini, merupakan tantangan yang berat bagi ummat Islam,  dimana aqidahnya menganut Islam, sementara system kehidupannya menganut hukum Belanda (baca : sekuler). Maka wajarkah jika kehadiran Hizbut-Tahrir mencoba membuka  pemikiran ummat Islam, –yang  semula tidak pede dengan  ajaran Islam sendiri – dan juga kepada non Islam, untuk obyektif melihat keagungan syariat Islam, keindahan  dan keadilan Syariat Islam ketika  diterapkan dalam kehidupan.

Oleh karena itu, kita bisa lihat kiprah HTI,  disaat bangsa ini kebingungan mengelola SDA, Migas, pengelolaan Tenaga kerja, dan sebagainya, Hizbut Tahrir mencoba menyodorkan solusinya yang digali dari nilai-nilai syariat Islam. Hizbut Tahrir dalam menyerukan gagasannya tidak memaksakan kehendak, disinilah HTI hanyalah dakwah [ Menyeru ] ke tengah masyarakat umum dan para birokrat , agar menyadari, memahami dan mempertimbangkan ide dan gagasan yang diserukan HTI yang notabene adalah syariat Islam ( ajaran Islam) yang agung yang datang dari Allah SWT.

Bagaimana Dengan Sistem Republik ?

Indonesia menganut system Republik  yang berwujud  NKRI ( Negara Kesatuan Republik Indonesia). Sistem Republik didasarkan pada demokrasi, dimana kedaulatan berada pada tangan rakyat. Ini berarti, rakyat memiliki hak untuk membuat hukum dan konstitusi. Jika kita sadari, justru  konsep system Republik sebenarnya kontradiktif  dengan nilai luhur Pancasila. Karena output system republic ini adalah  Demokrasi sekuler yang menghalalkan segala cara, dan yang menuhankan selain Tuhan Yang Maha Esa ( Sila ke-1 ).

Di dalam Islam, kedaulatan berada di tangan syariat. Tidak ada satu orang pun dalam sistem Khilafah, bahkan termasuk Khalifahnya sendiri, yang boleh melegislasi hukum yang bersumber dari pikirannya sendiri.

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. [ QS. AN Nisa : 65]

Namun demikian masyarakat yang berada di wilayah hukum Islam  diberi  ruang untuk musyawarah  untuk mendapatkan kemaslahatan bersama. Dalam  Sistem Islam ada Majlis Ummat, disitu wakil dari berbagai golongan dan berbagai agama yang ada. Mereka  bisa memberikan masukan dan usulan terkait kebijakan Negara dan aduan terkait penerapan Islam yang dipandang tidak adil. Jadi Islam agama yang sempurna, dan tidak ada kekhawatiran bagi siapapun jika Islam diperjuangkan oleh HTI.

Perjuangan HTI sesungguhnya hanya menyadarkan ummat   Islam untuk hidup sejahtera dibawah naungan Islam kendati di dalamnya ada ummat non Islam.  HTI berjuang bukan seperti sparatis yang akan mengambil sebagian wilayah atau mengambil seluruh wilayah NKRI. HTI  justru ingin menyelamatkan NKRI dari penjajahan Asing yang selama ini menjarah kekayaan negeri. Mengapa harus Khilafah Islam? Selain karena ajaran Islam memang demikian, juga karena kekuatan asing itu suatu Negara adidaya yang tamak dan rakus, maka Indonesia tidak bisa menghadapi kecuali negeri-negeri Islam yang ada harus bersatu dalam wadah Khilafah Islamiyyah. Maka dari itu, jika dengan Khilafah Islam , rakyat menjadi sejahtera tanpa ada penjajahan neo liberalisme dan neo kapitalisme, tidak ada korupsi dan hukum tegak seadil-adilnya, apakah kita tetap akan menolaknya? Mari kita renungkan bersama.

 Mushonnif Huda Al Qondaly
Ketua Pusat Studi Islam Kontemporer  [ PSIK Semarang ]

HUKUM GOLPUT DALAM PILPRES DAN PILKADA, HARAMKAH?

HUKUM GOLPUT DALAM PILPRES, PILKADA DAN BAGAIMANA SIKAP KAUM MUSLIMIN?

Setiap kaum muslimin wajib berpegang teguh pada Aqidah Islam dan terikat dengan syariat Islam. Setiap perilaku sekecil apapun akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di yaumil qiyamah. Apalagi terkait dengan sikap politik, dan keputusan politik yang tentu akan berdampak besar jika salah bersikap dan memutuskan tindakan yang tidak berdasar [ hawa nafsu].

Oleh karena itu, kita harus bersikap yang syariy, yang dengan sikap tersebut Allah ridha dengan kita dan menyelamatkan kita dari murka-Nya. Untuk itu ada tiga sikap yang harus kita jadikan pijakan dalam menghadapi Pilpres maupun Pilkada.

  1. Hendaknya memilih calon pemimpin yang jelas membela Islam dan berjuang untuk menegakkan syariat Islam [ hukum Islam]. Maka jika tidak , berarti kita memilih calon pemimpin yang sudah tentu menegakkan demokrasi dan hukum kufur.

Allah SWT telah menegaskan,

إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلّهِ

Keputusan (hukum) itu hanyalah kepunyaan Allah. (TQS. Yusuf [12]: 40)

Allah Swt juga menyatakan bahwa konsekuensi iman adalah dengan taat pada syariat-Nya,

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (TQS. an-Nisa [4]: 65)

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالاً مُّبِيناً

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata (TQS. Al Ahzab[33]: 36).

  1. Meletakkan Qoidah Ahwanusy-syarrain atau akhofudh-dhororoin Secara Proporsional

Banyak alasan yang kemudian dijadikan hujjah agar kaum muslimin wajib memilih calonnya yang muslim dan sebagainya. Kendati Mereka [ calon yang muslim] tidak hendak melaksanakan ajaran Islam., Alasan pada umumnya adalaah dengan menggunakan qoidah  “Ahwanusy-syarrain atau akhofudh-dhororoin” : mencari syar’(keburukan) yang lebih ringan atau yang dhoror (bahaya)nya lebih ringan.

Penggunaan kaedah ahwanusysyarain maupun akhofudhdhororoin tidak bisa dijadikan alasan membenarkan bergabung dengan sistem kufur. Apa yang disebut syar atau dhoror haruslah berdasarkan syariah Islam bukan semata-mata hawa nafsu [ akal pikiran ]  kita. Yang disebut dhoror dalam Islam misalnya kalau memang ghalabatu dz-dzan “mengancam nyawa. Itupun kalau kondisinya harus memilih dan tidak ada pilihan lain.

Menurut pengarang kitab, Nazhm al-Qawâ’id al-Fiqhiyah,di antara dalil kaidah ini adalah QS al-Baqarah:173. Pada ayat ini disinggung dua bahaya. Pertama: bahaya yang mengancam jiwa. Kedua: adalah bahaya memakan bangkai. Kemudian Allah memberikan petunjuk untuk menghindari bahaya yang lebih besar, yaitu bahaya yang mengancam jiwa dengan cara menempuh bahaya yang lebih ringan: memakan bangkai. Itupun tentunya kalau tidak ada pilihan lain.

Sementara kalau sekarang kita tidak memilih apakah itu akan mengancam nyawa ? Apakah sekarang kita sudah tidak ada pilihan lain (deadlock). Tentu saja tidak. Kita tidak dalam kondisi terpaksa (sehingga terancam nyawa ) sehingga harus memilih para calon yang semuanya buruk(berdasarkan syariah Islam). Ini bukan pula kondisi deadlock. Ada hal yang sekarang bisa kita lakukan sesegera dan secepat mungkin , yakni berjuang mewujudkan Khilafah Islam. Semakin cepat kita berjuang dan mewujudkan , tentu saja makin baik..

Sikap Rosulullah SAW sekaligus mencerminkan penolakan terhadap sikap pragmatisme yang hanya memikirkan bagaimana kekuasaan dapat diraih. Padahal kalau menggunakan logika pragmatisme sekarang, apa salahnya Rosulullah mengambil kekuasaan saat itu, bukankah ada gunanya walaupun sedikit ? Bukankah dengan kekuasan itu, kaum muslim sedikit terlepas dari siksaan ? Bukankah dakwahnya akan lebih lapang ?

Sekali lagi Rosulullah SAW tetap berpegang pada prinsip perjuangan yang tidak mengenal kompromi dan tidak mau terlibat dalam sistem kufur yang ada . Meskipun Rosulullah saw dan sahabat-sahabatnya kemudian harus menghadapi ujian yang berat, berupa hinaan, cercaan, siksaan, hingga pembunuhan

Apakah kalau kita tidak memilih berarti apatis dan tidak berarti? Tentu saja tidak. Kalaupun kita tidak memilih, bukan berarti diam. Kita justru terus memperjuangkan syariah Islam dengan sungguh-sungguh dan secepat mungkin . Yang salah , kalau sudah tidak memilih kemudian kita bersikap diam tidak melakukan apa-apa.

Pilihan untuk tidak memilih bukan pula tidak berarti. Dihadapan Allah SWT kalau kita tidak memilih karena menghindarkan diri dari keharaman , jelas akan mendapat pahala yang besar. Disamping itu, tidak memilih adalah salah satu bentuk perlawanan terhadap sistem kufur yang ada dan upaya menghilangkan legitimasinya. Sebab kalau seluruh umat Islam tidak memilih , karena pemimpin yang ada tidak menerapkan syariah Islam, tentu saja demokrasi akan kehilangan legitimasinya. Hal ini justru akan mempercepat keruntuhan sistem sekuler yang rusak.

Sebaliknya, dengan partisipasi umat Islam dalam pemilihan ini meskipun sudah tahu pemimpinnya tidak akan menerapkan syariah Islam, justru akan memperkokoh dan memperpanjang umur dari sistem sekuler yang sebenarnya sudah bangkrut.

Seharusnya kita berjuang sekuat tenaga secara maksimal. Yang terjadi sekarang, malah bersikap minimalis . Memilih untuk mendapat sedikit keuntungan , namun sebaliknya telah mengorbankan hal yang prinsip dalam perjuangan yakni sikap istiqomah dan berpegang teguh pada dinul haq (Islam) . Belum lagi , bagaimana bentuk pertanggungjawaban kita dihadapan Allah SWT kelak. Apa jawaban kita kalau Allah SWT bertanya kepada kita nanti : kenapa anda memiliki pemimpin yang tidak menjalankan sistem Islam padahal anda bisa menolaknya ?

  1. Kemenangan itu terletak pada Ridho Allah, karena ketaqwaan dan keistiqomahan terhadap Hukum-hukum Allah [bukan di Tangan Manusia].

Perhatikan surat Khalifah Umar Bin Khaththab ra. berupa nasehat berharga penuh keimanan  kepada Saat bin Abi Waqosh dalam perang Al Qodisiyah , dimana Allah memberikan kemenangan kepada pihak Kamum Muslimin atas pasukan Persia:

Amma ba’d. Maka aku perintahkan kepadamu dan orang-orang yang besertamu untuk selalu takwa kepada Allah dalam setiap keadaan. Karena, sesungguhnya takwa kepada Allah adalah sebaik-baik persiapan dalam menghadapi musuh dan paling hebatnya strategi dalam pertempuran.

Aku perintahkan kepadamu dan orang-orang yang bersamamu agar kalian menjadi orang yang lebih kuat dalam memelihara diri dari berbuat kemaksiatan dari musuh-musuh kalian. Karena, sesungguhnya dosa pasukan lebih ditakutkan atas mereka daripada musuh-musuh mereka dan sesungguhnya kaum muslimin meraih kemenangan tidak lain adalah karena kedurhakaan musuh-musuh mereka terhadap Allah. Kalaulah bukan karena kedurhakaan musuh-musuh itu, tidaklah kaum Muslimin memiliki kekuatan karena jumlah kita tidaklah seperti jumlah mereka (jumlah mereka lebih besar) dan kekuatan pasukan kita tidaklah seperti kekuatan pasukan mereka. Karenanya, jika kita seimbang dengan musuh dalam kedurhakaan dan maksiat kepada Allah, maka mereka memiliki kelebihan di atas kita dalam kekuatannya, dan bila kita tidak menang menghadapi mereka dengan “keutamaan” kita, maka tidak mungkin kita akan mengalahkan mereka dengan kekuatan kita.

Ketahuilah bahwa kalian memiliki pengawas-pengawas (para malaikat) dari Allah. Mereka mengetahui setiap gerak-gerik kalian karenanya malulah kalian terhadap mereka. Janganlah kalian mengatakan, “Sesungguhnya musuh kita lebih buruk dari kita sehingga tidak mungkin mereka menang atas kita meskipun kita berbuat keburukan.” Karena, berapa banyak kaum-kaum yang dikalahkan oleh orang-orang yang lebih buruk dari mereka. Sebagaimana orang-orang kafir Majusi telah mengalahkan Bani Israil setelah mereka melakukan perbuatan maksiat. Mintalah pertolongan kepada Allah bagi diri kalian sebagaimana kalian meminta kemenangan dari musuh-musuh kalian. Dan aku pun meminta hal itu kepada Allah bagi kami dan bagi kalian.

Itulah kiranya modal terbesar kita untuk memenangkan terhadap kekufuran adalah kuatnya Iman dan Taqwa kita. Dengannya Allah yang akan menolong dan menegakkan agama ini kembali dan menjadikan kaum muslimin terhormat, mulia, sentausa  dan berkuasa kembali. Allahu A’lam bi ash-showab. [ Arif T. Al Qondaly.]

[ https://webkhilafah.wordpress.com/2017/02/08/hukum-golput-dalam-pilpres-dan-pilkada-haramkah/ ]

AGAR DO’A DIDENGAR DAN DIKABULKAN ALLAH

Agar do’a didengar dan dikabulkan Allah SWT, setidaknya ada empat pra-syarat yang harus diperhatikan seorang muslim. Bahkan ke- empat hal ini menjadi “syarat mutlak”  yang mesti harus dipenuhi nya. Mengabaikan hal-hal dibawah ini mengakibatkan tertolaknya do’a seorang hamba.

doa

Keempat syarat agar do’a didengar dan dikabulkan Allah SWT adalah sebagai berikut :

Pertama, Do’a adalah bagian dari Ibadah bahkan Inti ibadah. Sebagaimana sabda Nabi SAW :

الدُّعَاءُ مخّ العبادةِ

“Doa adalah inti Ibadah” [HR. At Tirmidzi]

Maka dari sinilah kita bisa pahami, do’a hendaknya senantiasa dipanjatkan kepada Allah SWT disaat lapang maupun sempit, sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, seperti shalat, tanpa menunggu waktu sempit.

Perhatikan sabda nabi SAW berikut ini, “Barangsiapa yang suka Allah mengabulkan doanya pada saat saat sempit dan kesulitan, hendalah dia banyak berdoa pada saat saat lapang”. (H.R Imam at Tirmidzi dan al Hakim).

Kedua, agar berdoa disertai dengan keimanan, mengikuti seruan-Nya [mengikuti perintah-Nya] dan mengikuti syariat Rasulullah SAW, Sebagaimana FirmanNya ;

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. [ QS. Al Baqoroh 2: 186]

Mengapa banyak do’a yang tertolak, tampaknya pada point ke dua ini yang tidak terpenuhi syarat terkabulnya do’a kita kepada Allah SWT. Berikut dijelaskan penghalang utama do’a dari Nabi SAW :

يَدْعُواللهَ وماْكُلُهُ مِن حرامٍ و مشْرَبُهُ من حرامٍ فَاَنِّى يُسْتَجابَ لَهُ

Ia berdo’a kepada Allah, tapi makanan dan minumannya dari barang yang diharamkan , maka bagaimana mungkin akan dikabulkan do’anya [ HR. Muslim].

Ketiga, Dalam setiap Do’a hendaklah tidak meninggalkan sebab musabab, atau hukum kausalitas, atau ikhtiar secara duniawi.

Rasulullah tidak pernah meninggalkan sebab musabab dalam beraktifitas. Ketika Nabi memimpin perang badar al kubro, nabi mengatur pasukanya, menyiapkan persenjataannya,lalu nabi berdo’a kepada Allah. Demikian terus dilakukan setiap peperangan yang dilakukan Nabi selalu mempersiapkan diri semaksimal mungkin sambil terus berdo’a kepadaNya.

Do’a Nabi tidak pernah tertolak, tapi nabi tidak pernah meninggalkan ikhtiar sebagaimana manusia biasa.  Dalam suatu kisahnya ketika Nabi dikejar kafir quraisy saat hijrah, nabi berikhtiar dengan bersembunyi di dalam Gua Tsur, hingga Abu Bakar berkata , “ Jika salah seorang dari mereka melihat tempat berpijak kedua kakinya niscaya ia akan melihat kita”, maka nabi SAW bersabda :

مَا ظَنُّكَ باثْنَيْنِ اللهُ ثالِثُهُما

Jangan kau kira kita hanya berdua, Allah adalah yang ketiga”.

Keempat, Allah pasti akan mengabulkan setiap doa orang yang berdoa dan akan mengabulkan orang yang terdesak dengan kebutuhannya ketika ia berdo’a kepadaNya. Allah SWT berfirman :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina“. [QS. Al Mu’min 40:60]

Nabi bersabda :

“Tak seorang muslim pun berdoa kepada Allah dengan suatu do’a yang di dalamnya tidak dosa dan memutus silaturrahmi, kecuali Allah akan memberikannya salah satu dari tiga perkara, yaitu : bisa jadi Allah akan mempercepat terkabulnya do’a di saat di dunia, atau Allah akan menyimpan terkabulnya do’a di akhirat kelak, dan bisa jadi Allah akan memalingkan keburukan darinya sesuai dengan kadar do’anya. Para sahabat berkata, “Kalau begitu kami akan memperbanyak doa, “ Rasulullah SAW bersabda “Allah akan lebih banyak lagi ( mengabulkannya). [ HR. Ahmad, Al Bukhari , dalam Al Adab al Mufrad]

Demikianlah empat pokok dalam setiap doa yang harus kita pahami agar do’a kita bisa menembus langit, didengar dan dikabulkan Allah SWT. Wallahu a’lam bi ash-showab. [Arif Al Qondaly ]

Referensi :

Kitab Min Muqowwimat Nafsiyyah Al Islamiyyah, bab Addu’a wa adz-dzikru wa al istighfar.