Category Archives: hukum islam

HUKUM BERSERIKAT DALAM QURBAN ( PATUNGAN QURBAN )

Banyak dikalangan ummat Islam yang berselisih paham tentang hukum Patungan ( berserikat) dalam qurban. Padahal secara dalil telah jelas diterangkan Rasulullah SAW. Berikut tinjauan dalil tentang hukum Patungan ( berserikat) dalam ibadah qurban.

Dalil bolehnya berserikat (patungan) 7 orang di seekor sapi adalah hadits dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata:

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَشْتَرِكَ فِي الإِبِلِ وَالْبَقَرِ كُلَّ سَبَعَةٍ مِنَّا فِي بَدَنَةٍ

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan kami patungan pada sesekor unta dan sapi. Setiap 7 orang dari kami berserikat dalam satu ekor.” (HR. Muslim)

Dibolehkan urunan/patungan/berserikat  masimal 7 orang untuk qurban sapi atau onta. Namun tidak dibolehkan urunan lebih dari 7 orang untuk qurban sapi. Imam Ibnu Utsaimin mengatakan:

وتجزئ الواحدة من الغنم عن الشخص الواحد ، ويجزئ سُبع البعير أو البقرة عما تجزئ عنه الواحدة من الغنم ….  وإذا اشترك اثنان فأكثر في ملك أضحية يضحيان بها ، فهذا لا يجوز ، ولا يصح أضحية إلا في الإبل والبقر إلى سبعة فقط ، وذلك لأن الأضحية عبادة وقربة إلى الله تعالى ، فلا يجوز إيقاعها ولا التعبد بها إلا على الوجه المشروع زمناً وعددا وكيفية.

Satu kambing sah untuk qurban satu orang. Sementara sepertujuh onta atau sapi, sah untuk qurban senilai satu kambing. Jika ada dua orang atau lebih, urunan untuk qurban satu kambing, kemudian mereka jadikan qurban, ini hukumnya tidak boleh, dan qurbannya tidak sah, kecuali untuk onta atau sapi, maksimal 7 orang saja. Karena qurban adalah ibadah kepada Allah. Karena itu, tidak boleh dilaksanakan kecuali dengan aturan yang ditetapkan syariat, baik terkait waktu, jumlah orang yang ikut, atau tata caranya. ( Risalah Fiqhiyah, hlm. 58 – 59).

Sedangkan dalil satu ekor kambing boleh untuk satu orang dan anggota keluarganya adalah hadits dari Abu Ayyub Radhiyallahu ‘Anhu, “Ada seseorang di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berqurban seekor kambing untuk dirinya dan anggora keluarganya, lalu mereka makan dan membagikannya.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Tirmidzi dan beliau menyahihkannya)

Seekor kambing hanya untuk qurban satu orang dan boleh pahalanya diniatkan untuk seluruh anggota keluarga meskipun jumlahnya banyak atau bahkan yang sudah meninggal dunia.

كَانَ الرَّجُلُ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُضَحِّى بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ

Pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ada seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya.” [ HR. Tirmidzi no. 1505, Ibnu Majah no. 3138. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Al Irwa’ no. 1142.]

Asy Syaukani mengatakan, “(Dari berbagai perselisihan ulama yang ada), yang benar, qurban kambing boleh diniatkan untuk satu keluarga walaupun dalam keluarga tersebut ada 100 jiwa atau lebih. [Nailul Author, Asy Syaukani, 8/125, Mawqi’ Al Islam.]

Demikian penjelasan mengenai hukum patungan/urunan/berserikat dalam qurban, dan telah jelas dan tidak ada keraguan lagi. Sehingga dibolehkan maximal 7 orang untuk patungan qurban sapi, dan untuk kambing hanya 1 orang untuk satu ekor kambing. Sedang pahalanya bisa utuk 1 keluarga. Allahu a’lam bi ash-showab.

 

 

 

 

EMPAT AMALAN UTAMA RAMADHAN

Banyak amalan-amalan  utama dibulan ramadhan yang semestinya kita perhatikan. Diantara amal-amal di  bulan ramadhan itu ada 4 amalan yang sangat utama yang sebaiknya diperhatikan setiap muslim ketika memasuki bulan ramadhan.

(1). Perbanyak Taubat

 Mari kita renungkan hadits nabi SAW ini :

 رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَىَّ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ فَلَمْ يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ

“Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang disebutkanku, lalu dia tidak bershalawat atasku. Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang datang kepadanya Ramadhan kemudian bulan tersebut berlalu sebelum diampuni untuknya (dosa-dosanya). Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang mendapati kedua orangtuanya lalu keduanya tidak memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Tirmidzi).

يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَار
وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ

“Wahai hamba-hambaKu! Setiap siang dan malam kalian senantiasa berbuat salah, namun Aku mengampuni semua dosa. Karena itu, mohonlah ampunanKu agar Aku mengampuni kalian.” (Hadits Qudsi Riwayat Muslim 4674)

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran ayat 133)

(2). Perbanyak Tilawatul Qur’an

Nabi SAW bersabda :

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Alquran, karena ia akan datang pada hari kiamat memberikan syafaat kepada pembacanya.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ

Tidaklah berkumpul sebuah kaum di salah satu rumah Allah, mereka membaca kitab Allah dan mempelajarinya, kecuali akan turun ketentraman kepada mereka, diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat dan Allah akan menyebut mereka ke hadapan makhluk di sisi-Nya.” (HR. Muslim)

(3). Banyak Sedekah

Sebagaimana taubat, maka sedekah juga bisa menghapus dosa , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

والصدقة تطفىء الخطيئة كما تطفىء الماء النار

  “Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi, di dalam Shahih At Tirmidzi, 614)

Orang yang sedekah dapat masuk pintu di syurga dengan pintu khusus, sebagaimana sabdanya :

من أنفق زوجين في سبيل الله، نودي في الجنة يا عبد الله، هذا خير: فمن كان من أهل الصلاة دُعي من باب الصلاة، ومن كان من أهل الجهاد دُعي من باب الجهاد، ومن كان من أهل الصدقة دُعي من باب الصدقة

“Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah. (HR. Bukhari no.3666, Muslim no. 1027

Dapat pahala puasa orang yang sedekah pada orang yang puasa  sebagaimana sabdanya :

مَنْ فَطَرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ وَلَا يَنْقُصُ مِنْ اَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئٌ

 Barang siapa yang memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa itu” (Shohih Nasa’i dan Tirmidzi)

 (4). Lakukan  I’tikaf dan Berdo’a di Malam Lailatul Qodar

Keutamaan I’tikaf

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Thabrani dan Baihaqi, walau sebagian ulama tidak bersepakat atas keshohihannya namun hadits ini dapat diterima dan digunakan untuk keutamaan amal, dalam hal ini adalah i’tikaf:

عن ابن عباس رضى الله عنهما “ومن اعتكف يوما ابتغاء وجه الله جعل الله بينه وبين النار ثلاتة خنادق) كل خندق أبعد مما بين الخافقين . رواه الطبرانى والبيهقى والحاكم وصححه

Dari ibnu Abbas ra: “Barang siapa beri’tikaf satu hari karena mengharap keridhoaan Allah, Allah akan menjadikan jarak antara dirinya dan api neraka sejauh tiga parit, setiap parit sejauh jarak timur dan barat. (HR. Thabrani, Baihaqi dan dishohihkan oleh Imam Hakim)

Imam Al-Khatib dan Ibnu Syahin meriwayatkan hadits dari Tsauban ra meriwayatkan:

من اعتكف نفسه ما بين المغرب والعشاء فى مسجد جماعة لم يتكلم إلا بصلاة وقرآن كان حقا على الله تعالى أن يبنى له قصرا فى الجنة “.

Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang beri’tikaf antara Maghrib dan Isya di ةasjid, dengan tidak berbicara kecuali sholat dan membaca Al-Quran, maka Allah berhak membangunkan untuknya istana di surga.”

Do’a di Malam Lailatul Qodr

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab, “Katakanlah:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ  تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ [Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku].” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah.

Demikian empat amalan utama di bulan ramadhan, semoga menambah semangat kita untuk beribadah secara sungguh-sungguh di bulan yang penuh rahmat dan maghfirah ini. ( Arif Al Qondaly)

 

 

 

 

HUKUM BERGABUNG DENGAN IDB ( Bank Pembangunan Islam)

Bank Pembangunan Islam (IDB) didirikan pada tahun 1973, dalam konferensi Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang sekarang bernama Organisasi Kerjasama Islam. Bank Pembangunan Islam (IDB) adalah haram dan tidak sah menurut hukum Islam, meski disebut “Bank Islam”, sebab ia tidak lain adalah produk dari sistem kapitalis. Di mana sumber utama pendapatan bagi organisasi ini adalah keuntungan atas dasar suku bunga (riba) dan sejumlah transfer yang tidak sesuai dengan hukum Islam. Selain itu, bahwa Bank Pembangunan Islam ini dibuat oleh orang-orang kafir dan dijalankan melalui tangan para penguasa Muslim yang korup yang melayani orang-orang kafir.

Pertama: Bank Pembangunan Islam adalah alat di tangan orang-orang kafir untuk memisahkan dan mencegah kaum Muslim dari kembali pada perlindungan sistem ekonomi Islam. Kaum Muslim yang bergantung pada organisasi seperti Bank Pembangunan Islam ini, bahwa mereka melakukannya untuk mencari keselamatan dari masalah ekonomi mereka, atau untuk melaksanakan berbagai jenis proyek yang membutuhkan pembiayaan. Mereka ini lupa bahwa ada keputusan yang benar dalam Islam, yang menjamin kemakmuran bagi perekonomian mereka dan kesejahteraannya di dunia dan akhirat. Hal ini, pada gilirannya, akan menghentikan kaum Muslim dari perjuangan untuk mendirikan Negara Khilafah yang tegak di atas metode kenabian, ‘ala minhājin nubuwah, yang akan menjadi penyelamat dengan ajaran samawi (bersumber dari Allah SWT), sehingga bebas dari kesalahan, kerusakan atau kekejian.

Kedua: Bank Pembangunan Islam digunakan sebagai alat tekanan politik dan ekonomi, serta penjajahan pada negara kita. Di mana, dengan memberikan sejumlah dana untuk pengembangan sektor ekonomi tertentu di negara ini, maka orang-orang kafir tahu bahwa kediktatoran dan korupsi akan mendominasi di negara kita. Para pejabat dan mereka yang berkuasa, dipastikan akan mencuri sebagian besar dana, dan ini pasti akan membawa negara pada berbagai krisis akibat utang, yang akan meningkat dari waktu ke waktu, karena faktanya bahwa negara tidak akan mampu membayar secara tepat waktu. Hal ini pada gilirannya, akan memaksa para penguasa negara kita untuk menandatangani kontrak yang diperlukan yang memungkinkan orang-orang kafir dari menjarah sumber daya alam kita, dan melaksanakan kebijakan yang diperlukan bagi mereka, baik pada negara atau wilayah, di mana mereka akan memaksa kita untuk berperang melawan para demonstran Muslim dalam bentuk apapun, dan bahkan juga lebih dari itu.

Rasulullah saw bersabda: “Allah melaknat orang yang makan riba dan yang menyuruh memakannya.” (HR. Muslim, Tirmidzi dan Abu Dawud).

Sebagaimana Allah SWT berfirman: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (TQS. Al-Baqarah [2] : 275).

 

KHILAFAH TIDAK MEMBAHAYAKAN PANCASILA DAN NKRI

Diskursus tentang Khilafah Islamiyah, Pancasila dan NKRI tengah hangat di Indonesia akhir-akhir ini seiring dengan seruan pemerintah yang ingin membubarkan Ormas Islam legal Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Sebelum berfikir negatif tentang gagasan HTI yang dianggap bertentangan dengan ide Pancasila dan NKRI, mari simak terlebih dahulu  tulisan dibawah ini.

Khilafah Islam hanyalah institusi atau lembaga, yang esensinya adalah ” bagaimana lembaga tersebut dibawah seorang imam/kepala negara mampu menerapkan syariat Islam secara kaffah“. Oleh karena itu Institusi Khilafah Islamiyyah disebut dengan Imamah Islamiyyah.  Kepala negaranya disebut Kholifah,  Imam, atau amirul mu’minin. Tugas seorang Kholifah adalah memastikan diterapkannya Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Misi tersebut semata-mata perintah dari ajaran Islam, sebagaimana Firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.[ QS. Al Baqoroh : 208]

Apakah penerapan syariat Islam berarti membahayakan non muslim? Ini yang selalu diserukan kaum liberalis. Justru Nabi mengatakan pada ahlul zimmah, orang non muslim yang berada di Negara khilafah dengan mengatakan ;

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menzalimi seorang mu’ahid (ahlu zimmah), atau mengurangi haknya, atau membebaninya di atas kemampuannya, atau mengambil darinya sesuatu di luar haknya, maka aku menjadi lawannya di hari kiamat.” (HR Abu Daud)

Jika syariat Islam diterapkan apakah peribadatan selain Islam dilarang? Islam mempraktekkan toleransi sejak jaman nabi.  Melalui Piagam Madinah itu, Rasul saw. sebagai kepala negara menunjukkan bukti, betapa beliau sangat menghormati agama lain. Contoh, saat Rasul saw. melihat ada rombongan orang mengusung jenazah Yahudi melewati beliau, beliau sepontan berdiri (sebagai penghormatan). Sahabat protes, “Wahai Rasulullah, bukankah dia seorang Yahudi?”

Rasulullah saw. menjawab, “Bukankah dia manusia?

Di lain kesempatan, ketika Rasul saw. ditanya oleh para Sahabat tentang memberikan bantuan materi kepada non-Muslim, “Apakah kami boleh memberi bantuan kepada kaum Yahudi?”

Beliau menjawab, “Boleh, sebab mereka juga makhluk Allah, dan Allah akan menerima sedekah kita.”

Bagaiman dengan Pancasila?

Ketika Islam bisa diterapkan secara kaffah, sejatinya  nilai-nilai Pancasila akan membumi bersama penerapan syariat Islam tersebut. Ummat Islam mayoritas telah beranggapan bahwa tidak ada satu nilaipun dalam Pancasila yang bertentangan dengan hukum Islam. Namun Pancasila tidak akan bisa diterapkan tanpa terlebih dahulu diterapkan hukum Islam secara kaffah. Mengapa demikian, karena semua nilai-nilai yang ada di dalam Pancasila ada di dalam syariat Islam, dan secara riil tidak aplicable dalam sistem  demokrasi. Pancasila sebenarnya  kontradiktif  dalam system republik. Hak beragama ummat Islam secara kaffah  sesungguhnya terkebiri dalam alam demokrasi, namun “tragisnya” ummat Islam sendiri mengharapkan “kebaikan demokrasi” untuk Islam . Sebagai contoh, konsep demokrasi, kebenaran adalah suara mayoritas, maka kendati suara mayoritas salah, akan menjadi produk hukum.  Sedang dalam Islam kebenaran adalah apa yang datang dari sang Pencipta. Inilah esensi perbedaannya.

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ

“Kebenaran itu datang dari Rabb mu, maka janganlah sekali-kali kamu termasuk orang yang ragu.” (Q.S Al-Baqarah : 147)

Mengapa komunisme, marxisme, Lenisisme dilarang ? karena tidak  sesuai dengan nilai pancasila Pasal 1 (Ketuhanan yang Maha Esa). Sedang Islam esensi yang diajarkan adalah nilai tauhid ( keEsaan Allah) yang wujud konkritnya dalam kehidupan bernegara adalah diterapkannya hukum Islam. Namun perlu dipahami,  Islam dan syariat Islam adalah dua  hal yang tidak bisa dipisahkan ( ibarat dua sisi mata ulang).  Memisahkan keduanya artinya “sekulerisme”. Sampai disini, merupakan tantangan yang berat bagi ummat Islam,  dimana aqidahnya menganut Islam, sementara system kehidupannya menganut hukum Belanda (baca : sekuler). Maka wajarkah jika kehadiran Hizbut-Tahrir mencoba membuka  pemikiran ummat Islam, –yang  semula tidak pede dengan  ajaran Islam sendiri – dan juga kepada non Islam, untuk obyektif melihat keagungan syariat Islam, keindahan  dan keadilan Syariat Islam ketika  diterapkan dalam kehidupan.

Oleh karena itu, kita bisa lihat kiprah HTI,  disaat bangsa ini kebingungan mengelola SDA, Migas, pengelolaan Tenaga kerja, dan sebagainya, Hizbut Tahrir mencoba menyodorkan solusinya yang digali dari nilai-nilai syariat Islam. Hizbut Tahrir dalam menyerukan gagasannya tidak memaksakan kehendak, disinilah HTI hanyalah dakwah [ Menyeru ] ke tengah masyarakat umum dan para birokrat , agar menyadari, memahami dan mempertimbangkan ide dan gagasan yang diserukan HTI yang notabene adalah syariat Islam ( ajaran Islam) yang agung yang datang dari Allah SWT.

Bagaimana Dengan Sistem Republik ?

Indonesia menganut system Republik  yang berwujud  NKRI ( Negara Kesatuan Republik Indonesia). Sistem Republik didasarkan pada demokrasi, dimana kedaulatan berada pada tangan rakyat. Ini berarti, rakyat memiliki hak untuk membuat hukum dan konstitusi. Jika kita sadari, justru  konsep system Republik sebenarnya kontradiktif  dengan nilai luhur Pancasila. Karena output system republic ini adalah  Demokrasi sekuler yang menghalalkan segala cara, dan yang menuhankan selain Tuhan Yang Maha Esa ( Sila ke-1 ).

Di dalam Islam, kedaulatan berada di tangan syariat. Tidak ada satu orang pun dalam sistem Khilafah, bahkan termasuk Khalifahnya sendiri, yang boleh melegislasi hukum yang bersumber dari pikirannya sendiri.

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. [ QS. AN Nisa : 65]

Namun demikian masyarakat yang berada di wilayah hukum Islam  diberi  ruang untuk musyawarah  untuk mendapatkan kemaslahatan bersama. Dalam  Sistem Islam ada Majlis Ummat, disitu wakil dari berbagai golongan dan berbagai agama yang ada. Mereka  bisa memberikan masukan dan usulan terkait kebijakan Negara dan aduan terkait penerapan Islam yang dipandang tidak adil. Jadi Islam agama yang sempurna, dan tidak ada kekhawatiran bagi siapapun jika Islam diperjuangkan oleh HTI.

Perjuangan HTI sesungguhnya hanya menyadarkan ummat   Islam untuk hidup sejahtera dibawah naungan Islam kendati di dalamnya ada ummat non Islam.  HTI berjuang bukan seperti sparatis yang akan mengambil sebagian wilayah atau mengambil seluruh wilayah NKRI. HTI  justru ingin menyelamatkan NKRI dari penjajahan Asing yang selama ini menjarah kekayaan negeri. Mengapa harus Khilafah Islam? Selain karena ajaran Islam memang demikian, juga karena kekuatan asing itu suatu Negara adidaya yang tamak dan rakus, maka Indonesia tidak bisa menghadapi kecuali negeri-negeri Islam yang ada harus bersatu dalam wadah Khilafah Islamiyyah. Maka dari itu, jika dengan Khilafah Islam , rakyat menjadi sejahtera tanpa ada penjajahan neo liberalisme dan neo kapitalisme, tidak ada korupsi dan hukum tegak seadil-adilnya, apakah kita tetap akan menolaknya? Mari kita renungkan bersama.

 Mushonnif Huda Al Qondaly
Ketua Pusat Studi Islam Kontemporer  [ PSIK Semarang ]

HUKUM GOLPUT DALAM PILPRES DAN PILKADA, HARAMKAH?

HUKUM GOLPUT DALAM PILPRES, PILKADA DAN BAGAIMANA SIKAP KAUM MUSLIMIN?

Setiap kaum muslimin wajib berpegang teguh pada Aqidah Islam dan terikat dengan syariat Islam. Setiap perilaku sekecil apapun akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di yaumil qiyamah. Apalagi terkait dengan sikap politik, dan keputusan politik yang tentu akan berdampak besar jika salah bersikap dan memutuskan tindakan yang tidak berdasar [ hawa nafsu].

Oleh karena itu, kita harus bersikap yang syariy, yang dengan sikap tersebut Allah ridha dengan kita dan menyelamatkan kita dari murka-Nya. Untuk itu ada tiga sikap yang harus kita jadikan pijakan dalam menghadapi Pilpres maupun Pilkada.

  1. Hendaknya memilih calon pemimpin yang jelas membela Islam dan berjuang untuk menegakkan syariat Islam [ hukum Islam]. Maka jika tidak , berarti kita memilih calon pemimpin yang sudah tentu menegakkan demokrasi dan hukum kufur.

Allah SWT telah menegaskan,

إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلّهِ

Keputusan (hukum) itu hanyalah kepunyaan Allah. (TQS. Yusuf [12]: 40)

Allah Swt juga menyatakan bahwa konsekuensi iman adalah dengan taat pada syariat-Nya,

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (TQS. an-Nisa [4]: 65)

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالاً مُّبِيناً

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata (TQS. Al Ahzab[33]: 36).

  1. Meletakkan Qoidah Ahwanusy-syarrain atau akhofudh-dhororoin Secara Proporsional

Banyak alasan yang kemudian dijadikan hujjah agar kaum muslimin wajib memilih calonnya yang muslim dan sebagainya. Kendati Mereka [ calon yang muslim] tidak hendak melaksanakan ajaran Islam., Alasan pada umumnya adalaah dengan menggunakan qoidah  “Ahwanusy-syarrain atau akhofudh-dhororoin” : mencari syar’(keburukan) yang lebih ringan atau yang dhoror (bahaya)nya lebih ringan.

Penggunaan kaedah ahwanusysyarain maupun akhofudhdhororoin tidak bisa dijadikan alasan membenarkan bergabung dengan sistem kufur. Apa yang disebut syar atau dhoror haruslah berdasarkan syariah Islam bukan semata-mata hawa nafsu [ akal pikiran ]  kita. Yang disebut dhoror dalam Islam misalnya kalau memang ghalabatu dz-dzan “mengancam nyawa. Itupun kalau kondisinya harus memilih dan tidak ada pilihan lain.

Menurut pengarang kitab, Nazhm al-Qawâ’id al-Fiqhiyah,di antara dalil kaidah ini adalah QS al-Baqarah:173. Pada ayat ini disinggung dua bahaya. Pertama: bahaya yang mengancam jiwa. Kedua: adalah bahaya memakan bangkai. Kemudian Allah memberikan petunjuk untuk menghindari bahaya yang lebih besar, yaitu bahaya yang mengancam jiwa dengan cara menempuh bahaya yang lebih ringan: memakan bangkai. Itupun tentunya kalau tidak ada pilihan lain.

Sementara kalau sekarang kita tidak memilih apakah itu akan mengancam nyawa ? Apakah sekarang kita sudah tidak ada pilihan lain (deadlock). Tentu saja tidak. Kita tidak dalam kondisi terpaksa (sehingga terancam nyawa ) sehingga harus memilih para calon yang semuanya buruk(berdasarkan syariah Islam). Ini bukan pula kondisi deadlock. Ada hal yang sekarang bisa kita lakukan sesegera dan secepat mungkin , yakni berjuang mewujudkan Khilafah Islam. Semakin cepat kita berjuang dan mewujudkan , tentu saja makin baik..

Sikap Rosulullah SAW sekaligus mencerminkan penolakan terhadap sikap pragmatisme yang hanya memikirkan bagaimana kekuasaan dapat diraih. Padahal kalau menggunakan logika pragmatisme sekarang, apa salahnya Rosulullah mengambil kekuasaan saat itu, bukankah ada gunanya walaupun sedikit ? Bukankah dengan kekuasan itu, kaum muslim sedikit terlepas dari siksaan ? Bukankah dakwahnya akan lebih lapang ?

Sekali lagi Rosulullah SAW tetap berpegang pada prinsip perjuangan yang tidak mengenal kompromi dan tidak mau terlibat dalam sistem kufur yang ada . Meskipun Rosulullah saw dan sahabat-sahabatnya kemudian harus menghadapi ujian yang berat, berupa hinaan, cercaan, siksaan, hingga pembunuhan

Apakah kalau kita tidak memilih berarti apatis dan tidak berarti? Tentu saja tidak. Kalaupun kita tidak memilih, bukan berarti diam. Kita justru terus memperjuangkan syariah Islam dengan sungguh-sungguh dan secepat mungkin . Yang salah , kalau sudah tidak memilih kemudian kita bersikap diam tidak melakukan apa-apa.

Pilihan untuk tidak memilih bukan pula tidak berarti. Dihadapan Allah SWT kalau kita tidak memilih karena menghindarkan diri dari keharaman , jelas akan mendapat pahala yang besar. Disamping itu, tidak memilih adalah salah satu bentuk perlawanan terhadap sistem kufur yang ada dan upaya menghilangkan legitimasinya. Sebab kalau seluruh umat Islam tidak memilih , karena pemimpin yang ada tidak menerapkan syariah Islam, tentu saja demokrasi akan kehilangan legitimasinya. Hal ini justru akan mempercepat keruntuhan sistem sekuler yang rusak.

Sebaliknya, dengan partisipasi umat Islam dalam pemilihan ini meskipun sudah tahu pemimpinnya tidak akan menerapkan syariah Islam, justru akan memperkokoh dan memperpanjang umur dari sistem sekuler yang sebenarnya sudah bangkrut.

Seharusnya kita berjuang sekuat tenaga secara maksimal. Yang terjadi sekarang, malah bersikap minimalis . Memilih untuk mendapat sedikit keuntungan , namun sebaliknya telah mengorbankan hal yang prinsip dalam perjuangan yakni sikap istiqomah dan berpegang teguh pada dinul haq (Islam) . Belum lagi , bagaimana bentuk pertanggungjawaban kita dihadapan Allah SWT kelak. Apa jawaban kita kalau Allah SWT bertanya kepada kita nanti : kenapa anda memiliki pemimpin yang tidak menjalankan sistem Islam padahal anda bisa menolaknya ?

  1. Kemenangan itu terletak pada Ridho Allah, karena ketaqwaan dan keistiqomahan terhadap Hukum-hukum Allah [bukan di Tangan Manusia].

Perhatikan surat Khalifah Umar Bin Khaththab ra. berupa nasehat berharga penuh keimanan  kepada Saat bin Abi Waqosh dalam perang Al Qodisiyah , dimana Allah memberikan kemenangan kepada pihak Kamum Muslimin atas pasukan Persia:

Amma ba’d. Maka aku perintahkan kepadamu dan orang-orang yang besertamu untuk selalu takwa kepada Allah dalam setiap keadaan. Karena, sesungguhnya takwa kepada Allah adalah sebaik-baik persiapan dalam menghadapi musuh dan paling hebatnya strategi dalam pertempuran.

Aku perintahkan kepadamu dan orang-orang yang bersamamu agar kalian menjadi orang yang lebih kuat dalam memelihara diri dari berbuat kemaksiatan dari musuh-musuh kalian. Karena, sesungguhnya dosa pasukan lebih ditakutkan atas mereka daripada musuh-musuh mereka dan sesungguhnya kaum muslimin meraih kemenangan tidak lain adalah karena kedurhakaan musuh-musuh mereka terhadap Allah. Kalaulah bukan karena kedurhakaan musuh-musuh itu, tidaklah kaum Muslimin memiliki kekuatan karena jumlah kita tidaklah seperti jumlah mereka (jumlah mereka lebih besar) dan kekuatan pasukan kita tidaklah seperti kekuatan pasukan mereka. Karenanya, jika kita seimbang dengan musuh dalam kedurhakaan dan maksiat kepada Allah, maka mereka memiliki kelebihan di atas kita dalam kekuatannya, dan bila kita tidak menang menghadapi mereka dengan “keutamaan” kita, maka tidak mungkin kita akan mengalahkan mereka dengan kekuatan kita.

Ketahuilah bahwa kalian memiliki pengawas-pengawas (para malaikat) dari Allah. Mereka mengetahui setiap gerak-gerik kalian karenanya malulah kalian terhadap mereka. Janganlah kalian mengatakan, “Sesungguhnya musuh kita lebih buruk dari kita sehingga tidak mungkin mereka menang atas kita meskipun kita berbuat keburukan.” Karena, berapa banyak kaum-kaum yang dikalahkan oleh orang-orang yang lebih buruk dari mereka. Sebagaimana orang-orang kafir Majusi telah mengalahkan Bani Israil setelah mereka melakukan perbuatan maksiat. Mintalah pertolongan kepada Allah bagi diri kalian sebagaimana kalian meminta kemenangan dari musuh-musuh kalian. Dan aku pun meminta hal itu kepada Allah bagi kami dan bagi kalian.

Itulah kiranya modal terbesar kita untuk memenangkan terhadap kekufuran adalah kuatnya Iman dan Taqwa kita. Dengannya Allah yang akan menolong dan menegakkan agama ini kembali dan menjadikan kaum muslimin terhormat, mulia, sentausa  dan berkuasa kembali. Allahu A’lam bi ash-showab. [ Arif T. Al Qondaly.]

[ https://webkhilafah.wordpress.com/2017/02/08/hukum-golput-dalam-pilpres-dan-pilkada-haramkah/ ]

AGAR DO’A DIDENGAR DAN DIKABULKAN ALLAH

Agar do’a didengar dan dikabulkan Allah SWT, setidaknya ada empat pra-syarat yang harus diperhatikan seorang muslim. Bahkan ke- empat hal ini menjadi “syarat mutlak”  yang mesti harus dipenuhi nya. Mengabaikan hal-hal dibawah ini mengakibatkan tertolaknya do’a seorang hamba.

doa

Keempat syarat agar do’a didengar dan dikabulkan Allah SWT adalah sebagai berikut :

Pertama, Do’a adalah bagian dari Ibadah bahkan Inti ibadah. Sebagaimana sabda Nabi SAW :

الدُّعَاءُ مخّ العبادةِ

“Doa adalah inti Ibadah” [HR. At Tirmidzi]

Maka dari sinilah kita bisa pahami, do’a hendaknya senantiasa dipanjatkan kepada Allah SWT disaat lapang maupun sempit, sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, seperti shalat, tanpa menunggu waktu sempit.

Perhatikan sabda nabi SAW berikut ini, “Barangsiapa yang suka Allah mengabulkan doanya pada saat saat sempit dan kesulitan, hendalah dia banyak berdoa pada saat saat lapang”. (H.R Imam at Tirmidzi dan al Hakim).

Kedua, agar berdoa disertai dengan keimanan, mengikuti seruan-Nya [mengikuti perintah-Nya] dan mengikuti syariat Rasulullah SAW, Sebagaimana FirmanNya ;

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. [ QS. Al Baqoroh 2: 186]

Mengapa banyak do’a yang tertolak, tampaknya pada point ke dua ini yang tidak terpenuhi syarat terkabulnya do’a kita kepada Allah SWT. Berikut dijelaskan penghalang utama do’a dari Nabi SAW :

يَدْعُواللهَ وماْكُلُهُ مِن حرامٍ و مشْرَبُهُ من حرامٍ فَاَنِّى يُسْتَجابَ لَهُ

Ia berdo’a kepada Allah, tapi makanan dan minumannya dari barang yang diharamkan , maka bagaimana mungkin akan dikabulkan do’anya [ HR. Muslim].

Ketiga, Dalam setiap Do’a hendaklah tidak meninggalkan sebab musabab, atau hukum kausalitas, atau ikhtiar secara duniawi.

Rasulullah tidak pernah meninggalkan sebab musabab dalam beraktifitas. Ketika Nabi memimpin perang badar al kubro, nabi mengatur pasukanya, menyiapkan persenjataannya,lalu nabi berdo’a kepada Allah. Demikian terus dilakukan setiap peperangan yang dilakukan Nabi selalu mempersiapkan diri semaksimal mungkin sambil terus berdo’a kepadaNya.

Do’a Nabi tidak pernah tertolak, tapi nabi tidak pernah meninggalkan ikhtiar sebagaimana manusia biasa.  Dalam suatu kisahnya ketika Nabi dikejar kafir quraisy saat hijrah, nabi berikhtiar dengan bersembunyi di dalam Gua Tsur, hingga Abu Bakar berkata , “ Jika salah seorang dari mereka melihat tempat berpijak kedua kakinya niscaya ia akan melihat kita”, maka nabi SAW bersabda :

مَا ظَنُّكَ باثْنَيْنِ اللهُ ثالِثُهُما

Jangan kau kira kita hanya berdua, Allah adalah yang ketiga”.

Keempat, Allah pasti akan mengabulkan setiap doa orang yang berdoa dan akan mengabulkan orang yang terdesak dengan kebutuhannya ketika ia berdo’a kepadaNya. Allah SWT berfirman :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina“. [QS. Al Mu’min 40:60]

Nabi bersabda :

“Tak seorang muslim pun berdoa kepada Allah dengan suatu do’a yang di dalamnya tidak dosa dan memutus silaturrahmi, kecuali Allah akan memberikannya salah satu dari tiga perkara, yaitu : bisa jadi Allah akan mempercepat terkabulnya do’a di saat di dunia, atau Allah akan menyimpan terkabulnya do’a di akhirat kelak, dan bisa jadi Allah akan memalingkan keburukan darinya sesuai dengan kadar do’anya. Para sahabat berkata, “Kalau begitu kami akan memperbanyak doa, “ Rasulullah SAW bersabda “Allah akan lebih banyak lagi ( mengabulkannya). [ HR. Ahmad, Al Bukhari , dalam Al Adab al Mufrad]

Demikianlah empat pokok dalam setiap doa yang harus kita pahami agar do’a kita bisa menembus langit, didengar dan dikabulkan Allah SWT. Wallahu a’lam bi ash-showab. [Arif Al Qondaly ]

Referensi :

Kitab Min Muqowwimat Nafsiyyah Al Islamiyyah, bab Addu’a wa adz-dzikru wa al istighfar.

 

MERAYAKAN TAHUN BARU MASEHI HARAM DALAM ISLAM

HUKUM MERAYAKAN TAHUN BARU MAHESI : HARAM

Sesungguhnya ummat Islam dahulu dimasa Nabi hingga era kekhilafahan Turki Utsmani hingga berakhir tahun 1924 tidak pernah ikut-ikutan merayakan tahun baru masehi. Ummat Islam selemah-lemahnya pada era tersebut tetap memahami bahwa menghadiri, mengucapkan selamat, terlebih ikut merayakannya merupakan kesesatan dan haram hukumnya.

Di Indonesia, mereka kaum muslimin sadar atau tidak sadar digiring untuk ikut mengucapkan selamat natal, ikut meniup terompet tanda Tahun baru Masehi, dan mereka tidak menyadari terhadap konsekuensi hukum yang diperbuatnya. Mereka beralasan yang dibuat-buat seperti Yahudi dan para pendusta lainnya. Mereka beralasan bahwa mengucapkan natal tidak mengapa yang penting hatinya tidak mengakui. Padahal perbuatan dikatakan benar tidak sekedar niat yang benar , namun juga menempuh cara yang benar sesuai dengan tuntunan Nabi.[ Lihat Tafsir Al Mulk ayat 2]. Pendapat yang sesat ini akan seperti yang dipakai sorang pelacur yang mengatakan saya melayani anda dengan niat untuk kebaikan. MasyaAllah…inilah wajah ummat Islam di Indonesia, dengan semangat kebinekaan yang ‘kebablasen’, mengapa ummat Islam tidak penah bangkit karena meninggalkan ajaran mulia dari Nabi dan mencampuradukkan ajaran yang benar dengan yang batil.

Lantas apa dasar Haramnya ikut merayakan tahun baru masehi, mengucapan selamat natal , mari perhatikan hujjah yang datang dari Al Qur’an dan As Sunnah sebagai berikut .

Dasar dari Al Qur’an :

Al Qur’an secara tersirat terdapat bentuk pelarangan mengikuti atau merayakan tahun baru masehi dan natal, sebagai berikut :

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاء الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

 “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah: 18)

وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ مَا جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ وَاقٍ

Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah.” (QS. Al-Ra’du: 37)

وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka.” (QS. Ali Imran: 105)

Allah Ta’ala menyeru kaum mukminin agar khusyu’ ketika berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan membaca ayat-ayat-Nya, lalu Dia berfirman,

وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. al-Hadid: 16)

Dasar Larangan Peringatan Tahun Baru dan Natal menurut Hadits Nabi SAW :

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan dishahihkan Ibnu Hibban. Ibnu Taimiyah menyebutkannya dalam kitabnya Al-Iqtidha’ dan Fatawanya. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 2831 dan 6149)

Imam al-Shan’ani rahimahullaah berkata, “Apabila menyerupai orang kafir dalam berpakaian dan meyakini supaya seperti mereka dengan pakaian tersebut, ia telah kafir. Jika tidak meyakini (seperti itu), terjadi khilaf di antara fuqaha’ di dalamnya: Di antara mereka ada yang berkata menjadi kafir, sesuai dengan zahir hadits; Dan di antara yang lain mereka berkata, tidak kafir tapi harus diberi sanksi peringatan.” (Lihat: Subulus salam tentang syarah hadits tesebut).

Ibnu Taimiyah rahimahullaah menyebutkan, bahwa menyerupai orang-orang kafir merupakan salah satu sebab utama hilangnya (asingnya syi’ar) agama dan syariat Allah, dan munculnya kekafiran dan kemaksiatan. Sebagaimana melestarikan sunnah dan syariat para nabi menjadi pokok utama setiap kebaikan. (Lihat: Al-Iqtidha’: 1/314)

Terkait dengan persoalan niat , maka hakekatnya niat yang benar dan ikhlas tidak akan mencampuradukkan yang haram dan yang halal, sebagaimana sabda nabi ;

Dari Zaid bin Arqam Radiallahuanhu meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya, “Barangsiapa yang mengucapkan ‘Lailahaillallah’ dengan ikhlas, dia akan dimasukkan ke dalam syurga.” Lalu ditanya kepada baginda SAW, “Bagaimanakah yang dimaksudkan dengan ikhlas itu?” Rasulullah SAW bersabda, “Ikhlas itu ialah yang mencegah dari melakukan perbuatan-perbuatan yang haram.” (Hadis riwayat at-Tabarani)

Oleh karena itu ummat Islam telah memiliki jalan hidup yang khas, yang unik dan istimewa yaitu syariat Islam yang mulia dan yang akan memuliakan ummat Islam dan akan menebar rahmatan lil ‘alamin jika diterapkan dan istiqomah di jalannya.

Islam jauh hari telah mengajarkan kebinekaan dan keberagaman, toleransi dan jangan menggunakan senjata “kebinekaan” menyebabkan aqidah kita dipertaruhkan. Padahal agama kita agama yang lurus dan satu-satunya agama yang hanya diridhoi Allah adalah Islam, sebagai agama yang sempurna.

Barangsiapa berpegang teguh akan selamat dunia dan akhirat dan barangsiapa berlepas diri dari agama makan akan celaka. Renungkanlah firman  Allah SWT :

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. [ QS. Ali Imron : 19 ].

Wallahu a’lam bi ash-showab | Arif T H Al Qondaly

 

PRINSIP DASAR SISTEM EKONOMI ISLAM

Setiap ideologi [ kapitalisme, sosialisme dan Islam] memiliki prinsip dasar yang berbeda dalam  mengatur perekonomian sebuah negara. Ada 4 [ empat ] prinsip dasar di dalam sistem ekonomi Islam yang  menonjol, guna mencapai tujuan terpenuhinya kebutuhan setiap individu masyarakat.

[1]. Pengaturan atas kepemilikan dan Pendistribusian kekayaan.

Kepemilikan dalam ekonomi Islam dibagi tiga. Pertama: kepemilikan umum. Kepemilikan umum meliputi semua sumber, baik yang keras, cair maupun gas, seperti minyak, besi, tembaga, emas dan gas; termasuk semua yang tersimpan di perut bumi, dan semua bentuk energi, juga industri berat yang menjadikan energi sebagai komponen utamanya. Dalam hal ini, negara hanya mengekplorasi dan mendistribusikannya kepada rakyat, baik dalam bentuk barang maupun jasa.

Kedua: kepemilikan negara. Kepemilikan negara meliputi semua kekayaan yang diambil negara seperti pajak [ diambildalam kondisi tertentu],  dengan segala bentuknya serta perdagangan, industri dan pertanian yang diupayakan oleh negara, di luar kepemilikan umum. Semuanya ini dibiayai oleh negara sesuai dengan kepentingan negara.

Ketiga: kepemilikan individu. Kepemilikan ini bisa dikelola oleh individu sesuai dengan hukum syariah.

Pada konsep kepemilikan ini akhirnya diatur pula bagaimana negara melakukan distribusi kekayaan ditengah ummat secara adil dan merata, sehingga seluruh rakyat mendapat kesejahteraannya.

[2]. Penetapan sistem mata uang emas dan perak.

Emas dan perak adalah mata uang dalam sistem Islam. Mengeluarkan kertas substitusi harus ditopang dengan emas dan perak, dengan nilai yang sama dan dapat ditukar, saat ada permintaan. Dengan begitu, uang kertas negara manapun tidak akan bisa didominasi oleh uang negara lain. Sebaliknya, uang tersebut mempunyai nilai intrinsik yang tetap, dan tidak berubah.

Ditinggalkannya mata uang emas dan perak dan menggantikannya dengan mata uang kertas telah melemahkan perekonomian negara. Dominasi mata uang dolar yang tidak ditopang secara langsung oleh emas mengakibatkan struktur ekonomi menjadi sangat rentan terhadap gejolak mata uang dolar. Goncangan sekecil apapun yang terjadi di Amerika akan dengan cepat merambat ke seluruh dunia. Bukan hanya itu, gejolak politik pun akan berdampak pada naik-turunnya nilai mata uang akibat uang dijadikan komoditas (barang dagangan) di pasar uang yang penuh spekulasi (untung-untungan).

[3]. Penghapusan sistem perbankan ribawi.

Sistem ekonomi Islam melarang riba, baik nasiah maupun fadhal; juga menetapkan pinjaman untuk membantu orang-orang yang membutuhkan tanpa tambahan (bunga) dari uang pokoknya. Di Baitul Mal (kas negara Daulah Islamiyah), masyarakat bisa memperoleh pinjaman bagi mereka yang membutuhkan, termasuk para petani, tanpa ada unsur riba sedikitpun di dalamnya.

[4]. Pengharaman sistem perdagangan di pasar non-riil.

Yang termasuk ke dalam pasar non-riil (virtual market) saat ini adalah pasar sekuritas (surat-surat berharga); pasar berjangka (komoditas emas, CPO, tambang dan energi, dll) dan pasar uang. Sistem ekonomi Islam melarang penjualan komoditi sebelum barang menjadi milik dan dikuasai oleh penjualnya, haram hukumnya menjual barang yang tidak menjadi milik seseorang. Haram memindahtangankan kertas berharga, obligasi dan saham yang dihasilkan dari akad-akad yang batil. Islam juga mengharamkan semua sarana penipuan dan manipulasi yang dibolehkan oleh Kapitalisme, dengan klaim kebebasan kepemilikan.

Inilah sistem ekonomi Islam yang benar-benar akan menjamin kesejahteraan masyarakat dan bebas dari guncangan krisis ekonomi.

Sumber :

Nidhom Iqtishodi fil ISlam,  Taqyuddin AN Nabhani.
Al Amwal fi Daulatil Khilafah, Taqyuddin AN Nabhani

 

ISLAM RAHMATAN LIL ALAMIN DAN ISLAM KAFFAH

Islam Rahmatan lil ‘alamin, sepertia apakah gambarannya? Apakah keberagamaan di Indonesia itu menunjukkan Islam rahmatan lil ‘Alamin?

Banyak di kalangan kaum muslimin di Indonesia yang tidak tepat dalam memahami Islam rahmatan lil ‘Alamin . Mereka menjadi ‘gagal paham’ pada tataran aplikasi terhadap ajaran Islam rahmatan lil alamin. Mengapa gagal paham? karena  rahmatan lil alamin yang dipahami rancu dengan pesan dalam al Qur’an. Sehingga menyebabkan perilaku sebagian kaum muslimim mengagungkan toleransi beragama yang kebablasen, moderat tanpa syarat, bahkan sampai perilaku sekuler yang dianggap benar. Islam rahmatan lil alamin yang salah dipahami, menyebabkan mereka kaum muslimin justru menjadi keras terhadap kelompok muslim lainnya sebaliknya lemah lembut terhadap non muslim. Lebih parah dengan semangat Islam rahmatan lil ‘aalamiin, justru alergi terhadap perjuangan penegakan syari’at Islam secara kaffah, dengan alasan kebinekaan. Bukankan Nabi dan para sahabat juga menerapkan Islam  secara kaffah sementara di dalamnya juga tetap hidup yahudi dan Nashrani.  Sungguh pemandangan segolongan ummat Islam saat ini yang sangat menyedihkan.islam-rahmatan-lil-alamin

Mereka yang gagal faham terhadap konsep Islam rahmatan lil ‘alamin itu menggunakan dalil Al Qur’an dengan pemahaman yang tidak menyeluruh. Mereka memang menggunakan dasar surat 21 ayat 107, namun gagal atau tidak mau memahami secara menyeluruh. Mari perhatikan firman Allah  berikut ini, yang menjadi sumber bahasan Islam rahmatan Lil ‘Alamin  :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [Al Anbiya 21: 107 ]

Imam Muslim dalam kitab shahihnya, meriwayatkan bahwa Abu Hurairah ra. Berkata, Ya Rasulallah! Sumpahilah orang-orang musyrik itu. “Beliau bersabda :

Sesugguhnya Aku tidak diutus sebagai orang yang  melaknat. Aku diutus hanyalah sebagai rahmat.[ HR. Muslim].

Dalam memahami surat al Ambiya ayat 107 “tidak tepat” hanya berhenti dalam tekstual hadits diatas saja, namun harus juga memahami kontextual hagits tersebut. Ajaran Rahmat yang dibawa nabi tidak sekedar berhenti  tidak melaknat saja.  Sebab, jika tidak dipahami secara lebih mendalam hakekat makna sebenarnya, maka pemahaman Islam rahmatan lil alamin akan berhenti dan berputar masalah mengalah, tidak melaknat, menahan diri dan sabar dalam perspektif sempit.

Jika kita pahami Islam rahmaan lil alamin secara lebih lengkap, maka kita akan menemukan maksud yang jauh lebih sempurna dari sekedar menahan tidak melaknat atau sabar diri saja.

HAKEKAT ISLAM RAHMATAN LIL ‘ALAMIN 

Jadi, dari uraian diatas, apa sebenarnya hakekat Islam Rahmatan lil ‘Aalamiin ?

Dari Ibnu Abbas berkaitan  terhadap firman Allah surat al anbiya’ 107 , menjelaskan sabda Rasulullah, SAW“ Barang siapa yang mengikutinya, niscaya hal itu menjadi ramat di dunia dan di akhirat. Dan barang siapa yang tidak mengikutinya, niscaya dia akan ditimpa suatu ujian yang mengenai seluruh umat berupa bencana alam, perubahan  bentuk dan fitnah. [ Tafsir Ibnu Katsir Juz 17/490]

Jadi jika kita perhatikan penjelasan dari Ibnu Abbas diatas maka syariat islam itu menjadi rahmat bagi alam semesta [ rahmatan lil alamin] tatkala kita ikuti ajaran rasulullah SAW dan kita terapkan ajarannya di tengah-tengah masyarakat. Hal itu sebagaimana yang dipraktekkan Rasulullah SAW selama hidup di Madinah Al Munawarah, dengan menegakkan ajarannya secara kaffah mulai dari pemerintahannya, hukum Islam,  sosial, serta metode dakwahnya.

Oleh karena itu, Jika tidak syariat Islam yang akan diperjuangkan dalam rangka mewujudkan Islam rahmatan Lil ‘Alamin, lantas apa yang harus kita ikuti dari diri rasulullah kalau bukan ajarannya?. Dan ummat Islam tahu, ajaran Islam adalah Tauhid [ aqidah] dan Syariat Islam yang semestinya harus diterapkan ditengah ummat yang saat ini tengah ditinggalkan.

Ulama’ ushul mengatakan ” khaithuma yakuunu as syar’u takuunu al mashlahah”  [ Dimana ada / diterapkan  syari’ah, disitulah terwujud kemaslahatan.] Maksudnya, maslahah yang hakiki hanya akan terwujud jika diterapkannya syari’at Islam. Dan bisa ditarik mafhum mukholafahnya bahwa ‘jika tidak diterapkan syariat Islam, maka tidak akan terwujud kemaslahatan]. Mengapa demikian, karena jika aturan tidak datang dari Allah [ al kholiq],  maka masing-masing manusia pasti akan menggunakan akal dan hawa nafsunya dalam mengatur kehidupannya. Kemaslahatan itu akan meliputi seluruh alam, jika Islam diterapkan secara kaffah. Disinilahh hakekat rahmatan lil alamin baru terwujud.

Maka ketika ada golongan atau sebagian dari kaum muslimin yang ingin memperjuangkan tegaknya syariat Islam secara kaffah, sesungguhnya mereka sebenarnya ingin agar Rahmatan lil ‘alamin itu turun  ke bumi, lantaran ditegakkannya syariat Islam. Karena syarat datangnya rahmat adalah jika ummat itu menjalankan atau mengikuti syariat Allah. Wallahu a’lam bi ash-showab. | Arif T H Al Qondaly

Referensi :

Tafsir Ibnu Katsir Juz 17/490]

related post :

Mewujudkan Islam Rahmatan lil ‘alamin  | Apa Maksud Islam Rahmatan Lil ‘Alamin?

APA MAKSUD ISLAM RAHMATAN LIL ‘ALAMIN?

HANYA DI TANGAN ORANG BERTAQWA, TERWUJUD ISLAM RAHMATAN LIL ‘ALAMIN
 [TAFSIR SURAT AL ANBIYA’  AYAT 21 : 105-107 ]

Sesungguhnya dunia dan seisinya ini diwarisi hanya oleh orang yang sanggup memperbaiki, menggunakan berbagai kekayaan dan memanfaatkan segala apa yang ada di bagian luar dan bagian dalamnya. Maka barang siapa memiliki otak yang cemerlang [mustanir] , pikaran yang bijaksana,  niscaya dia akan memiliki dan menguasai ,memetik buahnya serta mendapat petunjuk untuk menggali kekayaan yang dipendamnya.

Selanjutnya Allah menjelaskan bahwa berbagai syari’at dan petunjuk [hidayah] yang Dia wahyukan kepada rasul  sudah cukup  bagi orang yang mau mengambil pelajaran dari sunnah-sunnah-Nya terdapat di alam [ayat kauniyah], sehingga dapat mengambil pelajaran apa yang bermanfaat bagi urusan agama [akhirat]  maupun dunia. Sesungguhnya seluruh peringatan dan hukum syariat Islam yang dibawa oleh wahyu adalah petunjuk dan peringatan, jika memang orang-orang mau memikirkannya.

Dalam ayat 105 surat al Anbiya’ ini Allah SWT menegaskan bahwa hak pengelolaan bumi itu sesungguhnya berada di tangan hamba-hamba Allah yang saleh [ bertaqwa] saja.

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الأرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lawhmahfuz, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh.  [Al Anbiya 21: 105 ]

Selanjutnya Musthafa al Maraghi dalam tafsirnya Al Maraghi juz 17/128, menyebutkan  ada 4 pokok tegaknya kemaslahatan ummat, yang intinya adalah ;

  1. Hendaknya para pemimpin adalah ulama yang pemikir dan para pemerintah yang adil dan jauh dari melakukan kesewenang-wenangan, kedzaliman, serta pilih kasih, menolong pihak yang diperlakukan zalim dan menyelamatkannya dari yang alim, bekerja demi kebaikan dan kebahagiaan umat, sera berjuang siang dan malam guna mengangkat martabat umatnya.
  2. Hendanya umat memiliki tentara yang berdisiplin dan dapat melindungi kawasan dari sergapan musuh.
  3. Hendaklah seluruh warga dengan berbagai pekerjaannya seperti pedagangm industriawan dan petani mengerjakan keperjaanya sesuai ukuran yang diharapkan , setiap kelompok membantu kelompok lain demi tercapainya kepentingan umum dan melaksanakan kewajiban memberi pertolongan demi tercapai keberhasilan kerja.
  4. Hendaklah kelompok kerja ini mengorganisasi pekerjaannya dengan memerataka kerja diantara individu-individunya sesuai kebutuhan ummat sehingga tidak mengulrkan tangan dan meminta bantuan orang lain.

Ini adalah hukum yang telah dikuatkan oleh pengalaman seluruh Negara dalam berbagai masa. Tidak ada suatu umat pun yang mengabaikan seluruh atau sebagian perkara kecuali ia pasti menerima kemusnahan dan kehancuran.

Janji kekuasaan di muka bumi ini  pasti akan diberikan kepada ummat yang beriman [ bertaqwa ] sebagaimana terdapat dalam firman Allah SWT Surat AN Nur ayat 55 :

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik [TQS. An Nuur 24: 55]

Dan kemudian Allah senantiasa mengajak kita untuk berfikir, sebagaimana firman-Nya ,

إِنَّ فِي هَذَا لَبَلاغًا لِقَوْمٍ عَابِدِينَ

Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah Allah). [Al Anbiya 21: 106 ]

MEMAHAMI ISLAM RAHMATAN LIL ‘ALAMIN

Selanjutnya Allah SWT menyampaikan pesan yang menunjukkan sifat Rahman dan Rahim-Nya dengan  firman-Nya ,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [Al Anbiya 21: 107 ]

Maksud ayat ini adalah bahwa rasulullah saw diutus dengan membawa ajaran yang mengandung kemaslahatan di dunia dan di akhirat. Hanya saja orang kafir tidak mau memanfaatkan dan berpaling darinya akibat  tabiat yang rusak, tidak menerima rahmat dan tidak mensyukuri nikmat ini, sehingga tidak merasakan kebahagiaanya dalam urusan agama maupun dalam urusan dunia.

Imam Muslim dalam kitab shahihnya, meriwayatkan bahwa Abu Hurairah ra. Berkata, Ya Rasulallah! Sumpahilah orang-orang musyrik itu. “Beliau bersabda :

Sesugguhnya Aku tidak diutus sebagai orang yang  melaknat. Aku diutus hanyalah sebagai rahmat.[ HR. Muslim].

Dari Ibnu Abbas berkaitan  terhadap firman Allah surat al anbiya’ 107 , menjelaskan sabda rasulullah, SAW“ Barang siapa yang mengikutinya, niscaya hal itu menjadi ramat di dunia dan di akhirat. Dan barang siapa yang tidak mengikutinya, niscaya dia akan ditimpa suatu ujian yang mengenai seluruh umat berupa bencana alam, perubahan  bentuk dan fitnah. [ Tafsir Ibnu Katsir Juz 17/490]

Allah juga menyindir akan dungunya [ tersumbatnya telinga] orang kafir dalam menangkap dan  menerima petunjuk baik firman Allah maupun ayat-ayat kauniyah [alam semesta] ini ,  dengan firman-Nya :

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُولَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ

Dan jika Kami jadikan Al Qur’an itu suatu bacaan dalam selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?”. Apakah (patut Al Qur’an) dalam bahasa asing, sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: “Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh”. [ Al Fushilat 41: 44] . Wallahu a’lam bi ash-shawab.  [ Arif Tri H Al Qondaly ]

Kesimpulannya :

  • Islam  akan menjadi rahmat bagi seluruh alam jika kaum muslimin bertaqwa [ benar-benar tha’at] kepada Allah SWT.
  • Islam akan menjadi rahmat bagi semesta alam jika Islam beserta Syari’atNya yang sempurna diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan

Related Post :

Mewujudkan Islam Rahmatan lil ‘alamin  | Apa Maksud Islam Rahmatan Lil ‘Alamin?