All posts by QuranRuqyah

HIZB NASHR ( HIZB SAIF )

Sebuah hizib karya dari seorang Sulthonul Auliya pendiri Thoriqoh Syadziliyah yaitu Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili QS. Hizib ini dinamakan Hizib Nashor dan ada juga yang menyebutnya dengan Hizib Saif (Hizib Pedang)

بسم الله الرحمن الرحيم

اَللَّهُمَّ بِسَطْوَةِ جَبَرُوتِ قَهْرِكَ, وَبِسُرْعَةِ إِغَاثَةِ نَصْرِكَ, وَبِغَيْرَتِكَ ْلإِنْتِهَاكِ حُرُمَاتِكَ, وَبِحِمَايَتِكَ لِمَنِ احْتَمَى بِآيَتِكَ, نَسْأَلُكَ يَااَلله يَاسَمِيْعُ يَاقَرِيْبُ يَامُجِيْبُ يَاسَرِيْعُ يَامُنْتَقِمُ يَاشَدِيْدَا الْبَطْشِ يَاجَبَّارُ يَاقَهَّارُ يَا مَنْ لاَيُعْجِزُهُ قَهْرُ الْجَباَبِرَةِ وَلاَ يَعْظُمُ عَلَيْهِ هَلاَكُ الْمُتَمَرِّدَةِ, مِنَ الْمُلُوْكِ وَاْلاَكَاسِرَةِ, أَنْ تَجْعَلَ كَيْدَ مَنْ كَادَنِىْ فِىْ نَحْرِهِ وَمَكْرَ مَنْ مَكَرَ بِىْ عَائِدًا عَلَيْهِ, وَحُفْرَةَ مَنْ حَفَرَلِىْ وَاقِعًا فِيْهَا, وَ مَنْ نَصَبَ لِىْ شَبَكَةَ الْخِدَاعِ إِجْعَلْهُ يَاسَيِّدِى مُسَاقًا اِلَيْهَا وَمُصَادًا فِيْهاً وَاَسِيْرًالَدَيْهَا, اَللَّهُمَّ بِحَقِّ: كهيعص إِكْفِنَا هَمَّ اْلعِدَا, وَلَقِّهِمُ الرَّدَا, وَاجْعَلْهُمْ لِكُلِّ حَبِيْبٍ فِدَا, وَسَلِّطْ عَلَيْهِمْ عَاجِلَ النِّقْمَةِ فِى اْليَوْمِ وَالْغَدَا, اَللَّهُمَّ بَدِّدْ شَمْلَهُمْ, اَللَّهُمَّ فَرِّقْ جَمْعَهُمْ, اَللَّهُمَّ أَقْلِلْ عَدَدَهُمْ, اَللَّهُمَّ اجْعَلِ الدَّائِرَةَ عَلَيْهِمْ, اَللَّهُمَّ أَوْصِلِ اْلعَذَابَ إِلَيْهِمْ, اَللَّهُمَّ أَخْرِجْهُمْ عَنْ دَائِرَةِ الْحِلْمِ, وَاسْلُبْهُمْ مَدَدَ اْلاِ مْهَالِ, وَغُلَّ أَيْدِيَهُمْ, وَارْبُطْ عَلىَ قُلُوْبِهِمْ, وَلاَ تُبَلِّغْهُمُ اْلاَمَالُ, اَللَّهُمَّ مَزِّقْهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ مَزَّقْتَهُ مِنْ اَعْدَائِكَ, إِنْتِصَارً اِلاَنْبِيَائِكَ وَرَسُلِكَ وَاَوْلِيَائِكَ, ( اَللَّهُمَّ انْتَصِرْ لَناَ انْتِصَارَكَ ِلأَحْباَبِكَ عَلىَ اَعْدَائِكَ.3× ).( اَللَّهُمَّ لاَ تُمَكِّنِ اْلاَعْدَاءَ فِيْناَ وَلاَ تُسَلِّطْهُمْ عَلَيْناَ بِذُنُوْبِناَ. 3×) حم حم حم حم حم حم حم, حُمَّ ْلأَمْرُ وَجَاءَ النَّصْرُ فَعَلَيْناَ لاَيُنْصَرُوْنَ, حمعسق حِمَايَتُناَ مِمَّا نَخَافُ, اَللَّهُمَّ قِناَشَرَّاْلاَسْوَاءِ وَلاَ تَجْعَلْناَ مَحَلاًّ لِلْبَلْوَى, اَللَّهُمَّ أَعْطِناَ أَمَلَ الرَّجَاءِ وَفَوْقَ اْلأَمَلِ, يَاهُوْ يَاهُوْ يَاهُوْ, يَامَنْ بِفَضْلِهِ لِفَضْلِهِ نَسْأَلُكَ, إِلَهِى اْلإِجَابَةَ اْلإِجَابَةْ, يَا مَنْ أَجَابَ نُوْحًا فِى قَوْمِهِ, وَ يَا مَنْ نَصَرَ اِبْرَاهِيْمَ عَلىَ اَعْدَائِهِ, وَ يَا مَنْ رَدَّ يُوْسُفَ عَلىَ يَعْقُوْبَ, يَا مَنْ كَشَفَ ضُرَّ أَيُّوْبَ, يَا مَنْ أَجَابَ دَعْوَةَ زَكَرِيَّا, يَا مَنْ قَبِلَ تَسْبِيْحَ يُوْنُسَ بْنِ مَتَّى, نَسْأَلُكَ بِأَسْرَارِ هَذِهِ الدَّعْوَاتِ, أَنْ تَقَبَّلَ مَابِهِ دَعَوْناَكَ, وَ اَنْ تُعْطِيَناَ مَاسَأَلْناَكَ, أَنْجِزْلَناَ وَعْدَكَ الَّذِى وَعَدْتَهُ لِعِبَادِكَ الْمُؤْمِنِيْنَ, لاَ اِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ, إِنْقَطَعَتْ آمَالُناَ وَعِزَّتِكَ اِلاَّمِنْكَ, وَخَابَ رَجَاؤُناَ وَحَقِّكَ اِلاَّفِيْكَ , إِنْ أَبْطَأَتْ غَارَةُ اْلأَرْحَامِ وَابْتَعَدَتْ فَأَقْرَبُ اٌشَىْءِ مِنَّا غَارَةُالله, يَاغَارَةُ اللهِ جِدِّى السَّيْرَ مُسْرِعَةً فِى حَلِّ عُقْدَتِناَ يَاغَارَةُ اللهِ, عَدَتِالْعَادُوْنَ وَجَارُوْا, وَرَجَوْناَ الله مُجِيْرًا, وَكَفَى بِاللهِ وَلِياً, وَكَفَى بِاللهِ نَصِيْرًا, وَ حَسْبُنَاالله وَنِعْمَ اْلوَكِيْلُ , وَلاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِىِّ اْلعَظِيْمِ, سَلاَمٌ عَلىَ نُوْحٍ فِى اْلعَالَمِيْنَ, إِسْتَجِبْ لَناَ, ( آمِيْنَ. 3×) فَقُطِعَ دَابِرُ اْلقَوْمِ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا, وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ, وَصَلىَّ الله عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Dan banyak sekali fadhilah dari hizib ini, diantaranya untuk perlindungan dan untuk mengalahkan lawan

Hizb An-Nashr di tulis dan terinspirasi oleh Syekh Abu Hassan As-Syadzily sekitar 800 tahun yang lalu. Hizb ini disebut juga sebagai Hizb-Saif atau Hizbul Qoher. Ia ditulis pada saat Syekh Abu Hasan terjun dalam peperangan melawan tentara salib

Hizib Nasher / Nashor adalah wirid yang digunakan untuk memohon pertolongan Allah bagi orang yang membacanya dalam menghadapi lawan atau musuh.

Hizib ini juga di namakan Hizib Qaher atau Hizib Saif. Berguna untuk mengalahkan musuh dengan Kekuasaan Allah Ta’alaa. Dapat dikatakan bahwa Hizib ini merupakan amalan para Kyai dan Ulama pada masa lalu.Dan ada sholat2 khusus berkaitan dengan hizib nashr ini yang disebut sholat saif atau ada juga yang menyebutnya pedang para wali yang kaifiatnya disebutkan di dalam kitab Sirrul Jaliil

TERJEMAH HIZIB NASHR :

“ Ya Allah, dengan serbuan kekuasaan sifat kemenangan-MU, dengan pertolongan sifat Penolong-MU, dengan kecermatan-MU terhadap perongrongan kehormatan-MU dan dengan perlindungan-MU terhadap orang yang memohon perlindungan dengan ayat-ayat-MU, kami memohon kepada-MU Ya Allah, Duhai Dzat Yang Maha Mendengar, Duhai Dzat Yang Maha Dekat, Duhai Dzat Yang Maha Pengabul, Duhai Dzat Yang Maha cepat berlaku Aqdla-NYA, Duhai Dzat Yang Maha Penyiksa, Duhai Dzat Yang Maha keras siksaan-NYA, Duhai Dzat Yang Maha Pemaksa, Duhai Dzat Yang Maha Menang, Duhai Dzat Yang tidak akan melemahkan-NYA keperkasaan pemaksa dan yang tidak akan mengagungkan pada-NYA kebinasaan raja-raja dan kaisar-kaisar pendurhaka, hendaklah Engkau jadikan tipu daya orang yang menipu dayaku dalam lehernya, hendaklah Engkau jadikan tipuan orang yang menipuku agar kembali kepadanya, dan lubang orang orang yang menggali agar aku terjerumus kedalamnya dan orang yang memasang perangkap tipuan untukku, jadikanlah ia tergiring kepadanya dan terperangkap kepadanya serta tertahan padanya.

Ya Allah dengan kehormatan كهيعص semoga Engkau mencukupiku atas musuh-musuhku, dan semoga Kau binasakan mereka dan jadikanlah mereka untuk tiap kekasih sebagai tebusan , jadikanlah untuk mereka kesegeraan siksaan pada hari ini dan esok pagi. Wahai Allah, semoga Engkau porak-porandakan perkumpulan mereka, cerai-beraikanlah persatuan mereka, Wahai Allah sedikitkanlah jumlah mereka.

Ya Allah semoga Engkau jadikan lingkungan siksaan atas mereka, Ya Allah sampaikanlah siksaan kepada mereka, Ya Allah keluarkanlah mereka dari sifat santun Engkau, cabutlah penangguhan siksaan atas mereka, belenggulah tangan-tangan mereka dan ikatlah hati-hati mereka dan janganlah Kau sampaikan angan-angan mereka. Ya Allah robeklah mereka dengan robekan-robekan yang Engkau robekkan musuh-musuh Engkau untuk menolong nabi-nabi Engkau dan utusan-utusan serta kekasih Engkau. Ya Allah berilah kami pertolongan dengan pertolongan yang Engkau berikan kepada kekasih-kekasih-MU terhadap musuh-musuh-MU ( 3x )
Ya Allah, janganlah Engkau mungkinkan musuh-musuh bagi kami, dan janganlah Engkau kuasakan mereka atas kami dan janganlah Engkau kuasakan mereka atas kami karena dosa-dosa kami ( 3x )
حم ( 7x ) telah pasti perkara dan telah datang kemenangan dan atas kami semoga mereka tidak diberi kemenangan , عسق حم adalah penjaga kami dari ketakutan yang kami takuti. Wahai Allah lindungilah kami dari kejahatan yang menyusahkan dan janganlah Engkau jadikan kami sebagai tempat ujian. Ya Allah, semoga Engkau beri kami atas harapan kami dan yang diatas harapan kami. Ya Huu…Ya Huu…Ya Huu

Wahai Dzat yang dengan anugerah-NYA untuk anugerah-NYA kami mohon kepada-MU kesegeraan, kesegeraan, Duhai Tuhan kami kami mohon dikabulkan, Mohon dikabulkan wahai Dzat yang mengabulkan Nuh atas kaumnya, Wahai Dzat yang menolong Ibrahim terhadap musuh-musuhnya, Wahai Dzat yang mengembalikan Nabi Yusuf kepada Ya’kub, Wahai Dzat yang menyingkap kemelaratan Nabi Ayyub, Wahai Dzat yang mengabulkan do’a Nabi Zakaria, Wahai Dzat yang menerima tasbih nabi Yunus bin Matta, kami mohon kepada-MU dengan lantaran doa-doa ini, semoga Engkau menerima perkara-perkara yang kami mohonkan Kepada-MU dan berilah kami apa-apa yang kami mohon kepada-MU , semoga Engkau tunaikan janji –MU seperti yang Kau tunaikan kepada hamba-hamba-MU yang MU’min. Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menganiaya, telah putus harapan kami, demi kemulyaan Engkau melainkan dari Engkau, dan telah gagal harapan kami, demi kebenaran Engkau melainkan kepada Engkau. Jika bantuan dari kerabat terlambat dan menjauh, maka sedekat-dekat pertolongan adalah pertolongan-MU.

Wahai bantuan Allah, ayunkanlah langkah kami dengan cepat dalam menguraikan keruwetan kami, Wahai Allah, telah melampaui batas orang-orang yang melampaui batas dan mereka durhaka, sedang kami mengharapkan Allah sebagai Penolong kami. Cukuplah bagi kami Allah sebagai Pemelihara, cukuplah bagi kami Allah sebagai Penolong. Allahlah yang mencukupi kami dan Dialah sebaik-baik wakil. Tidak ada daya ( untuk menghindar dari maksiat ) dan tidak ada kekuatan untuk beribadah selain dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Kesejahteraan dilimpahkan atas Nabi Nuh diseluruh alam. Semoga Engkau kabulkan doa kami. Kabulkanlah Ya Allah. 3x. Kemudian babatlah barisan belakang kaum yang dholim.
Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Dan semoga rahmat ta;dzim senantiasa terlimpah atas junjungan kami Nabi Muhammad, atas keluarganya dan semua sahabat beliau….”

Cara Pengamalan Hizib Nashr :

  1. Sebaiknya dikerjakan pada malam hari. Setelah bangun, maka berwudhu’lah dan melakukan sholat sunah 2 rakaat.
  2. Setelah membaca tawasul, lalu membaca :
    “Hasbunallahu Wa Ni’mal Wakiil”
    “Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung” ( QS. Ali-Imran : 173 ) 450x.
  3. Bacalah dengan penuh perhatian dan khusu’. Mulut mengucapkan dzikir tersebut dan hati memohon kepada Allah perlindungan dari lawan atau musuh.
  4. Selanjutnya apa yang kamu mohon hendaknya di mohon dalam hati dengan penuh konsentrasi pada waktu membaca ayat di atas. Apakah anda akan memohon agar musuh tersebut lepas jabatannya atau kocar-kacir ekonominya dan lain-lain.
  5. Sebaiknya jika kedzoliman musuh itu sangat luar biasa, seyogjanya di lakukan wirid secara berjamaah setiap malam selasa atau malam jum’at.

    بسم الله الرحمن الرحيم
    اِلىَ حَضْرَةِ رَسُوْلِ اللهِ مُحَمَّدٍ صَلىَّ الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاِلىَ حَضْرَةٍ أَرْوَاحِ إِخْوَانِهِ مِنَ اْلاَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَاِلىَ حَضْرَةِ أَهْلِ بَيْتِهِ وَاَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ اَلْفَاتِحَةْ…
    Al-fatihah kehadirat Rasulullah SAW, semua saudara beliau dari antara para Nabi dan Rasul, keluarga ( Ahlul Bait ) beliau dan semua sahabat beliau. Al-fatihah …

    ثُمَّ اِلَى حَضْرَةِ أَرْوَاحِ جَمِيْعِ الصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالحِيْنَ وَاْلاَوْلِياَءِ الْمُقَرَّبِيْنَ َاْلاَحْياَءِ مِنْهُمْ وَالْمَيِّتِيْنَ خُصُوْصًا اِلَى حَضْرَةِ رُوْحِ أَبِى الْحَسَنْ عَلِىٍّ َالشَّاذِلىِ اَلْفَاتِحَةْ……..

    Al-fatiheh kehadirat arwah para Siddiq, para syuhada, dan kepada para sholihin, para Wali Allah yang dekat ( khusus ) kedudukannya, baik yang masih hidup atau yang telah wafat, dan Khusus kepada Shohibul Hizb Syaikh Abil Hasan Ali Asy-Syadzily. Al-fatihah …

    بسم الله الرحمن الرحيم
    اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ أَسْرَارِ هَذِهِ اْلأَيَةِ:
    ( 450x حَسْبُناَاللهِ وَنِعْمَ اْلوَكِيْلُ.)

    Kemudian di teruskan membaca :
    Surat Al Imran Ayat 173 sebanyak 7x dan Surat Al Imran Ayat 174 sebanyak 1x

 

PENJELASAN 

Hizb Nashr diatas memang bukan langsung diajarkan dari Nabi SAW, kendati demikian tidak ada salahnya kita mengamalkannya, sebagaimana ketika kita berdoa kepadaNya dengan redaksi kita sendiri.  Hizb Nashr justru baik diamalkan  disaat dibutuhkan seperti dalam rangka melawan kedzaliman penguasa, dimana secara fisik tidak mampu melawannya. Sedang jika dibiarkan kedhaliman terus merajalela.

Dalam Islam Do’a adalah senjata pamungkas  dalam rangka mendatangkan pertolongan Allah SWT.  Untuk itu dengan niat ikhlas karena Allah dan dengan niat untuk mengharap ridha Allah doa izb Nasr itu baik diamalkan ummat Islam ketika terjadi kedzaliman penguasa atau ketika terjadi peperangan terhadap musuh , dimana kita yang berada di pihak yang benar [ tidak bermaksiyat kepada Allah], atau dalam rangka menegakkan kebenaran [ kalimat haq]. Allahu a’lam bi ash-shawab. [ Arif Al Qondaly].

 

Advertisements

HUKUM WARIS MERATA DALAM ISLAM

HUKUM WARIS MERATA ANAK LAKI DAN PEREMPUAN BOLEHKAH?

Banyak dikalangan ummat Islam yang belum faham ketentuan syariat Islam, dalam hal ini tentang hukum waris. Sehingga  seakan meremehkan ketentuan hukum tersebut [ faraidh ] yang sudah dijelaskan di dalam al Qur’an Surat An Nisa ayat 11-12 secara  rinci. Akibatnya  tidak sedikit muncul pemikiran yang mengatakan bolehnya membagi harta waris sama rata baik anak laki atau perempuan. Mereka beralasan selama   ikhlas,  dan untuk kemaslahatan keluarga.

Oleh karena itu mengkaji tentang ilmu faraidh / Ilmu Waris itu sangat urgen sekali bagi umat Islam, disamping suatu kewajiban yang  yang harus ditunaikan. Mengapa demikian, karena ilmu faraidh itu yang pertama-tama akan ditinggalkan ummat Islam sebagaimana Rasulullah SAW telah bersabda :

Dari Abu Hurairah ra, bahwa nabi SAW bersabda : “Pelajarilah faraidh dan ajarkanlah kepada manusia, karena faraidh adalah separuh dari ilmu dan akan dilupakan. Faraidhlah ilmu yang pertama kali dicabut dari ummatku” [ HR. Ibnu Majah dan AdDaruqutni]

Jika ilmu itu telah dicabut,  maka yang ada adalah kebodohan [ Jahlun], yang berujung pada pelanggaran terhadap aturan-aturan dari Allah SWT.  Padahal ketika Allah SWT telah menetapkan aturan atau hukum, tidak patut bagi muslim atau muslimah membuat aturan sendiri. Allah Maha Adil, dan Allah mengetahui apa yang terbaik bagi  hambanya. Allah SWT berfirman :

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا

Artinya : “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al Ahzab : 36)

Kalau kita merujuk pada QS An Nisa ayat 11, sebenarnya diakhir ayat ini telah ditegaskan tentang ketentuan syariat yang semestinya dipatuhi seorang hamba,  dengan firmanNya :

يُوصِيكُمُ اللّهُ فِي أَوْلاَدِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأُنثَيَيْنِ

Artinya : “Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan.” (QS. An Nisaa : 11)

Lalu, secara tegas ketentuan pembagian waris yang terdapat dalam QS An Nisa ayat 11-12 itu ditegaskan kembali dalam firman Nya pada ayat berikutnya QS. An nisa ayat 13 :

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. [ QS. AN Nisa : 13 ]

Mafhum Mukholafah ( mafhum kebalikannya ) adalah, jika hukum waris itu telah ada ketentuannya dari Allah, artinya telah disyariatkan secara tegas, maka barangsiapa menyelisihi atau mengambil aturan baru, ancamannya adalah Neraka. Sebaliknya Syurga bagi yang mengikuti ketentuanNya.

Kesimpulannya :

  1. Hukum waris yang sesuai ketentuan di dalam Al Qur’an tidak boleh dirubah dengan pembagian merata ( semisal anak anak laki-laki dan anak perempuan dibagi sama), kendati dengan niat ikhlas dan untuk kemaslahatan keluarga.
  2. Jika pembagiannya dilakukan sebelum orang tua meninggal, maka dibolehkan dibagi hingga merata, sebagai bentuk hibah dari orang tua, dengan pembagian yang makruf dan adil.
  3. Jika harus dibagi rata ketika orang tua sudah meninggal, maka tetap harus dibagi sesuai ketentuan hukum waris terlebih dahulu, baru bagi si anak laki-laki boleh memberikan kepada si anak perempuan sebagai hibah, dan tidak ada syarat sebelum pembagian waris. Artinya harta waris si anak laki boleh diberikan sebagian dan boleh tidak, karena tidak mengikat. Allahu A’lam bi ash-showab [ Arif TH Al Qondaly ]

 

Sumber :
Tafsir Ibnu Katsir , Juz 4 / 368
Fiqh Sunnah Juz 12,13,14 hal 255

HUKUM WANITA / MUSLIMAH NAIK TAXI

Hukum  Wanita naik Taxi  saat ini marak ditanyakan kaum muslimah karena maraknya taxi online semisal grab dan lainnya yang menawarkan taxi dengan mudah, cepat dan biaya yang murah. Karena ketidak hati-hatiannya atau karena kurang paham erhadap hukum Islam terkait masalah khalwat, banyak kaummuslimin yang melangarnya.

Oleh karena itu tulisan ini akan menjelaskan  hukum boleh dan tidaknya seorang wanita  naik taxi dengan driver seorang laki-laki non mahram dan berada dalam mobil berdua.

Hukum Umum terkait dengan khalwat.

Berduaan seorang  wanita dengan laki-laki non mahram hukum asalny adah haram sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam,

لا يخلون رجل بامرأة إلا مع ذي محرم

Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan perempuan kecuali bersama mahramnya.

Demikian juga sangat tegas larangan berduaan laki-laki -perempuan non mahram ( khalwat ) sebagaimana sabda nabi SAW :

وما من رجل خلا بامرأة إلا كان ثالثهما الشيطان

Tidaklah seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang wanita kecuali ketiganya adalah setan.”

Bagaimana hukum seorang wanita naik taxi dengan sopir laki-laki non mahram?

Seorang syeikh ditanya tentang seorang wanita yang naik taxi sendirian , padahal berduaan dengan sopir laki-laki non mahram, jawabnya sebagai berikut :

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله صلى الله عليه وسلم، وبعد

Tidak mengapa wanita naik taksi (dengan posisi) di belakang supir taksi, di daerah yang banyak rumah dan banyak orang di sana. Sehingga orang-orang bisa melihatnya dan juga bisa melihat di supir taksi. Namun ini ketika terdesak untuk melakukannya.

Oleh karena itu, maka hendaknya tidak bermudah-mudah dalam melakukan hal ini, kecuali karena darurat sebagaimana sudah saya sebutkan.

Adapun jika di daerah yang di jalannya tidak banyak rumah-rumah, maka dalam kondisi ini tidak diperbolehkan. Demikian juga jika melakukan perjalanan safar, juga tidak diperbolehkan. Tidak halal bagi seorang wanita untuk bersafar berdua saja dengan supir taksi. Demikian juga tidak diperbolehkan jika safarnya hanya ditemani teman wanita, karena seorang wanita itu bukan mahram safar bagi wanita yang lain. [Sumber Fatwa Syaikh Musthafa Al Adawi dalam : http://mostafaaladwy.com/play-8086.html ]

Menurut penulis pendapat diatas terkait wanita yang naik taxi yang jelas identitas sebagai taxi resmi  seperti kosti, atlas, blue bird dan sejenisnya bukan taxi online  semisal go car.  Hukum terkait naik taxi online yang tidak jelas simbulnya sebagai taxi sebagai transportasi umum adalah haram karena masuk pada wilayah private. Karena hukumnya berlaku sama dengan naik mobil pribadi .

Oleh karena itu marilah sebagai seorang muslim dan muslimah untuk senantiasa menjaga kesucian dirinya, agar menjauhkan dari persoalan yang melanggar ketentuan batas-batas yang diharamkan Allah, dan juga senantiasa menjaga  harga diri dan menghindarkan diri dari fitnah . Allahu a’lam bi ash-showab [ Arif Tri Al Qondaly]

HUKUM MUSLIMAH NAIK OJEK

Masih banyak pertanyaan terkati Hukum Muslimah ( Wanita ) Naik Ojek dalam pandangan Islam. Hal ini terkait maraknya penyedia layanan ojek online seperti gojek, grab dan lainnya. Kendati keberadaannya ( ojek Online) cukup membantu , namun masyarakat khususnya akhwat/muslimah perlu mengetahui hukumnya dalam pandangan Islam.

Bagaimana hukum wanita naik ojek dalam pandangan Islam?

Hukum terkait wanita naik ojek, bisa dilihat di dalam Hadits no. 4849 dalam kitab Sahih Bukhari; dan hadits no. 2182 dalam kitab Sahih Muslim tentang Asma binti Abu Bakar (saudari Aisyah dan ipar Nabi) yang pernah diajak naik unta bersama Nabi (boncengan bersama dalam satu kendaraan):

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، قَالَتْ : ” تَزَوَّجَنِي الزُّبَيْرُ وَمَا لَهُ فِي الْأَرْضِ مِنْ مَالٍ وَلَا مَمْلُوكٍ وَلَا شَيْءٍ غَيْرَ نَاضِحٍ وَغَيْرَ فَرَسِهِ ، فَكُنْتُ أَعْلِفُ فَرَسَهُ وَأَسْتَقِي الْمَاءَ وَأَخْرِزُ غَرْبَهُ وَأَعْجِنُ ، وَلَمْ أَكُنْ أُحْسِنُ أَخْبِزُ ، وَكَانَ يَخْبِزُ جَارَاتٌ لِي مِنْ الْأَنْصَارِ وَكُنَّ نِسْوَةَ صِدْقٍ وَكُنْتُ أَنْقُلُ النَّوَى مِنْ أَرْضِ الزُّبَيْرِ الَّتِي أَقْطَعَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَأْسِي وَهِيَ مِنِّي عَلَى ثُلُثَيْ ، فَرْسَخٍ ، فَجِئْتُ يَوْمًا وَالنَّوَى عَلَى رَأْسِي ، فَلَقِيتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَهُ نَفَرٌ مِنْ الْأَنْصَارِ ، فَدَعَانِي ، ثُمَّ قَالَ : إِخْ إِخْ ، لِيَحْمِلَنِي خَلْفَهُ فَاسْتَحْيَيْتُ أَنْ أَسِيرَ مَعَ الرِّجَالِ وَذَكَرْتُ الزُّبَيْرَ وَغَيْرَتَهُ وَكَانَ أَغْيَرَ النَّاسِ ، فَعَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِّي قَدِ اسْتَحْيَيْتُ ، فَمَضَى ، فَجِئْتُ الزُّبَيْرَ ، فَقُلْتُ : لَقِيَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى رَأْسِي النَّوَى وَمَعَهُ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِهِ ، فَأَنَاخَ لِأَرْكَبَ فَاسْتَحْيَيْتُ مِنْهُ وَعَرَفْتُ غَيْرَتَكَ ، فَقَالَ : وَاللَّهِ لَحَمْلُكِ النَّوَى كَانَ أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ رُكُوبِكِ مَعَهُ ، قَالَتْ : حَتَّى أَرْسَلَ إِلَيَّ أَبُو بَكْرٍ بَعْدَ ذَلِكَ بِخَادِمٍ يَكْفِينِي سِيَاسَةَ الْفَرَسِ فَكَأَنَّمَا أَعْتَقَنِي ” .

Ringkasan atinya : Dari Asma bin Abu Bakar … Suatu hari saya datang ke kebun Zubair (suami saya) dan memanggul benih di atas kepala saya. Di tengah jalan saya bertemu Rasulullah bersama sekolompok orang dari Sahabat Anshar. Lalu Nabi memanggilku dan menyuruh untanya (dengan mengatakan “ikh .. ikh”) agar merunduk untuk membawaku di belakang Nabi.

Dalam menganalisa hadits ini, Imam Nawawi dalam Syarh Muslim XIV/166 , menyatakan:

. وفي هذا الحديث جواز الإرداف على الدابة إذا كانت مطيقة ، وله نظائر كثيرة في الصحيح سبق بيانها في مواضعها . وفيه ما كان عليه صلى الله عليه وسلم من الشفقة على المؤمنين والمؤمنات ورحمتهم ومواساتهم فيما أمكنه . وفيه جواز إرداف المرأة التي ليست محرما إذا وجدت في طريق قد أعيت ، لا سيما مع جماعة رجال صالحين ، ولا شك في جواز مثل هذا . وقال القاضي عياض : هذا خاص للنبي صلى الله عليه وسلم بخلاف غيره ، فقد أمرنا بالمباعدة من أنفاس الرجال والنساء ، وكانت عادته صلى الله عليه وسلم مباعدتهن لتقتدي به أمته ، قال : وإنما كانت هذه خصوصية له لكونها بنت أبي بكر ، وأخت عائشة ، وامرأة الزبير ، فكانت كإحدى أهله [ ص: 339 ] ونسائه ، مع ما خص به صلى الله عليه وسلم أنه أملك لإربه . وأما إرداف المحارم فجائز بلا خلاف بكل حال . قولها ( أرسل إلى بخادم ) أى جارية تخدمنى يقال للذكر والأنثى خادم بلا هاء قولها فى الفقير الذى استأذنها فى أن يبيع فى ظل دارها وذكرت الحيلة فى استرضاء الزبير هذا فيه حسن الملاطفة فى تحصيل المصالح ومداراة أخلاق الناس فى تتميم ذلك والله أعلم

Artinya: Hadits ini menunjukkan bolehnya berboncengan (antara lelaki dan perempuan bukan mahram) pada satu kendaraan apabila wanita itu seorang yang taat agamanya. Dalam soal hadits ini ada banyak pendapat ulama yang berbeda antara lain: (a) adanya sifat belas kasih Nabi pada umat Islam baik laki-laki dan perempuan dan berusaha membantu sebisa mungkin ; (b) Pendapat lain menyatakan bolehnya membonceng perempuan yang bukan mahram apabila dia ditemukan di tengah jalan dalam keadaan kecapean. Apalagi kalau bersama sejumlah laki-laki lain yang saleh. Dalam konteks ini maka tidak diragukan kebolehannya.; (c) Menurut Qadhi Iyad bolehnya ini khusus untuk Nabi saja, tidak yang lain. (Karena) Nabi telah menyuruh kita agar laki-laki dan perempuan. saling menjauhkan diri. Dan biasanya Nabi menjauhi para perempuan dengan tujuan supaya dikuti umatnya. Kasus ini adalah kasus khusus karena Asma adalah putri Abu Bakar, saudari Asiyah alias ipar dan istri dari Zubair. Maka, seakan Asma itu seperti salah satu keluarganya… Adapun lelaki membonceng wanita mahram maka hukumnya boleh secara mutlak dalam segala kondisi.

Berkaitan dengna sarah diatas dan berdasar fakta tunggangan yang dipakai nabi saat membonjengkan Asma, dapat diambil pendapat ( disimpulkan ) sebagai berikut ::

  1. Dibolehkan muslimah naik ojek  dengan beberapa pertimbangan, jika terdapat sekat antara driver dengan penumpangnya seperti punuk onta antara nabi dengan asma’. Sehingga tidak terjadi bersinggungan badan atau kulit. Namun jika tidak ada sekat yang jelas seperti ojek online hukumnya haram.
  2. Dalam perjalanan dekat yang tidak melewati batas safar dan berada di tempat atau melewati tempat yang ramai bukan sepi sehingga tidak menimbulkan fitnah dan membahayakan muslimahnya.
  3. Dalam keadaan darurat ,  dimana tidak ada lagi alternatif kendaraan lainnya, sementara  wanita tersebut membutuhkan tunggangan untuk segera melakukan perjalanan. Allahu a’lam bi ash Showab. ( Arif Tri Al Qondaly)

 

 

HUKUM WANITA BEPERGIAN ( SAFAR ) TANPA MAHRAM

Bagaimana hukum wanita bepergian ( safar) tanpa mahram? Dalam hal ini sebenarnya tidak ada pertentangan di kalangan ulama tentang larangan safar seorang wanita lebih dari sehari semalam tanpa Mahram. Namu ketika memahami illat ( sebab munculnya hukum) terkait larangan safar,para ulama berbeda pendapat.

Pendapat pertama tetap menggunakan keumuman dalil atas larangan safar, tanpa ada syarat dan sebab-sebab yang bisa diterima. Sedang pendapat kedua, menggunakan kaedah yang intinya , wanita bisa safar tanpa disertai mahram, asal dilakukan rombongan para wanita yang secara gholabatu adz-adzan ( dugaan kuat) dijamin aman dan tidak menimbulkan fitnah. Misalnya dalam hal safar  haji di zaman sekarang ini. Dalam hal ini penulis hanya memaparkan kedua pendapat yang berseberangan dan kami rangkum seperti dibawah ini.

Dalil Larangan Wanita Berpergian tanpa Mahram

  1. Ibnu Umar rodhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda yang artinya,”Tidak diperbolehkan bagi wanita untuk bepergian selama tiga hari kecuali bersama mahromnya.”.”
  2. Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,”Tidak halal bagi wanita untuk bepergian sejauh perjalanan sehari semalam kecuali bersama mahromnya.” (Muttafaqun ‘alaihi).
  3. Hadist Ibnu Abbas: radhiyallahu ‘anhumabahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabdas :

“Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berkholwat (berduaan) dengan seorang wanita dan janganlah sekali-kali seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya”. Lalu ada seorang laki-laki yang bangkit seraya berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah mendaftarkan diriku untuk mengikutu suatu peperangan sedangkan istriku pergi menunaikan hajji”. Maka Beliau bersabda: “Tunaikanlah hajji bersama istrimu” (HR Bukhori)

Dalil Bolehnya Wanita Safar tanpa Mahram

  1. Seorang wanita muslimah dibolehkan melaksanakan ibadah haji tanpa mahram.  Dan mahram bukanlah syarat wajib haji bagi seorang wanita muslimah. Ini adalah pendapat Hasan Basri, Auza’I, Imam Malik Syafi’I, dan Ahmaddalam salah satu riwayat dari beliau, serta pendapat Dhahiriyah. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Taimiyah dalam riwayat terakhir beliau. (al-Majmu’: 8/382, al-Furu’: 3/ 177). Juga diriwayatkan dari al-Karabisi salah satu ulama Syafi’iyah yang membolehkan wanita melakukan safar mustahab tanpa disertai mahram.
  2. Imam Malik menyatakan bahwa mahram bisa diganti dengan rombongan wanita yang bisa dipercaya selama perjalanan aman. Berkata Imam al Baji al-Maliki :

“Adapun yang disebut oleh sebagian ulama dari teman-teman kami, itu dalam keadaan sendiri dan jumlah yang sedikit. Adapun dalam keadaan jumlah rombongan sangat banyak, sedang jalan – yang dilewati – adalah jalan umum yang ramai dan aman, maka bagi saya keadaan tersebut seperti keadaan dalam kota yang banyak pasar-pasarnya dan para pedagang yang berjualan, maka seperti ini dianggap aman bagi wanita yang bepergian tanpa mahram dan tanpa teman wanita. “ (al-Muntaqa : 3/17)

  1. “Dari Aisyah tatkala ada orang yang menyampaikan kepada beliau bahwa mahram adalah syarat wajib haji bagi wanita muslimah, beliau berkata:  “Apakah semua wanita memiliki mahram untuk pergi haji?!” (Riwayat Baihaqi)
  2. Kaidah Fiqhiyah.

“ Dalam masalah ibadah mahdha dasarnya adalah  ta’abbud, ( menerima apa adanya tanpa dicari-cari alasannya, seperti jumlah rekaat sholat) dan dalam masalah mu’amalat dasarnya adalah ta’lil.( ilat syar’iyyah) ”

  1. “Apa-apa yang diharamkan karena dzatnya, tidaklah dibolehkan kecuali dalam keadaan darurat, dan apa-apa yang diharamkan dengan tujuan menutup jalan ( kemaksiatan ), maka dibolehkan pada saat dibutuhkan “

Demikian seputar hukum safar bagi wanita tanpa mahrom. Terlepas dari perbedaan pendata di atas, kedua-duanya memiliki pendapat  ( hujjah) yang masuk dalam ra’yul islamiy dan harus dihormati.  Untuk mengetahui jarak atau batas safar bisa diklik hukum  safar dan jarak safar. Arif TH AL Qondaly.

 

 

 

 

 

 

 

 

CELAKA BAGI ORANG YANG CURANG

TAFSIR QS. AL MUTHOFFIFIN ( 83 ) AYAT 1-6

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ .  الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ  .  وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ  .  أَلا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ  .  لِيَوْمٍ عَظِيمٍ  .  يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (1) (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi (2) dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.(3) Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan (4) pada suatu hari yang besar (5) yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?(6) ( QS. Al Muthoffifin : 1-6)

 KetikaNabi SAW baru sampai di Madinah, kota tersebut terkenal dengan penduduknya yang curang. Kemudian turun surat yang Al Muthoffifin ayat 1,

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. ( 83:1).

Suatu hari Hilal Ibn Talq bertanya kepada Ibnu Umar, Siapakah manusia yang paling baik dan paling memenuhi dalam memakai takaran? Penduduk Makkah atau Madinah? Ibnu Umar menjawab : Sudah seharusnya bagi mereka berbuat demikian  tidakkah negkau mendengar firman-Nya Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. ( 83:1).

Kata wailun, adalah bentuk adzab yaitu adzab jahannam, yaitu bagi orang yang curang. Makna thaffif disini adalah curang dalam memakai takaran dan timbangan,yang adakalanya meminta tambahan bila menagih dan mengurangi jika membayar kepada mereka. Oleh karena itu orang yang curang itu dijelaskan dalam ayat berikutnya :

الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ

(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi (83:2)

Yakni bila mereka menerima takaran dari orang lain ,maka mereka meminta supaya dipenuhi dan diberi tambahan.

وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ

dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. (83:3)

Dalam ayat lain Allah dengan tegas untuk menegakkan timbangan sebagaimana firmanNya dalam surat Ar Rohman ayat 9 :

وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ

Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. ( QS. 55: 9)

Dan Allah telah membinasakan kaum Syu’aib dan menghancurkannya disebabkan mereka curang terhadap orang lain dalam melakukan timbangan.

Kemudian Allah SWT berfirman :

أَلا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ . لِيَوْمٍ عَظِيمٍ

Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan (4) pada suatu hari yang besar (5)

Iman senantiasa menyatukan  antara kepercayaan terhadap eksistensi Allah sebagai sang khaliq dan kepastian akan hari akhir. Keyakinan terhadap Allah dan hari berbangkit itu mendorong seseorang senantiasa takut untuk melanggar perintah-perintahNya  dan larangan-larangan-Nya.

Orang yang biasa menakar timbangan ( curang) itu hakekatnya tidak takut dengan hari berbangkit. Yang di hari itu mereka akan diberdirikan dihadapan Tuhan Yang mengetahui semua isi dan rahasia,  untuk dimintai pertanggungjawaban.

Lalu Allah SWT mengingatkan bahwa pada hari kebangkitan tersebut setiap manusia tidak terkecuali akan berdiri menghadap hari perhitungannya masing-masing, sebagaimana firmanNya :

يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?(83: 6)

ImamMalik telah meriwayatkan dari Nafi’, dari Ibn Umar r.a. bahwasanya  nabi SAW pernah bersabda :

: Di hari ketika manusia berdiri di adapan Tuhan semesta alam, sehingga seseorang dari mereka tenggelam ke dalam keringatnya sampai sebatas pertengahan hidungnya.

Imam Muslim telah  menceritakan, dari Al Hakam Ibnu Musa dari Yahya ibnu Hamzah, bahwa Nabi SAW telah bersabda :

Apabila hari kiamat terjadi matahari didekatkan kepada semua hamba sampe jarak satu atau dua mil. Sinar matahari memanggang mereka, maka keringat mereka sesuai dengan kadar amal perbuatan masing-masing. Diantara mereka ada yang keringatnya hanya sampai kedua mata kakinya, diantara mereka ada yang smapai kedua lututnya, diantara mereka ada yang smaapi pinggangnya, diantara mereka ada yang benar-benar ditenggelamkan keringatnya.

 Dalam hadits lain disebutkan mereka berdiri selama 70 tahun tanpa ada yang bicara. Pendapat lainnya mengatakan mereka berdiri selama 300 tahun dna menurut pendapat lainnya 40.000 tahun lalu dilakukan peradilan diantara mereka dalam masa yang lamanya 10.000 tahun sebagaimana disebutkan dalam kitab shahih muslim melalui Abu Hurairah secara marfu. Sedang dalam sehari setara dengan 50.000 tahun.

Nabi SAW bersabda : Maka apabila kamu telah mengungsi di peraduanmu, mohonlah perlindungan kepada Allah SWT dari kesusahan di hari kiamat dan hisab yang buruk.

Rasul bersabda :

Bahwa Rasulullah SAW membuka qiyamul Lail dengan membaca takbir 10 X, tahmid 10 X dan tasbih 10X dan istighfar 10 x kemudian berdoa, Ya Allah beriah ampunan bagiku, berilah aku petunjuk, berilah aku rizki, dan berilah aku kesejahteraan, Lalu berlia berlindung kepada Allah dari sempitnya tempat berdiri di hari qiamat.

Amalan agar diringankan di padang mahsyar

وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلا طَوِيلا . إِنَّ هَؤُلاءِ يُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَاءَهُمْ يَوْمًا ثَقِيلا

Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari. (26) Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat).(27) [ QS. Al Insan 76 : 26-26]

Ibnu Abbas berkata : Barangsiap ingin mendapatkan keringanan akan lamanya berdiri di padang mahsyar,maka hendaklah ia memperhatikan dirinya kepada Alah dengan lamanya berdiri, rukuk dan sujud dalam qiyamul lail ( Ibnu Jarir dalam Tafsirnya)

 Referensi :

Kitab Tafsir Ibnu Katsir Juz 30
Tafsir Jalalain/ Juz 30/Hal 587
 

 

HUKUM BERSERIKAT DALAM QURBAN ( PATUNGAN QURBAN )

Banyak dikalangan ummat Islam yang berselisih paham tentang hukum Patungan ( berserikat) dalam qurban. Padahal secara dalil telah jelas diterangkan Rasulullah SAW. Berikut tinjauan dalil tentang hukum Patungan ( berserikat) dalam ibadah qurban.

Dalil bolehnya berserikat (patungan) 7 orang di seekor sapi adalah hadits dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata:

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَشْتَرِكَ فِي الإِبِلِ وَالْبَقَرِ كُلَّ سَبَعَةٍ مِنَّا فِي بَدَنَةٍ

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan kami patungan pada sesekor unta dan sapi. Setiap 7 orang dari kami berserikat dalam satu ekor.” (HR. Muslim)

Dibolehkan urunan/patungan/berserikat  masimal 7 orang untuk qurban sapi atau onta. Namun tidak dibolehkan urunan lebih dari 7 orang untuk qurban sapi. Imam Ibnu Utsaimin mengatakan:

وتجزئ الواحدة من الغنم عن الشخص الواحد ، ويجزئ سُبع البعير أو البقرة عما تجزئ عنه الواحدة من الغنم ….  وإذا اشترك اثنان فأكثر في ملك أضحية يضحيان بها ، فهذا لا يجوز ، ولا يصح أضحية إلا في الإبل والبقر إلى سبعة فقط ، وذلك لأن الأضحية عبادة وقربة إلى الله تعالى ، فلا يجوز إيقاعها ولا التعبد بها إلا على الوجه المشروع زمناً وعددا وكيفية.

Satu kambing sah untuk qurban satu orang. Sementara sepertujuh onta atau sapi, sah untuk qurban senilai satu kambing. Jika ada dua orang atau lebih, urunan untuk qurban satu kambing, kemudian mereka jadikan qurban, ini hukumnya tidak boleh, dan qurbannya tidak sah, kecuali untuk onta atau sapi, maksimal 7 orang saja. Karena qurban adalah ibadah kepada Allah. Karena itu, tidak boleh dilaksanakan kecuali dengan aturan yang ditetapkan syariat, baik terkait waktu, jumlah orang yang ikut, atau tata caranya. ( Risalah Fiqhiyah, hlm. 58 – 59).

Sedangkan dalil satu ekor kambing boleh untuk satu orang dan anggota keluarganya adalah hadits dari Abu Ayyub Radhiyallahu ‘Anhu, “Ada seseorang di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berqurban seekor kambing untuk dirinya dan anggora keluarganya, lalu mereka makan dan membagikannya.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Tirmidzi dan beliau menyahihkannya)

Seekor kambing hanya untuk qurban satu orang dan boleh pahalanya diniatkan untuk seluruh anggota keluarga meskipun jumlahnya banyak atau bahkan yang sudah meninggal dunia.

كَانَ الرَّجُلُ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُضَحِّى بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ

Pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ada seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya.” [ HR. Tirmidzi no. 1505, Ibnu Majah no. 3138. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Al Irwa’ no. 1142.]

Asy Syaukani mengatakan, “(Dari berbagai perselisihan ulama yang ada), yang benar, qurban kambing boleh diniatkan untuk satu keluarga walaupun dalam keluarga tersebut ada 100 jiwa atau lebih. [Nailul Author, Asy Syaukani, 8/125, Mawqi’ Al Islam.]

Demikian penjelasan mengenai hukum patungan/urunan/berserikat dalam qurban, dan telah jelas dan tidak ada keraguan lagi. Sehingga dibolehkan maximal 7 orang untuk patungan qurban sapi, dan untuk kambing hanya 1 orang untuk satu ekor kambing. Sedang pahalanya bisa utuk 1 keluarga. Allahu a’lam bi ash-showab.

 

 

 

 

DOA SORE HARI SEORANG MUSLIM

بسم الله الرحمن الرحيم

أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ للهِ، وَالْحَمْدُ للهِ، لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا، وَأَعُوذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا، رَبِّ أَعُوذُبِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوذُبِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ

Amsaynaa wa amsal mulku lillah walhamdulillah, laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodir. Robbi as-aluka khoiro maa fii hadzihil lailah wa khoiro maa ba’dahaa, wa a’udzu bika min syarri maa fii hadzihil lailah wa syarri maa ba’dahaa. Robbi a’udzu bika minal kasali wa suu-il kibar. Robbi a’udzu bika min ‘adzabin fin naari wa ‘adzabin fil qobri.

Artinya:

“Kami telah memasuki waktu petang dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik Allah kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.Wahai Rabbku, aku mohon kepada-Mu kebaikan di malam ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan malam ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabbku, aku berlindung kepadaMu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di neraka dan siksaan di kubur. [ HR Muslim No. 2723 ]

 

 

DOA PAGI HARI SEORANG MUSLIM

بسم الله الرحمن الرحيم

أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ

Ash-bahnaa wa ash-bahal mulku lillah walhamdulillah, laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodir. Robbi as-aluka khoiro maa fii hadzal yaum wa khoiro maa ba’dahu, wa a’udzu bika min syarri maa fii hadzal yaum wa syarri maa ba’dahu. Robbi a’udzu bika minal kasali wa su-il kibar. Robbi a’udzu bika min ‘adzabin fin naari wa ‘adzabin fil qobri.

Artinya:

“Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik Allah kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabbku, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di neraka dan siksaan di alam kubur.” [ HR. Muslim No. 2723 ]

CARA RUQYAH MANDIRI

RUQYAH MANDIRI. Ruqyah mandiri adalah teknik terapi mandiri dengan membacakan do’a do’a perlindungan diri dari syetan dan dengan bacaan ayat-ayat al qur’an.  Tujuannya adalah sebagia pengobatan seseorang  yang terkena gangguna jin kafir yang masuk ke dalam tubuhnya.

Setiap muslim hendaknya bisa melakukan ruqyah mandiri, mulai dari yang paling sederhana hingga yang lebih lengkap. Bahkan seorang muslim hendaknya senantiasa membaca do’a perindungan secara rutin serta membaca al qur’an, kendati tidak dalam kondisi mendapat gangguan jin di dalam tubuh.

Langkah yang harus dilakukan dalam ruqyah mandiri [ cara singkat] adalah :

  1. Ambil air wudhu terlebih dahulu
  2. Shalat taubat 2 rakaat, dan mohon ampunan Allah SWT atas dosa-dosa yang pernah diperbuatnya.
  3. Mulai membaca do’a perlindungan dari syetan dan diulang-ulang setidaknya 3x
  4. Membaca al Fatihah 3 x
  5. Membaca surat al Baqoroh ayat 1-5
  6. Membaca Ayat Kursy dan dua ayat sesudahnya
  7. Membaca 3 ayat terakhir surat al baqoroh
  8. Membaca 3Qul ( Al Ikhlash, Al Falaq dan Annas)
  9. Setiap ayat al Qur’an dibaca diatas telapak tangan seperti posisi berdo’a, lalu ditiup di telapak tangan kemudian di usap ke seluruh tubuh.

Beberapa doa perlindungan yang biasa dipakai dari Hadits Nabi SAW untuk ruqyah adalah sebagai berikut :

حَسْبُنَااللهُ وَنِعْمَ الْوَ كِيْلُ،نِعْمَ الْمَوُلَىوَنِعْمَ النَّصِيْرُ

“hasbunalahu wa ni’mal wakiil ni’mal mawla wa ni’man nashir”

“Cukuplah Allah bagi kami dan dia sebaik-baik pemimpin, sebaik-baik pelindung, sebaik penolong.”

اعُوْذُ بِكَلِمَا تِ اللهِ التَّا مَّا تِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

a’uudzu bikalimaatillaahit taammati min syarrimaa kholaq”

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan”.

بِسْمِ اللهِ الَّذِ يْ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْ ءٌ فِي ْالأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَا ءِ وَهُوَالسَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ

“bismillahilladzii laa yadzurru ma’asmihi syaiun fiardzi wa laa fissamaa’ wa huwassamii’ul’aliim”

“Dengan nama Allah Yang karena bersama nama-Nya tidak ada sesuatu apapun dilangit atau di bumi mampu mendatangkan bahaya, dan Dialah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

اسْأَلُ اللهَ اْلعَظِيْمَ رَبَّ اْلعَرْ شِ اْلعَظِيْمِ أَنْ يَشْفِيَكُ

[asalullaha al’adhiim rabbu al’arsyi al’adhim ayyasyfiyak]

“Aku  memohon kepada Allah yang Maha Agung, Pemilik singgasana yang agung, semoga Dia menyembuhkan kamu sekalian.”

اَللَّهُمَّ أَذْهِبِ اْلبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ، اِشْفِ وَ أَنْتَ ا لشَّا فِيْ لاَ شِفَاءَ إِلاَّشِفَا ؤُكَ شِفَاءًلاَ يُغَادِرُسَقَمًا

“Ya Allah, hilangkan penyakit ini, wahai Penguasa seluruh manusia, sembuhkanlah ! Engkaulah yang menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, sembuhkanlah dengan kesembuhan sempurna tanpa meninggalkan rasa sakit.”

 بِاسْمِ اللَّهِ (3×)

أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ (7×)

[Dengan menyebut nama Allah, dengan menyebut nama Allah, aku berlindung kepada Allah dan kuasa-Nya dari kejelekan yang aku dapatkan dan aku waspadai] (HR. Muslim no. 2202)

Demikian do’a-do’a ruqyah yang datang dari Nabi SAW. Untuk ayat -ayat ruqyah bisa klik ayat-ayat ruqyah di sini. wallahu a’lam bi ash-showab | Arif Tri  Al Qondaly