TAFSIR SURAT ‘ABASA AYAT 1-10

 

Allah SWT berfirman :

عَبَسَ وَتَوَلَّى (1) أَنْ جَاءَهُ الأعْمَى (2) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى (3) أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى (4) أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى (5) فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى (6) وَمَا عَلَيْكَ أَلا يَزَّكَّى (7) وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى (8) وَهُوَ يَخْشَى (9) فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى (10)

Surat ini diturunkan berkenaan dengan kisah anak Ummi  Maktum (Abdullah Ibnu Ummi Maktum) yang bernama ‘Amr ibnu Qois, yaitu anak laki-laki paman Siti Khadijah. Ia adalah seorang tuna netra dan ikut berhijrah ke Madinah bersaa para sahabat lainnya. Nabierkali-kali menyuruhnya sebagai pengganti beliau dalam memimami salat dengan kaum muslimin di madinah. Ia adalah Muazzinur rasul kedua setelah sahabat Bilal.

Suatu hari ibnu Ummi Maktum bergegas menemui Rasulullah saw di Makkah, yang pada saat itu Rasulullah sedang menemui beberapa pimpinan Quraisy. Diantara mereka ada Utbah bin Syaibah, Abu Jahal ibn Hisyam, Al Abbas ibn Abdil Muthalib, Umayyah ibn Khalaf dan Walid ibn Mughirah. Ketika itu Rasulullah sedang mengajak mereka untuk masuk Islam dan mengingatkan akan hari akhir dan mengingatkan mereka agar takut kepada kekuatan dan kekuasaan Allah. Nabi juga menjanjikan bahwa apabila mereka masuk Islam akam mendapatkan pahala yang paling baik. Nabi sangat mengharapkan mereka masu Islam karena mereka adalah para pemimpin kaum. Sebab dengan Islamnya mereka, akan banyak pula orang-orang yang masuk Islam ( Al Maraghi, Juz 30, hal. 70).

Ketika Abdullah Ummi Maktum sampai di majlis rasulullah, ia berkata kepadanya : “Wahai Rasulullallah! Bacakanlah kepada kami dan ajarilah kami apa-apa yang telah Allah ajarkan kepada anda”. Ia mengulang-ulang perkataannya karena kebutaannya sehingga ia tiadak mengetahui kesubukan yang sedang dihadapi nabi SAW saati itu. Sementara Nabi tidak suka menghentikan pembicaraaan beliau dengan mereka. Hal itu tampak dari roman muka beliau yang berbah menjadi masam dan belia memalingkan muka dari Inu Ummi Maktum.
Kemudian Allah SWT menegurnya dalam firmanNya :

عَبَسَ وَتَوَلَّى. أَنْ جَاءَهُ الأعْمَى

 Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. karena telah datang seorang buta kepadanya.

Alasan Nabi karena beliau tidak suka pembicaraannya dengan para pemimpin kaum  saat itu terpotong oleh Ibnu Ummi Maktum. Dan Kondisi Ibnu Ummi Maktum juga tidak sepenuhnya salah karena kebutaannya yang menyebabkan tidak mengetahui kondisi yang tengah terjadi pada Nabi SAW saat itu. Namun  Allah menegur Nabi SAW karena Allah menghendaki Nabi tidak bersikap terhadap ibnu Ummi Maktum seperti itu.  Lalu Allah SWT memberikan alasannya dengan firmanNya :

وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى (3) أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى (4)

Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?

Hal ini menunjukkan bahwa manusia seperti nabipun tidak mengetahui isi hati seorang hambanya, apakah yang hendak ia lakukan, sebagaimana yang difikirkan Nabi terhadap ibn Ummi Maktum. Demikian juga yang nabi fikirkan dan harapkan dari para pembesar quraisy waktu itu.

Lalu Allh SWT memberikan pengajaran berikutnya :

أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى (5) فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى (6) وَمَا عَلَيْكَ أَلا يَزَّكَّى (7)

Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).

Saat itu nabi melayani dan menjamu secara baik, dengan harapan keislaman mereka akan membawa kebaikan  terhadap kaummya. Padahal tidak ada jaminan yang kaya dan yang memiliki jabatan itu akan dengan mudah memeluk Islam. Dan tidak ada celaan  bagi Muhammad SAW  untuk tidak memprioritaskannya.

Pada ayat 7 ini mengandung pengertian,  Allah tidak menuntut atas apa yang dilakukan (Nabi), jika mereka tidak membersihkan diri ( beriman). (Ibn Katsir, juz 30/398)

Lalu Allah perbandingkan dengan firmanNya :

وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى (8) وَهُوَ يَخْشَى (9) فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى (10)

Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya.

Prioritas dakwah ini hendaklah dilakukan bukan karena kedudukan dan kekayaannya, karena teguran Allah ini mengandung maksud, bahwa janganlah engkau berharap keIslaman mereka dan janganlah menyibukkan diri dengan ajakan kepada mereka kemudian memalingkan muka dari orang yang telah tertanam dalam jiwanya keimanan yang baik kepada Allah. Dari teguran inilah Nabi saw. setelah itu, apabila datang Abdullah bin Umi Maktum berkunjung kepadanya, beliau selalu mengatakan, “Selamat datang orang yang menyebabkan Rabbku menegurku karenanya,” lalu beliau menghamparkan kain serbannya sebagai tempat duduk Abdullah bin Umi Maktum.

Kesimpulan :

    1. Manusia tidak mampu mengetahui isi hati orang lain, terkait apakah ia akan masuk Islam atau tidak, mau menerima dahwah atau menolaknya.
    2. Memprioritaskan dakwah agar memeluk Islam pada orang terpandang, pemimpin atau orang kaya dibanding orang lemah adalah sikap yang tidak tepat. Karena boleh jadi orang-orang lemah itulah yang sejatinya ingin membersihkan dir dari dosa,  dan masuk Islam.
    3. Nabi dan para pengemban dahwah hendaklah menyadari bahwa nabi hanyalah pemberi peringatan saja ( dakwah).
    4. Manusia tidak dituntut atas hasil dakwah ( tapi proses dakwahnya), Sedang kehendak memeluk Islam sepenuhnya ada pada obyek dakwah dan hidayah dari Allah SWT semata.  Wallahu a’lam bi ash-shawab. Arif AlQondaly

 

 

Referensi :

Tafsir Al Maraghi, Juz 30, hal 27
Tafsir Ibn Katsir, Juz 30, hal 398
Tafsir Jalalain, Juz 30,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s