MENJAGA BARA API KEBANGKITAN UMMAT ISLAM

Pasca aksi Bela Islam 212 , ummat Islam menyadari  bahwa bara api yang selama ini seakan-akan padam  ditubuh ummat Islam mulai membara. Bara api kebangkitan Islam itu berawal dari pelecehan QS Al Maidah 51 yang mengusik iman ummat Islam. Hanya saja semangat  Aksi 212 harus tetap dijaga, jangan sampai kobaran Api Aksi Bela Islam menjadi padam kembali. Ada 4 hal yang harus kita jaga agar  bara api itu menjadi api kebangkitan Ummat Islam. Dengan kebangkitan Islam yang hakiki.

aksi-bela-islam

Pertama, ummat Islam harus bersatu dan bisa dipersatukan dengan ikatan aqidah Islamiyyah, sebagaimana telah terbukti dalam aksi 212 yang lalu. Kesatuan ummat yang sebelumnya tampak utopis, telah diperlihatkan Allah SWT pada kita dengan aksi  7 juta ummat Islam dari berbagai elemen masyarakat, dari berbagai profesi, dan dari berbagai jamaah dakwah. Hanya saja suhu api yang membara karena  pelecehan surat Al Maidah 51 oleh AHok, bisa melemah dan padam jika tidak dijaga dan disadarinya. Ummat harus menyadari bahwa Allah SWT telah berfirman :

إِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ

Artinya: “Sesungguhnya umat kamu ini adalah umat yang satu, dan Aku adalah Tuhan kamu, oleh sebab itu maka hendaklah kamu menyembah Aku”. (Q.S. Al-Anbiya [21]: 92).

Kedua, Ummat Islam harus sadar bahwa, yang tengah terjadi hingga saat ini, bukan sekedar pelecehan Al Maidah 51 saja, namun seluruh surat dalam  Al Qur’an. Karena membiarkan Al Qur’an tidak menjadi hukum dalam memutus setiap perkara kaum muslimin itu hakekatnya melecehkan Al Qur’an. Allah mengancam akan menistakan kehidupan di dunia hingga di akhirat kelak, sebagaimana FirmanNya :

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Apakah kamu beriman kepada sebagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. [ QS.Al Baqoroh : 85]

Ketiga, Ummat Islam harus sadar dan harus menyadari bahwa akibat Al Qur’an tidak diterapkan dalam segala aspek kehidupan menyebakan bobroknya seluruh sendi kehidupan. Karena sebaik-baik hukum manusia tidak sebanding dengan hukum buatan zat yang menciptakan Manusia, yaitu Hukum Islam. Krisis Ekonomi, bobroknya penegakan hukum, rusaknya generasi uuda, maraknya kriminalitas, kemusyrikan merajalela, kemurtadan hal biasa, korupsi, wabah narkoba, prostitusi, dan sebagainya adalah akibat mengabaikan hukum Allah.  Ummat harus sadar bahwa dimana syariat Islam diterapkan disitulah kemaslahatan ummat tegak, sebagaimana qoidah ushul mengatakan :

حيثما يكون الشرع تكون المسلحة

Dimana ada [diterapkan syariat Islam], disitulah muncul kemashlahatan”.

Allah SWT menawarkan pilihan antara hukum Islam dan hukum Jahiliyyah , sebagaimana firmanNya :

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? [ QS. Al Maidah 5:50 ]

Keempat, Ummat harus sadar dan focus memperjuangkan tegaknya Syariah dan Khilafah. Karena penerapan Al Qur’an secara Kaffah tidak akan terwujud tanpa ada institusi yang mengawal dan menjaganya. Institusi itu adalah Khilafah, sebuah Negara yang akan melindungi setiap tetas darah kaum muslimin dimanapun dia berada. Khilafahlah yang akan menyatukan seluruh  kaum muslimin,  yang menerapkan syariat Islam secara kaffah, dengannya dakwah ditegakkan dan Jihad dikumandangkan, untuk menjaga dan mengawal  yang Haq dan menghancurkan yang Bathil.

Hujjatul Islam al-Imam Abu Hamid al-Ghazali, misalnya, dalam kitabnya, Al-Iqtishâd fî al-I’tiqâd (hal. 76) menyatakan:,“Agama dan kekuasaan itu ibarat dua saudara kembarAgama itu pondasi, sedangkan kekuasaan itu adalah penjaga. Sesuatu yang tanpa pondasi akan “roboh” dan sesuatu yang tanpa penjaga akan “hilang.” Beliau lalu mengatakan, “Karena itu kewajiban mengangkat imam (khalifah) termasuk urgensi syar’i yang tidak ada jalan untuk meninggalkannya…”

Oleh karena itu berbahagialah jika kita berada dalam barisan yang ikut memperjuangkan tegaknya syari’ah secara kaffah dalam bingkai Khilafah Islamiyyah yang akan  menyejahterkan rakyat dan akan mewujudkan Islam rahmatan lil ‘alamin.  Wallahu a’lam bi ash-showab. Arif T.H. Al Qondaly.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s