ISLAM RAHMATAN LIL ALAMIN

Bagaimana Mewujudkan Islam Rahmatan lil Alamin?

Islam Rahmatan lil ‘alamin, sepertia apakah gambarannya? Apakah sikap toleransi yang berlebihan, doa bersama lintas agama, pengakuan selamat natal, dan sejenisnya merupakan bentuk Islam rahmatan lil ‘Alamin?

Banyak di kalangan kaum muslimin di Indonesia yang tidak tepat dalam memahami Islam rahmatan lil ‘Alamin . Mereka menjadi ‘gagal paham’ pada tataran aplikasi terhadap ajaran Islam rahmatan lil alamin. Mengapa gagal paham? karena  rahmatan lil alamin yang dipahami rancu dengan pesan dalam al Qur’an. Sehingga menyebabkan perilaku sebagian kaum muslimim mengagungkan toleransi beragama yang kebablasen, moderat tanpa syarat, bahkan sampai perilaku sekuler yang dianggap benar. Islam rahmatan lil alamin yang salah dipahami, menyebabkan mereka kaum muslimin justru menjadi keras terhadap kelompok muslim lainnya sebaliknya lemah lembut terhadap non muslim. Lebih parah dengan semangat Islam rahmatan lil ‘aalamiin, justru alergi terhadap perjuangan penegakan syari’at Islam secara kaffah, dengan alasan kebinekaan. Bukankan Nabi dan para sahabat juga menerapkan Islam  secara kaffah sementara di dalamnya juga tetap hidup yahudi dan Nashrani.  Sungguh pemandangan segolongan ummat Islam saat ini yang sangat menyedihkan.islam-rahmatan-lil-alamin

Mereka yang gagal faham terhadap konsep Islam rahmatan lil ‘alamin itu menggunakan dalil Al Qur’an dengan pemahaman yang tidak menyeluruh. Mereka memang menggunakan dasar surat 21 ayat 107, namun gagal atau tidak mau memahami secara menyeluruh. Mari perhatikan firman Allah  berikut ini, yang menjadi sumber bahasan Islam rahmatan Lil ‘Alamin  :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [Al Anbiya 21: 107 ]

Imam Muslim dalam kitab shahihnya, meriwayatkan bahwa Abu Hurairah ra. Berkata, Ya Rasulallah! Sumpahilah orang-orang musyrik itu. “Beliau bersabda :

Sesugguhnya Aku tidak diutus sebagai orang yang  melaknat. Aku diutus hanyalah sebagai rahmat.[ HR. Muslim].

Dalam memahami surat al Ambiya ayat 107 “tidak tepat” hanya berhenti dalam tekstual hadits diatas saja, namun harus juga memahami kontextual hagits tersebut. Ajaran Rahmat yang dibawa nabi tidak sekedar berhenti  tidak melaknat saja.  Sebab, jika tidak dipahami secara lebih mendalam hakekat makna sebenarnya, maka pemahaman Islam rahmatan lil alamin akan berhenti dan berputar masalah mengalah, tidak melaknat, menahan diri dan sabar dalam perspektif sempit.

Jika kita pahami Islam rahmaan lil alamin secara lebih lengkap, maka kita akan menemukan maksud yang jauh lebih sempurna dari sekedar menahan tidak melaknat atau sabar diri saja.

HAKEKAT ISLAM RAHMATAN LIL ‘ALAMIN 

Jadi, dari uraian diatas, apa sebenarnya hakekat Islam Rahmatan lil ‘Aalamiin ?

Dari Ibnu Abbas berkaitan  terhadap firman Allah surat al anbiya’ 107 , menjelaskan sabda Rasulullah, SAW“ Barang siapa yang mengikutinya, niscaya hal itu menjadi ramat di dunia dan di akhirat. Dan barang siapa yang tidak mengikutinya, niscaya dia akan ditimpa suatu ujian yang mengenai seluruh umat berupa bencana alam, perubahan  bentuk dan fitnah. [ Tafsir Ibnu Katsir Juz 17/490]

Jadi jika kita perhatikan penjelasan dari Ibnu Abbas diatas maka syariat islam itu menjadi rahmat bagi alam semesta [ rahmatan lil alamin] tatkala kita ikuti ajaran rasulullah SAW dan kita terapkan ajarannya di tengah-tengah masyarakat. Hal itu sebagaimana yang dipraktekkan Rasulullah SAW selama hidup di Madinah Al Munawarah, dengan menegakkan ajarannya secara kaffah mulai dari pemerintahannya, hukum Islam,  sosial, serta metode dakwahnya.

Oleh karena itu, Jika tidak syariat Islam yang akan diperjuangkan dalam rangka mewujudkan Islam rahmatan Lil ‘Alamin, lantas apa yang harus kita ikuti dari diri rasulullah kalau bukan ajarannya?. Dan ummat Islam tahu, ajaran Islam adalah Tauhid [ aqidah] dan Syariat Islam yang semestinya harus diterapkan ditengah ummat yang saat ini tengah ditinggalkan.

Ulama’ ushul mengatakan ” khaithuma yakuunu as syar’u takuunu al mashlahah”  [ Dimana ada / diterapkan  syari’ah, disitulah terwujud kemaslahatan.] Maksudnya, maslahah yang hakiki hanya akan terwujud jika diterapkannya syari’at Islam. Dan bisa ditarik mafhum mukholafahnya bahwa ‘jika tidak diterapkan syariat Islam, maka tidak akan terwujud kemaslahatan]. Mengapa demikian, karena jika aturan tidak datang dari Allah [ al kholiq],  maka masing-masing manusia pasti akan menggunakan akal dan hawa nafsunya dalam mengatur kehidupannya. Kemaslahatan itu akan meliputi seluruh alam, jika Islam diterapkan secara kaffah. Disinilahh hakekat rahmatan lil alamin baru terwujud.

Maka ketika ada golongan atau sebagian dari kaum muslimin yang ingin memperjuangkan tegaknya syariat Islam secara kaffah, sesungguhnya mereka sebenarnya ingin agar Rahmatan lil ‘alamin itu turun  ke bumi, lantaran ditegakkannya syariat Islam. Karena syarat datangnya rahmat adalah jika ummat itu menjalankan atau mengikuti syariat Allah. Wallahu a’lam bi ash-showab. | Arif T H Al Qondaly

Referensi :

Tafsir Ibnu Katsir Juz 17/490]

related post :

Mewujudkan Islam Rahmatan lil ‘alamin  | Apa Maksud Islam Rahmatan Lil ‘Alamin?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s