HIKMAH MAULUD NABI MUHAMMAD SAW

Adakah Hikmah yang patut dipetik dari Peringatan Maulud Nabi SAW? Setiap bulan rabiul awwal mayoritas kaum muslimin memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dikenal dengan sebutan maulud Nabi. Dalam bahasa Arab: مولد النبي‎, [mawlid an-nabī] , adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang di Indonesia perayaannya jatuh pada setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah.

Apa yang seharusnya dijadikan ibrah / pelajaran/ hikmah dari memperingati kelahiran Nabi SAW [ Maulud Nabi ]? Apakah sekedar seremonial, puji-pujiaan atau mencukupkan dengan sekedar pembacaan diba’ yang para pembacanya sendiri tidak memahami apa isi yang dibaca? Jika dulu Shalahuddin Al Ayyubi membacakan sejarah nabi mulai dari kelahiran, perjuangan nabi hingga wafatnya nabi menghasilkan semangat jihad membebaskan Palestina, adakah sama dengan pesan maulid nabi saat ini?

Apa  Hikmah  Maulud Nabi SAW yang harus kita jadikan pelajaran saat ini? Jawabnya tentu saja adalah agar kita menjadi lebih Kenal dengan Pribadi Nabi SAW, Lalu membenarkannya, mengikutinya, menerapakan setiap ajarannya dan penyerukan apa yang dibawanya.  Itulah kakekatnya memperintati maulud Nabi hendaknya mengambil hikmah tersebut.

Pertama, Mencintai dan Memuliakannya [ menghormatinya]. Hendaknya setiap muslim senatiasa  bershalawat Atas Nabi SAW, Ini  yang tampaknya paling menonjol selama ini dalam peringatan maulud nabi saw. Allah SWT berfirman

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. ” (Al-Ahzaab: 56 )

 الْبَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

“Orang yang bakhil (pelit) adalah orang yang apabila namaku disebut di sisinya, dia tidak bershalawat kepadaku.

Kedua, Membenarkan setiap apa yang disampaikan oleh Nabi SAW

Mencintai Nabi tidak cukup hanya disebut-sebut saja dalam shalawat. Namun le ih dari itu harus membenarkan setiap apa yang disampaikannya. Mengapa demikian, karena apa yang dibawa nabi tidak ada yang berasal dari hawa nafsu, melainkan semua adalah wahyu , sebagaimana firman Nya :

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4)

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An Najm: 3-4)

Demikian juga jawaban kaum beriman jika dipanggil kepada Allah dan rasuNya , mengatakan sami’na wa atha’na [ kami dengar dan kami ta’at], sebagaimana firmanNya :

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ، وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan.” “Kami mendengar dan kami patuh [ sami’na wa atho’na] .” Mereka itulah orang-orang yang beruntung. Siapa saja yang taat kepada Allah dan rasul-Nya serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. (QS an-Nur [24]: 51-52)

 

Ketiga, mengikuti setiap perintah dan larangannya. Setelah membenarkan setiap perkataan Nabi, langkah selanjutnya seorang mu’min hendaknya senantiasa ittiba’ [ mengikuti] apa yang diperbuat Nabi SAW.  Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.” (QS. Ali Imron: 31)

Keempat, Berhakim kepada ajaran Nabi SAW.  Ini adalah hikmah Maulud Nabi yang teramat penting. Setelah Nabi SAW dijadikan sebagai suri tauladan dalam kehidupan sehari-hari, langkah selanjutnya hendaknya menjadikan setiap aturan yang dibawa nabi sebagai hukum setiap persoalan yang dihadapi dalam medan kehidupan. Hendaknya maulud nabi adalah momentum untuk menumbuhkan semangat untuk kembali pada penerapan ajaran al Qur’an [ berhukum pada syariat Islam ].

Allah SWT berfirman,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)

Kelima, Dakwah dan Menyebarkan ajaran Nabi SAW. Berikutnya  seorang mukmin harus terlibat dalam dakwah menyeru kepada  apa yang diserukan Nabi, mencegah terhadap apa di larang Nabi. Maulud Nabi SAW hendaknya sebagai  kekuatan pendorong untuk terjun ke medan dakwah. Nabi SAW  Bersabda :

من رأى منكم منكرا، فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان

“Barangsiapa diantara kalian melihat kemunkaran, maka rubahlah dengan tangannya, lalu jika tidak bisa maka dengan lidahnya, lalu jika tidak bisa maka dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemah iman” [ HR. Muslim dari Abu Said Al Khudry ra.]

Dakwah dengan lisanpun harus disampaikan dengan cara yang makruf dengan tiga tahap , sebagaiman firman Allah SWT :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.[ An Nahl 16 : 125]

Oleh karena itu semestika bagi siapa saja yang merasa mencintai dan menyayangi Nabi SAW tidak berhenti pada peringatan ke peringatan berikutnya, dari diba’ ke diba’ , dari salawatan ke salawatan tetapi setidaknya mengambil Hikmah dari Maulud Nabi SAW dengan menerapkan ke 5 hal diatas , tanpa mengabaikan salah satunya. Wallahu A’lam Bi ash-shawab. [Arif Al Qandaly].

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s