ASURANSI DALAM PANDANGAN ISLAM

Bagaimana Hukum Asuransi [ insurance]  dalam Pandangan Islam? Asuransi disebut at-ta’mîn berasal dari akar kata amuna–ya’munu–amn[an], yang berarti aman/merasa tenang. dalam kamus Al-Munawir disebutkan at-ta’mîn adalah mashdar (gerund) dari ammana. At-Ta’mîn artinya adalah adh-dhamân (jaminan) dan isti’hâd (asuransi).

Adapun asuransi menurut terminologi sebagaimana yang disebutkan dalam Undang-Undang No. 2 Tahun 1992: ” Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri pada tertanggung, dengan menerima premi asuransi untuk memberikan penggantian pada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan “

Menurut syariah, tampak jelas at-ta’mîn (asuransi) adalah haram karena tidak memenuhi rukun, substansi dan ketentuan adh-dhamân.

Haramnya asuransi dikarenakan  melanggar 4  prinsip yaitu  :

 Pertama: Di dalam akad at-ta’mîn [ asuransi] tidak ada hak finansial yang wajib ditunaikan oleh Tertanggung [belum ada yang ditanggung, karena belum ada kejadian]. Jadi, tidak ada dzimmah (tanggungan). Karena itu tidak ada penggabungan tanggungan Penanggung kepada tanggungan Tertanggung. Padahal ada-tidaknya dhammu adz-dzimmah itu menentukan ada-tidaknya adh-dhamân [jaminan].

Kedua: Obyek akad at-ta’mîn [Asuransi], adalah komitmen Penanggung. Padahal secara syar’i, obyek akad itu harus berupa sesuatu benda (al-asysyâ‘) atau jasa. Hal ini dikarenakan belum ada kejadian yang  akan ditanggung.

Contoh dalam hal penjaminan yang pernah terjadi masa nabi saw :

Artinya:

“Telah di hadapkan kepada Rasulullah SAW. (mayat seorang laki-laki untuk di shalatkan) ….Raulullah SAW bertanya “apakah dia mempunyai warisan?” Para sahabat menjawab “tidak” Rasulullah bertanya lagi, apakah dia mempunyai utang?’ Sahabat menjawab “Ya, sejumlah tiga dinar.” Rasulullah pun menyuruh para sahabat untuk mensolatkannya (tetapi beliau sendiri tidak). Abu Qatadah lalu berkata, “saya menjamin hutangnya, ya Rasulullah.” Maka Rasulullah pun mensolatkan mayat tersebut. (HR Bukhari no. 2172, kitab al-Hawalah)

Dari Contoh disini diketahui dengan jelas akad at-ta’mim :  obyek akad adalah hutang tertanggung yang belum dibayar. Sedang  tertanggungnya adalah si mayat, dan penaggungnya adalah Abu Qotadah.

Ketiga: Penanggung mendapat imbalan uang atas komitmennya untuk menanggung. Cukup aneh bukan? Padahal dalam adh-dhamân [Akad Asuransi / Penjaminan] menurut Islam, ad-dhâmin [Penanggung], dalam contoh kisah sahabat di atas  adalah Abu Qotadah, tidak  mendapat imbalan, bahkan harusnya sebaliknya. Pasalnya, akad adh-dhâman [ Jaminan / Asuransi itu “Penanggung” sifatnya tabarru’ (donasi) bukan tabadduli (pertukaran).

Keempat, Selain itu, keharaman akad at-tamîn [ asuransi ] itu juga karena di dalamnya mengandung unsur gharar (penipuan), jahalah (kesamaran), maysir/qimâr (judi), riba dan kezaliman. Mujma’ al-Fiqh al-Islâmi, pada konggresnya tanggal 10 Sya’ban 1398 H, telah bersepakat mengharamkan asuransi komersial (at-ta’mîn at-tijârî) dengan sejumlah alasan yaitu: asuransi mengandung gharar, mempraktikkan riba, mengandung unsur judi, dan mengakibatkan memakan harta orang lain secara tidak sah.

Mengapa termasuk kategori Gharar ( penipuan)? Karena Perjanjian asuransi merupakan perjanjian penggantian harta yang mengandung ketidak pastian dan memuat bahaya yang sangat banyak. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata:

  نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melarang jual beli dengan kerikil dan jual beli gharar.” (HR. Muslim)

Mengapa termasuk kategori Judi? Karena nasabah asuransi terkadang baru menyetor sekali angsuran, lalu terjadi kecelakaan, sehingga perusahaan asuransi menderita kerugian sejumlah uang asuransi. Atau tidak terjadi kecelakaan, sehingga perusahaan asuransi mendapatkan keuntungan angsuran-angsuran asuransi dengan tanpa imbalan.  MasyaAllah sangat tidak adil dan gambling. Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan- perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”. (QS. Al- Maidah/5: 90)

Mengapa  asuransi termasuk kategori  riba?. Disebabkan  keuntungan perusahaan asuransi  adalah tanpa imbalan, sedangkan keuntungan nasabah merupakan tambahan dari harta pokoknya yang tidak ada imbalannya. Jadi Perjanjian Asuransi  Mengandung Unsur Mengambil Harta Orang Lain Dengan Tanpa Imbalan. sebagaimana firman Allah SWT :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu”. [an-Nisa’/4: 29]

Demikianlah hukum asuransi dalam pandangan Islam, Sehingga bisa dipastikan praktek Asuransi ini adalah Haram.  Maka termasuk di dalamnya adalah praktek Asuransi BPJS,  dan sejenisnya adalah praktek asuransi yang Haram dan dimurkai Allah. Seharusnya masyarakat menolak ide BPJS tersebut atau praktek sejenisnya yang jelas akan menimbulkan kemasiyatan,  sementara masyarakat tidak menyadarinya. Wallahu A’lam bi ash-showab | Arif Al Qondaly

related Posts :

Hukum KPR dan Leasing dalam Islam | Hukum Asuransi dalam Islam Hukum Pajak dan Jizyah dalam Islam | Hukum Atas Penista AgamaHukum Demo Haramkah ? | Hukum Menimbun Barang / kanzul Mal | Hukum Menegakkan Khilafah untuk menerapkan syariat Islam | Hukum Menghina Nabi | Larangan Mengangkat Non Muslim Sebagai PemimpinBahaya Riba  |  Bahaya Kartu Kridit  | Jilbab Wajib Kerjakanlah | Siapakah Ahlul Kitab?  | Kewajiban dan Hukum Zakat Mal | Bid’ah dalam Pandangan Islam |

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s