6 TANDA SEBELUM DATANGNYA KIAMAT

lima fase menuju Kiamat
lima fase menuju Kiamat

Fase berakhirnya bumi ini dengan datangnya hari kiamat akan melalui enam [6] peristiwa  yang sangat menonjol [Tanda Kiamat Kubro]. Tanda Kiamat Besar yang pertama, adalah ketika dunia telah mengalami kehancuran peradabannya, terjadi kedholiman yang parah dan peperangan yang terus menerus [ seperti kondisi saat ini]. Lalu disusul fase kedua, ditandai hadirnya kekhilafahan kedua yang mengikut manhaj kenabian sebagaimana janji Rasulullah SAW, kemudian kholifah terbunuh. Lalu dilanjutkan fase ketiga, digantikan khilafah berikutnya sebagai khilafah terakhir yang disebut Imam Mahdi. Setelah itu fase keempat, adalah munculnya Dajjal penebar fitnah besar. Lalu  fase Kelima, dimana turunnya Nabi Isa AS bersama imam mahdi membunuh Dajjal. Keenam adalah datangnya ya’juj dan ma’juj, Kemudian Kiamat besar benar-benar terjadi.

Penjelasan terkait enam fase menuju Kiamat Besar adalah sebagai berikut :

[Pertama], Dunia berada dalam huru-hara [ Pemerangan dan Pembunuhan merajalela] .

Kekacauan, kedzaliman, permusuhan  dan pembunuhan manusia merajalela dimana-mana. Kemaksiatan sebagai hidangan sehari-hari, perlombaan gedung menjulang tinggi, Al Qur’an sebagai hiasan, banyak terjadi kematian mendadak,  halal dan haram bukan menjadi tolok ukur perbuatan. Pembunuhan dan Pembantaian, serta kedholiman para penguasa sudah melampaui batas perikemanusiaan. Riba merajalela,  Zina terang-terangan,  Nyawa sudah tidak ada harganya sama sekali.

Dari Abi Sa’id al-Hudhri ra. berkata, dari Nabi saw. bersabda: bersabda:

Hari kiamat tidak akan tiba, kecuali setelah bumi ini dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan. Setelah itu, lahirlah seorang lelaki dari kalangan keluargaku (Ahlu al-Bait), atau keturunanku, sehingga dia memenuhi dunia ini dengan keseimbangan dan keadilan, sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan. (Hr. Ibn Hibban)1

[Kedua] , Akan muncul Khilafah Islamiyyah” periode kedua, dimana periode I telah berakhir sejak runtuhnya Khilafah Turki Utsmani tahun 1924. Kekhilafahan fase kedua ini sebagaimana yang dijanjikan Nabi SAW dalam sabdanya, bahwa siklus kekuasaan manusia di dunia itu melalui 5 fase :

Akan datang kepada kalian masa kenabian [nubuwwah] dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa Kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa  raja menggigit / raja yang dzalim  [mulkan ‘aadz-dzon]  dan atas kehendak Allah masa itu akan datang.  Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya.  Setelah itu, akan datang masa raja dictator / pemaksa (Mulkan Jabriyyatan) dan atas kehendak Allah masa itu akan datang;  lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, akan datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah  (Khilafah yang berjalan di atas kenabian ) Setelah itu, beliau diam  [HR. Imam Ahmad].

[Ketiga], Kemunculan Imam Mahdi, setelah kekhilafahan Islam kedua hancur [khalifah jilid dua wafat].

Diriwayatkan dari Ummu Salamah, berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:

“Akan muncul pertikaian saat kematian seorang Khalifah. Kemudian seorang lelaki penduduk Madinah melarikan diri ke kota Makkah. Penduduk Makkah pun mendatanginya, seraya memintanya dengan paksa untuk keluar dari rumahnya, sementara dia tidak mau. Lalu, mereka membai’atnya di antara Rukun (Hajar Aswad) dengan Maqam (Ibrahim). Disiapkanlah pasukan dari Syam untuknya, hingga pasukan tersebut meraih kemenangan di Baida’, tempat antara Makkah dan Madinah. Tatkala orang-orang melihatnya, dia pun didatangi oleh para tokoh Syam dan kepala suku dari Irak, dan mereka pun membai’atnya. Kemudian muncul seorang (musuh) dari Syam, yang paman-pamannya dari suku Kalb. Dia pun mengirimkan pasukan untuk menghadapi mereka, hingga Allah memenangkannya atas pasukan dari Syam tersebut, hingga al-Mahdi merebut kembali daerah Syam dari tangan mereka. Itulah suatu hari bagi suku Kalb yang mengalami kekalahan, yaitu bagi orang yang tidak mendapatkan ghanimah Kalb. Al-Mahdi lalu membagi-bagikan harta-harta tersebut dan bekerja di tengah-tengah masyarakat… menyampaikan Islam ke wilayah di sekitarnya. Tidak lama kemudian, selama tujuh tahun lalu dia pun meninggal dunia, dan dishalatkan oleh kaum Muslim. Dalam riwayat lain dinyatakan, tidak lama kemudian, selama sembilan tahun. ” (Hr. At-Thabrani)

[Keempat], Kemunculan Sosok “ Dajjal “, sang penebar fitnah.

Secara bahasa kata Dajjal berasal dari kata dajala-yadjilu-dajjala yang artinya berdusta, menipu, memperdaya, mengelabuhi dan menyombongkan. Artinya Dajjal secara bahasa adalah untuk setiap pembohong / Pendusta apa pun bentuknya. Jika ditarik makna bahasa saja,  maka  dajjal bisa terjadi pada siapa saja, selama dirinya melekat sifat pendusta dan pembohong. Oleh karena itu jika seseorang suka berdusta dan pembohong berarti ia seperti dajjal.

Dalam sebuah riwayat, Dajjal diidentikkan seorang lelaki dari kalangan manusia keturunan Nabi Adam ‘alaihis-salam [ bukan dari kolongan Jin maupun malaikat]. Namun ia merupakan makhluk yang diberikan Allah keistimewaan tidak seperti kebanyakan manusia pada umumnya. Ia telah hadir ke muka bumi kita ini sejak zaman Nabi SAW dan para sahabat. Artinya, umur Dajjal sampai saat ini telah mencapai belasan abad atau sekitar seribu empat ratusan tahun.

عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ قَيْسٍأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَّرَ الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ ذَاتَ لَيْلَةٍ ثُمَّ خَرَجَ فَقَالَ نَّهُ حَبَسَنِي حَدِيثٌ كَانَ يُحَدِّثُنِيهِ تَمِيمٌ الدَّارِيُّ نْ رَجُلٍ كَانَ فِي جَزِيرَةٍ مِنْ جَزَائِرِ الْبَحْرِ فَإِذَا أَنَا بِامْرَأَةٍ تَجُرُّ شَعْرَهَا قَالَ مَا أَنْتِ الَتْ أَنَا الْجَسَّاسَةُ اذْهَبْ إِلَى ذَلِكَ الْقَصْرِ فَأَتَيْتُهُ إِذَا رَجُلٌ يَجُرُّ شَعْرَهُ مُسَلْسَلٌ فِي الْأَغْلَالِ نْزُو فِيمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَقُلْتُ مَنْ أَنْتَ قَالَ أَنَا الدَّجَّالُ خَرَجَ نَبِيُّ الْأُمِّيِّينَ بَعْدُ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ أَطَاعُوهُ أَمْ عَصَوْهُ قُلْتُ بَلْ أَطَاعُوهُ قَالَ ذَاكَ خَيْرٌ لَهُمْ

Fatimah binti Qais berkata, “Pada suatu malam pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengakhirkan shalat isya` yang akhir, lalu beliau keluar dan bersabda: “Sesungguhnya yang menghalangiku (untuk segera keluar) adalah kisah yang diceritakan Tamim Ad Dari kepadaku dari seorang laki-laki yang berada di sebuah pulau dari gugusan pulau-pulau. Tamim berkata, “Saat itu tiba-tiba ada seorang wanita yang berambut panjang.” Tamim selanjutnya bertanya, “Siapa kamu?” Ia menjawab, “Aku adalah Jasasah. Pergilah kamu ke istana itu.” Tamim berkata, “Aku pun mendatanginya, ternyata di sana ada seorang laki-laki berambut panjang yang terikat dengan sebuah rantai. Tingginya menjulang antara langit dan bumi. Aku lalu bertanya, “Siapa kamu?” Ia menjawab, “Aku adalah Dajjal. Apakah telah ada seorang Nabi buta huruf yang diutus?” Aku menjawab, “Ya.” Ia kembali bertanya, “Apakah orang-orang mentaatinya atau mengingkarinya?” Aku menjawab, “Orang-orang mentaatinya.” Ia berkata, “Itu yang lebih baik bagi mereka.” (HR. Abu Dawud 3767)

Ciri-ciri Dajjal

Suatu hari Imam Ali ra dalam salah satu pidatonya tiga kali bersabda demikian, “Tanyakan apapun yang ingin kalian tanyakan sebelum kalian kehilanganku.” Seseorang dari kalangan orang-orang yang baik bernama Sha’sha’ah bin Shuhan bangkit dari tempatnya dan bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, siapakah Dajjal itu?”

 “Ketahuilah bahwa namanya adalah Dajjal Shaid bin ash-Shaid. Sesungguhnya orang yang tidak beruntung adalah yang membenarkan dan menerimanya, sedangkan orang yang beruntung dan berbahagia adalah yang menyangkalnya. Dia (Dajjal) akan muncul dari sebuah daerah yang terkenal dengan nama “Ashbahan”, sebuah daerah yang berpenghunikan orang-orang Yahudi. Mata kanannya lengket dan sama sekali tidak memiliki pupil, sementara mata yang lainnya terletak di dahinya dan memiliki cahaya yang sedemikian terangnya sehingga seperti cahaya bintang pada pagi hari. Pada matanya terdapat daging yang seakan-akan bercampur dengan darah, di dahinya –yaitu di antara kedua matanya- terdapat tulisan kafir dimana setiap kitab dan orang-orang buta huruf yang manapun akan mampu membacanya. Dia mengarungi samudera-samudera dan matahari bergerak bersamanya. Di hadapannya terdapat gunung yang mengepulkan asap dan di belakangnya terdapat gunung berwarna putih yang disangka masyarakat sebagai makanan. Dia muncul pada suatu musim kering yang sangat parah. Di bawah kakinya terdapat seekor keledai berwarna hijau atau berwarna gelap. Setiap langkah kaki keledainya mampu menempuh jarak satu mil. Dia begitu cepat bergerak dan berputar di permukaan bumi. Ketika dia melewati mata air atau air, maka tempat itu akan menjadi kering hingga tibanya hari kiamat. Dengan suara yang sangat keras –sehingga seluruh penghuni yang berada di barat dan timur mendengarnya- ia berteriak, “Datanglah ke arahku, wahai auliya dan para sahabatku! Akulah (tuhan yang) telah menciptakan dan membentuk wajah-wajah, menentukan takdir dan membimbing kalian.” Ketahuilah, dia berdusta dengan kata-katanya! Karena sesungguhnya dia adalah musuh Allah … dan pada akhirnya dia akan terbunuh oleh tangan (Imam Mahdi) orang yang memimpin shalat yang diikuti oleh Nabi Isa As. [ Muntakhâbul Âtsâr, Luthfullah, Shafi, bab 3, hal 532, hadis ke 8.]

Dalam riwayat lain disebutkan ;

Dari ‘Ubadah bin ash Shamit Radhiyallahu ‘Anh, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Dajjal adalah seorang laki-laki pendek, berkaki bengkok, keriting, buta sebelah mata, terhapus mata, tidak menonjol dan tidak bermata cekung. Jika disamarkan kepadamu, maka ketahuilah bahwa Rabb kamu Subhanahu wa Ta’ala tidak buta sebelah matanya.’ [HR. Ahmad] 2

Misi Kedatangan Dajjal

لَا يَخْرُجُ الدَّجَّالُ حَتَّى يَذْهَلَ النَّاسُ عَنْ ذِكْرِهِ وَحَتَّى تَتْرُكَ الْأَئِمَّةُ ذِكْرَهُ عَلَى الْمَنَابِرِ

“Dajjal tidak akan muncul sehingga sekalian manusia telah lupa untuk mengingatnya dan sehingga para Imam tidak lagi menyebut-nyebutnya di atas mimbar-mimbar.” (HR. Ahmad 16073)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”مَا أَهْبَطَ اللَّهُ إِلَى الأَرْضِ مُنْذُ خَلَقَ آدَمَ إِلَى أَنْ تَقُومَ السَّاعَةُ فِتْنَةً أَعْظَمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ

“Allah tidak menurunkan ke muka bumi -sejak penciptaan Adam as hingga hari Kiamat- fitnah yang lebih besar dari fitnah Dajjal.” (HR. Thabrani 1672)

Tidak ada fitnah yang melebihi fitnah Dajjal. Bahkan bisa dikatakan bahwa segenap fitnah yang pernah ada di dunia terkait dan hadir dalam rangka mengkondisikan dunia menghadapi fitnah Dajjal.

ذُكِرَ الدَّجَّالُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَأَنَا لَفِتْنَةُ بَعْضِكُمْ أَخْوَفُ عِنْدِي مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَلَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِمَّا قَبْلَهَا إِلَّا نَجَا مِنْهَا وَمَا صُنِعَتْ فِتْنَةٌ مُنْذُ كَانَتْ الدُّنْيَا صَغِيرَةٌ وَلَا كَبِيرَةٌ إِلَّا لِفِتْنَةِ الدَّجَّالِ

Suatu ketika ihwal Dajjal disebutkan di hadapan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam kemudian beliau bersabda: ”Sungguh fitnah yang terjadi di antara kalian lebih aku takuti dari fitnah Dajjal, dan tiada seseorang yang dapat selamat dari rangkaian fitnah sebelum fitnah Dajjal melainkan akan selamat pula darinya (Dajjal), dan tiada fitnah yang dibuat sejak adanya dunia ini –baik kecil ataupun besar- kecuali untuk fitnah Dajjal.” (HR. Ahmad 22215)

Dari an-Nawwas bin Sam’an Radhiyallahu ‘Anh, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan Dajjal dan padanya…: ‘Sesungguhnya ia keluar celah-celah di antara Syam dan Iraq. Berbuat kerusakan di kanan dan di kiri.’ (HR. Muslim no 2937.)

[Kelima], Turunnya Nabi Isa as, bersama Imam Mahdi untuk menumpas Dajjal

Beberapa dalil yang menunjukkan fase kelima tersebut adalah :

Tidak akan terjadi kiamat sehingga turun kepada kalian Ibnu Maryam sebagai hakim yang adil, ia mematahkan salib, membunuh babi, menghentikan jizyah dan melimpahkan harta sehingga tidak ada seorang pun yang mau menerima pemberian harta.” (HR. Bukhari: no. 2296).

Dari Jabir bin Abdullah ia berkata: Saya mendengar Nabi bersabda: “Akan senantiasa ada di antara umatku satu kelompok yang berperang di atas kebenaran, mereka senantiasa menang hingga hari kiamat.” Beliau bersabda: “Lantas Isa ibnu Maryam turun, maka pemimpin kelompok tersebut berkata, ‘Kemarilah, shalatlah sebagai imam kami!’ Maka Isa menjawab, “Tidak, sebagian kalian memimpin sebagian yang lain sebagai penghormatan Allah terhadap umat ini.” (HR. Muslim: Kitabul iman no. 225)

Setelah turun Isa AS menuju ke Baitul Maqdis tempat Dajjal dikepung oleh pasukan Muslim. Isa AS memerintahkan mereka untuk membuka pintu. Dalam Sunan ibn Majah, Shahih Ibn Khzaimah, dan Mustadrak al-Hakim diriwayatkan dari Abu Umamah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Isa AS berseru, ‘Bukakan pintu!’ Mereka lalu membukanya dan dibalik pintu itu ada Dajjal bersama 70.000 Yahudi, yang semuanya membawa pedang dan perisai. Ketika Dajjal memandang Isa, dia luluh laksana garam mencair di air, lalu melarikan diri. Isa AS mengejarnya sampai di gerbang Ludd Timur, kemudian membunuhnya, dan Allah mengalahkan Yahudi,” (Shahih al-Jami’ ash-Shaghir, VI, h. 275, no 7752).

[Keenam]. Kedatangan pasukan Ya’juj dan Ma’juj

Allah Ta’ala berfirman,

حَتَّى إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ (96) وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ فَإِذَا هِيَ شَاخِصَةٌ أَبْصَارُ الَّذِينَ كَفَرُوا يَا وَيْلَنَا قَدْ كُنَّا فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا بَلْ كُنَّا ظَالِمِينَ (97)

Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata): “Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Anbiya’: 96-97).

Juga dalam ayat,

ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا (92) حَتَّى إِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِنْ دُونِهِمَا قَوْمًا لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلًا (93) قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَى أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا (94) قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا (95) آَتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ حَتَّى إِذَا سَاوَى بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انْفُخُوا حَتَّى إِذَا جَعَلَهُ نَارًا قَالَ آَتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا (96) فَمَا اسْطَاعُوا أَنْ يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا (97) قَالَ هَذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّي فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا (98) وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَجَمَعْنَاهُمْ جَمْعًا (99)

Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata: “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” Dzulkarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi.” Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: “Tiuplah (api itu).” Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu.” Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya. Dzulkarnain berkata: “Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar.” Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya.” (QS. Al Kahfi: 92-99).

Kedatangan pasukan Ya’juj dan Ma’ju’ ini tidak mampu dihadapi Nabi Isa dan pasukan Imam Mahdi. Pada  akhirnya pasukan ya’juj dan Ma’juj dibinasakan oleh Allah, dan pertanda kiamat segera  datang . Wallahu a’lam bi ash-showab | Arif TH  Al Qondaly

Refferensi :

  1. Ibn Hibban, Sahih Ibn Hibban, Mu’assasah ar-Risalah, Beirut, cetakan II, 1993, juz XV, hal. 236.
  2. Ahmad no. 23144 dan ini lafadznya. Abu Daud no 4320, Shahih Sunan Abu Daud no.3630)

Related Posts

Rohingnya menunggu Khilafah Mu’tasimBillah | 6 Tanda sebelum datangnya Kiamat | Konflik Palesina-Israel dalam Sejarah  |  Hukum Seputar Ru’yat GlobalUmmat Islam Butuh Khilafah | Khilafah Islam Janji Allah  | Bendera Rasulullah Liwa-Roya | Hukum Menegakkan Khilafah | Islam Rahmatan lil ‘AlaminPengertian Islam Rahmatan lil ‘Alamin

Advertisements

One thought on “6 TANDA SEBELUM DATANGNYA KIAMAT”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s