BID’AH DALAM TINJAUAN HUKUM ISLAM

Banyak diantara kamu muslimin begitu mudahnya mengatakan bid’ah. Padahal bid’ah adalah sesat dan ssat itu jalan menuju neraka. Bid’ah adalah menyalahi perintah syara’ yang sudah ada tata cara pelaksanaannya. Inilah pengertian bid’ah yang ditunjukkan oleh hadits:

»وَمَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ«

Dan barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka perbuatan tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

bidah

Jika Rasulullah ﷺ telah melakukan suatu amalan yang telah dijelaskan tata cara pelaksaannya dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, kemudian Anda melakukannya berbeda (bertentangan) dengan yang dikerjakan oleh Rasulullah ﷺ, maka dengan demikian Anda telah melakukan bid’ah, yaitu perbuatan sesat, dan dosanya besar:

Sebagai contoh: Allah SWT berfirman:

 وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ

Dan dirikanlah shalat.” (TQS. Al-Baqarah [2] : 43).

Ayat tersebut datang dalam bentuk perintah (amar), hanya saja manusia tidak dibiarkan mendirikan shalat semaunya, namun Rasulullah ﷺ menjelaskan dengan memberikan contoh tata cara melaksanakannya [kaifiyah-nya] dari takbīratul ihrām (takbir yang diucapkan pada awal shalat), cara berdiri, bacaannya, rukuk , sujud dan seterusnya. Abu Dawud meriwayatkan dari Ali bin Yahya bin Khallad, dari pamannya yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّهُ لَا تَتِمُّ صَلَاةٌ لِأَحَدٍ مِنَ النَّاسِ حَتَّى يَتَوَضَّأَ، فَيَضَعَ الْوُضُوءَ – يَعْنِي مَوَاضِعَهُ – ثُمَّ يُكَبِّرُ، وَيَحْمَدُ اللَّهَ جَلَّ وَعَزَّ، وَيُثْنِي عَلَيْهِ، وَيَقْرَأُ بِمَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ، ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ يَرْكَعُ حَتَّى تَطْمَئِنَّ مَفَاصِلُهُ، ثُمَّ يَقُولُ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَائِمًا، ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ يَسْجُدُ حَتَّى تَطْمَئِنَّ مَفَاصِلُهُ، ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، وَيَرْفَعُ رَأْسَهُ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَاعِدًا، ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ يَسْجُدُ حَتَّى تَطْمَئِنَّ مَفَاصِلُهُ، ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ فَيُكَبِّرُ     « …

“Sesungguhnya tidak sempurna shalat seseorang sampai ia berwudlu’, yaitu membasuh anggota wudlu’nya (dengan sempurna), kemudian bertakbir, memuji Allah Jalla wa ‘Azza, menyanjung-Nya dan membaca al-Qur’an yang mudah baginya. Setelah itu mengucapkan Allāhu Akbar, kemudian rukuk sampai tenang semua persendiannya, lalu mengucapkan “sami’allāhu liman hamidah” sampai berdiri lurus (iktidal), kemudian mengucapkan Allāhu Akbar, lalu sujud sampai tenang semua persendiannya. Setelah itu mengucapkan Allāhu Akbar, dan mengangkat kepalanya hingga lurus, mengucapkan Allāhu Akbar, lalu sujud sampai tenang semua persendiannya. Kemudian mengangkat kepalanya, mengucapkan Allāhu Akbar …”.

Sehingga, siapa saja yang menyalahi tata cara (shalat) ini, maka ia benar-benar telah berbuat bid’ah [ mengada-ada dalam maslaah ibadah yang telah baku]. Siapa saja yang sujud tiga kali, bukan dua kali, maka ia benar-benar telah berbuat bid’ah, dan ini adalah sebuah kesesatan.

Lantas bagaimana dengan dzikir setelah salat ? jawabnya adalah : bukan bid’ah,  karena dzikir setelah salat diluar dari kaifiyah salat, demikian juga berjabat tangan setelah salat, tidak ada dosa di dalamnya, bahkan kalau kita membid’ahkan sesuatu yang  mubah, justru kita berdosa bahkan bida memecah belah ummat Islam. Bagaimaan dengan demo yang akhir-akhir ini marak? Apalagi demo dalam rangka amar ma’rud nahi munkar terhadap penista alqur’an? beraninya kita katakan demo itu bid’ah dan sesat  ? Lihat hukum demo dalam pandangan Islam disini. Kita harus melihat secara bijak dan cermat, lihat kalaulah demo itu anakhis, maka haramnya bukan demonya, karena demo itu hakekatnya ushlub saja bukan thariqoh da’wah. Sedang anarkhis dalam demo adalah persoalan yang lain lagi. Contoh, sebagaimana jual beli itu hukumnya mubah dan halal, tetapi jual beli dengan barang haram adalah persoalan lain lagi, yang tidak bida dicampur adukkan dalam  masalah hukum.

Sekali lagi kami katakan dan kami garis bawahi bahwa Bid’ah adalah menyalahi perintah syara’ yang sudah ada tata cara pelaksanaannya. Wallahu a’lam bi ash-shawab. Arif Al Qandaly.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s