HUKUM ISLAM ATAS PENISTAAN AGAMA

Penistaan terhadap Agama ( baca Agama Islam), terus menerus terjadi.  Baik menyerang sosok Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah, juga menyerang ayat-ayat dalam Al Qur’an.

berita terakhir disebutkan Habib Novel , Sekretaris DPP FPI menganggap Ahok terang-terangan menistakan agama karena menyebutkan umat Islam dibohongi oleh Surah Al Maidah ayat 51 yang tidak membolehkan umat Islam memilih pemimpin non-Muslim.

Pernyataan Ahok sebagaimana dikutip dalam video Youtube: “Bapak ibu tidak bisa pilih saya karena dibohongi pakai surat AI Maidah 51 acem-macem itu. Itu hak bapak ibu. Jadi kalau bapak ibu perasaan tidak bisa pilih nih takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, enggak papa, karena ini kan panggilan pribadi bapak ibu. Problemnya jalan saja. Jadi bapak ibu enggak usah merasa enggak enak.”

Dalam negara RI, Ahok terancam melanggar Pasal 156 a KUHP Jo pasal 28 ayat (2) UU No 11 tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.

Dalam negara Islam ( Khilafah Islam), ada ketentuan hukuman bagi pelaku penistaan agama secara terang-terangan. Disebutkan dalam kitab Nizhâm al-’Uqûbât, karya syeikh Taqiyuddin An-Nabhani  dijelaskan beberapa tindakan yang dikategorikan menodai agama Islam beserta sanksi yang dapat diterapkan negara atas pelakuknya:

  1. a) orang yang melakukan propaganda ideologi atau pemikiran kufur diancam hukuman penjara hingga 10 tahun. Jika ia seorang Muslim maka sanksinya adalah sanksi murtad, yakni dibunuh;
  2. b) orang yang menulis atau menyerukan seruan yang mengandung celaan atau tikaman terhadap akidah kaum Muslim diancam 5-10 tahun. Jika celaan tersebut masuk dalam kategori murtad maka pelakunya (jika Muslim) dibunuh;
  3. c) orang yang melakukan seruan pemikiran kufur kepada selain ulama, atau menyebarkan pemikiran kufur melalui berbagai media, dipenjara hingga 5 tahun;
  4. d) orang yang menyerukan seruan pada akidah yang dibangun atas dalil zhann atau pemikiran yang dapat mengakibatkan kemunduran umat Islam dicambuk dan dipenjara hingga 5 tahun;
  5. e) orang yang meninggalkan shalat dipenjara hingga 5 tahun; jika tidak berpuasa tanpa uzur, ia dipenjara dua bulan dikalikan puasa yang ia tinggalkan; dan orang yang menolak menunaikan zakat, selain dipaksa membayar zakat, ia dipenjara hingga 15 tahun.

Kasus Ahok sebenarnya termasuk bentuk penistaan agama karena statemennya termasuk Celaan terhadap Agama Islam. ( dalam Pasal 2b di atas yang tercetak miring). Maka Ahok bisa diancam hukuman 5-10 tahun penjara dalam daulah Islam. Bahkan jikalau penistaannya kategori berat dan dengan niatan menghina Al Qur’an, maka khilafah bisa menjatuhi hukuman mati.

Bagaimana hukum celaan terhadap agama Lain?

Adapun tehadap agama ahludz-dzimmah, Islam telah melarang setiap celaan yang ditujukan pada tuhan-tuhan dan sesembahan agama mereka. Hal ini karena perbuatan tersebut dapat memicu terjadinya perlakukan serupa oleh mereka kepada Allah SWT yang jelas merupakan kemungkaran. Allah SWT berfirman:

وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

Janganlah kalian mencela tuhan-tuhan yang mereka seru selain Allah sehingga mereka mereka mencela Allah dengan dengan permusuhan dan tanpa ilmu (QS al-An’am [6]: 108).

Para ulama, menurut al-Qurthubi, menyatakan bahwa larangan mencela tuhan-tuhan mereka bersifat tetap bagi umat pada segala keadaan; jika orang-orang kafir mencegah diri dan takut untuk mencegah Islam, Nabi saw. atau Allah azza wajalla, maka tidak halal bagi seorang Muslim untuk mencela salib-salib mereka, agama mereka dan gereja-gereja mereka; dan tidak melakukan hal-hal yang dapat mengantarkan pada hal tersebut karena itu akan mendorong terjadinya kemaksiatan. Oleh karena itu, jika sebuah media di dalam Negara Islam terbukti melakukan penistaan terhadap tuhan dan keyakinan agama ahludz-dzimmah maka penanggung jawab media tersebut akan divonis penjara hingga enam bulan.

Pada masa pemerintahan Islam. aturan di atas telah ditegakkan oleh Nabi saw. dan para Khalifah setelahnya. Jabir ra. berkata, “Ummu Marwan telah murtad. Lalu Rasulullah saw. memerintahkan untuk menawarkan Islam kepadanya. Jika ia bertobat maka diterima, namun jika tidak maka ia dibunuh.” (HR al-Baihaqi dan ad-Daruquthni).

Umar bin Abdul Aziz, misalnya, pernah mendebat dan menyadarkan Ghilan ad-Dimasyqi, seorang tokoh Qadariah yang berpendapat bahwa tidak ada takdir Allah dan Allah tidak bersemayam di atas ’Arsy. Namun, pada masa Hisyam bin Abdul Malik, orang tersebut kembali menyebarkan idenya. Setelah mendapatkan bantahan dari Khalifah dan Imam al-Auza’i, sementara ia tetap kukuh dengan pendapatnya, maka ia pun dibunuh dan disalib.

Pasca runtuhnya negara Khilafah, munculnya berbagai penodaan terhadap agama Islam ( penistaan agama) yang dilakukan oleh berbagai pihak, baik atas nama individu atau kelompok, terus tumbuh dari waktu ke waktu. Tindakan mereka ini terus dibiarkan oleh negara dengan alasan kebebasan berpendapat. Umat Islam memang tidak tinggal diam menyaksikan hal tersebut. Meski demikian, upaya mereka senantiasa terbentur oleh tembok kekuasaan.

Seharusnya hal tersebut semakin menyadarkan umat bahwa negara sekular saat ini sangat sulit diharapkan bahkan mustahil melindungi agama Islam dan umatnya dari berbagai penistaan. Karena itu, Khilafah Islamlah—yang akan menjaga dan memelihara Islam serta kaum Muslim, termasuk mencegah dan membasmi berbagai penistaan agama ( Islam) —menjadi sangat relevan dan wajib untuk segera diwujudkan. Wallâhu a’lam bi ash-shawâb

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s